Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Bertemu Mantan Anara


__ADS_3

Menginjakkan kaki kembali ke Jogja membuat Anara menarik senyum simpul bibirnya. Terlebih sekarang bersama Candra di sampingnya. Rasanya dunia milik berdua, yang lain bukannya ngontrak melainkan sirna.


"Gimana?" Tanya Bryan kepada sahabat karibnya. Sementara Rati ikut menanti respon kakaknya.


"So far so good." Jawab Candra mantap.


Sepertinya dia beneran lupa sama masa lalunya. Syukurlah.


Di depan stasiun mereka masih menunggu mobil jemputan. Benar kata Candra, perjalanan ini rasanya melibatkan orang satu kampung banyaknya. Semoga saja yang punya hajat bisa terkabul mengingat perjuangan yang teramat.


"Masih lama?" Tanya Bryan pada Caroline yang sibuk dengan ponselnya.


"Sebentar."


"Nanti malem kita keliling kota ya!" Ajak Rati mendapat jitakan dari Candra.


"Belajar yang bener! Lusa ujian malah ngajak klayapan." Sungut Candra.


"Mas Djata apaan sih? Butuh refresh juga kali otakku biar tenang pas ujian."


"Iya. Nanti kita jalan-jalan. Kalau kakakmu nggak mau. Sama aku aja!" Tukas Anara disambut bahagia si empunya hajat.


"Nggak. Aku juga ikut. Iya, betul. Kamu harus refreshing." Candra dengan tanggap meralat omongannya.


Mobil berwarna hitam yang menjemput di stasiun tadi memasuki rumah khas Jawa dengan luas halaman tak terkira. Sepertinya bude dari Caroline ini bukan rakyat sembarangan jika melihat luas pekarangan rumahnya.


Caroline membimbing semuanya memasuki rumah berbentuk joglo. Setelah mengucap salam dan mendapati sahutan dari dalam, mereka menuju sebuah ruang tamu yang cukup luas dengan deretan kursi kayu di dalamnya.


Seorang wanita sekitar umur 45 tahun keluar menyapa. Dandanannya modern khas wanita karir, mungkin baru pulang kerja. Senyumnya mengembang tatkala mendapati sosok perempuan yang ia kenal.


"Nak, Olin." Sapa wanita itu. Caroline meraih tangan wanita itu dan menciumnya. Berlanjut hambur dalam pelukan.


"Kenalkan bude, ini semua teman Caroline yang rencananya akan menginap di sini tiga hari ke depan." Tutur Caroline diikuti perkenalan keempat temannya.


"Panggil saya Bude Ningrum!" Keempatnya mengangguk sopan.


Setelah melepas lelah dengan secangkir teh dan berbincang sebentar dengan tuan rumah tentang perjalanan dari Malang-Jogja. Bude Ningrum mengajak tamunya ke kamar untuk membersihkan diri karena hari sudah hampir petang.


"Ini kamar kalian. Silahkan istirahat!" Bude Ningrum memandang pada tamu lelaki bergantian. Diangguki Candra dan Bryan kemudian keduanya masuk ke dalam kamar.


Candra dan Bryan menempati satu kamar dengan ornamen kayu khas Jawa. Ruangannya lumayan luas dengan pemandangan taman di luar jendela. Bergantian mereka membersihkan diri di kamar mandi dalam.


Sementara tim perempuan menempati kamar yang dekat dengan ruang makan. Dengan ukuran ranjang king size bersprei putih bersih. Mereka bergantian membersihkan diri di kamar mandi sebelah kamar setelah tadi Bude Ningrum berpamitan.


"Rumahnya luas, tapi kayak sepi ya?" Tanya Anara yang sedang menyisir rambutnya.


"Iya, An. Ini rumah peninggalan orang tua bude. Hanya ada bude, anaknya, Bik Inah, sama sopir yang jemput kita tadi." Caroline menjelaskan.


"Suaminya?" Sambung Rati yang sudah terlihat rapi.


"Udah cerai sekitar lima tahun yang lalu." Rati dan Anara mengangguk kompak.


"Kata bude tadi selepas magrib kita makan malam. Kalau kalian sudah siap yuk kita ke ruang makan!" Ajak Caroline.


Di meja makan ukuran besar itu sudah tersaji hidangan. Sementara si empunya rumah belum menampakkan dirinya. Bik Inah muncul dari belakang membawa satu tempat berisi buah.


"Bude mana, Bik?" Tanya Caroline bersamaan dengan datangnya Candra dan Bryan.


"Masih terima telepon di belakang, Mbak." Caroline mengangguk dan Bik Inah hilang dari pandangan.


"Jadi jalan-jalan setelah ini?" Tanya Candra ke Anara yang posisinya berhadapan.


"Ngikut gimana Rati." Rati mengangguk cepat menandakan antusias.

__ADS_1


"Mau naik apa?" Sahut Bryan membuat semuanya berpikir.


"Nanti coba aku bicara sama bude. Kita pinjam mobilnya." Solusi itu muncul dari suara Caroline.


Kita? Keluar sekampung lagi dong. Udah kayak rombongan liburan sekolah aja. Candra mengusap tengkuknya.


Tak lama yang ditunggu datang, Bude Ningrum kini berpenampilan lebih santai. Citra wanita pekerja lebur seketika ketika daster panjang membalut tubuhnya yang tak lagi muda.


"Sebentar ya. Nunggu anak saya. Katanya sudah di jalan." Pinta Bude Ningrum.


"Oh ya, yang mau ujian?" Netra wanita setengah baya itu menyapu semua tamunya.


"Saya, Bude." Aku Rati.


"Semoga lolos. Bisa kuliah di Jogja dan mampir kesini." Kalimat Bude Ningrum diaminkan seluruh yang ada di ruangan.


"Bude, kami mau keluar. Hmm ... boleh pinjam mobil?"


"Ada yang bisa nyetir?" Candra dan Bryan mengangguk.


Loh ternyata Bryan bisa nyetir juga toh? Anara menatap sahabat kekasihnya itu dengan mengernyitkan dahi.


"Boleh. Nanti biar saya kasih tau Pak Budi." Sepertinya itu nama sopir Bude Ningrum.


Suara motor terdengar berhenti di depan. Disusul langkah berderap yang semakin mendekat. Bude Ningrum bilang itu suara motor anaknya. Jika iya tak lama lagi mereka akan makan malam dan segera melihat indahnya Jogja malam hari.


"Malam. Maaf terlambat." Suara laki-laki menyapa. Seketika Anara menegang di tempat duduknya.


"Nggak apa-apa, Nak. Duduk!"


"Januu. Apa kabar?"


Suara Caroline membuat Candra memutar kepalanya berusaha melihat sosok di belakangnya. Diikuti Bryan yang juga melakukan hal serupa ketika ekspresi sahabat di sampingnya terlihat kurang suka. Ada apa?


Dunia sempit sekali. Bahkan perempuan yang selama ini tak bisa kuhubungi sekarang datang ke rumahku sendiri.


Hati Anara tak karuan, ia gugup luar biasa. Ia menunduk setelah matanya bertemu dengan mata lelaki yang tiba-tiba muncul sepersekian detik yang lalu. Sementara Candra menatap ke arahnya tanpa lepas sedikitpun.


"Kenalkan. Ini anak saya. Namanya Arjanu." Tutur Bude Ningrum.


Setelah saling mengulur tangan dan bertukar nama. Semuanya makan sambil bercengkerama. Ternyata Caroline adalah sepupu Janu. Tak pernah sebelumnya terbayangkan, baik oleh Anara maupun Candra jika mereka akan ditemukan dalam situasi seperti ini.


Candra hanya diam sepanjang makan malam yang mendadak hambar baginya. Perutnya sudah kenyang sebelum diisi. Berbeda dengan Anara yang terkadang ikut merespon suara dengan senyuman. Sesekali diliriknya kekasihnya yang masih menatap tajam ke arahnya.


Bude Ningrum muncul dan memberikan kunci mobil kepada Candra. Tatapan Candra dilayangkan pada lelaki yang dinilainya sialan, yang tanpa hentinya memandangi perempuannya seperti ingin menerkam.


Sialan!


"Kalian mau kemana?"


Jangan bilang lu mau ikut brengsek! Gusar Candra.


"Keliling Jogja. Mau ikut?" Pertanyaan Caroline membuat Candra merutuki pacar sahabatnya itu.


"Enggak. Aku mau mandi dulu." Janu tersenyum smirk.


"Bagus." Tukas Candra yang mendapat tatapan dari semua. Beruntung Bude Ningrum sudah masuk setelah memberikan kunci mobil tadi.


Suasana mendadak berubah tak enak. Mendapati itu, Bryan yang tahu betul tabiat sahabatnya segera ambil suara. Bermaksud meredam hati panas Candra.


"Bagus kalau mandi, jadi seger di badan. Iya, itu." Rati malah menahan tawa yang mendapat pelototan dari Bryan.


Janu masih berdiri mematung memandangi kepergian Anara. Bagaimana mungkin dia malah datang kepadaku? Di saat aku hampir kehilangan kabarnya. Tapi laki-laki berkaus putih tadi siapanya?

__ADS_1


...----------------...


"Pelan dong, Mas!" Seru Rati karena Candra mengemudikan mobil dengan kecepatan tak biasa.


"Iya. Kenapa sih ngebut segala? Rame banget nih!" Timbrung Caroline.


Namun, lelaki bermata elang itu tak mengindahkan suara di belakang. Hatinya terlalu panas dan sulit untuk berpikir dingin. Memalukan sekali, ia harus menumpang hidup di rumah seorang mantan dari kekasihnya. Cih, tak sudi.


Akhirnya Bryan memberikan ultimatum pada Candra untuk menepi. Ia mengambil alih kemudi. Kali ini Candra duduk di jok belakang di samping sang adik.


"Kenapa sih, Mas?" Rati merasakan aura bahwa kakaknya sedang tak baik-baik saja.


"Iya. Kenapa sih? Nyawa kita nih taruhannya." Sungut Caroline.


Tetapi Candra masih tak bergeming. Pandangannya lurus pada perempuan di sebelah kemudi yang sedang menatap ke depan. Perempuan itu sedari tadi hanya diam tanpa bertanya atau mencoba menjelaskan sesuatu padanya, setidaknya membuatnya merasa tenang.


"An, Kita mau kemana ini?" Tanya Bryan.


"Ngikut Rati aja!" Jawab Anara singkat tanpa memutus pandangannya dari jalan.


"Aku mana ngerti, Kak." Balas Rati.


"Ya udah kita ke Malioboro aja!" Caroline memberikan solusi alternatif.


"Kamu bisa nyetir ternyata, Yan?" Lanjut Caroline.


"Hahaha. Ya bisalah, Kak. Gimana sih? Pacarnya masa nggak tau." Suara Rati menertawakan.


"Ya, mana aku tau, Rat. Selama ini yang kutahu dia ... hmmm numpang hidup di kakakmu." Suara Caroline lirih dengan pemilihan kata yang dibuat sebaik mungkin.


"Ya ampuuun, Ra-ti kak, Ra-ti. Mas Bryan itu bukan numpang. Dia memang diminta abahku buat nemenin Mas Djata. Numpang kayak apa aja sih? Sembarangan. Dia itu anak horang kayah." Rati sudah sebel dibuat Caroline.


"Ha??? Masak? Orang dia kalau pergi sama aku naik motor." Caroline masih tak percaya.


"Kakak ni sumpah ya. Coba deh cari di internet siapa pemilik perusahaan tongkang di Kalimantan. Nah, itu bapaknya dia noh! Antoni Wijaya." Rati bahkan mengatakannya dengan hampir tak terdengar.


"What?" Caroline kaget dibuatnya.


Jadi, kekasihku ini anak orang kaya. Buseet tapi penampilannya biasa banget. Ganteng sih emang. Tapi aku masih nggak nyangka dia setajir itu.


Beranjak dari Malioboro. Kelimanya sekarang berada di Alun-Alun Kidul Jogja. Candra dan Anara menyingkir dari tiga sahabat lainnya. Ada yang ingin ia bicarakan. Tentu ini perihal Janu.


"An ..." Yang dipanggil menoleh.


"Aku nggak mau kita tidur di sana." Tangannya menggenggam erat jemari kekasihnya.


"Lalu?" Anara tau betul lelakinya tak suka. Ia pun tak menyangka jika Caroline memiliki hubungan keluarga dengan laki-laki di masa lalunya.


"Kita cari penginapan!"


"Iya, tapi besok ya? Ini sudah malem, Candra."


"Oke. Tapi pagi-pagi aku mau kita keluar dari rumah itu."


"Berdua aja?" Candra mengangguk mantap.


"Setelah ini, aku cari rental mobil." Ditariknya perempuan itu ke dalam dekapan.


Bryan yang sebenarnya ingin tau apa yang terjadi mengurungkan niat ketika mendapati keduanya sedang berpagutan.


Benar saja yang dibilang Caroline. Hatinya terasa dicabik melihat kedua insan yang dimabuk asmara itu. Sedang ia tak bisa melakukannya kepada perempuan yang menganggap dirinya kekasih.


Caroline, ternyata kau benar. Mereka menunjukkan perasaan cinta. Tak seperti aku kepadamu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2