
Selasa, hari terakhir di penghujung 2013. Pelaksanaan Pemilwa berjalan lancar tanpa halangan berarti. Penghitungan suara sudah dimulai dari pukul 14.00, satu jam setelah pemungutan suara ditutup.
Anara masih setia menunggui pujaan hatinya di lobi sambil sesekali ikut terbawa pada sorak sorai mahasiswa lain yang histeris ketika perolehan suara calon DPM yang diusung lebih unggul.
Diusung? Memang, kandidat-kandidat itu kebanyakan berasal dari organisasi mahasiswa dengan segala tujuan dan kepentingannya, persis seperti pesta demokrasi rakyat skala nasional.
Ketika hari terang berganti petang, penghitungan surat suara baru usai. Terlihat beberapa panitia termasuk Candra dan sahabatnya, Bryan masih melakukan evaluasi dilanjutkan membersihkan tempat yang sekarang berangsur sepi ditinggalkan massa pendukung beserta calon terpilih yang totalnya ada sembilan. Banyak bener.
...----------------...
Mereka bertiga sudah berada di mobil membelah keramaian malam kota kembang Malang. Dari dalam kaca jendela, terlihat jalanan sangat padat oleh kendaraan yang membawa muda-mudi entah kemana?
Yang jelas malam tahun baru ini seolah memaksa semua manusia keluar dari tempat persembunyiannya. Menikmati kembang api, konser musik, atau menghabiskannya dengan quality time bersama keluarga tercinta.
Keluarga? Aah kangen rasanya Anara menghabiskan waktu bersama ayah, ibu, dan adiknya di kampung halaman. Tetapi karena disibukkan pekan UAS dan kebetulan adiknya yang sama-sama sedang kuliah di luar kota juga tak pulang. Berakhirlah di sini dirinya. Duduk manis di sebelah Candra yang sibuk mengemudikan mobil menuju ke arah Paralayang, Gunung Banyak.
Bryan yang duduk di jok belakang akhirnya bernapas lega seusai kelar kepanitiaan Pemilwa. Tubuhnya sengaja disandarkan untuk relaks sebentar. Di sampingnya, perempuan manis berambut lurus sebahu sedang sibuk membenarkan duduknya. Sepersekian detik yang lalu perempuan itu masuk ke mobil Candra yang menungguinya di daerah Soekarno-Hatta.
"Lama ya? Caroline." Perempuan bermata sipit itu mengulurkan tangan pada Anara lalu menatap Candra diikuti perkenalan nama. Terakhir senyumnya dilempar pada laki-laki di belakang Anara yang kini menegakkan duduknya. Kelihatan sekali bibirnya tertarik mengulum senyum bahagia.
Perempuan berwajah oriental ini adalah teman dekat Bryan. Pe-de-ka-te ceritanya, Caroline terlihat humble dan cepat beradaptasi. Dalam hitungan menit, Anara dan Caroline sudah terlihat akrab dilihat dari obrolan mereka berdua tentang perayaan pergantian malam tahun baru di beberapa kota.
Obrolan keduanya menjadi panjang lebar ketika Caroline menceritakan pengalaman menghabiskan tahun baru di Jogja. Kebetulan macam apa ini? Anara antusias luar biasa sementara Candra terlihat seakan berkata sudahi bahasan ini!
Jengkel luar biasa tapi hanya bisa menahannya ketika dua perempuan itu masih saja terus membahas Jogja. Bayangan pertemuan Anara dengan Janu terus mengusiknnya seiring telinganya terpapar cerita mengenai Jogja.
Dalam waktu bersamaan, hati Candra berjingkrak ketika menyadari bahwa yang terlintas dalam pikirannya adalah perjumpaan Anara dan Janu, bukan lagi ingatan kecelakaan Anjani, mantan kekasihnya. Bibirnya tersenyum, seulas saja, tetapi terekam oleh netra Anara.
"Kenapa?" Suara Anara mengangetkan Candra yang tengah bahagia, dia sudah sukses move-on pikirnya.
"Apa?"
"Kamu, senyum-senyum kenapa?"
"Ya ... bahagia."
"Masa sih?"
"Terus aku harus gimana? Nangis?"
"Jangaan. Aku nggak jago merangkai kata ngeberhentiin orang nangis".
"Nggak perlu capek pakai kata."
"Yaudah, kubiarin kamu nangis. Tapi berisik dong."
"Pakai ini." Bibir Candra sedikit dimanyunkan dan Anara memutar matanya.
"Ada orang di belakang. Jangan lupa!"
"Bagus. Kalau nggak ada mereka kucium kamu di sini juga." Lirihnya disertai kerlingan mata.
"Genit."
"Ke kamu doaaaang." Tangan Candra sudah mengacak pelan rambut Anara.
...----------------...
Udara sudah semakin dingin ketika mobil yang mereka tumpangi perlahan menyibak kabut khas pegunungan. Jalanan yang masih bergeronjal karena aspal yang tidak mulus dan pemandangan kanan kiri yang gelap serta beberapa bagian langsung mengarah ke bawah yang terjal sukses membuat seorang Anara merapal segala kalimat keTuhanan.
"Ya Allah, astaghfirullah, selamatkan aku!"
"Doain aku juga lah! Masa kamu doang yang mau selamat." Candra tak habis pikir bisa-bisanya Anara tak membawanya dalam doa. Sementara dua makhluk yang tengah berbunga-bunga di belakang tertawa cekikikan.
"Kenapa lu?" Candra ketus.
"Ternyata Anara ini refleksnya bagus ya, langsung ingat Tuhan." Bryan menimpal.
__ADS_1
"Ya menurutmu aku kudu gimana, Yan? Ini jalannya aja horor. Tau gini tadi mending ke pantai. Camping, bakar ikan, terus besoknya lihat sunrise." Kini Anara sudah menghadap ke belakang.
"Eh, perlu diagendakan itu, An. Kayaknya seru deh." Bryan mengangguk-angguk.
"Gimana, Lin?" Bryan menoleh pada Caroline yang sibuk memegangi telapak tangan sambil sesekali mendesis. Caroline hanya mengangguk setuju.
"Kamu kedinginan? Ya ampuuun tangan kamu dingin banget." Bryan sudah meraih tangan gebetannya itu untuk ditelangkupi dengan telapak tangannya. Sebentar kemudian parka milik Bryan sudah bertengger pada tubuh Caroline.
"Iya, ternyata ini nggak cukup menolong." Sahut Caroline sambil memegang sweater miliknya yang memang terlihat sedikit tipis.
"Ampuuun. Malah jadi kita yang lihatin kalian mesraan." Candra mencibir Bryan dan mendapat isyarat diam dari Anara.
Kini suasana sepi menyelimuti mereka berempat. Anara sibuk memejam mata sambil merapal segala doa. Sesekali Candra melirik ke perempuannya, sekilas menyentuh tangan Anara yang nampak lucu ketika panik. Berharap memberi ketenangan di sana. Sedangkan Bryan dan Caroline sibuk berpeluk ria demi gadis oriental itu tidak kedinginan.
Sesekali Anara menengok ke belakang memastikan keduanya aman, tak jarang perempuan itu mendapati Bryan tengah nyengir kuda karena malu, lalu jika Anara sudah memelototi Bryan, laki-laki berkulit putih itu akan merenggangkan dan melepaskan tangannya dari bahu Caroline. Anak gadis orang, pacar bukan, tunangan bukan, istri apalagi. Main peluk bae.
...----------------...
"Kita misah aja deh!" Ujar Candra ketika sudah menginjakkan kaki di Paralayang. Sementara wajah Bryan menyambut kalimat Candra dengan heran, berbeda dengan Anara yang terlihat kurang suka.
"Kenapa sih? Ini banyak orang lo, kalau misah nanti ribet pulangnya harus saling tunggu."
"Iya. Mending tetep berempat" Caroline memberikan hak suaranya pada kalimat Anara.
"Ya lagi, sebel banget aku sama mereka, rangkul-rangkulan sementara kita asik jadi nyamuk." Sejak kapan jadi nyamuk malah asik? Suara Candra hanya bisa didengar oleh Anara karena diucapkan tepat di telinga perempuan dengan rambut terurai itu.
"Astagaaa ... Jadi, kamu minta pisah karena iri?" Anara menepuk jidatnya sambil terkekeh. Masih kompak, Bryan dan Caroline ikut tertawa geli.
"Yuk yuk aku peluk!" Anara merentangkan tangannya dan memeluk Candra sekilas.
"Udah kan?" Anara mendongakkan kepala pada kekasihnya yang jauh lebih tinggi itu.
"Ahh ... gitu doang. Udah lu sono aja, Yan!" Menarik tangan Anara dan berjalan menjauhi pasangan pedekate itu.
Anara mengikuti langkah Candra menjauh dari Bryan dan Caroline. Tangan Candra tak lepas menggenggam jemari perempuan di sampingnya. Sesekali ia menciumi ujung kepala dengan aroma melati itu.
"Udah dong. Dianya lelet nggak buru-buru pergi juga." Tangan Candra sudah menarik pinggang Anara untuk menghapus jarak, kepala Anara bersandar pada bahu ternyaman di sampingnya.
"Lihat deh! Itu indaaaah banget. Kita kayak lihat lautan cahaya ya?" Tangan Anara menunjuk ke depan kemudian menatap Candra dengan sorot mata bahagia.
"Kamu tuh suka banget ya sama cahaya terang?"
"Nggak harus terang yang benderang juga sih. Asal ada cahayanya aku suka, kayak sekarang ini, makasih ya aku seneng banget kamu ajak kesini." Anara mendaratkan kecupan kilat di pipi Candra.
"Kamu? Berani-beraninya ya?" Tangan Candra makin erat memeluk perempuan di sampingnya sesekali mengelus-elus lembut membuat Anara kegelian.
"Udah dong! Geli!"
"Tapi suka, kaan?" Anara hanya tersenyum mendengar kalimat terakhir Candra. Iya, memang aku suka.
Candra kembali menciumi ujung kepala kekasihnya itu, aroma melati dari rambut Anara menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya, wangi. Tak Candra hiraukan pengunjung lainnya. Toh yang lain pun pasti melakukan hal yang sama dengan pasangannya, bahkan lebih mungkin.
"Candra."
"Ya?"
"Ini persis kayak pas aku ke Jogja kemarin, Bukit Bintang di Gunung Kidul Jogja ya kayak gini. Bisa lihat cahaya kota dari atas. Romantis banget kan?" Candra hanya mengangguk menyimak cerita yang tak ia sukai dari kekasihnya itu.
"Tapi sayangnya pas kesana, aku sama Hartik udah persis nyamuk." Mendadak raut muka Anara terlihat berubah.
"Kenapa?"
"Ya gimana enggak? Nilam sama pacarnya yang namanya Yuda mesra-mesraan sementara kita udah persis nyamuk, ada tapi samar hampir nggak kelihatan."
"Nilam itu temenmu yang inisiatif bawa Janu ke stasiun?" Anara hanya mengangguk dan segera menyudahi bahasan tentang liburannya ke Jogja, bisa makin rumit.
"Kalau di sini aja udah persis yang kamu bilang di Jogja itu, kita kesini aja sering-sering. Nggak perlu jauh-jauh ke Jogja. Lebih irit juga."
__ADS_1
"Ya beda dong, Ndraaaa."
"Kalau di Jogja ada Janu? Di sini enggak? Gitu?" Raut wajah Candra benar-benar memperlihatkan ketidaksukaannya dan itu juga yang ditangkap Anara.
"Udah, cukup! Nggak usah dibahas! Daripada emosi."
"Iya ... maaf sayaaang." Candra mencium bibir Anara dan dengan cepat melepaskannya ketika tangan Anara menahan dada bidang Candra agar tak semakin terbawa hasratnya.
"Kenapa?"
"Banyak orang." Mata Anara mengedarkan pandangan pada pengunjung yang didominasi pasangan muda.
"Sebentar aja!" Candra kembali menarik pinggang Anara mendekat.
"Ndraaa ...." Tangannya kembali menahan dada bidang Candra.
"Di sini gelap, sayang. Toh mereka mungkin juga begitu. Sebentar aja!" Candra kembali menarik Anara dan mencium bibir menggoda itu dengan segera sebelum Anara menahannya kembali.
Janji sebentar aja itu pun berlalu, perasaan was was malah memacu adrenalin Candra hingga ciumannya sangat menuntut. Digigitnya lembut bibir milik Anara dan menyesapnya penuh rasa damba.
Sebentar kemudian lidahnya sudah menyusup ke dalam rongga mulut Anara, saling melilit, dan bertukar saliva di sana. Napas keduanya saling memburu, diraihnya tengkuk Anara memperdalam ciumannya. Anara yang kesulitan bernapas membuat dadanya kembang kempis dan membuat Candra semakin gila.
Tangannya mulai turun dan diletakkan di dada Anara, seiring ciumannya yang kian liar, tangannya teratur meremas gundukan daging kenyal perempuannya hingga membuat Anara terengah-engah disertai desah lirih.
Pertautan keduanya berakhir ketika tangan Candra semakin liar dan hampir akan masuk ke dalam blouse Anara yang dibalut zipper hoodie dengan resleting terbuka.
"Kenapa?" Napas Candra masih tersengal-sengal dengan mata sendu.
"Udah, banyak orang." Jawaban Anara memupus hasrat Candra yang sudah di awang-awang.
Kembali lelaki bermata cokelat itu menarik pinggang perempuannya. Kali ini bukan untuk menikmati bibir manis serupa candu itu, dituntunnya kepala Anara bersandar pada bahunya, dikecup keningnya penuh rasa, dan diciuminya ujung kepala Anara.
"An."
"Hmmm."
"Wangi."
"Aku bahkan belum mandi."
"Aku suka wanginya, tapi ...." Kalimat Candra tertahan.
"Tapi apa?"
"Tapi horor kalau lagi sepi, gelap gini." Candra begidik ngeri.
"Kenapa?"
"Rambut kamu harum, tapi juga horor, An." Kemudian Anara mengambil sedikit helai rambutnya lalu mendekatkannya ke hidung.
"Wangi melati." Anara masih diliputi tanda tanya.
"Hiii ... melati kan identik dengan kunti." Anara membelalakkan mata lalu memeluk erat Candra.
"Pulang yuk!" Candra semakin tertawa melihat raut ketakutan Anara.
"Baru sampai, An. Lama di jalan dong macet gitu."
"Kamu siiiih."
"Ya udah sini peluk yang erat!" Candra memeluk kekasihnya yang takut karena keusilannya. Anara semakin mengeratkan pelukan dan membuat Candra mengulum senyum bahagia.
"Lain kali ganti aroma aja ya! Apel apa lemon gitu, kan seger." Candra mengelus-elus lembut rambut Anara.
"Kamu mau serasa nyium kain pel?" Pertanyaan Anara membuat Candra menggelak tawa.
Candra semakin merengkuh Anara dengan erat seolah tak ingin lepas, diciumnya sekilas bibir yang menggoda untuk disesap itu. Pandangan keduanya lurus ke depan. Membaur bersama cahaya lampu berpadu meriah kembang api sebagai tanda dimulainya tahun 2014.
__ADS_1