
Candra sampai di rumahnya dengan wajah sumringah. Walau rindunya masih belum terobati semua, tetapi setidaknya Anara tak benar-benar melakukan ide gilanya untuk pacaran tanpa ciuman dan sentuhan.
Bisa beneran gila aku.
Pintu yang tidak terkunci itu sejenak membuat Candra terdiam sampai dirinya sendiri sadar bahwa sahabatnya masih di sana. Nostalgia ... kata Bryan beberapa hari lalu sambil mengatakan akan menetap di Malang barang dua minggu.
"Enak ya lu kerja freelance? Dapet duit iya. Sambil nglayap pula." Ungkap Candra menemukan Bryan tengah sibuk dengan notebook-nya di ruang tamu.
"Yo'i. Gue kan kerja, bukan dikerjain." Sambung Bryan.
"Sialan! Nyindir gue lu?"
"Kesindir? Bagus lu berarti peka." Pungkas Bryan akhirnya.
"Iya aja deh."
Candra segera membersihkan diri. Tubuhnya terasa lengket meskipun udara malam ini dingin. Itu karena hampir seharian tadi ia berada di luar ruangan. Mencari berita yang sudah jadi kesehariannya.
"Dah makan lu?"
"Belum."
"Delivery gimana?" Tawar Candra.
"Boleh. Nanggung mau keluar. Lagi encer otak gue buat nulis." Sambung Bryan.
Candra terlihat sibuk dengan gawainya. Memesan makanan untuk mengganjal perut malam ini. Rencananya mengajak Anara cari makan sengaja diurungkan. Perempuannya sedang jadi singa, semua tindak-tanduk Candra selalu salah dan menuai protes.
Barangkali dia lagi PMS. Kenapa bisa aku nggak mikir sampai sana?
"Yan!"
"Hmmm."
"Ehmm ...." Candra terlihat enggan untuk melanjutkan kalimatnya.
Bryan melirik sahabatnya yang sedang menerawang jauh, "apaa?"
"Menurut lu, kesempatan kedua itu beneran ada?" Tanya Candra.
Sementara Bryan mengernyitkan dahi tak memahami kemana arah pembicaraan sahabatnya, "maksud lu?"
"Gue cerita, lu jangan ketawa!"
"Iyaaa. Apaan emang?" Tanya balik Bryan memutus pandangan dari notebook putihnya.
"Anara ngajakin gue pacaran sehat."
__ADS_1
"Maksudnya pacaran sehat? Emang ada?"
"Lu aja bingung kan? Maksud dia, pacaran yang tanpa pegang gitu, cium apalagi." Terang Candra.
Tawa Bryan meledak seketika membayangkan kembali dirinya yang pernah memergoki dua sahabatnya itu hampir ciuman di ruang tamu.
"Tuh kan ... ketawa lu."
"Ya kalau bisa kenapa enggak?" Tantang Bryan kembali fokus pada kerjaannya. Menuliskan sesuatu di atas keyboard benda tipis di depannya.
"Jadi, menurut lu, bisa?"
"Hmm bisalah, tergantung masing-masing. Buktinya gue pacaran sama Caroline juga nggak ngapa-ngapain tuh, nggak saling sentuh, cium apalagi." Terang Bryan memanggil memori lalunya.
"Itu sih karena emang lu kagak cinta."
Tawa keduanya meledak, merasa konyol dengan apa yang sebenarnya mereka bahas. Tapi, untuk mereka selaku pria. Membahas soal begituan bukanlah hal tabu. Itu sudah biasa.
Sampai suara, "permisi." dari seseorang dengan topi kuning di ambang pagar menggema. Membawa kardus kecil yang bisa ditebak berisi apa. Candra bergegas menghampiri dan menyerahkan uang pada pria itu. Kini kardus kecil sudah berpindah tangan.
"Makanan kita." Ujar Candra menenteng menu malam ini.
Hanyut dalam obrolan ringan di sela-sela kegiatan mengisi perut, membuat keduanya kadang tertawa, terkadang menampilkan wajah serius, dan tak jarang saling ledek seperti dulu kala.
"Iri gue, bisa lu kerja jadi content writer sambil kemana-mana." Ucap Candra.
"Persis Rati lu pas ngomong begitu."
Bisa-bisanya lupa punya adik. Author pun juga hampir lupa pada kabar Rati di Jogja. Hahaha. Biarlah dia sibuk dengan Jogja, rindu, dan angkringan ya.
"Bisa-bisanya. Mas macem apa lu?" Ledek Bryan mengernyit.
"Terlalu sibuk kerja. Maklum."
"Terlalu sibuk ngurusin soal asmara kali." Ralat Bryan.
Candra hanya nyengir kuda mendengar kalimat Bryan yang tepat mengenai sasaran, "dan ... gimana kabar dunia asmara lu?"
"Ya beginilah."
"Lu nggak ada niatan cari cewek, Yan?"
"Belum. Pusing kalau lihat kalian berdua. Jadi horor gue mau mulai kembali. Lagi, gue pengen nikmatin kesendirian dulu."
"Kalah lu sama truk. Truk aja gandengan, elu sendirian." Hina Candra penuh kemenangan.
"Lu tau Lamborghini?" Candra mengangguki pertanyaan Bryan.
__ADS_1
"Nah, itu ibaratnya gue. Biar pun single gue berkelas. Limit." Sambung Bryan mengibaskan rib leher kausnya.
"Eleeeeh. Gaya-gayaan lu." Timpal Candra melayangkan bantal sofa.
"Makanya jangan hina jomblo lu! Kek udah keren aja. Inget lu kalau ada masalah, gue juga yang repot kampret!" Pekik Bryan menyeru pada Candra yang melengos ke arah pantry.
"Salah sendiri lu mau gue repotin."
"Bener-bener sialan lu! Kagak tau thank you." Gerutu Bryan.
Candra kembali dengan segelas air putih yang beningnya ... bagai menembus pandangan, "By the way makasih ya, Yan! Lu selalu ada buat gue. Apapun kondisinya." Ujar Candra serius mengulurkan air pada sahabat di depannya.
"Nggak lu racun kan?" Tanya Bryan mengambil gelas dari tangan Candra.
"Belum sih. Ntar gue cari tahu belinya dimana." Balas Candra.
"Kumpulin duit yang banyak lu!" Ujar Candra melihat Bryan yang sedang sibuk mengetik. Kemudian menutup pintu kamarnya.
Dibukanya ponsel warna hitam itu, mencari nama Anara di sana. Kemudian tangan Candra dengan lihai mengetikkan sebuah kalimat.
"Beneran harus segera dihalalin tuh Anara." Gumam Candra merebahkan tubuh atletisnya.
"Udah mulai nglantur dia ngomongnya." Gumam Candra lagi.
Sudah lewat 20 menit dari pesan yang Candra kirim kepada perempuannya, tetapi ponsel yang teronggok di atas kasur itu belum juga berbunyi sebagai penanda pesan berbalas.
An, aku serius pengen minta kamu langsung ke orang tuamu.
Kembali Candra pandangi pesan yang tadi ia kirim ke Anara. Besar harapan dalam hatinya untuk Anara membalas Ya. Tetapi pesannya masih terbatas centang biru.
Kamu belum yakin? Makanya aku mau yakinin.
Sekali lagi Candra mengirim pesan. Sekali lagi pula ia letakkan kembali ponsel miliknya. Napasnya diembus begitu kasar. Hatinya tak karuan, sebersit ketakutan bahwa kekasihnya sedang meragu.
Salahku sendiri. Semua karena foto itu. Aaaargh.
Kembali netranya menaruh fokus pada layar ponsel yang menampilkan WA. Kekasihnya itu benar-benar menguji kesabaran. WA dari Candra tak dibalas. Tapi tulisan online masih menghiasi profilnya.
Candra menekan tombol telepon yang membawanya pada bunyi tuuut... tuuut... tuuut menuju Anara. Perempuan itu benar-benar memantik amarah. Setelah dua kali mencoba, ponsel hitam Candra akhirnya melayang ke udara dan ... Praak! benda pipih itu jatuh.
Bryan yang mendengar bunyi sesuatu jatuh dari dalam kamar Candra hanya menggelengkan kepala, bukan setahun dua tahun dia mengenal sahabatnya itu.
Pasti hape tuh yang baru melayang. Candra, Candra ... nggak berubah.
Bryan menutup notebook dan menuju kamarnya. Kerjaan sudah beres, waktunya merebahkan punggung. Disambarnya ponsel yang berada di atas meja berniat untuk sekadar me-refresh mata. Namun, netranya dibuat terkejut oleh rombongan pesan yang dikirim dari satu nama.
Kenapa dia jadi hobi WA gue sih?
__ADS_1
Bryan tersenyum hingga akhirnya menggelengkan kepala.
...----------------...