
Setelah selesai membersihkan diri. Anara yang telah terlihat segar kembali, merogoh ponsel yang masih berada di dalam tas ransel miliknya. Mencari nama Candra dan suara tuuut ... tuuut ... tuuut mencoba menyambungkannya dengan lelaki di seberang sana.
"Candra! Aku sudah sampai."
"Iya sayang, dijemput Rati kan tadi?"
"Bukan, Bryan."
"Bryan! Ngapain dia di sana?" Tentu Anara harus menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi pertanyaan Candra itu.
"Besok aku ambil libur. Perlu aku susulin?"
"Nggak ... lusa aku udah balik."
"Iya. Hati-hati selama jauh dan jangan macam-macam! Selalu kasih kabar, jaga mata, jaga hati, jaga semua!"
"Iyaa, Candraaa." Anara menutup sambungan telepon.
"Rati! Kita cari makan, yuk!"
"Makan apa kak enaknya?"
"Terserah. Aku ngikut kamu aja."
"Ya sudah, yuk!"
Anara dan Rati keluar dari kos dan menuju ke pusat keramaian Kota Jogja untuk mengisi perut mereka. Di emperan jalan, keduanya memesan nasi goreng kambing dan duduk lesehan.
"Kak, kayaknya mobil itu daritadi ngikutin kita." Ujar Rati melempar pandangan pada mobil di seberang jalan.
"Masa sih?"
"Iya. Seingatku malah dari waktu kita keluar kos deh."
"Tetangga kali, kebetulan mau makan nasi goreng kambing juga."
"Ah, iya juga kali ya."
Keduanya menikmati nasi goreng kambing dengan lahap. Berlaukkan suara kendaraan yang lalu lalang di depannya. Ditemani suara dari para musisi jalanan yang kadang menyapa dengan ramah.
"Langsung pulang atau kemana, Kak?" Tanya Rati ketika mereka berjalan menuju tempat terparkirnya motor.
"Pulang aja, Rat-ti!"
Tiba-tiba seseorang menghadang keduanya. Menarik cepat Anara menjauh dari Rati. Membuat Anara dan Rati kaget ketika melihat siapa pemilik wajah itu.
"Janu!"
"An, aku pengen ngomong. Sebentar aja."
"Kamu nggak ada kapok-kapoknya, ya? Udah dibilang enggak ya enggak." Anara berusaha melepaskan cengkeraman tangan Janu. Namun, lelaki itu mencengkeram lebih kuat.
"Lepasin!"
"Enggak."
"Janu, lepas!"
"Aku lepas tapi ikut aku!"
"Nggak akan." Anara menatap tajam pada netra bulat di depannya.
Laki-laki sialan! Kata-katamu tadi siang bahkan masih kuat menempel di telinga.
"Ikut aku, An!" Janu menarik paksa Anara hingga ke seberang jalan.
"Rat-ti!!!" Teriak Anara.
Sayangnya keberadaan mereka terlampau jauh dari keramaian warung kaki lima yang baru mereka tinggalkan. Rasanya teriakan Anara sia-sia belaka. Janu kini telah melajukan mobilnya entah kemana.
"Mas Bryan kenapa nggak angkat-angkat juga sih." Gerutu Rati yang teleponnya tak kunjung diangkat.
"Mas Bryan!"
"Apa lagi? Mau diojekin atau pesan apa?"
__ADS_1
"Kak Anara ...."
"Anara kenapa?" Mendengar suara Rati yang terdengar tak karuan membuat Bryan sadar bahwa kali ini perempuan itu menghubunginya bukan untuk menjadikannya ojol.
"Diculik Janu."
"Hah?"
"Cepetan kesini!"
"Kamu dimana?"
"Gondokusuman."
"Ya ampun itu daerah mana?"
"Deketnya Embung Langensari, Maaas."
"Nggak tau, Rat. Kita ketemu dimana gitu."
Ini setting waktu 2015 ya. Belum ada fitur share location di aplikasi WA.
"Ya udah. Ketemu di Malioboro aja!" Ujar Rati ketika ingat kembali jika Bryan adalah pendatang baru, sangat baru di sini. Pantas nggak ngerti.
"Oke."
"Udah cepetan berangkat!" Bentak Rati. Panggilan terputus. Rati memacu motornya cepat.
Janu menepikan mobilnya di sebuah danau di kawasan Sleman. Keduanya masih diam. Janu menatap perempuan di sampingnya yang baru saja mengatainya lelaki gila.
Benar, An. Aku gila. Gila padamu. Aku menyesal dulu meninggalkanmu begitu saja.
Andai waktu bisa kuputar. Aku akan lebih memilih terus di sampingmu, daripada pergi menenangkan diri yang kacau karena perpisahan orang tuaku.
Aku menyesal ... Orang tuaku tetap bercerai, aku pun kehilangan dirimu. Cinta pertamaku.
"Anara!" Suara Janu memecah kesunyian.
"Aku minta maaf, sungguh minta maaf. Aku tau mungkin kamu muak, tapi aku benar-benar menyesal."
"Aku janji ini terakhir kali aku menyakitimu, An. Percayalah! Aku juga yakin kamu pun masih memiliki perasaan yang sama padaku."
"Tiga kali kita bertemu kembali, An. Di Jogja, di kota yang pernah kita impikan bersama. Kamu sadar? Ini adalah kode dari alam kalau kita memang jodoh."
Anara tersenyum getir mendengar ucapan Janu. Lelaki di sampingnya selain gila juga punya tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Beruntung dulu Janu meninggalkannya. Jika tidak, barangkali dia ikutan gila.
"An ... kita bisa memulainya kembali. Aku janji kita akan bahagia."
"Sudah? Dengar aku Janu! Aku muak dengan segala janji-janjimu. Kamu bahkan tak sedikit pun berubah dari dulu. Suka sekali marah dan memohon di waktu bersamaan."
"Aku serius kali ini, An."
"Telat! Aku sudah mendapatkan semua yang kamu janjikan dari lelaki yang datang menawar sakit ketika kau tinggal."
"An! Kamu nggak tau gimana tersiksanya aku ketika jauh darimu?"
"Lalu, kamu datang lagi setelah dua tahun aku menunggu di sini. Di tempat yang kita impikan ini. Tapi bersamaan dengan harapan yang kamu beri. Kamu hilang lagi begitu saja." Sambung Janu.
"Justru aku yang tersiksa. Aku bagai mayat hidup yang mencarimu tanpa tau siapa yang harus aku tanyai kemana pergimu?"
"Lantas kenapa dulu kamu harus menunggu? Kenapa kamu tak pernah mencariku? Hah?" Berang Anara.
"Kembalilah, An! Kita mulai lagi apa yang belum selesai."
"Maaf, Janu. Aku nggak bisa."
"Kenapa?"
"Kamu tau sendiri alasannya."
"Aku yakin dia hanya pelarianmu dariku."
"Kamu salah besar. Aku begitu mencintainya. Bahkan, aku sudah mengenal keluarganya. Pun sebaliknya."
"Omong kosong."
__ADS_1
"Terserah kamu, Janu."
Janu meraih tangan Anara, hendak kembali meyakinkan mantan kekasihnya itu bahwa kali ini dia benar-benar serius. Janu bertekad akan memperbaiki semua. Hatinya begitu sakit membayangkan Anara dengan pacarnya.
"An, apa tidak ada kesempatan kedua?"
"Aku memberimu banyak waktu, banyak kesempatan setelah dua tahun lebih kamu pergi tanpa kabar. Tapi apa? Nyatanya mencariku pun tidak."
"Aku menunggumu, An."
"Kenapa kamu nggak mencariku, Janu? Seegois itu perasaanmu?"
"Anara!" Janu menggenggam tangan Anara.
"Jangan menyentuhku!" Anara menarik tangannya pelan.
"Aku harus apa?"
"Kamu harus melupakan aku!"
"Mana bisa, Aaaan?" Janu menyugar rambutnya frustrasi.
Keduanya terdiam begitu lama. Janu masih menundukkan kepalanya berbantalkan tangan yang terus memegangi kemudi.
"Antar aku ke tempat tadi!"
"Kenapa?"
"Aku lelah. Hari ini aku minta terakhir kali kamu berbuat gila seperti ini!'
"Aku gila karenamu, An."
"Kamu bertingkah nekad karena ulahmu sendiri. Jangan pernah salahkan aku!"
Suara embus napas keluar dengan kecewa. Air muka Janu masih belum menerima harus merelakan cinta pertamanya. Memorinya kembali pada masa awal mereka dekat.
"An, dulu pertama kali kita deket karena dudukmu di depanku. Kamu kesulitan di matematika. Setiap tugas matematika aku yang menuliskannya di bukumu." Janu tersenyum.
"Sementara aku lemah di bahasa dan malas membaca. Kelemahanku kamu tutup dengan kelebihanmu. Seandainya aku dulu cukup pandai mempertahankan, barangkali detik ini kamu masih menggenapi kekuranganku." Kali ini suara Janu mulai parau.
"Nggak ada yang perlu disesali, Janu!"
"Aku kehilangan apa yang aku butuhkan." Suara Janu hampir tak terdengar.
"Seandainya aku masih diberi kesempatan kedua sebagai kekasih ...." Kalimat Janu terpotong.
"Sudah. Jangan diteruskan! Kita bisa temenan." Tawar Anara.
"Mana ada, An? Temenan seorang laki dan perempuan yang akan abadi? Pasti akan kalah salah satunya. Dan aku sudah kalah bahkan sebelum memulai."
"Aku tak ingin memberimu kesempatan dan juga harapan. Cerita kita sudah selesai, Janu. Biarlah tak indah! Aku tak menyesal, juga tak menaruh dendam karena dicampakkan."
"Ah Anaraa ... betapa bodohnya aku?"
"Justru jika dulu kita masih bersama, mungkin kamu tak akan pernah tumbuh jadi dewasa. Sudahlah! Belajarlah menerima!"
"Seiiring waktu, kamu akan bisa melupakan aku. Bukalah hatimu untuk perempuan lain!" Sambung Anara.
"Semua sudah jelas? Kamu bisa antar aku pulang!"
Tanpa menyahut, Janu menyalakan mobilnya. Mobil itu kembali menembus jalanan kota. Meski hatinya belum terima, tapi dipaksa untuk terima. Mau gimana lagi? Perempuan itu sudah menutup rapat hati dan masa lalunya.
Semua memang salahku. Penyesalan memang hanya datang di akhir cerita.
"Semoga kamu, juga aku bisa lebih baik. Lebih bahagia dengan jalan hidup masing-masing."
Bahkan untuk berkata amin saja lidahku kelu. Jalan masing-masing? Sungguh bukan ini sebenarnya yang kuharapkan.
"Jika suatu hari hatimu disakiti lelakimu itu, aku siap membahagiakanmu kembali, An." Tutur Janu menutup perjumpaan malam itu.
Anara berdiri di depan pintu gerbang. Menanti Rati pulang, entah bagaimana kalang kabutnya Rati tadi ketika Anara dipaksa mengikuti Janu?
Semua sudah jelas. Semoga Janu bisa terima!
Anara merogoh ponselnya dari dalam tas. Sengaja ia tak menghubungi siapapun tadi. Kini ponselnya sudah dipenuhi banyak panggilan tak terjawab dan sederet pesan WA dari Rati dan juga Candra.
__ADS_1
...----------------...