Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Ada Apa?


__ADS_3

Bryan yang baru kembali memasuki kos Anara pun mendadak menghentikan langkahnya. Satu hal yang tiba-tiba ia sadari, ia tak tahu nomor kos Anara, pintu mana yang akan ia ketuk, atau siapa yang akan ditanyai olehnya.


Shit! Bodoh.


Namun, di tengah gamangnya, tiba-tiba seseorang yang tak asing tiba-tiba muncul, bagai malaikat tanpa sayap yang memantik idenya untuk memecahkan masalahnya, malaikat itu bernama Hartik.


"Loh, mas Bryan?" Tanya Hartik dengan mata setengah melotot. Telunjuknya juga mengacung ke arahnya.


Benar-benar salam pertemuan yang tidak sopan, sama sekali.


"Kok di sini. Ngapain?" Ucapnya lagi, masih dengan mata melotot dan nada semakin meninggi.


Ingin rasanya Bryan balik menjawab dengan mengatakan hal yang tentu membuat perempuan di depannya melongo karena menyesal menghardiknya dengan kalimat demikian. Namun, bukan waktunya Bryan. Sabar!


"Kamar Anara sebelah mana?"


Namun, bukannya kooperatif dengan langsung menunjuk kamar atau menyebutkan nomor kamar Anara, lagi-lagi Hartik malah menghujaninya dengan serentet kalimat tanya,


"Mas Bryan ngapain di sini?"


"Nanya kamar Anara lagi, ada apa?"


"Emang ada janji?"


"Kukasih tahu ya! Anara itu udah tunangan. Jadi, jangan buat salah paham!"


"Please deh cari cewek lain aja! Jangan masuk ke celah di antara mereka mas, takut pamali!


"Apa-apa yang didapat dengan tidak baik, pasti ujungnya juga ga baik."


Demi mendengar kalimat terakhir. Akhirnya Bryan pun kembali buka suara demi menyadarkan perempuan di depannya agar otaknya lurus tak berburuk sangka padanya.


"Sahabatmu itu nangis. Barusan. Mak-"


"Nangis? Kamu apa kan mas? Astagaaa," potong Hartik sambil lalu.


Dengan melanjutkan udara yang masih tercekat di tenggorokan agar menuju ke laring karena kalimatnya belum selesai namun terlebih dulu dipotong dan dengan kalimat yang sama tak mengenakkan dengan beberapa kalimat sebelumnya, Bryan mengikuti arah langkah buru-buru Hartik.


Dan di sinilah mereka berdua, menunggui pintu nomor 29 dibuka.


"An, Anaraa. Buka dong!" Seru Hartik sambil tangannya terus mengetuk pintu itu. Sementara matanya menatap tajam ke arah Bryan yang terpaku menyandarkan diri di dinding seberang pintu kamar.


"Kamu apain sih mas?" Tanya perempuan dengan jilbab instan warna maroon itu.


"Sampai ga mau buka pintu begini," mulut Hartik masih terlihat merutukinya.

__ADS_1


Dengan satu tarikan napas panjang, akhirnya Bryan buka suara.


"Dia nangis habis ketemu seseorang," terang Bryan.


"Siapa?" Tanya Hartik antusias.


"Caroline," jawabnya singkat. Ia sedang tak berminat mengobrol dengan perempuan di depannya, menuduhnya tanpa ampun.


Hartik nampak berpikir, kemudian kembali membuka mulutnya, bukannya untuk bertanya, meminta maaf, atau apa. Tapi malah menyemburnya dengan kalimat pedas.


"Itu kan mantannya mas Bryan? Kok bisa?"


"Ah aku tahu ... pasti perempuan itu cemburu ya sama Anara? Trus ngata-ngatain Anara yang enggak-enggak. Mungkin semacem seolah-olah Anara ngrebut kamu dari perempuan bernama Caroline Caroline itu," lanjutnya masih ala emak-emak tak mau kalah.


"Kan beberapa waktu lalu aku juga sempat ketemu sama itu cewek, tatapannya aja sama sekali ga mengenakkan ke Anara, plilak plilik gitu. Sungguh ngeselin."


Bryan masih terbengong-bengong mendengar Hartik yang mengomel tak tahu rimbanya. Sementara dirinya hanya seperti kambing congek yang diam seribu bahasa demi mendengar pengakuan Hartik yang terakhir, plilak plilik? Bukannya mereka baik-baik aja.


"Ketemu di mana memang?"


"IndoJuni sebelahnya UIN."


"Denger! Aku juga ga tahu kenapa dia nangis. Yang jelas pas aku tanya dia ga jawab, berlalu gitu aja. Makanya aku khawatir trus nanya ke kamu sebelah mana kamarnya."


Bryan menggelengkan kepala, "enggak. Ngobrol bentar trus Anara ada tamu, Caroline itu. Ga lama, dia masuk lagi nangis. Pas aku keluar, eh si Caroline juga sama, matanya bengkak kayak baru nangis."


"Jadi, buang jauh-jauh pikiranmu kalau aku yang buat sahabatmu itu menangis!" Seloroh Bryan sambil menggerak-gerakkan tangannya.


Membuat Hartik menunduk seketika, malu campur kecewa. Namun, wajahnya hanya dibuat mengernyit tanpa ingin melontarkan maaf atau meralat ucapan. Kepalang malu.


"Kita tinggal dulu saja! Mungkin dia butuh waktu buat sendiri."


Kemudian Bryan membalikkan tubuh dan melangkah menuju anak tangga yang berada di ujung tanpa perlu dipandu lagi. Hanya terdengar suara langkah yang tak jauh di belakangnya, bisa dipastikan itu adalah langkah dari sahabat Anara yang barbar, menuduhnya begitu saja.


"Aku penasaran deh, kenapa dia nangis," ucap Hartik membuka percakapan ketika mereka berdua sudah duduk di sofa lantai bawah.


"Hmmm."


Bryan sama sekali tak berminat untuk membalas ucapan Hartik. Juga mengutarakan kemungkinan-kemungkinan yang bisa jadi adalah alasan yang tepat untuk Anara, juga Caroline menangis.


Ah, kenapa dia?


Seharusnya ia tak perlu sepusing itu memikirkan Anara yang mungkin sedang sesenggukan di kamar. Toh, perempuan itu sudah punya sosok pelindungnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Candra? Sahabat sekaligus rivalnya dalam perkara asmara pelik yang hampir menuju titik terang ini.


Tapi, rasa aneh yang tumbuh di hatinya dan semakin menjadi-jadi setelah dengan berani ia memupuknya, menjadikan Bryan memilih menunggu di sofa, dengan Hartik. Tanpa tahu harus berbuat apa? Selain menduga-duga.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba pikirannya teringat kalimat terakhir Caroline,


"Tanya pada sahabatmu, Candra!"


"Tanya pada sahabatmu, Candra!"


"Tanya pada sahabatmu, Candra!"


Kalimat itu mengusik pikirannya. Hingga dengan tanpa menunggu kalimat itu datang lagi di benaknya, Bryan merogoh ponsel dari kemejanya. Menggeser layar untuk menemukan nama Candra.


"Kenapa sih kira-kira?" Tanya Hartik lagi. Namun, Bryan yang mendengar itu memilih untuk terus melanjutkan kegiatannya.


Benda pipih persegi itu sudah nangkring di telinganya, bersamaan dengan tatapan Hartik yang menyiratkan tatapan kesal. Mungkin karena pertanyaannya yang tak digubris.


Sambungan telepon itu tak diangkat. Berlalu begitu saja. Bryan cukup tahu alasannya, apalagi kalau bukan karena dirinya yang dinilai khianat? Menaruh hari pada kekasih orang, bajingan sekali bukan?


Tangannya kini sibuk mengetikkan pesan,


Angkat! Aku mau ngomong. Penting.


Namun, hingga panggilan Bryan yang ke-5. Candra tak kunjung mengangkat teleponnya. Ingin rasanya ia mengumpat. Tapi diurungkan demi melihat Hartik yang kembali menaiki anak tangga.


Selang sekian lama, Karena Hartik tak kunjung turun. Bryan memutuskan untuk ikut menuju lantai atas.


"Ak-ku ga nyangka aja Tiiiik," isak Anara.


Ga nyangka apa?


"Kamu udah tanya ke Candra belum?" Sambung Hartik dengan suara bergetar.


Bryan menghentikan langkahnya demi mendengar nama Candra disebut. Ia semakin penasaran, ada apa sebenarnya? Adakah yang bisa memberi tahu padanya?


"Siapa tahu salah paham atau mungkin ... fitnah," kalimat tambahan dari Hartik sama sekali terdengar tak meyakinkan.


"Kalau iya gimana, Tiiik?" Sahut Anara kembali terisak, suaranya bergetar.


"Kamu tanya dulu, An! Jangan terlampau jauh menduga!" Suara Hartik penuh kebijaksanaan.


"Kalau yang diucap Caroline betul. Aku gimana?"


"Kamu tanya dulu! Semoga ga betul!"


Bryan yang tengah mencuri dengar di luar, tentu makin penasaran. Tapi ia memilih kembali turun, meski hatinya berkecamuk luar biasa.


*****

__ADS_1


__ADS_2