Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Keluarga Abah Kayaat


__ADS_3

"Tau apa?"


Suara Mama Ira menghentikan perselisihan antara Candra dan Rati.


"Bukan apa-apa ma." Jawab Candra.


"Djata...."


"Iya, Ma?"


"Hmmm, Anara itu pacarmu?" Candra menjawab dengan anggukan.


"Sengaja cari yang mirip ya?" Pertanyaan Rati terdengar sebagai sindiran.


"Mana bisaa. Ya emang pas suka pas begitu adanya."


Entah mengapa Candra tak terima jika Anara disama-samakan dengan Anjani. Padahal jika dipikir-pikir, bukankah awal kedekatan mereka memang karena Candra menilai kedua perempuan itu mirip?


Bagi Candra, dia sudah move on dari Anjani. Kini di hatinya hanya Anara seorang. Bahkan Anara lebih segalanya.


Jika dulu Rati tak menyukai Anjani karena berlebihan dan manja. Maka seharusnya kini adik satu-satunya itu tak menaruh sikap sama kepada Anara.


"Dia yang minta kesini?"


"Enggaklah mama. Aku yang mengajaknya. Aku ingin dia kenal dengan keluarga kita."


"Kamu ini nggak lagi main-main?" Mata Mama Ira membesar tak percaya.


"Emang aku pernah main-main?"


"Kamu sendiri udah kenal keluarganya?" Candra terdiam tak menjawab.


Pertanyaan Mama Ira membuat Candra kesusahan menelan ludah. Ya, dia bahkan belum pernah ke rumah pacarnya itu. Ahh, kenapa bodoh sekali?


"Kalau serius, ya kamu harus kenal keluarga dia juga dong!"


Kali ini Mama Ira membuka sesi ceramah yang panjang nan lebar tanpa dipersilahkan. Rati yang menyaksikan langsung bagaimana mamanya memberi banyak wejangan dan nasihat kepada kakaknya, ikut mengiyakan dan sesekali melirik Candra sambil menahan tawa.


Siap-siap kupingmu keriting mas! Hahaha


Ceramah itu baru berakhir ketika abah pulang. Seseorang yang dengan kabar sakitnya membuat Candra pulang tanpa pikir panjang. Setidaknya Candra lega. Abahnya hanya masuk angin, beliau sehat bahkan sudah bekerja.


Candra mencium punggung tangan abahnya. Pria dengan jambang tipis yang sebagian sudah berubah putih itu kini memeluk erat anak lelakinya. Mereka berdua mirip, berpostur tinggi tegap, mata berwarna cokelat, dan kulit yang bersih. Hanya beda generasi.

__ADS_1


"Sampai jam berapa, Djat?" Tanya Abah Kayaat.


"Sampai rumah sekitar pukul 11, Bah."


"Oh, iya. Djata pulang bersama seorang teman, Bah." Mama Ira melepas jas dan dasi milik suaminya.


"Siapa? Bryan pasti?"


Karena memang sudah biasa, dimana ada Candra, di situ ada Bryan. Mereka sudah sepaket seperti Alfamart dan Indomaret. Saling berdekatan. 😂😂😂


"Bukan abaaaah. Ini cewek." Penjelasan Rati membuat Abah Kayaat menyipitkan mata bertanya-tanya.


"Perempuan?"


"Iya abah, cantik persis Kak ... Anjani. Tapi, kata Mas Djata. Bedaaa. Ini lebih mandiri. Aku sih nggak percaya. Pasti yang ini juga nggak bisa bedain merica sama ketumbar. Hahahaha." Tawa Rati membuat Candra melotot.


"Huss. Anak gadis ketawanya jangan begitu!" Mama Ira memperingatkan. Rati memanyunkan bibirnya.


Sukurin lu. Dasar adek ga tau diri.


"Siapa, Djat?" Tanya Abah Kayaat.


"Namanya Anara, Bah. Satu kampus dengan Djata."


"Pacar? Apa temen?" Tanya Abah Kayaat to the point.


Terlihat Abah Kayaat mengangguk. Keluarga Candra adalah keluarga yang open minded, mereka adalah satu dari banyak keluarga modern di muka bumi. Yang paling penting bagi abah dan mamanya, kedua anak mereka selalu ingat Tuhan, menghargai sesama, dan memiliki prinsip hidup.


...----------------...


Setelah matahari terbenam, Mama Ira menyiapkan makan malam di dapur. Tapi, malam ini personil si konsumsi bertambah satu. Anara ikut serta membantu Mama Ira menyiapkan makan malam.


Sudah dilarang, tetapi Anara tetap mengikuti kata hatinya. Mungkin cara orang Jawa dan Balikpapan dalam memasak berbeda. Ia bisa menambah ilmu dari sana.


Biasanya Mama Ira dibantu Bu Asih. Rati berkecimpung di dapur jika benar-benar ingin saja. Dan malam ini, ia sedang tak ingin. Ia tersenyum ketika tau pacar kakaknya ternyata sigap juga di dapur.


Benar juga kata Mas Djata, bisa dipertimbangkan.


Bu Asih adalah orang yang selalu membantu Mama Ira setiap hari. Memasak, menyapu, mengepel, dan mencuci pakaian. Setelah mencuci piring dan peralatan makan malam lainnya, Bu Asih akan pulang dan datang kembali keesokan harinya. Begitu yang terjadi hampir di 10 tahun ini.


Setiap pagi, Pak Slamet selaku sopir keluarga bersama istrinya, Bu Asih akan datang membantu keluarga Abah Kayaat. Abah Kayaat memang sengaja tidak mencari pekerja yang harus tinggal di rumah, itu adalah prinsip.


Bagi keluarga Abah Kayaat. Orang lain tidak boleh menetap terlalu lama di rumahnya, tidak baik untuk keharmonisan keluarga. Mereka lebih leluasa menghabiskan malam dengan keluarga inti, tanpa ada telinga lain yang mendengar atau mata lain yang melihat kebiasaan-kebiasaan mereka.

__ADS_1


Makan malam sudah terhidang di meja, semua sudah berkumpul untuk segera menyantap hidangan bersama-sama. Anara terlihat duduk di samping Djata. Mereka masih menunggu kepala keluarga yang sedang menerima telepon dari rekan kerja.


"Sudah. Ayo kita berdoa! Semoga makanan ini diberkahi. Amin." Suara Abah Kayaat yang sudah duduk di salah satu kursi.


Kemudian mereka semua berdoa dan mulai mengambil piring mengisinya dengan makanan. Tidak ada suara, hanya sesekali terdengar bunyi sendok atau garpu beradu dengan piring.


Keluarga Candra ternyata makannya baik beneeer.


Setelah menyelesaikan makan malam dengan khidmat. Segelas air putih diteguk pelan oleh Abah Kayaat. Mereka mulai bersuara dan Abah Kayaat membuka percakapan. Suasana berangsur santai tidak setegang ketika makan malam tadi.


"Saya Kayaat. Panggil abah saja!" Kalimat itu ditujukan kepada Anara.


Perempuan yang memakai jelana jeans dengan kaos lengan panjang warna abu-abu itu tak lupa menyebutkan namanya ketika tangan pria di depannya terulur.


"Anara, Bah." Sambil mengangguk.


Benar yang dikatakan Rati. Paras Anara jika ditatap lama ternyata mirip dengan Anjani. Hanya saja hidung Anara sedikit lebih mancung dengan tahi lalat di sana dan matanya yang jernih mampu menghipnotis.


Pantas kalau Djata suka. Selera anak abah memang juara.


Abah Kayaat sebenarnya lebih pas dipanggil om. Style-nya yang masih seperti anak muda dengan jambang tipis itu akan membuat orang yang tak mengenalnya mengira bahwa ia belum memiliki anak seusia Candra dan Rati.


Pun, Mama Ira. Tipe ibu sosialita dengan rambut keriting gantung berwarna brown burgundy masih terlihat begitu menawan. Kantung matanya pun hampir tak kelihatan. Bisa dipastikan beliau adalah golongan hawa yang rajin melakukan perawatan.


"Satu kampus sama Djata?"


"Iya, Bah. Satu jurusan juga."


"Hmmm ... asli Kediri ya?"


"Iya." Lagi-lagi Anara mengangguk.


"Kalau mamanya Djata asli Klaten. Hmm ... Klaten sama Kediri itu jauh nggak sih, Ma?"


"Jauh abaah. Klaten kan sebelahnya Jogja. Kediri di Jawa Timur. Sekitar 6 jam perjalanan mungkin."


"Oh begitu. Maklum, abah jarang ke Jawa. Kalau pun ke Jawa, belum pernah ke Kediri. Eh, tapi di Kediri bukan ya yang ada perusahaan rokok besar itu?"


"Betul, Bah. Di kediri itu."


"Dekat dari sana rumahmu?"


"Lumayan jauh, saya di Kediri Selatan, Bah."

__ADS_1


"Oh gitu ya. Bolehlah kapan-kapan main kesana. Biar tau Kediri." Abah Kayaat manggut-manggut.


...----------------...


__ADS_2