Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Nyanyian dari Dapur


__ADS_3

Sudah lima hari sejak Anara mendapati foto Anjani, perempuan itu belum berniat sekadar membalas pesan-pesan yang dikirim oleh Candra. Hatinya masih terlalu sakit mengingat setiap penuturan Candra yang menyiratkan bagaimana istimewanya Anjani.


Bukan karena Anjani masa lalu Candra. Yang terasa sulit Anara terima adalah ketidakjujuran Candra dari awal. Terlebih wajah keduanya hampir mirip. Semakin menguatkan anggapan bahwa Candra hanya menjadikan Anara pelampiasan.


Sungguh malang nasib hubunganku kini.


Anara sedang fokus pada layar laptop yang menampilkan tugas akhirnya. Hingga bunyi pesan WA semenit lalu yang datangnya secara kroyokan, membuatnya tergoda menatap ponsel.


"Oh, dia memanfaatkan Bryan rupanya." Gumam Anara melihat siapa pengirim WA barusan.


Ibu jarinya menyentuh pesan sahabat jauhnya itu dan terlihat tiga pesan di sana. Pesan seorang sahabat yang hampir tak pernah menyapanya, tetapi sore ini Bryan menghubunginya. Untuk apa dan siapa jika bukan karena Candra?


An,


Gimana kabarnya?


Skripsi lancar?


Anara mengetik pesan balasan,


Baik, kamu? Skripsiku alhamdulilah lancar.


Bryan:


Aku baik meski baru dengar kabar kurang baik.


Bryan:


Kemarin Candra telepon. Cerita tentang semua. Dia memintaku ngeyakinin kamu. Tapi, aku ngga tau apa yang harus aku yakinkan.


Sudah kuduga kamu disuruh Candra. Kalian memang tega dan sama.


Anara pun tak membalas pesan terakhir Bryan. Sahabatnya sama saja, seharusnya Bryan bisa memberitahunya tentang Anjani. Namun, lelaki itu memilih diam.


Berkutat dengan skripsinya hingga dua jam lebih, Anara merasakan matanya semakin berat. Tidur tak mungkin ia lakukan karena hari hampir petang.


Tangan Anara sigap menutup laptop dan berlanjut mengganti pakaiannya dengan bathrobe. Rambutnya sudah dicepol ke atas agar tak basah ketika air menyegarkan tubuhnya nanti.


Ceklek ...


Pintu terbuka dan alangkah kagetnya Anara menemukan lelaki yang berusaha dihindarinya tengah berdiri di sana. Tangannya cepat menutup pintu tetapi dengan lebih sigap, Candra menahan pintu kayu itu.


Tanpa permisi atau pun menunggu dipersilakan, Candra sudah berada di kamar Anara. Lelaki itu terlihat berantakan. Kaus putih kusut yang menempel di tubuh dan celana yang sepertinya tidak diganti lebih dari dua hari.


Belum lagi rambutnya seperti lama tidak disisir. Jambangnya yang biasanya pendek dan rapi, kini seakan dibiarkan begitu saja. Aroma woody yang selalui dirindui Anara, juga tak tercium.


Anara masih enggan menatap lelaki yang masih jadi kekasihnya. Rasanya ingin ia akhiri semua saat ini juga. Ia benar-benar muak dengan drama Candra selama ini.


"Ngapain kamu?" Ketus Anara tanpa menoleh.

__ADS_1


"Kenapa WA-ku nggak kamu bales, An?" Candra mendekatkan posisinya pada Anara.


"Stop! Nggak usah mendekat!"


"Kenapa? Kamu jijik melihat penampilanku?"


"Aku lebih jijik dengan kelakuanmu."


"An, percayalah! Rasaku tulus. Bukan sekedar pelampiasan." Jelas Candra. Sudah kenyang Anara membaca itu melalui pesan WA yang tak dibalasnya.


"Pulanglah! Aku malas bicara dengan pembohong sepertimu," hati Anara tersayat mengatakannya.


Bagaimana pun hatinya masih dipenuhi cinta. Tak mudah menghapus benih-benih yang selama ini disemai Candra. Bahkan, benih itu sedang tumbuh dan kembang-kembangnya di hati Anara. Akarnya pun kuat menancap di bumi hatinya.


"Aku harus gimana agar kamu memaafkan, An?"


"Pulang! Aku ingin sendiri." Ketus Anara.


"Nggak sebelum kamu maafkan. Jika perlu aku akan bermalam di sini."


"Gila kamu?"


"Aku memang gila, dan itu karenamu."


"Kalau itu maumu. Biar aku yang keluar." Tantang Anara melangkahkan kaki menuju pintu.


"Apaan sih kamu? Balikin nggak?"


"Aku balikin asal kamu maafin aku, An."


"Kenapa jadi maksa? Di sini aku yang sakit, Candra."


"Biar aku yang sembuhin karena lukamu aku yang buat, An."


"Tega kamu. Kalau tau begini, dari awal lebih baik kita nggak teruskan. Aku jadi sangsi pada semua ungkapanmu," ucapan Anara mulai lirih terdengar.


"Awalnya memang karena kamu mirip dengan Anjani, tapi ... makin ke sini aku makin sadar. Perasaanku ke kamu tulus, An."


Hati Anara kembali nyeri ketika nama itu disebut. Dan benar saja, ternyata Candra memintanya jadi pacar karena wajahnya yang mirip dengan Anjani. Benar-benar lelaki brengsek.


"Kenapa kamu nggak cerita dari awal?"


Candra merasa sedikit lega karena akhirnya Anara mau diajak bicara. Kini keduanya sama-sama duduk di tepian ranjang. Berusaha memperjelas semua.


"Aku belum siap nerima reaksimu yang pasti begini."


"Apa kamu bakal cerita kalau aku nggak nemu foto itu?"


Candra menggelengkan kepalanya, "nggak, An. Aku nggak berniat cerita semua. Toh, aku benar-benar sayang sama kamu. Kenapa kita harus ngebahas masa lalu?"

__ADS_1


"Jadi kau akan bohong seumur hidup?" Candra mengangguk.


"Kau tau apa yang paling dibenci perempuan? Ke-bo-ho-ngan. Kamu udah lakuin itu."


"Hatiku sakit Candra kamu beginikan."


"Niatanku untuk bahagiain kamu, An. Tanpa bayang-bayang masa lalu."


"Kau ingin bangun hubungan di atas kebohongan?"


Lama keduanya kembali terdiam. Masalah ini ternyata belum menemukan titik terang dan langit di luar sana sudah berganti warna.


"Kamu keluar!" Pinta Anara pada akhirnya.


"Aku masih perlu waktu untuk mencerna semua, Ndra."


"Aku akan memberimu waktu, An." Sahut Candra.


Ingin sekali aku memelukmu, An. Tapi rasanya aku tidak pantas.


Candra bangkit dari duduknya dan membuka pintu. Meninggalkan Anara setelah memegang tangan kekasihnya sejenak. Hatinya membenci keadaan ini.


"Urus dirimu!" Pungkas Anara tepat sebelum Candra pergi.


"Maksudnya?"


"Aku tak suka melihatmu kacau, berantakan seperti ini."


Itu karena kamu, An.


Candra melangkah pergi dengan langkah gontai. Pembawaannya sudah menyerupai peribahasa hidup segan mati pun tak mau. Separuh jiwanya terkoyak karena masalah asmara ini.


Apa aku benar-benar terlihat menjijikkan seperti ini? Laki-laki macam apa aku ini? Menghadapi masalah begini saja membuatku begitu kacau seperti tak ada hari esok.


Candra melajukan motornya kencang di jalan raya. Pikirannya menerawang jauuuh berandai, jika saja semua terungkap lebih awal. Mungkin beda cerita, setidaknya Anaranya tak akan sekejam ini pada dirinya.


Sesampainya di rumah yang selama ini juga menjadi saksi secuil kisahnya dengan Anara, Candra mempercepat langkah memasuki rumah bergaya seperti kafe itu. Dahinya mengernyit ketika pintu tak terkunci.


"Aku kunci tadi, masa iya aku pikun segininya karena cinta. Tapi ... mungkin juga," gumam Candra.


Sayup-sayup terdengar suara orang sedang berdendang dari arah pantry. Suara yang tak asing bagi Candra, tetapi secepatnya lelaki dengan jambang berantakan itu menepis angannya.


"Nggak mungkin." Tampik Candra pada tebakannya sendiri.


Semakin langkah Candra menuju ke arah dapur, suara orang bernyanyi tadi perlahan lirih dan semakin hilang. Matanya membelalak melihat siapa sosok yang tengah berdiri di sana, dengan senyum yang selalu sama, meneduhkan.


"Hah? Kok bisa?" Candra bertanya-tanya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2