Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Menikmati LDR


__ADS_3

Anara masih mengenakan pakaian hitam putih lengkap dengan jas almamaternya ketika masuk ke dalam mobil taksi yang menjemputnya. Di tubuhnya juga masih tersampir selempang dengan tulisan 'Anara Reswari, S.S.'. Ya gadis itu baru saja menyelesaikan sidang ujian skripsinya.


Tepat hari itu adalah jadwal Candra ke Balikpapan, sesuai janjinya dua Minggu lalu. Lelaki itu akan menemani Anara sidang skripsi kemudian akan menuju stasiun Malang.


"Kenapa ga naik pesawat dari Malang aja?" Tanya Anara melepaskan selempang dan juga jas alamamaternya.


"Lama, An. Bisa sekali sampai dua kali transit."


Pria yang sudah rapi sedari tadi itu menjulurkan tangannya ke sandaran jok dalam taksi, kemudian menuntun perlahan kepala Anara bersandar di sana.


"Padahal aku belum traktir kamu makan," ujar Anara menengadah, menatap manik mata Candra.


"Ya, kita makan di sekitaran stasiun aja!"


"Kereta jam berapa?"


"Jam sebelasan. Masih ada sekitar satu jam kan?" Balas Candra mengusap rambut Anara yang masih tergelung anggun.


Anara mengangguk, netranya menatap lurus lagi ke depan. Sesekali melirik ke arah Candra yang hanya akan melempar senyum ketika mata mereka saling bertemu.


"Wisudanya kapan?"


"Belum tahu, masih juga baru sidang, Ndra. Udah nanyain wisuda aja." Balas Anara yang menjadikan Candra hanya mengusap-usap bahunya.


Mobil taksi telah berhenti di depan stasiun. Keduanya turun dengan bawaan masing-masing. Kemudian, menuju ke dalam stasiun untuk mencetak tiket terlebih dahulu.


Setelahnya, mereka memilih berjalan kaki menuju warung makan sekitaran stasiun hanya untuk menunaikan niatan Anara mentraktir Candra sebagai tanda lulusnya.


"Cuma bawa tas itu doang?" Tunjuk Anara pada carrier yang dibawa Candra.


"Ho oh. Selebihnya udah aku paketin."


Anara hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Candra, "pulang beneran rupanya."


Menyelesaikan acara makan siang yang kepagian itu. Candra segera mengambil langkah cepat yang diikuti oleh Anara di sampingnya. Keretanya tinggal 10 menit lagi.


"Aku langsung masuk peron ya?" Tanya Candra kemudian memeluk Anara sekilas.


Anara membalas pelukan Candra, kemudian menatap nanar kepergian tunangannya itu. Baru kali ini perpisahan terasa begitu menyesakkan dadanya.


Sekali lagi, Candra menoleh dan melambaikan tangannya ke arah Anara yang masih terpaku di lobby stasiun. Kado yang akan lekat dalam ingatnya, perpisahannya dengan Candra tepat ketika dirinya menyandang gelar sarjana menuntaskan kuliahnya.


Dengan perpisahan, kita akan tahu arti pertemuan, Ndra.

__ADS_1


Hingga suara peluit panjang berbunyi dan disusul kepergian kereta yang suaranya menyayat hati Anara. Netranya masih memandangi gerbong demi gerbong yang berlalu dari pintu penghubung lobby dengan peron.


Kemudian langkahnya diayun menuju keluar stasiun setelah gerbong terakhir tak lagi ditangkap oleh sudut matanya. Ia berjalan dengan amat gontai meninggalkan stasiun. Baru beberapa menit yang lalu, dia masih bersama kekasihnya itu, tetapi di menit kini seakan jarak begitu jauh membentang.


"Aku bahkan sudah rindu," gumam Anara lirih.


Dalam mobil taksi yang membawanya meninggalkan stasiun. Anara sibuk dengan kenangan-kenangannya bersama Candra di kota ini. Kepingan-kepingan memori yang lalu bagai naik ke permukaan semuanya. Hatinya trenyuh, kemudian merasa nelangsa.


Tangannya sibuk mengetikkan pesan pada layar pipih yang baru saja diraih dari tote bag di sampingnya. Mengetikkan pesan pada nama Candra.


Kok aku udah kangen ya?


Anara mengirimkan pesan yang mencurahkan perasaannya dengan jujur. Sepertinya tak pernah ia merasa serapuh ini. Padahal, mereka hanya akan di bentang oleh pulau yang berbeda saja nantinya, tapi sesaknya bahkan memenuhi dada.


Aku juga udah kangen. Kamu udah pulang? Hati-hati ya!


Anara mengulum senyum membaca pesan balasan Candra. Perasaannya semakin kacau tak menentu. Ingin rasanya ikut serta masuk pada carrier milik Candra dan tetap berada di sampingnya.


Anara hanya butuh waktu untuk membiasakan diri, berdamai dengan jarak.


...----------------...


Hari-hari Anara selanjutnya diisi dengan revisi skripsi sebelum masuk ke penjilidan, mengurus beberapa syarat untuk yudisium. Sedikit mengobati rindunya pada Candra yang jauh di mata. Ia mulai menyukai dengan kegiatan menyibukkan diri. LDR ini rasa-rasanya begitu menguji Anara.


Semenjak hubungannya berjarak jauh. Tak pernah sedikit pun ia menanggalkan ponselnya, kemana pun ia ada ponsel miliknya tak pernah luput.


Bahkan nasi padang yang ada di hadapan Anara, tak lagi menggugah selera dalam penglihatan Hartik. Sahabatnya itu benar-benar sudah menyatu jadi soulmate dengan ponsel, bukan lagi kecanduan. Tapi, sudah kesetanan.


"Anara!" Pekik Hartik dengan sedikit kesal.


"Apa sih Tik?"


"Nasi kamu tuh! Ih kok kesel sendiri aku lama-lama. Hapeeee terus."


"Iya iya. Aku makan," sahut Anara menyuap makan siang, ponselnya sudah dibiarkan tergeletak di sampingnya.


Gadis itu terlihat mengernyitkan dahi ketika mengunyah, "anyep Tik."


Kemudian tangannya sigap membungkus kembali makanan penuh lemak itu, bangkit dari duduk lesehannya dan menuju dapur.


"Buang aja teruuus! Lama-lama dosa kamu menggunung, isinya buang makanan semua."


Hartik terlihat geram dengan kelakuan Anara akhir-akhir ini. Makanan jarang habis dan selalu berakhir di tempat sampah dapur. Kabar baiknya, sampaj dapur selalu dibuang setiap harinya oleh penghuni kos yang mendapat jadwal piket.

__ADS_1


"Udah anyep Tik. Nasinya udah ga ada rasanya, ga enak."


"Gimana mau enak? Kamu buka bungkusnya dari jam 12, sampai hampir jam dua belum dimakan. Yang telepon lah, yang WA-an. Heran aku, tunanganmu itu ga nyari duit apa?"


Anara hanya nyengir mendengar ucapan Hartik yang memang benar, "cari duitlah Tik, kan buka kafe di sana."


"Cuman agak santai aja," ujar Anara menambahkan.


"Hmmm, untung milik sendiri. Coba kalau kerja di tempat orang. Bisa dipecat tuh, hapean mulu."


Anara terlihat memungut cardigannya dari ranjang Hartik, meraih ponselnya di lantai, dan beranjak dari kamar Hartik.


"Aku naik dulu ya! Capek ... mau bobok," ucap Anara mengulum senyum.


"Iya iya. Naik sono kamu!" Balas Hartik mengibas tangannya cepat.


Anara melangkah keluar kamar Hartik dengan hati sumringah. Dari arah pintu depan seorang gadis yang juga merupakan penghuni kos berjalan ke arah Anara.


"An, tunggu!" Pinta gadis itu.


Anara menghentikan langkahnya yang akan menaiki anak tangga, "iya? Ada apa?" Tanya Anara penuh ramah.


"Ada yang cari tuh di depan."


Anara yang hanya mengenakan tank top itu nampak berpikir. Siapa yang mencariku di jam-jam tidur seperti ini?


"Siapa?"


Gadis itu hanya mengerdikkan bahu karena ia pun tak tahu.


"Laki? Apa perempuan?"


"Laki, An."


"Oke, makasih ya!" Pungkas Anara mengurungkan niatnya menaiki tangga.


Gadis pembawa berita tadi berlalu, Anara bergegas mengenakan cardigannya lagi. Kemudian melangkah menuju pintu depan yang terhubung langsung dengan garasi.


Ga mungkin Candra. Kan masih dua minggu yang lalu dia berangkat. Atau surprise?


Napas Anara terasa tercekat di tenggorokan melihat siapa yang datang menemuinya. Buru-buru ia rubah wajah kagetnya.


"Kamu."

__ADS_1


Lelaki itu tersenyum kemudian membalas, "iya, aku."


...----------------...


__ADS_2