Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Bryan dan Caroline


__ADS_3

"Iya, ini aku."


Bryan dengan rambutnya yang kembali dibiarkan panjang begitu saja itu tersenyum mendapati wajah yang selama ini ia rindu-rindukan. Wajah kekasih sahabat karibnya, betapa kurang ajarnya aku mencintai milik orang lain.


Anara masih terdiam, semua begitu kaku. Bryan tak kaget, jelas karena perempuan di depannya sudah lebih dulu membaca surat darinya. Surat yang menjadi sebab renggangnya hubungan antara dirinya dengan Candra, juga diblokirnya nomor WA oleh perempuan yang kini tengah berdiri kikuk di depannya.


"Aku capek perjalanan jauh. Tamu ga disuruh masuk?" Ucap Bryan setelah keduanya terlihat asing begitu lama.


"Oh iya, iya. Silakan masuk!" Balas Anara menggeser tubuhnya lalu memberi ruang pada Bryan untuk lebih dulu melangkah.


Di sebuah sofa yang disediakan untuk tamu kos di lantai bawah, keduanya sedang duduk berhadapan. Namun, masih dengan mode saling diam. Hanya suara denting gelas bertemu meja kaca yang sudah dua kali terdengar oleh telinga. Bryan meletakkan gelas setelah menyesap teh manis buatan Anara.


Bryan masih terlihat menyapu seluruh sudut ruang, ini pertama kali ia mengunjungi Anara hingga terduduk di sofa. Setelah sekian lama hanya mampu memendam buncahan rasa dalam hatinya.


Pandangannya berhenti di satu titik yang membuat hatinya nyeri hingga ke ulu. Ini bukan pertama kali untuk Bryan menyikapi rasa sakit, sudah ribuan kali ia meneguk kepahitan setiap kali melihat Anara dan Candra berdua-duaan. Namun, kali ini sakit hatinya seolah tak mampu lagi bisa ditolerir.


"Apa kabar?" Tanya Bryan membuat Anara membenarkan posisi duduknya.


"Baik, Yan. Kamu sendiri?" Balas Anara berusaha membuat suasana di antara mereka biasa, seperti tak pernah terjadi apa-apa meski itu luar biasa sulit.


"Apa kamu percaya kalau aku jawab baik-baik saja?"


Karena aku memang sedang tidak baik-baik saja, An. Kenapa ada cincin melingkari jari manismu? membuatku seolah resmi kalah dalam cinta yang hanya diam.


"Aku percaya," balas Anara memutus kontak mata.


Bryan tersenyum getir. Rupanya Anara bisa berbohong juga. Keahlian berkelit itu tak dimilikinya seorang.


"Yan!" Anara mulai memasang wajah seriusnya, matanya kembali menatap iris cokelat milik Bryan. Manik mata yang dulu membuatnya nekat berkirim surat, tanpa ragu pun tanpa malu.


"Bisa kita bicara, An!"


"Kita sedang ngobrol, Bryan."


"Di luar maksudku. Bukan di sini," ucap Bryan dengan tatapan memohon.


"Bryan, maaf! Tapi, aku ga mau ada salah paham di antara kita bertiga."


Ucapan Anara membuat Bryan kembali terdiam. Seolah cintanya harus pupus sebelum sempat berkembang, ucapan dengan sorot mata serius yang mengisyaratkan bahwa kisahnya tak akan memiliki waktu, cintanya tak akan mendapat kisah.


"Aku juga minta maaf, membuka suratmu lebih dulu. Aku sempat tergoda dengan perasaan lama. Dengan nyaman yang kamu tawar ketika aku dan Candra tak baik-baik saja. Tapi, semua kini kembali berjalan di tempat seharusnya. Maaf Yan ... aku gak bisa balas."


Bryan masih terdiam, menanti kalimat selanjutnya yang mungkin keluar dari bibir Anara. Perempuan pujaannya yang benar-benar akan hilang dari jangkauan.


"Kamu lihat ini! Aku sama Candra berkomitmen untuk lebih serius, Bryan. Lagi pula, kita beda. Ga mungkin bisa meskipun jika Candra bukan siapa-siapa, meskipun jika harus dipaksa, enggak Yan."


Anara menggelengkan kepalanya pelan. Menurunkan pergelangan tangan kirinya yang pada jari manisnya tersemat cincin sebagai penanda hubungannya dengan Candra.


"Aku kalah, An."


Anara kembali menggeleng, "justru kamu memenangkan segalanya Bryan. Tulusmu, baikmu, semua perlakuanmu padaku, juga Candra. Bukan hal mudah. Tapi, kamu ... memaknai rasa dengan begitu berharga."

__ADS_1


"Apa arti menang jika tanpa memiliki, An?"


"Bukankah memang semua cinta ga harus memiliki?" Anara bertanya balik.


"Karena kita pun juga ga mungkin saling memiliki, Yan."


Perbedaan keyakinan begitu kokoh membentang di hadapan. Dan itu bukan hal main-main yang bisa diganggu gugat seenak jidat.


"Aku ga mau saling menyakiti, Bryan. Biarlah yang lalu berlalu!" Ungkap Anara menunduk kecewa, kemudian menatap Bryan lagi, menyudut senyum yang dipaksa.


Bryan meraih gelas di depannya, meneguk teh manis yang bahkan tak mampu memberi pengaruh untuk hatinya. Semua rasanya hambar bahkan pahit. Sepahit rasa di hatinya yang tak mungkin terbalas lagi.


Mata pria di depan Anara itu sudah memerah, sayu, dan menyiratkan harapan yang sebentar lagi baranya akan dan harus padam. Demi cerita lain yang harus dibiarkan berkembang.


Bryan mengangguk, memaksa pada dirinya untuk mengerti. Menelan kalimat klise 'cinta tak selalu harus dimiliki' yang berakhir tersangkut di kerongkongannya, mencekat napasnya.


"Boleh aku minta sesuatu?"


Anara menautkan kedua alisnya, "asal masuk akal dan bukan memintaku meninggalkan Candra. Mungkin bisa."


Senyum getir menghiasi bibir tipisnya, "secinta itu kamu dengan Candra?"


"Dia calon suamiku, Bryan."


"Iya. Ga usah lagi kamu beri tahu aku! Itu luar biasa menyakitkan," tukas Bryan menampakkan raut biasa meski hatinya bergejolak ingin menepis kenyataan yang ada.


"Kamu bahkan sudah terbiasa memendam sakit dari dulu, kan? Kenapa ga gentle dari dulu?


"Maksudmu?" Tanya Bryan dengan wajah datar. Ia benar-benar kembali dibuat berpikir dengan ucapan Anara barusan.


Memancing perasaan yang hampir kuredam sendirian.


"Apa kalau aku bilang dari dulu, kamu mau? Meski kita beda Tuhan?"


Anara mengedikan bahu, "entah. Setidaknya mungkin kisah tak sempurna kita lebih panjang, bisa jadi buku."


"Kamu memberi napas terakhir ketika perasaanku hampir dijemput ajalnya, An," balas Bryan terkekeh demi mencairkan suasana.


"Oh ya, apa tadi sesuatu yang kamu minta?"


Bryan mengulur tangannya meraih jemari Anara. Membawanya dalam tangkupan dua telapak tangan dan membawanya dalam sebuah permintaan dengan tatapan penuh permohonan. Tatapan yang sepersekian detik menghipnotis pertahanan Anara, lagi.


"Pergi denganku, An! Malam ini. Traktir aku makan!"


Anara menarik jemarinya, "Bryan, tapi-"


"Terakhir kali, hanya kita yang tahu. Aku tahu kok Candra ga di sini."


Anara mengernyitkan dahi, membuat Bryan berujar lagi, "kamu ga lupa kan kalau aku dekat dengan keluarganya? Aku tahu semua tentang tunanganmu itu."


Anara nampak berpikir sejenak, toh hanya pergi makan. Tak akan apa.

__ADS_1


"Oke, tapi ini terakhir dan ga lama. Itung-itung kutraktir karena usahamu yang jauh dari Surabaya ke Malang. Satu lagi, biar aku kasih tahu Candra. Aku ga mau dia salah sangka kalau di kemudian hari tahu."


Bryan mengangguk pasrah. Anara tersenyum, kemudian terlihat mengetik pesan di ponselnya. Pasti sedang minta izin ke Candra.


"Anara, ada yang cari kamu di depan. Cewek," ucap seorang penghuni kos yang baru datang sedikit tergesa.


"Oh, iya iya. Makasih ya!" Sambung Anara kembali fokus pada layar gawai setelah terputus kontak karena kedatangan kabar barusan.


"Siapa lagi? Banyak bener yang ngapelin aku hari ini," gumam Anara melirik ke arah Bryan.


"Aku ke depan dulu!"


"Eh, An. Jangan lupa buka blokiran nomorku!" Titah Bryan.


Anara terlihat menghentikan langkah dan kembali mendekati Bryan, memperlihatkan ponsel ke arahnya, "udah."


Anara berjalan keluar hendak menemui tamunya. Gadis berwajah oriental yang beberapa minggu lalu ditemuinya di IndoJuni, badannya terlihat bertambah kurus.


Anara menghampiri gadis yang tengah duduk di kursi teras kos. Tersenyum menyapa tamunya.


"Caroline, tumben?"


"An," sapa perempuan itu.


"Insting kalian kuat sekali, atau kalian memang sedang janjian?"


Caroline memasang wajah kebingungan, "maksudnya?"


"Bryan ada di dalam. Ih jodoh kayaknya," seloroh Anara kemudian duduk di sebelah Caroline, dipisahkan oleh meja kecil di antara keduanya.


"Bryan?"


"Iya," balas Anara lagi-lagi menebar senyumnya.


"Tapi, aku bukan cari Bryan, An. Tapi, nyari kamu."


"Aku? Ada apa Lin?" Tanya Anara masih dihiasi sisa senyum di wajah.


Caroline menggeser duduknya untuk mendekati Anara, meraih jemari lembut perempuan cantik di depannya. Perempuan yang dengan tak sengaja dilukainya.


"An!"


"Hmm."


"Candra, di mana?" Tanya Caroline penuh kehati-hatian.


"Adaa, masih pulang," balas Anara dengan wajah bertanya.


"Aku ... hamil, An."


Anara merangkai kalimat demi kalimat ucapan Caroline, dia masih terdiam. Matanya penuh selidik. Hingga terdengar suara langkah kaki mendekati mereka, Bryan tersenyum ke arah keduanya.

__ADS_1


"Sebentar, trus apa ya hubungannya?" Tanya Anara dengan hati sudah tak karuan. Ada apa ini? Apa aku melewatkan sesuatu?


...----------------...


__ADS_2