
Ular besi yang membawa Anara dan Hartik sudah mulai meliukkan tubuhnya, suara klakson panjang 2 kali sebagai semboyan 35 menjadi penanda bahwa kereta siap berangkat.
Beberapa menit selanjutnya kereta sudah berjalan dengan cepat diiringi bunyi khas gesekan roda dan rel. Malioboro Ekspres membelah dingin dan gelapnya malam, meninggalkan Jogja yang tentu sarat kenangan dan membekali setiap pendatangnya dengan kerinduan.
Udara di dalam gerbong semakin membeku karena AC ikut menghembus dingin menyebar ke seluruh penjuru ruang. Suasana masih sepi, hanya beberapa tempat duduk yang sudah terisi.
Perempuan ber-jacket jeans yang sibuk membaca buku dan perempuan berhijab yang duduk mengedarkan pandangan di depannya, keduanya sama-sama terdiam menikmati perjalanan masing-masing.
"An. ada tempat makannya nggak kereta ini?"
"Ada Reska-nya sih setauku, tapi kalau semalem ini entah masih operasi apa nggak? Coba nanti tanya ke prama prami yang lewat! Emang kenapa?"
"Pengen kopi aja. Dingin banget" Perempuan berhijab itu memperagakan ekspresi kedinginan sambil menggemeretakkan giginya.
Tak lama seorang prama lewat dan Hartik memesan cappucino panas untuk dirinya sendiri karena Anara menolak tawaran minum darinya.
...----------------...
Sudah lewat tengah malam ketika kereta sampai di Stasiun Madiun. Anara sudah menutup bukunya dari sekitar sejam yang lalu, tapi matanya masih sulit untuk dipejam. Sementara Hartik di depannya sudah dulu larut ke alam mimpi,ia ambil ponselnya yang sengaja ditinggal di ransel.
Dibukanya ponsel ber-casing putih itu. Apa yang ia cari tak ia temukan, keterlaluan! Candra bahkan tak meminta maaf karena membentak perempuannya ini. Menjelaskan pun tidak.
Kini jari-jarinya telah berhasil membuka pesan WA dari nomor baru,
Hai Anara,
Terima kasih sudah tepat janji untuk datang ke kota ini, kota yang kita impikan bersama.
Tak perlu bertanya, ia sudah tau siapa pemilik nomor itu, keras kepala sekali lelaki ini, dia masih kekeh menyebut aku ke Jogja untuk sebuah janji di masa lalu. Tapi jika bukan untuk itu, untuk apa lagi? Entah... yang pasti nomor itu kini sudah memiliki nama di ponsel Anara.
...----------------...
Hari sudah hampir pagi ketika kereta melintasi jalan yang terasa kian menanjak, sisi kanan dan kiri bagai permadani yang dihampar menampakkan tanaman padi hijau kecokelatan diterpa cahaya fajar.
__ADS_1
Anara yang masih terpejam lambat laun membuka mata karena suara Hartik yang membangunkannya, "An, bangun! Lihat itu!" Tangannya menunjuk keluar pada ladang pengharapan petani yang indah serupa goresan cat pada kanvas. Senyum Hartik mengembang karena ini pengalaman pertamanya yang mengesankan.
Anara mengikuti arah telunjuk Hartik, netranya menemukan barisan padi nan rapi yang bergoyang berkat sapuan angin yang dibawa kereta, Oh indahnya. Ia tau betul ini daerah mana? Kepanjen, pusat pemerintahan Kabupaten Malang, letaknya persis di selatan Kota Malang. Bukan sekali dua kali ia naik kereta, sering ia naik ular besi ketika libur kuliah untuk pulang ke kota kelahirannya. Tak ayal, ia tau persis jalanan ini.
Sekitar 30 menit lagi ia akan sampai di Malang, harapan dijemput Candra memuai begitu saja bersamaan dengan perlakuan yang ia terima. Toh, ada angkot, ada ojek, juga taksi. Ia perempuan mandiri yang tak akan diam saja hanya karena tidak jadi dijemput kekasihnya.
"Tik, aku cuci muka dulu ya!" Gadis itu berjalan menjauh dari sahabatnya menuju ke ujung gerbong untuk menemukan toilet.
Ia basuh wajahnya agar terlihat lebih segar, rambutnya yang berantakan kini sudah dicepol dan menampakkan leher jenjang. Ia tatap lama cermin di depannya. Tebersit ingatan tentang kejadian semalam, ia dipeluk oleh lelaki dari masa lalunya dan tanpa penolakan. Apakah ia sudah berdamai dengan rasa kehilangannya dahulu? Senyum tipisnya tak dapat disembunyikan.
...----------------...
Kereta berhenti di stasiun terakhir -kota baru Malang- ketika matahari sudah mulai menyembul di ufuk timur. Anara dan Hartik berjalan menyusuri peron menuju pintu keluar. Suasana pagi ini masih sepi, hanya beberapa angkot yang sudah beroperasi, ojek pengkolan belum terlihat, taksi apalagi.
"An, gimana? Kita naik apa ke kos? atau Candra yang jemput?" Anara mengernyitkan dahi, ia lupa jika Hartik tak mengetahui kejadian siang kemarin. Pantas, ia menanyakan kekasihnya yang sedang entah kenapa itu?
"Nanti kita naik angkot aja, Tik." Semburat kecewa jelas terlihat di wajah sahabatnya itu. Alasannya tentu, karena angkot pasti lama ngetem.
"Ngojek aja lah! Angkot pasti nunggu penuh dulu. La itu aja lihat masih sepi."
Langkah keduanya terhenti di warung makan sederhana, dua mangkuk Soto Lamongan dan dua gelas teh hangat tersaji di depan mereka. Sambil menceritakan sedikit gesekan antara dirinya dengan Candra kemarin, soto dalam mangkuk ia suap tanpa sisa ... kenyang sudah, ditutupnya sarapan pagi ini dengan segelas teh hangat yang berhasil mengembalikan energi dan semangatnya.
Tepat ketika mereka keluar warung makan, angkot di seberang jalan dengan tulisan AL sudah terisi penumpang, keduanya bergegas menuju bibir jalan raya berharap tidak tertinggal. Malas sekali jika harus menunggu angkot lagi. Tetapi, tiba-tiba langkah keduanya dihentikan oleh sebuah motor trail 250cc yang menghadang.
Helm cross jpx terbuka dan diketahui Candra lah yang menghadang mereka. Masih dengan tatapan dingin, ia menyuruh Hartik pulang naik taksi yang sudah siap di belakangnya, tentu perempuan itu tak harus pusing memikirkan angka di argo.
Kini mata elangnya sudah menatap perempuan di depannya, yang ditatap segera melempar pandang ke arah lain. Tak bisa dibohongi, Anara masih begitu kesal dengan lelaki bernama Candra itu, seenaknya sendiri.
"Ikut denganku!" Kalimatnya tak bisa dinego.
"Nggak." Anara berbalik badan tapi dengan segera pergelangan tangannya dipegang erat oleh lelaki di hadapannya.
"Ikut atau kulakukan hal yang bahkan tak terpikir olehmu disini?" Itu bukan pertanyaan, tapi sebuah ancaman yang Anara sadari ketika ia tau kemana arah mata Candra membidik, bibirnya.
__ADS_1
Anara tau betul lelaki di hadapannya tak pernah menarik kata-kata yang keluar dari mulut. Akhirnya ia turuti perintah Candra. Kini ia sudah berada di jok belakang dan motor melaju meninggalkan stasiun. Tapi jalan yang mereka tempuh bukan jalan menuju kos.
"Kemana?" Suara Anara harus beradu dengan angin pagi untuk dapat sampai di telinga Candra yang tertutup helm. Tak ada respon atau ia yang tak mendengar. Ia ulangi lagi pertanyaannya dengan sedikit keras.
"Candra, kita kemanaa?" Beberapa orang di samping menoleh ke arahnya, ternyata mereka berhenti di lampu merah. Suara kerasnya tentu mengundang perhatian yang lain. Anara menatap lurus ke depan ... malu, hanya itu yang dia rasa.
"Nanti kamu akan tau."
...----------------...
Mereka saling diam selama perjalanan. Sekitar 20 menit, motor yang mereka kendarai berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar berwarna hitam. Terlihat sepi dan Anara bertanya-tanya kenapa Candra mengajaknya kesini?
Candra membuka pagar dan memarkir motornya di garasi. Anara segera sadar, di sana juga ada mobil putih milik Candra.
"Rumah siapa? Ngapain kita kesini?"
Candra masih diam seribu bahasa, dia membuka pintu rumah dan Anara mengikuti langkahnya.
"Duduk dulu!" Candra meminta Anara untuk menunggu dan ia terlihat masuk ke salah satu ruang.
Rumah siapa ini? Kenapa sepi sekali? Pikirannya sudah mulai tak tenang dan membayangkan yang tidak-tidak. Apa Candra sudah gila?
Tak lama yang ditunggu keluar ruang dengan jaket yang sudah tertanggal. Tak langsung menemui perempuan yang tengah duduk sendirian menunggunya, ia malah menuju pantry untuk membuat lemon tea favorit tamunya.
"Minumlah!" Segelas lemon tea ia sodorkan pada Anara.
"Aku baru menghabiskan segelas teh hangat, tak ada ruang lagi." Anara menolak. Jika ia terima minuman itu, ia bisa muntah sekarang juga.
"Baiklah." Candra mengambil duduk di samping Anara, sangat dekat bahkan hanya kain yang mereka pakai masing-masing lah pembatasnya.
Candra menatap lekat-lekat perempuan yang kini di depannya. Jarak wajah mereka mungkin hanya 20cm. Tak kalah, Anara membalas tatapan lelakinya itu. Tangannya yang satu sudah berada di genggaman Candra.
"Maaf" Hanya satu kata yang keluar dari bibir di depannya. Namun, matanya menyiratkan penyesalan sesungguhnya.
__ADS_1
Anara masih menanti kalimat berikutnya, berharap ada penjelasan yang akan membuatnya paham kenapa ia harus diteriaki?