
Mobil yang dikemudikan Candra sudah membelah jalan raya Kota Balikpapan. Kota dengan pertumbuhan ekonomi paling pesat se-Kalimantan. Meski panas tetapi udara sangat sejuk karena banyak hutan di sudut kota.
Tujuan mereka berempat adalah Pantai Kemala. Letaknya tak jauh dari rumah Candra. Hanya memakan beberapa menit saja. Pukul 10.00 WITA, mobil sudah sampai di pantai yang letaknya persis di belakang gedung-gedung tinggi kota.
Kok bisa di belakang gedung pencakar langit begini ada pantai? Anara masih heran. Tapi, nyatanya pemandangan di depan matanya memanglah sebuah pantai asli, bukan buatan.
Pantai Kemala dengan pasirnya yang putih membuat pengunjung seolah sedang merasakan suasana Bali yang nyaman untuk bersantai. Beberapa warung di pinggir pantai ditata sedemikian rapi. Ada beberapa lilin bekas dinyalakan.
Mungkin jika malam tiba. Lilin-lilin dinyalakan untuk menambah suasana romantis.
Mata Anara menyapu sepanjang pantai. Banyak pohon nyiur yang menambah suasana syahdu Pantai Kemala. Tapi, sepertinya yang dibilang Rati keliru. Karena pantai ini banyak pengunjungnya meski tak terlalu ramai, mungkin karena weekday.
Anara yang terlihat lebih feminim dalam balutan dress floral selutut tengah mengoleskan sunblock ke seluruh permukaan kulitnya. Di sampingnya, Rati dengan hotpants berpadu tank top putih yang di-finish outer bermotif bunga juga melakukan hal serupa.
"Biar apa sih?" Tanya Bryan.
"Biar nggak gosong lah." Sahut Rati.
"Ritual cewek tuh ribet amat."
"Alah. Tapi biarpun ribet Mas Bryan juga suka cewek, kan?"
"Ya gimana dong? Lawan cowok kan memang cewek. Masa iya aku yang ganteng begini juga cari yang ganteng. Kan ngeri." Bryan begidik sendiri membayangkannya.
"Candra mana?" Tanya Anara yang tak melihat batang hidung kekasihnya semenjak turun dari mobil tadi.
"Cari minum tuh." Bryan menggerakkan dagunya ke arah Candra yang tengah berdiri di sebuah warung.
"Katanya ngebut skripsi. Kok pulang? Emang udah jadi ketemu dosen pembimbing?"
"Udah, An. Suruh balik lagi setelah libur UAS. Mungkin dosennya mau pulang kampung juga kali." Keduanya terkekeh.
Mereka bertiga sudah menikmati terjangan ombak yang membawa air menuju bibir pantai. Sesekali air yang dibawa ombak menyentuh kaki-kaki mereka. Menyisakan pasir berwarna putih menghiasi kaki.
Rati sibuk sendiri, mencari angle pas untuk jepretan sempurna. Mungkin untuk mempercantik feed instagramnya. Sesekali ponselnya berpindah ke tangan Anara, meminta perempuan yang dianggapnya calon kakak ipar untuk membantu mengambil gambar.
"Sudah." Anara menyodorkan ponsel kembali ke pemiliknya.
"Bagus kak, sukaaa." Rati tersenyum lebar mendapati gambar dirinya di dalam ponsel. Anara hanya tersenyum.
"Makin pengen cepet-cepet deh jadiin Kak Anara sebagai kakak ipar."
Seketika mata Anara dan Bryan membelalak. Sama kagetnya mendengar kalimat Rati barusan.
"Biar bisa motoin kamu?" Tanya Bryan ke Rati.
"Salah satunya." Rati nyengir kuda.
"Dasar adiknya Candra. Pantes sama." Bryan mengacak rambut gadis di depannya.
"Apaan sih Mas Bryan? Jadi berantakan."
"Sebelumnya juga udah berantakan kena angin kali, Rat." Suku kata terakhir sengaja Bryan beri tekanan.
"Rati. Bukan Rat."
Rati melengos pergi menjauh. Sementara Bryan dan Anara malah menahan tawa.
"Dia itu nggak mau dipanggil Rat, kayak tikus katanya." Penjelasan dari Bryan semakin membuat Anara tertawa.
"Oh ya, gimana kabar Caroline?"
__ADS_1
"Baik. Malam selasa pas kamu nginep di rumah itu, aku baru ke Batu nganter dia yang lagi pengen ketan."
"Doyan?"
"Doyanlah. Kamu enggak?"
"Sukaa. Dia wajahnya kan oriental banget. Kupikir nggak suka makanan sejenis ketan gitu."
"Udah ditembak belum?" Tanya Anara menyelidik.
"Belum. Masih belum yakin."
"Kenapa? Dia kelihatannya juga suka."
"Dilihat dari mana?"
"Dari mana ya? Pokoknya sebagai sesama wanita aku ngerasainnya dia juga ada rasa sama kamu."
"Tapi, An. Aku kayak masih kurang klop gitu." Anara mengerutkan kening mendengar kalimat Bryan.
"Ih, beneran deh kamu. Playboy."
"Siapa bilang? Candra pasti? Aku nggak playboy emang belum pas aja."
"Jangan suka mainin perasaan cewek. Ati-ati kualat." Anara mengingatkan.
"Ngobrolin apa?" Suara bariton Candra tiba-tiba mengagetkan Anara dan Bryan.
"Aku, nanyain kabar Caroline." Jawaban Anara membuat Candra membentuk huruf O pada bibirnya.
Melihat ke arah tangan sahabat karibnya yang membawa dua degan ijo dan Bryan sudah paham itu untuk siapa.
"Kok cuma dua, Mas?" Protes Rati yang sudah berada di dekat mereka.
"Iya, kalian ambil sono!" Candra mengarahkan dagu ke warung yang tadi ia singgahi.
Hufh
Hanya terdengar embusan napas kasar Rati, diikuti langkahnya menjauh menuju satu warung yang ditunjuk Candra.
"Kamu, kenapa cuma bawa dua sih?" Sungut Anara.
"Bawa empat langsung? Mana bisa?"
"Oh iya, ya." Anara terkekeh sendiri.
Langkah keduanya menuju ke sebuah meja kursi dengan atap jerami khas pantai, di depannya pemandangan Pantai Kemala yang terik karena letak Balikpapan dekat dengan garis khatulistiwa. Mereka menikmati segarnya degan yang menolong tenggorokan dari cuaca panas.
Manik mata Candra tak pernah lepas dari perempuan di depannya. Perempuan yang kian hari kian memenuhi ruang di hatinya, perlahan posisinya menggeser sosok yang dulu lama menetap sedang Candra tau sosok itu sudah tiada.
Berbeda dengan Anara yang benar-benar menikmati pemandangan pantai. Pandangan Candra menyapu perempuan di depannya dari ujung kaki ke ujung rambut. Ada yang membuatnya risih sedari tadi.
"An ...."
"Ya." Anara menoleh.
"Kamu kenapa pakai dress macam ini sih?" Tanya Candra terlihat kurang suka.
"Kenapa emang? Nggak pas ya?"
"Bukan, justru bagus. Cantik kok."
__ADS_1
"Kok pakai kok?"
Candra menarik napas dan mengembuskannya dengan berat. Ah wanita.
"Cantiiik."
"Trus apa masalahnya?"
"Terlalu pendek, bahannya ringan pula." Jelas Candra sambil memegang ujung dress.
"Kamu nggak suka?"
"Suka, tapi nggak di sini." Anara belum mengerti juga.
"Kena angin, bisa beterbangan dia. Banyak mata yang lihat. Nggak suka aku." Terdengar nada Candra meninggi.
"Mereka nggak fokus sama rok aku, Ndra."
"Iya, tapi sama paha kamu." Anara diam seribu bahasa.
"Lagian kenapa bisa kepikiran pakai kayak gini sih? Nggak biasanya." Candra bangkit dan tangannya sibuk melilitkan flanel miliknya menutupi tubuh bagian bawah Anara.
Netra Anara terlihat memerah dengan air mata yang terbendung di kelopak. Ia merutuki dirinya, kenapa ia harus memilih dress sialan ini ketika Rati menyodorkan dua dress pantai pagi tadi.
"Udah, nggak apa-apa. Aku nggak marah." Air mata Anara tak terbendung lagi.
"Aku cuma nggak suka kamu jadi pemandangan orang lain."
Candra menarik Anara dalam pelukannya, isak tangis Anara semakin menjadi. Kenapa malah begini? Ia eratkan pelukan hingga tangis perempuannya mereda.
"Ma-af." Suara Anara tersenggal.
"Nggak apa-apa." Diciuminya puncak kepala Anara dengan lembut untuk menenangkan.
"Ini milik Rati. Tadi ...."
"Aku tau. Sudah." Candra memotong kalimat Anara.
Dibelainya rambut dan punggung Anara dengan lembut hingga perempuan itu merasa suasana hatinya membaik. Sesekali ciumannya beralih dari puncak kepala menuju kening.
Pelukannya sengaja Candra longgarkan demi menatap perempuan di depannya, ditangkupnya wajah cantik milik Anara. Pandangannya teduh menenangkan dan menghanyutkan.
"Aku sayang sama kamu." Ucap Candra.
Kali ini Anara memeluk Candra dengan erat, ia seperti tak ingin melepas lelaki yang baru saja membuatnya menangis karena malu, juga seketika membuat wajahnya merah karena bahagia mendengar kalimat terakhirnya.
"Aku juga."
Ditangkupnya wajah Anara untuk mendongak padanya. Seketika bibir Candra sudah meraup bibir Anara. Masuk dengan lembut dan menyesapi daging tak bertulang di dalamnya. Meneguk segala rasa dengan napas tak beraturan.
Pelukannya semakin dieratkan seiring ciumannya yang semakin menuntut. Susah payah Anara mengimbangi ciuman yang bertubi-tubi kekasihnya berikan. Napas keduanya saling memburu dan Anara menarik wajahnya pelan ketika samar terlihat dari kejauhan Bryan dan Rati berjalan ke arah mereka.
"Su-dah." Tutur Anara melihat mata sayu Candra yang penuh tanya.
"Sahabat dan adikmu kesini." Lanjut Anara.
Candra terlihat kecewa. Sial!
"Aku akan menuntaskannya nanti."
...----------------...
__ADS_1