
"Baiklah" Sambungan tertutup. Ia tak membutuhkan penjelasan lebih detail kenapa lelaki itu sampai meneriakinya.
Ia telangkupkan kedua tangannya di wajah yang sedih bercampur kesal. Entah apa yang terjadi batinnya. Belum pernah dia mendapatkan perlakuan ini sebelumnya dari laki-laki yang dicintainya itu, tetapi suara keras Candra barusan benar-benar meruntuhkan hatinya.
Hanya karena aku bercerita tentang Jogja? lalu apa salahnya? Bukankah ia pula yang memintaku berkabar?
Banyak pertanyaan bertengger di pikirannya. Hatinya luar biasa sakit, kata-kata dari orang yang paling ingin ia temui setelah sampai di Malang itu membuat dadanya penuh dan sesak.
...----------------...
Langit sudah gelap, lampu-lampu Kota Jogja berganti peran menjadi penerang. Kendaraan lalu lalang saling berebut tempat untuk mengisi malam Minggu, Suara deru mesin bersahut-sahutan tak ramah.
Muda dan mudi saling menikmati langit cerah kota yang kental dengan budaya luhur Jawa ini. Di sana sini semua bersuka cita, gelak tawa, suara sendok berdenting dengan piring, air mengucur dalam gelas-gelas kopi yang siap diseruput. Semua saling melengkapi dalam satu harmoni, Jogja tak pernah sepi, rindu yang bersumber dari kota ini menarik orang yang pergi untuk selalu datang kembali.
Cuurrrr...
Air panas dari tombol yang ia tekan keluar bertemu kopi pahit dalam paper cup yang ia pegang. Kucuran air berhenti ketika kopi sudah di setengah lebih gelas kertas itu, selesai dan pintu swalayan ia dorong pelan memberinya jalan menghirup udara malam di luar.
Langkah sepatu kets-nya mengarah menuju meja untuk menemukan tiga temannya yang sudah lebih dulu keluar. Rambutnya ia kucir asal-asalan menyisakan baby hair yang berkibas ketika hembus angin menerpa wajah cantiknya.
Meja yang ia tuju masih berjarak sekitar 7 meter. Pandangannya yang tadi mengedar ke penjuru Stasiun Tugu kini menelisik pada meja di depan.
Deg...
Ritme jantung perempuan itu berdebar lebih cepat dari sebelumnya, kaget, syok, atau entah apalagi? Beruntung kopi panas di tangannya tak sampai jatuh.
Di sana ia tak hanya mendapati ketiga temannya. Ada satu orang lagi yang tak asing bagi dirinya. Ia menghentikan langkah, berbalik arah pun mau kemana? masuk ke swalayan lagi tak mungkin.
Di saat ia berpikir keras untuk menghindar, suara Nilam lebih dulu meneriakkan namanya dan menuntun tiga pasang mata yang lain menoleh ke arahnya.
"Anaraa!!"
...----------------...
Anara POV
__ADS_1
Kali ini kulangkahkan kaki dengan ragu dan degup tak beraturan. Sesampaiku di meja, kusapu wajah Nilam untuk minta penjelasan padanya. Siapa lagi? Hanya dia yang tau keberadaan laki-laki sialan ini.
"Duduk, An!" Nilam menatapku dengan ekspresi tak terbaca. Rasa inginku teriak tepat di telinganya itu.
Aku mengikuti arahannya. Ketika bibirku akan terbuka melayangkan tanya perihal keberadaan laki-laki di depanku ini, ia seperti menghindar dan bergegas akan pergi dengan kalimat terbata-bata.
"Oh ya, Tik. Tadi katamu ingin beli oleh-oleh tambahan ya. Yuk aku anter!" Tanpa jawaban, dengan sepihak Nilam menarik lengan Hartik dan diikuti Yuda. Kali ini ingin kutenggelamkan mereka yang menjebakku di sini. Awas kalian!!
Kami hanya saling diam, aku menekuni ponsel di tanganku sambil sesekali kusesap kopi pahitku yang mendadak 100 kali lebih pahit. Benar-benar situasi tidak mengenakkan.
"Anara.." Suara bariton itu kudengar lagi setelah sekian tahun entah kemana.
"Iya.." Kuberanikan menatap lekat-lekat wajahnya yang kini terlihat semakin matang. Mata kami bertemu dan..
"Maaf." Sudah kuduga ia akan mengatakan itu. Dasar bajingan. Seenaknya pergi, semudah itu pula meminta maaf.
"Kemarin aku ke tempat Nilam. Niatku menemui kamu. Tapi Nilam bilang hari ini saja." Seketika aku sadar, tamu Nilam kemarin ternyata lelaki ini.
Kualihkan pandanganku dari mata cokelatnya. Dia menjelaskan apa yang terjadi empat tahun lalu tanpa kuminta, persis seperti yang diceritakan Nilam. Satu hal yang baru kutahu, ia pindah ke Semarang dan menetap dengan omanya setelah kedua orang tuanya bercerai. Bolehkah kubilang ia lemah?
Kutarik napas dalam-dalam sambil menahan diri untuk tidak terbawa emosi,
"Anara.. Aku salah. Seharusnya dulu aku menceritakan semua padamu. Bukan pergi tanpa penjelasan, maaf!!"
"Aku sudah melupakan semua." Suaraku mulai bergetar mengingat bagaimana keadaanku kala itu. Tak ada nomor yang bisa kuhubungi, pontang panting mencarinya kemana pun, menggali informasi dari siapapun. Tapi hasilnya nihil. Dia hilang begitu saja tanpa jejak, bagai di angkat dari bumi secara tiba-tiba. Butuh waktu lama untuk sekedar terlihat baik-baik saja.
"Bohong! Tatap aku Anara!" Diraihnya tanganku namun secepat kilat pula kutarik tanganku menjauh.
"Katakan jika memang kamu melupakan aku!" Sungguh dadaku terasa sesak dan air di kelopak mataku sudah hampir terjatuh.
"Kenapa kamu diam?" Suaranya kali ini terdengar sengau dan pasrah.
"Jawab aku Anara!!!" Kini suaranya berganti keras memaksaku menjawab keyakinannya.
"Pergi kamu!" Kutatap lekat-lekat mata lelaki yang tanpa merasa bersalah meninggalkan aku yang masih pertama merasakan indah jatuh cinta dulu.
__ADS_1
"Kamu bahkan datang ke sini Anara, ke Kota yang dulu kita cita-citakan bersama. Kamu bohong jika sudah melupakan semua." Senyumnya menyeringai penuh keyakinan.
Aku beranjak dari kursi dan hendak pergi meninggalkan tempat ini sebelum tangannya melingkar di pundakku, mendekap, dan menahan langkahku. Kubalikkan tubuhku dan plak... tanganku mendarat dipipinya meninggalkan bekas merah, juga meninggalkan panas di telapakku.
Kali ini bulir kristal tak dapat di bendung lagi oleh mataku, pertahananku runtuh juga. Aku benci sekali harus terlihat lemah di hadapannya.
"Tak apa Anara." Tubuhnya sudah mendekap erat tubuhku dan tak ada penolakan.
"Maafkan aku yang membuatmu seterluka ini." Tangisku makin pecah dalam dekapan hangatnya. Betapa dulu aku merasa merana ketika lelaki di depanku ini dengan tiba-tiba hilang.
"Maafkan aku Anara." Kalimat itu ia rapal berulang-ulang hingga tangisku mereda.
Perlahan kulepas pelukannya dan menyadari jika keretaku akan berangkat sebentar lagi. Kulihat jam di tangan kiriku, pukul 10 kurang 15 menit. Setengah jam lagi kereta berangkat. Aku merapikan diriku, mataku pasti bengkak setelah sesenggukan di dekapan lelaki yang kubenci selama empat tahun ini.
...----------------...
Aku sudah berada di pintu masuk stasiun, menunggu Hartik yang baru saja kuhubungi. Tak lama, gadis berjilbab itu setengah berlari diikuti Nilam dan Yuda. Di sampingku tentu Janu, yang dari tadi setia membuntuti.
"Sudah baikan ni?" Nilam melirik Janu dan masih kusambut dingin. Aku masih kesal pada caranya.
"Makasih buat tempat dan waktunya. Lain kali kalau pas ke Malang. Kabari!" Kupeluk Nilam yang bagaimanapun tetap sahabat terbaikku.
"Hati-hati kalian!" Nilam membalas erat pelukannya.
Kulihat sekilas raut wajah Janu, dia sunggingkan senyum di wajahnya. Masih sama seperti dulu, pembawaannya tenang dan sederhana. Kulambaikan tangan dan berjalan cepat menuju peron bersama Hartik.
"Apa yang terjadi, An?" Masih sempat-sempatnya dia mewawancaraiku di tengah ketergesaan ini.
"Sudah clear semua?" Ia masih penasaran dan hanya kurespon dengan anggukan.
Malioboro Ekspres sudah siap di sana, menunjukkan kegagahannya pada kami, pada Hartik terlebih, sebentar lagi ia akan merasakan pengalaman naik ular besi yang membelah-belah Pulau Jawa ini. Kami naik ke dalam gerbong dan mencari tempat duduk sesuai nomor pada tiket.
Keadaan di dalam gerbong terbilang longgar padahal mendekati libur tahun baru atau mungkin karena ini stasiun pemberangkatan pertama. Hmmm, pasti nanti juga penuh di stasiun-stasiun berikutnya.
Kuletakkan ranselku di bagasi kereta yang letaknya di atas kursi penumpang. Karena kami memilih kelas ekonomi, kursi kami saling berhadapan. Beruntung tempat duduk Hartik searah dengan laju arah kereta, semoga ia tidak mabuk perjalanan!
__ADS_1
"An.." Aku mengalihkan fokus dari buku yang kubeli di kedai JBS sekitar wisata kuliner gudeg tadi pagi dan berganti menatap Hartik. Kukerutkan dahi seolah bertanya ada apa padanya.
"Kuharap ini tak memengaruhi hubunganmu dengan Candra!" Sejenak aku teringat wajah rupawan yang tadi siang membentakku melalui telepon itu. Selanjutnya netraku kembali fokus pada buku di tanganku.