Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Kembang Cinta


__ADS_3

Anara sedang berbaring di kamarnya ketika dering telepon terasa menganggu. Dengan sisa semangat, tangannya dipaksa meraih ponsel yang sedari tadi tak disentuhnya.


Candra ... nama itu yang terpampang di sana. Kali ini Anara tak ingin mengulur-ulur masalah keduanya menjadi lebih rumit. Seperti kata Hartik dan juga sesuai wejangan Bryan. Akhirnya Anara menekan tombol hijau.


"Anara." Suara Candra terdengar lega dari seberang sana.


"Hmmm." Anara hanya bergumam untuk memberi tahu jika dirinya mendengar.


"Aku pengen ketemu, An."


"Ya."


"Besok aku jemput. Jam 7 pagi."


"Kemana?"


"Keluar. Kita bicara di luar."


"Iya." Ujar Anara singkat, kemudian sambungan ditutupnya.


Anara kembali merebahkan diri di ranjang. Pikirannya galau ... di satu sisi rasa cintanya masih begitu besar, tapi di sisi lain kekecewaannya juga tak kalah besar.


Besok jika dia minta maaf lagi, aku harus gimana?


Anara sibuk dengan perdebatan antara hati dengan pikirannya sendiri. Menimbang masukan Bryan ... ego tidak boleh melebihi besarnya cinta, itu akan membuatnya menyesal. Namun, jika dimaafkan bukan tak mungkin Candra akan mengulangi kebohongan lainnya.


Pikiran yang terus kemana-mana, ditambah perasaan yang tak tenang akhirnya membawa Anara menutup mata. Batinnya merasa lelah harus memikirkan percintaan rumit yang disebabkan oleh dirinya sendiri. Seandainya ia cukup lapang dada untuk memaafkan.


"Astaga. Aku tertidur." Ucap Senja ketika matanya terbuka.


Matanya menatap jam dinding di kamarnya. Pukul 02.00 dini hari. Pantas saja suasana begitu hening dan sepi. Dilepaskannya jaket Bryan yang masih melekati tubuhnya.


Huh ... Anara membuang napasnya kasar. Seolah bersama itu pula ia ingin membuang jauh-jauh masalah hidupnya. Begitu harapannya saat ini. Ingin tenang dalam menyelesaikan skripsinya.


Ceklek ...


Suara pintu terbuka. Hawa dingin Kota Malang seperti menguliti Anara. Langkahnya cepat menuju kamar mandi dan kembali setelah wajahnya lebih segar dibasuh air.


Menutup pintu kayu kembali, tangannya membuka laptop miliknya. Di jam-jam segini, otak semua orang pasti terasa lebih encer. Ide-ide mengalir begitu saja tanpa diminta. Itu juga yang sedang dialami Anara.


"Wahai skripsi. Kamu nggak boleh ikut rumit seperti aku dan Candra. Mudahlah!" Pinta Anara pada benda mati di depannya. Ia bukan sedang gila, tapi sedang menjiwai peran sebagai mahasiswa akhir yang aroma parfumnya bukan lagi bunga ... tapi balsem.


Kata demi kata, kalimat demi kalimat, dan paragraf satu dengan lainnya tertulis rapi hingga rampung sampai bab tiga. Luar biasa energi patah hati ... eh energi pagi ini.


Anara menyungging senyum termanisnya. Hatinya membuncah gembira. Tinggal dua bab lagi, tapi justru dua bab itu yang akan mengurasi emosi dan pikirannya.


"Aku harus segera menyelesaikan masalah dengan Candra. Otakku tak akan bisa membagi fokus secara bersama." Ujar Anara bermonolog.


Dirinya sudah membulatkan tekad, esok hari ketika lelaki berjambang itu datang dan minta maaf kembali. Maka ia akan memberikan kesempatan itu lagi, kesempatan untuk Candra menebus kebohongannya.


Belajar menatap masa depan. Itu juga yang Candra lakukan dulu ketika mengetahui tentang Janu.


Hampir dua jam jemari Anara menari di atas tombol laptop. Kini ia menutupnya dengan hati lega. Seakan sebagian bebannya runtuh dari pundaknya.

__ADS_1


Terdengar azan subuh mulai saling bersahut-sahutan. Menandakan kehadiran sang fajar yang membawa semangat di hari yang baru. Anara meraih ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan ... untuk sahabatnya, Bryan.


Hari ini Candra minta ketemu. Semoga keputusanku tepat!


Pesan singkat itu terkirim ke Bryan ditandai centang dua. Sahabat yang sedikit banyak ikut andil membohongi Anara, tapi juga andil menyadarkannya bahwa egois tidak boleh mengalahkan cinta.


Dan hati kecilku masih menerimanya. Pohon cinta masih kembang di dalam sana.


Anara sedang memilih baju yang akan ia kenakan nanti. Ia tidak boleh terlihat kusut, kehilangan semangat, atau bahkan bersedih. Tangisan beberapa hari kemarin sudah cukup dikeluarkan. Sekarang ia tinggal memaafkan dan memulai lembar baru dengan Candra berlandaskan kejujuran.


...----------------...


Setelah mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Anara mengenakan celana kain hitam ⅞ nya yang dipadu sweater turtle neck warna mustard. Rambutnya diikat rendah jadi satu ke belakang. Sederhana namun begitu manis dalam pandangan.


Tak lama terdengar ketukan di pintu kamar. Tentu itu Candra karena sekarang jarum jam tepat menunjuk angka 7 pagi. Anara segera meraih sling bag hitamnya dan memakai flatshoes-nya.


Pintu dibukanya sempurna dan menampilkan wajah lelaki yang masih disayanginya. Netra lelaki di depannya menatap lurus, masuk, dan dalam ke manik mata Anara. Kemudian, menarik perempuannya itu ke dalam dekapan.


Aku rindu sekali, An. Tolong, biar begini sebentar saja!


Anara hanya merespon pelukan Candra dengan diam. Tangannya tak menyambut pelukan itu, juga tak melepasnya. Dia hanya diam mencoba memahami apa yang lelaki di depannya lakukan.


"Aku seneng, An. Kamu mau mengangkat teleponku semalem."


"Ya." Lidah Anara masih terasa kelu untuk menjawab kalimat Candra.


"Terlebih kamu sudah nggak sedingin kemarin-kemarin. Aku seneng." Ujar Candra lagi masih memeluk Anara.


"Mau kemana?"


"Ngapain?" Tentu Anara kaget bukan main. Maaf belum terlontar dari bibirnya, tetapi lelaki di depannya ingin mengajak ke rumah.


Apa-apaan ini?


"Sekarang juga aku akan memintamu ke orang tuamu." Ucap Candra dengan wajah seriusnya. Dirinya benar-benar tak ingin kehilangan.


Sementara Anara mematung tak percaya. Hatinya bahagia mendengar kalimat Candra, tetapi sekaligus bingung dibuatnya. Mudah sekali lelaki dengan jambang yang sudah rapi kembali itu mengucap kata 'memintamu'.


"Hah? Ngawur kamu." Sergah Anara.


"Aku serius, An."


"Aku pikir kamu ke sini ingin menjelaskan semua."


"Jadi, kamu sudah mau mendengar penjelasanku?" Tanya Candra dengan raut bahagia.


Anara yang merasa mendapat bumerang dari ucapannya sendiri hanya mampu diam dan memutar matanya malas.


"Iya." Ucap Anara akhirnya.


"Ya udah. Ikut aku!" Candra menarik tangan Anara agar mengikutinya. Anara benar-benar mengikuti kemana langkah Candra membawanya.


...Maafkanlah ku melukis luka...

__ADS_1


...Membuatmu bersedih mengundang air mata...


...Cinta tak mengapa kau marah...


...Tapi satu kupinta jangan kau usaikan kita...


...Maafkan aku...


...Maafkan aku...


...Maafkan aku...


Lagu D'Bagindas mengalun merdu dari audio mobil Candra. Namun syair sendu itu bagai sembilu yang mengiris hati kedua pendengarnya. Liriknya menyindir telak Candra. Anara melempar pandangannya keluar. Sementara Candra akhirnya mematikan musik itu.


"Kenapa dimatikan?" Tanya Anara.


"Aku tak ingin merusak mood-mu."


"Justru itu malah menambah suasana hatiku makin mendalami sakit yang sudah kamu toreh." Balas Anara tanpa melihat pada Candra.


Astagaa ... ternyata masih berlanjut.


"Aku minta maaf, An."


"Aku harus gimana biar kata maaf terlontar dari bibirmu?" Ucap Candra lagi.


"Aku kurang yakin kalau kamu bener-bener cinta sama aku."


"Makanya aku bilang mau minta kamu ke orang tuamu langsung."


"Ini bukan tentang minta restu. Tapi tentang yakinin hatiku ... kalau aku itu bukan pelarianmu dari mantanmu itu."


"Astaga." Candra meraup wajahnya.


"Aku bingung, An. Harus gimana bilangnya. Aku cinta sama kamu, bukan karena dia." Imbuh Candra dengan suara hampir tak terdengar.


Lelaki itu benar-benar kehabisan cara meyakinkan Anara.


"Aku takut ada kebohongan lain yang belum kamu ungkap, yang mungkin saja membuatku lebih terkejut dari ini."


"Nggak ada. Ini adalah satu-satunya rahasia yang ada. Nggak ada dan nggak akan pernah ada lagi."


"Bener?"


"Sumpah demi Bryan yang berhenti jadi playboy."


"Aku serius."


"Aku serius juga, An. Apa aku harus sumpah poc*ng?" Tantang Candra.


"Mulutmu!" Geram Anara. Candra mendengus kecewa.


"Akan kucoba percaya."

__ADS_1


Candra membelalakkan matanya, berbinar ditaburi bunga-bunga cinta di sekitarnya.


...----------------...


__ADS_2