
Anara membenamkan kepalanya ke dada bidang Candra ketika mobil sudah berhenti di pinggir pantai. Berbekal peta online akhirnya mereka menuju tempat yang dini hari ini sangatlah sepi. Hanya terdengar suara debur ombak dan desiran angin yang menusuk hingga ke tulang.
Keduanya sudah berada di luar. Candra masih tak bergeming. Ritme jantungnya mulai berdetak normal kembali. Anara semakin mengeratkan lingkarang tangannya.
"Candra ...." Sapanya lirih menatap ke arah lelakinya.
"Jika tadi aku tak membuka jendela. Mungkin dia sudah ...."
Kalimat Candra sengaja tak dituntaskan. Hatinya nyeri mengingat bagaimana posisi lelaki sialan tadi ingin mencumbu kekasihnya. Telat sedikit saja, Candra akan menyesal.
Kali ini Anara sudah memposisikan dirinya sedikit berjinjit. Bibirnya menyentuh bibir Candra dan menyesap bagian bawah. Tak hanya berdiam, Candra membalas pagutan Anara dengan menghisap bibir atas perempuannya dengan lembut.
Seolah semua sakit hati Candra lebur bersama pertukaran saliva keduanya yang intens dan lama. Lidah Candra menyeruak ke dalam menyapu seluruh bagian di sana, pun Anara menyesapi setiap sapuan lidah Candra dengan sepenuh rasa.
Diusapnya bibir Anara yang basah karena ciumannya. Bibir bawah perempuan itu terlihat sedikit bengkak. Kembali Candra menarik tengkuk Anara dan membenamkan lidahnya memasuki mulut Anara.
Rasanya ia ingin menyapu setiap inchi di sana, menghapus jejak lidah yang dulu diberikan oleh Janu dengan lidahnya yang semakin melilit dan ciumannya yang semakin menuntut.
Napas keduanya memburu. Ciuman keduanya semakin memanas dan Candra tak henti-hentinya mencecap bibir atas dan bawah Anara bergantian hingga semua terasa basah karena saliva yang kemana-mana.
Perlahan ia lepas lagi pagutannya. Ia ingin melihat mata Anara yang sayu, yang membakar gairahnya untuk meminta lebih. Ia ingin melakukan lebih dari apa yang pernah Anara lakukan dengan lelaki sialan itu.
"Kamu dengan Janu selama pacaran, ngapain aja?" Pertanyaan Candra membuat Anara mengernyit.
Kenapa kamu bahas dia lagi, Ndra? Bahkan menanyakan sesuatu yang tak seharusnya.
"Ciuman?" Anara mengangguk.
"Kalau begitu, aku minta lebih." Netranya menatap Anara dalam. Tetapi itu menimbulkan senyum di bibir Anara.
"Kenapa tersenyum?"
"Bukannya kamu memang sudah meminta sesuatu yang lebih?" Anara bertanya balik.
Candra mengangkat tubuh Anara dengan posisi berhadapan. Perempuan itu kini duduk di atas mobil. Sedangkan Candra sudah kembali meraup bibir Anara dengan tak sabar. Tangannya menyusup ke dalam jaket dan membelai punggung kekasihnya.
Semakin lama ciuman Candra semakin liar. Daun telinga Anara sudah basah karena dikulum dan disapu oleh lidah Candra. Rambut lelaki itu tak lagi rapi, tangan Anara sibuk menariknya ketika ia merasa gelenyar aneh memenuhi tubuhnya.
"Masuk ke mobil?" Tawar Candra di sela pagutannya.
"Hmmb ...."
Tangannya kembali menyusup ke dalam jaket Anara, melewati kaus dan menangkup satu benda yang masih terbungkus di dalam. Ia remas perlahan tanpa melepas ciuman.
"An. Aku pengen." Tak ada jawaban dari Anara.
Tangan Candra sudah membuka jaket dan menarik kaus Anara hingga tanggal dari tubuhnya. Kini di tubuh perempuannya hanya tertinggal bra berwarna hitam yang membungkus dua benda kembar.
Lidah Candra kembali memasuki mulut Anara dengan tangan yang terus meremas kedua benda kenyal di depannya. Candra turunkan lidahnya menyusuri setiap jengkal leher hingga ke dada Anara.
Ia tinggalkan beberapa tanda kepemikikan di sana. Hanya terdengar suara lenguhan dari bibir Anara hingga akhirnya Candra menghentikan sejenak kegiatannya.
"Can-dra." Napas Anara tersenggal.
"Sebentar sayang. Aku ingin menatapnya."
Mata Candra intens memandangi dada Anara yang kini terekspos sempurna. Anara yang merasa malu, menarik kepala Candra dan membenamkannya di antara dua benda kembarnya.
Candra menghisap dua puncak Anara secara bergantian. Ketika mulutnya bermain di satu puncak. Jarinya memelintir puncak yang lainnya membuat Anara merasa tak menapaki bumi.
Lelaki di depannya kini mengulum dada Anara seakan ingin melahapnya. Sementara tangan satunya bermain di puncak dada Anara. Tangan lainnya menelusup masuk ke dalam celana Anara.
Dilepasnya kaitan celana Anara dan ditariknya celana itu sedikit ke bawah untuk memudahkan tangannya mencari-cari milik Anara. Netra Candra menatap penuh damba pada kain terakhir berbentuk segitiga hitam itu.
"Candra. Sudah!" Anara menahan tangan Candra agar tak melakukan lebih. Tapi Candra sudah terhipnotis oleh hasratnya dan menginginkan lebih.
"Aku pengen, Sayang." Ia membimbing tangan Anara menyentuh letak kejantanannya berada. Anara merasakan ada sesuatu yang keras di sana. Ia lalu menggelengkan kepala.
"Mantanmu sudah pernah menyentuhnya?" Tanya Candra menatap milik Anara.
__ADS_1
"Tidak. Kami hanya berciuman." Sahut Anara.
Candra kembali menyesap bibir Anara dan mengulum puncak Anara bergantian. Tangannya memelintir puncak dada Anara hingga lagi-lagi membuat Anara mendesah.
Tangan satunya menyusup ke balik ****** ***** Anara, mencari-cari milik Anara yang telah basah karena ulahnya. Perlahan Candra memainkan benda kecil di dalam sana dengan jari tengahnya. Memainkannya dengan lembut tetapi menimbulkan respon luar biasa pemiliknya.
Tubuh Anara yang terbaring di jok belakang seperti terangkat menikmati permainan tangan Candra. Candra semakin menambah tempo permainan jarinya. Membuat Anara menjabak rambutnya.
"Hmmb ... kamu basah sekali, An." Ujar Candra tanpa melepas kulumannya dari puncak dada kenyal Anara.
"Can-draaa." Candra semakin mempercepat permainan jarinya dan menguatkan kulumannya.
"Lepaskan, An!"
Tak lama tubuh Anara seperti tersengat aliran listrik yang membuatnya melayang. Rasanya dia ingin mengeluarkan sesuatu. Ditariknya tangan Candra yang masih menyentuh miliknya.
"Aku sayang kamu, Anara." Candra tersenyum puas lalu mengecup kening perempuannya.
...----------------...
"Besok mas antar!" Tutur Candra kepada Rati melalui sambungan telepon.
"Enggak usah mas, besok aku diantar Mas Bryan." Tolak Rati kemudian sambungan tertutup.
Rati menolak untuk diantar kakaknya. Ia tak mau pertemuan antara sang kakak dan tuan rumah akan berujung baku hantam lagi. Meski kakaknya tak sepenuhnya salah, tapi tetap itu memalukan.
"Masmu?" Tanya Bryan kepada Rati. Rati hanya mengangguk.
"Nginep dimana dia?"
"Katanya di pusat Kota Jogja. Lupa nama daerahnya. Sosro apa ya tadi ... Itulah pokoknya." Rati mengibas tangan tanda menyuruh Bryan melupakan pertanyaannya.
Keduanya dan juga Caroline sedang berada di lokasi ujian Rati besok. Jaga-jaga agar Rati tak perlu menghabiskan waktu untuk mencari-cari lokasi ujian. Tinggal fokus meraih kelolosan.
"Setelah ini kemana?" Sambung Caroline.
"Kamu maunya kemana?" Bryan bertanya balik.
"Makan, gimana?" Tawar Bryan mendapat persetujuan dari sang pacar.
"Kalau kalian mau jalan. Antar aku balik dulu ya!" Pinta Rati. Dia ingin istirahat saja.
"Kita makan aja, bertiga!" Ujar Caroline.
Tak lama mobil yang mereka kendarai menuju pusat kota. Mencari tempat untuk makan siang. Di sebuah warung gudeg mereka berhenti, mengisi perut yang sudah ingin bertemu nasi.
Janu sedang duduk di teras ketika ketiganya tiba di rumah khas Jawa itu. Luka bekas pukulan Candra masih terlihat segar di pelipisnya. Pantas kiranya lelaki dengan celana ¾ itu mendapat ganjaran atas sikap tak sopannya.
"Darimana?" Suara keluar dari mulutnya.
"Cek lokasi ujian." Jawab Caroline disertai senyuman yang dipaksakan.
Di antara mereka, hanya Caroline yang masih terlihat ramah pada si tuan rumah. Sementara Bryan dan Rati, keduanya sudah sedingin es mengingat kelakuan Janu semalam.
"Mumpung di Jogja, nggak jalan-jalan?" Sambung Janu lagi. Rautnya ramah. Tapi, siapa sangka? Dia hampir menerkam mantan yang dulu dicampakkan.
"Enggak, Jan. Lain waktu aja." Tukas Caroline cepat menyusul langkah Bryan dan Rati.
Mereka berdua sepertinya nggak suka setelah kejadian semalam.
Janu menyugar rambutnya. Betapa bodohnya dia yang nekat hingga perempuan yang dicintai pergi saat itu juga. Sekarang, dia bahkan tak tau dimana Anara berada.
"Kalian dingin banget, sih?" Caroline menghentikan langkah ketika mendapati Bryan dan Rati.
"Terus aku harus gimana, Kak? Dia hampir nyosor calon kakak iparku." Sungut Rati.
"Wooow. Kakak ipar?" Bryan ikut hanyut dalam obrolan.
"Emang iya kan? Mas Djata kayaknya cinta banget deh sama Kak Anara." Sambung Rati.
__ADS_1
Hati Caroline mencelos mendengar penuturan Rati. Ternyata bukan hanya dia seorang yang melihat betapa besar perasaan Candra pada perempuannya.
Sementara dia, bernasib kurang beruntung dipacari Bryan. Lelaki yang sebenarnya bukan pendiam, tetapi seperti tak menaruh minat untuk sekadar menunjukkan perasaan sayangnya.
Ahh ... seandainya sikap Bryan seperti sahabatnya itu. Tentu hidupku lebih berwarna dan hatiku pasti bahagia.
Melihat Caroline terdiam, Bryan segera mengalihkan pembicaraan. Ia sadar betul pacarnya itu pasti memikirkan tentang Candra dan Anara. Caroline pernah membandingkan hubungan mereka dengan sahabatnya itu.
"Besok jam berapa?" Tanya Bryan.
"Pukul 07.00 mas." Bryan membentuk bibirnya menyerupai O sempurna.
"Aku masuk dulu." Tutur Caroline melangkah melewati Bryan dan Rati yang masih berbincang mengenai rencana besok pagi.
...----------------...
Setelah makan malam yang penuh cerita dari Bude Ningrum. Rati segera masuk ke kamar. Membuka materi sekilas agar tak lupa ketika berperang besok. Ia akan langsung beristirahat supaya fit juga tidak bangun kesiangan.
Sementara Bryan menyusul Caroline di teras depan. Perempuan itu sedari siang lebih banyak diam, tak seperti biasanya.
"Ehm." Dehaman Bryan bagai angin lalu. Caroline masih mematung, khusyuk dalam lamunan.
"Lin." Tangan Bryan menepuk bahu perempuan di depannya.
"Eh- ya?" Caroline memutar tubuh menghadap pemilik suara.
"Kamu nglamunin apa?"
Senyum Caroline disertai gelengan kepala membuat Bryan semakin yakin bahwa pacarnya sedang tak baik-baik saja. Mengapa diamnya Caroline membuat hatinya gusar? Ia seperti kehilangan sebuah kebiasaan.
"Aku masuk dulu!" Ujar Caroline melangkahkan kaki.
"Sebentar!" Tangan Bryan ingin menahan, tetapi Caroline menepisnya.
"Kamu marah?" Lagi-lagi Caroline menggeleng.
"Aku minta maaf."
"Untuk apa?"
"Kamu kecewa karena aku tak seperti Candra?" Tanya Bryan memastikan.
Peka juga ternyata. Tapi aku terlanjur kecewaaa.
"Apa kurangku?" Tanya Caroline tiba-tiba.
"Bukan itu, Lin." Jawab Bryan seperti putus asa.
"Lalu kenapa?"
Bryan terdiam. Hatinya ingin sekali mengatakan kalau ada perempuan lain di hatinya. Tapi lidahnya kelu.
"Kenapa Bryan?"
"Maaf, Lin."
"Mana janjimu untuk bersikap lebih baik?" Mata Caroline sudah berkaca-kaca.
Semakin Bryan berpura-pura semakin Caroline tersiksa. Usaha Bryan untuk jatuh cinta pada perempuan di depannya ternyata sia-sia. Kini bahkan ia melukai hati perempuan lagi.
"Jawab!!!" Kecewa dan amarah jelas tergambar di mata Caroline.
"Maaf, aku mencintai perempuan lain."
"Sudah kuduga. Aku menyesal Bryan. Menyesal kenal denganmu." Air mata Caroline tak terbendung.
"Maaf." Lirih Bryan ketika Caroline pergi.
Pintu tertutup dengan keras, Caroline membantingnya. Ia kecewa dengan lelaki yang baru saja jujur kepadanya. Dirinya seperti jatuh melebihi dalamnya jurang. Hatinya tersayat oleh kata-kata.
__ADS_1
Lelaki bajingan. Selama ini kau anggap aku apa? Perempuan mana yang membuatmu tega menjadikanku pelarian?
...----------------...