Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Dia Berbeda


__ADS_3

Tepat pukul 09.40 WITA, pesawat yang membawa Candra dan Anara sudah landing di bandara Sepinggan, Balikpapan. Mobil yang menjemput keduanya kini sudah menuju ke arah rumah Candra.


Selama penerbangan, tangan Anara tak pernah melepaskan pegangannya dari lengan Candra. Rasa takut jelas tergambar dari raut wajah tegangnya dan Candra hanya menahan tawa melihat perempuannya yang ketakutan.


"Kupingku kayak masih berdenging." Tutur Anara yang tengah menyandarkan kepala pada kursi mobil.


"Nanti juga normal lagi." Candra tersenyum.


"Kita balik ke Malang naik kapal aja ya!"


Sepertinya Anara benar-benar tak menyukai pengalaman terbang pertamanya.


"Yakin?"


"Kenapa emang? Kok gitu nanyanya."


"Bisa lebih lama, An."


"Hmmm ... berapa jam?"


"Tiga hari." Candra mengisyaratkan tiga jarinya.


"Haa? Lama banget."


"Iya, belum kalau cuaca buruk. Bisa satu minggu." Anara menggelengkan kepalanya.


"Nggak jadi deh, habis jatah libur UAS-ku buat kampul-kampul di laut."


Mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti di depan sebuah rumah berukuran besar dengan pagar kayu yang apik. Candra turun diikuti oleh Anara yang sibuk memperhatikan sekitar.


Rumah Lamin khas Kalimantan tidak kalian dapati di rumah Candra. Sama halnya dengan rumah Joglo khas Jawa yang mulai jarang ditemukan di tanahnya sendiri.


"Ternyata nggak jauh beda ya sama di Jawa. Kukira di Kalimantan itu masih kayak hutan, rumah adat."


"Iya, tapi mungkin di bagian yang lain. Di sini, perkembangan sangat pesat, An."


Seorang gadis berambut panjang yang melihat kedatangan Candra dan Anara segera berteriak memanggil sang mama.


"Mamaaaaa ... Mas Djata pulang." Gadis itu segera berlari memeluk orang yang disebut Mas Djata tadi.


"As-salam-mualai-kuuuum." Tatapan tajam Candra membuat gadis itu memutar matanya malas.


"Assalamualaikum. Eh ... la kan harusnya mas yang bilang gitu?"


"Udah kan tadi?"


"Hadeeeh, waalaikumussalaaaam." Gadis itu menjawab salam yang tadi juga diucapnya sendiri.


Pandangan mata gadis itu lalu menatap Anara yang berada di samping Candra, mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan tatapan bertanya-tanya. Anara yang merasa tak nyaman segera menyenggol lengan Candra.


"Eh, iya, kenalin ini Kak Anara."


Anara mengulurkan tangannya kepada si gadis. Namun, gadis itu masih belum membalas uluran tangannya. Matanya masih menelanjangi perempuan cantik di depannya.


Mirip banget.


"Woi!"


Candra melambaikan tangan di depan wajah si gadis dan masih belum mendapat respon.


"Ratiiiiiii!!"

__ADS_1


"Eh, i-ya. Iya, aku Rati."


Suara Candra menyadarkan adiknya bersamaan dengan keluarnya seorang wanita sekitar 45 tahun dari dalam rumah.


"Djata ....."


"Mama."


Candra mencium punggung tangan mamanya berlanjut pelukan singkat untuk melepas rindu seorang ibu kepada anak yang berada di rantau.


"Mama kangen banget sama kamu."


"Iya ma, aku juga kangeeen banget sama mama."


"Mana ada kamu kangen mama? Sepertinya kamu betah di Jawa." Tutur mama Ira kemudian pandangannya beralih kepada Anara.


"Ini?"


Wanita itu menatap Anara seperti saat Rati menatapnya tadi, Anara segera mengulur tangan meraih punggung tangan mama Candra dan menciumnya.


"Saya Anara, tante."


"Oh, iya An-ara. Saya Ira, mamanya Djata."


Oh, jadi kalau di rumah manggilnya Djata. Anara tersenyum manis.


"Selamat datang di rumah kami. Ayo ayo masuk! Kalian pasti lelah." Mama Ira menuntun mereka, lebih tepatnya menuntun Anara untuk masuk ruang tamu.


Koper keduanya sudah dimasukkan ke dalam rumah oleh sopir yang tadi menjemput di bandara.


"Rati! Ayo buatkan minum!" Titah Mama Ira kepada anak gadisnya. Tanpa sahutan, Rati sudah berjalan menjauh dari ruang tamu.


Rupanya Mama Ira adalah wanita asli Jawa, ia berasal dari Klaten dan pindah ke Kalimantan ikut dengan suaminya, Abah Kayaat.


"Kalau kamu Jawanya mana, An?"


"Saya Kediri, tante."


"Oh, Jawa Timur ya?" Anara mengangguk penuh sopan.


"Abah dimana, Ma?" Candra teringat abahnya yang sedang sakit.


"Abahmu kerjalah, Djata." Candra dan Anara sama-sama tertegun.


Katanya sakit?


"Bukannya mama bilang abah sakit? Muntah-muntah?"


"Iya, betul. Masuk angin."


"Ya Allah maaaaaa." Candra menepuk jidatnya sekaligus menahan tawa.


"Kenapa memang?" Mama Ira terlihat bingung.


"Aku kira abah sakit yang sampai gimana."


"Astagaa Djata. Jadi kamu pulang karena itu?" Candra mengangguk.


"Bukan karena rindu mama?" Raut Mama Ira dibuat seolah kecewa.


"Rindu juga, maa ... tapi aku sudah terlalu khawatir. Kenapa mama nggak bilang sih kalau abah masuk angin?"

__ADS_1


"Mana mama tau kalau kamu mikirnya sampai segitunya. Tapi, nggak apa-apa juga. Kalau nggak gitu, mungkin kamu nggak pulang." Mama Ira mencebikkan bibirnya.


Rati muncul dengan nampan berisi empat cangkir teh dan satu piring kue mantau polos. Gadis itu tersenyum ramah kepada Anara, ia meletakkan cangkir teh ke atas meja dan ikut larut dalam obrolan hangat berempat.


...----------------...


Hari sudah sore, jarum jam menunjuk angka tiga sore waktu setempat. Anara tengah beristirahat di kamar tamu ketika Rati dan Candra berada di halaman samping rumah.


Tek


Suara gelas berisi jus melon dingin yang ditaruh oleh Rati menjadi pembuka percakapan serius sore ini.


"Mas ....." Candra menoleh pada gadis berkaus navy di depannya.


"Apa?" Sungut Candra.


Mereka berdua adalah kakak beradik seperti umumnya, sering bertengkar ketika berdekatan. Tetapi, saling mencari ketika yang lain tidak terlihat oleh mata.


"Mirip sekali dengan Kak Anjani."


"Huss, jangan keras-keras!" Candra menempelkan telunjuknya pada bibir.


"Kenapa nggak boleh keras-keraaaas?" Suara Rati bahkan dibuat lebih kencang dari sebelumnya.


"Rat!!" Tatapan Candra tajam dan Rati memonyongkan bibirnya.


"Jangan panggil aku Rat! Berasa kayak tikus gede." Kesekian kalinya Rati memprotes panggilan itu dan kesekian kali pula Candra tak menggubrisnya.


"Trus dipanggil gimana? Memang namamu Rat."


"Ck, udah Mas Djata jangan ngalihin topik!"


"Mirip dari mana sih, Rat?" Candra terus menggoda adiknya.


"Wajah mas. Wajah. Jangan pura-pura deh! Juga jangan panggil aku dengan sebutan Rat!" Terlihat Rati sudah sangat kesal.


"Sekilas doang, tapi beda. Ini lebih mandiri."


"Masa?" Candra mengangguk lalu meminum jus milik Rati.


"Kebiasaan deeh."


"Mandirinya gimana? Bisa pakai baju atau sepatu sendiri?" Ledek Rati.


Rati terkenang pacar kakaknya yang meninggal karena kecelakaan itu. Menurutnya, Anjani pujungan betul. Ia tak menyukai Anjani, ia menilai almarhumah pacar kakaknya itu sangat manja hingga membuat teh saja tidak bisa.


Apalagi membedakan merica dengan ketumbar. Apa kabar?


"Raaat." Mata Candra melotot tajam.


"Kalau mandirinya macem itu, anak SD juga bisa mas." Rati terkekeh.


"Anara berbeda, dia bukan tipe perempuan kayaak ....." Kalimat Candra dijeda.


"Kayak siapa? Anjani?" Rati gemar sekali menggoda kakaknya. Kali ini jitakan Candra mendarat di kepala Rati.


"Aduuuuh, mas ya. Aku teriak kenceng ni. Kalau perlu sampai teman perempuan mas itu tau." Rati tersenyum licik kepada kakaknya.


"Tau apa?" Tiba-tiba suara itu sudah bergema, membuat kakak beradik yang tadinya saling berselisih kini menatap pada orang yang sama.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2