Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Terdampar Berdua


__ADS_3

Ketika fajar kizib belum berganti fajar sadik yang menandai batas antara malam dengan subuh. Candra sudah menggeber motor trailnya mengarah ke kos Anara. Jalanan masih sepi bagai milik Candra seorang diri.


Udara pagi ini menusuk hingga ke tulang-belulang. Namun, tak menyurutkan sedikit pun niatan Candra untuk mengunjungi kekasihnya di pagi buta. Di pundaknya carrier berwarna bulu kera menggantung di sana.


Perempuan mana lagi yang bisa menyulapku jadi segila ini? Seharusnya berbalut selimut dengan mendekap guling tentu akan sangat menjanjikan.


Motornya melaju kencang di jalanan yang lengang. Senyumnya tak pudar sedari keluar dari rumah tadi. Meski tak ada satu pasang mata pun yang melihatnya, Candra tetap menampakkan senyum menawan versinya.


Sesampainya di halaman kos yang sepi itu, ia menghentikan laju motornya. Masih gelap, hanya dua lampu neon di teras yang menjadi sumber cahaya untuk cukup menyapu seluruh sudut ruang.


Di telinganya sudah tertempel benda pipih, melakukan panggilan pada Anara di dalam, yang diyakini Candra bahwa perempuan itu pasti masih terlelap. Beberapa kali sambungan tak terjawab.


Aku di depan. Bukain pintunya!


Pesan WA ia kirim pada kekasih hatinya. Ia masih setia menunggu tetapi senyumnya perlahan pudar dibawa bersama sang fajar.


15 menit berlalu tanpa ada balasan dari Anara. Lengkung bibir Candra yang semula menghadap ke atas lambat laun berganti melengkung ke bawah: kecewa. Semangatnya di pagi buta tadi berbuah masam.


Kemana ini Anara? Bisa-bisanya lupa kalau ada janji dengan pacarnya. Dibilang langsung tidur, pasti begadang.


Netranya tak lepas dari layar ponsel. Satu-satunya harapan Candra pagi ini adalah balasan pesan Anara atau kemunculan Anara yang tiba-tiba. Bibir Candra terus uring-uringan hingga terdengar suara pintu terbuka.


Kreeeeek ... suara pintu terbuka.


Di sana muncul perempuan dengan rambut masih tak beraturan dan wajahnya masih sayu khas muka bantal. Dan sebentar ... pakaiannya sangat kurang bahan. Tanktop berwarna hitam dengan hotpants warna abu-abu semen sebagai setelannya.


Dia nggak kedinginan apa?


Bibir Anara seperti mengatakan sesuatu sambil memanggil Candra untuk mengikutinya dengan isyarat tangan. Candra berjalan mengekori Anara. Kini senyumnya sudah terbit kembali di wajah tampannya.


"Kamu nggak dingin?"


"Enggak." Anara menjawab tanpa menoleh. Mata Candra tentu tak lepas dari tubuh Anara di depannya.


Kalau pas ada cowok lain yang datang. Apa gini juga penampilannya?


"Kenapa bajunya model gini?"


"Kenapa memang? Kurang pendek?" Tanya Anara tersenyum.


Astaga nantangin dia.


Kini keduanya sedang berjalan menaiki anak tangga dan berakhir memasuki kamar Anara yang pintunya dibiarkan terbuka sehingga hawa dingin makin terasa.


"Kalau pas ada tamu cowok lain, bajunya begini?"


"Iya." Anggukan Anara membulatkan mata Candra.


"Tapi, aku kan di dalem kamar." Lanjut Anara.


"Syukurlah."


"Kenapa?"


Tak ada jawaban dari Candra. Lelaki itu justru menutup pintu kamar Anara dan berjalan mendekati kekasihnya yang masih muka bantal tadi. Tangan Candra sudah meraih bahu Anara dan bersiap membawanya dalam dekapan.


"Aku baru bangun lo."


"Justru pas begini keliatan cantik-cantiknya." Sebuah kecupan singkat mendarat di pipi sebelah kanan Anara.


"Udah, aku mandi dulu." Anara hendak meraih bathrobe miliknya.


Candra menarik tubuh Anara dari belakang. Mendekapnya erat ke dalam pelukan. Meski sempat ada drama penolakan dari Anara. Akhirnya Anara diam juga.


"Nanti kalau kita udah sah, aku mau begini setiap pagi."


"Nggak maulah. Masih enak-enaknya tidur harus turun buka pintu nyambut kamu." Anara tertawa.


"Bukan itu, An. Begini ini ... peluk kamu, ciumin kamu, menikmati wajah natural istriku ini." Ucap Candra mengecupi lekuk leher Anara.


"Aku mandi dulu, Ndra." Anara berusaha melepaskan tangan Candra yang melingkari tubuhnya.


"Kamu lupa?"


"Apa?"


"Aku bilang bangun pagi kan?"


"Ini juga pagi, Candra. Matahari belum nongol."


"Aku nungguin setengah jam di depan. Celingukan. Kayak maling, mana bawa tas lagi." Gerutu Candra.


"Coba kalau beneran aku disangka maling. Babak belur pacarmu ini." Ujar Candra lagi.


"Udah belum? Aku mau mandi dulu kalau udah."


Pagi-pagi dateng malah ngomel kayak emak bangunin anak. Lagian suruh siapa enggak bilang mau kemana?


"Kelamaan, An. Udah langsung pakai baju aja!"


"Kemana sih?"


"Udah ikut aja!"


"Iya. Aku bakalan ikut kamu. Tapi kemana?"


"Ke pantai." Jawab Candra akhirnya.


"Sepagi ini?" Candra mengangguk.


"Mandi di sana aja! Jangan lupa bawa baju ganti! Sekalian dalemannya." Candra terkekeh.


"Kenapa ketawa?"


"Ya, dalemannya jangan sampai lupa! Nggak mungkin pakai punyaku kan?"


"Ish ... Bawa peralatan mandi?" Candra mengangguk.


"Jenggotmu ini lo bikin gatel." Tukas Anara membalikkan badannya.


"Jenggot? Berasa kayak kakek-kakek aku, An."


"Lagian ditempelin terus ke aku. Geli tau?"


"Kalau gini masih geli?" Candra menyapu pipi Anara dengan dagunya.


"Geli, Ndra." Mata Anara melotot karena kesal.


"Kalau yang ini pasti enggak."


Candra menarik tengkuk Anara dan mencium bibirnya sekilas. Tak ada acara saling buka mulut pagi ini. Hanya ciuman di bibir saja.

__ADS_1


"Emang enggak. Kan nggak ada rambutnya." Anara menyentuh bibir lelaki di depan yang baru menciumnya.


"Kamu mau disentuh sama yang ada rambutnya?" Candra mengerling.


"Apaan sih? Mesum!" Anara melepaskan diri dari Candra dan berjalan mendekati lemari. Akan mempersiapkan barang bawaan sesuai instruksi Candra.


"Kok mesum? Emang apa?"


"Nggak tau."


"Kamu mikir aneh-aneh ya?"


"Apaan sih, Candra?"


"Pacarku ternyata ... pikirannya liar."


"Udah selesai nih. Aku beneran nggak mandi ya."


"Iya. Aku juga belum mandi ini."


"Ya ampun. Apel sepagi ini belum mandi?"


"Siapa juga yang mau mandi di pagi buta ini? Orang se-Malang raya kamu tanya juga nggak ada yang mandi jam segini, An."


"Ngapain juga aku nanyain orang se-Malang raya? Kurang kerjaan iya."


"Pakai motormu, An!"


"Kenapa memang?" Tanya Anara heran.


"Biar lebih santai aja." Jawab Candra yang akhirnya diangguki oleh Anara.


Ketika matahari hampir terbit, mereka sudah siap untuk memulai perjalanan. Motor matic milik Anara berjalan santai membawa keduanya menuju destinasi perjalanan.


Carrier milik Candra diletakkan di bagian jok depan sedangkan Anara menggendong tas miliknya sendiri yang tentu lebih ringan. Di dalam jok, dua setelan jas hujan diletakkan di sana. Berjaga jika tiba-tiba Tuhan mengirim pasukan airnya.


Memasuki jalanan khas Malang selatan dengan cahaya mentari yang masih enggan. Candra dan Anara terus mengisi perjalanan pagi ini dengan senda gurau, kadang juga dengan lagu-lagu yang dilantun bersamaan.


Tangan Anara tak lepas melingkari tubuh bidang di depannya. Sesekali kepalanya menyembul di samping kepala Candra jika lelaki di depannya itu bicara, demi agar telinganya bisa mendengar apa yang diucap kekasihnya.


"Apa?" Tanya Anara keras.


"Nanti kita sarapan di warung dekat pantai. Mungkin baru buka." Ujar Candra tak kalah keras.


"Iya ... iya terserah kamu."


"Dingin nggak?"


"Ha?" Kepala Anara menyembul lagi di samping Candra.


"Dingin?"


"Lumayan."


"Kepalaku pegel, Ndra." Timpal Anara lagi.


Tak terhitung berapa kali Anara memajukan kepalanya ketika Candra sedang bertanya. Tak ayal itu membuat Anara merasa tak nyaman karena posisinya. Candra meremas tangan Anara yang melingkarinya seolah berusaha menguatkan.


Pohon-pohon tebu yang sedang kembang berada di sisi kanan-kiri mereka. Udara pagi yang segar dengan pemandangan menyejukkan mata tersaji di depan keduanya. Sepeda motor mulai melintasi jalan menanjak dengan rute berkelok-kelok.


"Pemandangannya bagus yaa?"


"Iya. Jauh dari kota."


"Iya nanti kalau udah sah. Aku agendakan kita sering main begini." Ucap Candra membuat senyum simpul Anara.


Jalanan semakin berkelok-kelok khas alur pegunungan. Pohon besar menambah rindang suasana perjalanan pagi yang masih dingin. Cahaya matahari mulai menembusi dedaunan lebat yang akan segera menyebarkan sinar hangat kepada seluruh makhluk bumi.


"Kok udah ada motor yang ke arah sana ya?" Tanya Anara ketika beberapa motor berpapasan dengan mereka.


"Iya. Pulang dari pantai kali."


"Nginep?"


"Mungkin. Lihat sunrise."


Hampir dua jam perjalanan yang mereka tempuh. Anara tengah sibuk memijit kakinya sendiri karena jalanan 2 KM menuju pantai bukanlah jalan aspal lagi, melainkan jalan makadam yang seolah belum terjamah manusia.


"Kenapa nggak lurus aja sih tadi? Jalanannya udah mulus." Ujar Anara.


"Nggak ah, di sana ramai."


"Nggak ngebayangin deh kalau tiba-tiba ban kita bocor atau entah apa? Nggak ada rumah sama sekali tadi. Bener-bener kayak bukan di Malang kita."


"Huss ... jangan bicara yang enggak-enggak!"


"Tapi di sini ada rumah kan? Maksudku ada yang jualan juga? Kita nggak terdampar kan, Ndra?" Tanya Anara dengan raut wajah khawatir.


"Ada. Itu ... Ada warung juga tapi belum buka. Masih pagi ini." Jawab Candra menunjuk beberapa rumah papan di depan sana.


Kini keduanya mulai mendekati bibir pantai. Pantai yang masih bersih dengan pemandangan pulau kecil di depan sana. Sedangkan pantai ini seperti teluk dengan ombak yang tak seberapa besar.


Pohon nyiur melambai di belakang bibir pantai. Air pantai yang biru menyejukkan mata dan beberapa puluh meter dari posisi berdiri keduanya terdapat deretan perahu yang bisa dihitung jari. Suasananya sepi seakan pantai ini milik pribadi.


"Sepi banget ya?"


"Iya. Kayak pantai pribadi."


"Kamu tau pantai ini darimana?"


"Dulu. Aku sama Bryan pernah niatnya ke Balekambang. Tapi kita malah iseng coba-coba belok kanan ini. Jalannya sepi mana makadam. Akhirnya sampai sini."


"Kamu belum pernah ke sini?" Tanya Candra membuat Anara menggeleng.


"Biasanya susur pantai kemana aja? Ke tempat rame? Mana seru?"


"Ngledeek?"


"Tau gitu susur pantai sama aku kan?"


Keduanya berjalan di sepanjang pantai terus bercengkerama. Tangan mereka saling bertaut seolah membenarkan pantai ini milik mereka berdua. Hanya suara mereka dan suara ombak yang terdengar.


"Sepi banget lo, Ndra."


"Udah kesekian kali kamu bilang itu, An."


"Aku laper. Nggak ada warung buka."


"Cuma ada satu warung ... itu." Ujar Candra menunjuk bangunan dari gedek beratap seng.


"Ya ampuuun. Semoga buka."

__ADS_1


"Amiiiiin."


Candra dan Anara kembali menyusuri pantai. Meninggalkan sebentar topik pembicaraan tentang kerja dan juga skripsi Anara. Hanya obrolan-obrolan ringan yang keluar dari bibir keduanya.


"Ini quality time kita ya?" Tanya Anara menatap Candra.


"Iya. Seneng nggak?"


"Seneng. Selama ada kamu aku seneng."


"Pacarku udah mulai pinter nggombal." Balas Candra memberi cubitan kecil di hidung mancung milik Anara.


"Aku seneng kita masih punya waktu berdua gini di sela kesibukanmu."


"Aku akan selalu punya waktu buat kamu, Anara." Candra menarik perempuannya dalam pelukan.


"Aku nggak tau setelah lulus nanti, Tuhan akan membawaku kemana? Kalau kita LDR-an?" Anara mengeratkan tangannya pada pinggang Candra.


"Jauh banget mikirnya. Kan aku bilang, setelah kamu lulus aku bakal minta kamu ke orang tuamu."


"Kamu yakin?"


"Nggak ada yang buat aku ragu."


"Kamu lagi nggombal?" Anara mendongakkan wajahnya menatap netra Candra.


"Aku sedang membuat komitmen, Aaaan." Candra meraup wajah Anara.


"Kamu janji?"


"Kuusahakan untuk menepati."


Anara berjinjit untuk dapat mengimbangi ciuman Candra yang dilancarkan barusan. Lelaki itu mendekap Anara seakan meyakinkan perempuannya bahwa ia tak akan pernah pergi. Bibir keduanya saling bertautan tak memedulikan sekitar, toh hanya mereka berdua yang ada.


"Aku sayang sama kamu." Ujar Candra ketika melepaskan bibir Anara sebentar.


Tak ada jawaban yang keluar dari Anara. Tetapi ciuman yang Anara mulai menjadi jawaban jika ia pun menaruh rasa yang sama pada Candra. Pertautan bibir keduanya berlangsung kembali dengan lembut.


Tangan Candra yang satu melingkari pinggang perempuannya. Sementara tangan satunya menarik tengkuk Anara untuk memperdalam pertemuan bibir keduanya. Lidah Candra menyeruak menyapu seluruh rongga Anara.


Napas keduanya yang memburu sebisa mungkin dikendalikan. Anara membalas lilitan lidah Candra dengan tak kalah. Pertukaran saliva terus terjadi di sana.


Tangan Candra kini tengah meremas benda kenyal Anara. Bibirnya terus mencecapi bibir atas dan bawah Anara secara bergantian. Candra mencecap seolah tak pernah puas pada Anara.


"Ndra ...."


"Hmmb...." Candra tak melepas pagutan dari bibir Anara. Anara mendorong dada Candra yang kuat mendekapnya.


"Kenapa?" Tanya Candra merasa tak terima aktivitasnya dihentikan sepihak oleh Anara.


"Aku laper."


"Aku sedang memberimu sarapan, Sayang."


"Aku butuh nafkah lahir Candra. Bukan sekedar nafkah batin."


"Iya ... iya. Tapi belum buka itu."


"Lagian kamu nggak berhenti di jalan besar sana tadi."


"Kan belum ada warung buka tadi."


"Ada kok, di pertigaan sebelum kesini tadi juga ada warung."


"Kenapa tadi diem?" Tanya Candra balik.


"Tadi belum laper."


"Ya udah aku nafkahin kamu secara batin dulu." Candra menyeringai kemudian menarik kembali Anara, hendak menciumnya kembali.


"Nggak. Aku nggak kuat kalau belum makan." Anara melepas paksa tangan Candra dan berjalan menjauhi pantai.


"Apaan? Kamu kan cuma diem sayang. Biar aku yang melakukannya."


"Biar aku yang bekerja. Kamu tinggal menikmati." Ujar Candra lagi membuat Anara begidik ngeri.


"Enggak sebelum makan." Telunjuk Anara digerakkan sebagai tanda penolakan kepada Candra. Tanpa menatap ke belakang.


Candra menyusul Anara yang berjalan lebih dulu. Menarik tangan Anara agar tak semakin jauh mengabaikan kekasihnya yang sedang berusaha menetralkan napas akibat gelora ciuman tadi.


Bisa-bisanya acara ciuman yang sakral berakhir hanya karena urusan perut kelaparan.


Keduanya sudah berada di dekat motor kembali. Candra mengeluarkan air mineral dan dua plastik roti bermerk Sari Kue dari dalam carrier-nya. Mengulurkannya pada Anara yang justru membelalak.


"Kenapa?" Tanya Candra.


"Kenapa nggak bilang dari tadi kalau bawa roti? Aku laper dari tadi."


"Kamu aja nggak memberiku sarapan batin." Tukas Candra.


"Setelah ini, aku akan memberimu sarapan batin sampai ampun." Ujar Anara tertawa.


"Bisa?"


"Bisa lah. Lihat nanti!" Keduanya tertawa menikmati waktu berdua.


"Nanti kita pulang jam berapa? Jangan sore-sore! Jalannya sepi." Tanya Anara melipat plastik bekas roti dan membuangnya di tempat sampah.


Anara mengerdikkan bahunya begidik ngeri mengingat jalan makadam yang sepi dan tanpa penerangan pasti. Membayangkannya saja membuat ia tak mau. Amit-amit ogah.


"Kita pulang besok, An." Jawaban Candra membuat netra Anara membulat sempurna.


"Kamu nggak lagi bercanda kan?"


"Menurutmu aku minta kamu bawa baju ganti, bawa daleman, sama peralatan mandi buat apa?" Anara masih terdiam.


"Kita nginep di sini, An."


"Ya Tuhan Candraaa ... di sini sepi. Nggak ada warung. Terus kita tidur dimana?"


Candra tak langsung menjawabi pertanyaan Anara. Ia hanya tersenyum smirk mendapati kekasihnya itu kelabakan dengan ide gilanya.


"Candra!"


"Iya?"


"Kita pulang!"


"Enggak, sayang. Nggak mau." Ujar Candra menyeringai puas melihat Anara panik.


"Kamu yaaaaaa." Anara memukul-mukul lengan Candra tetapi malah membuat lelaki itu tertawa bahagia.

__ADS_1


Ya Tuhaaaan!!! Aku terdampar di pantai sesepi ini.


...----------------...


__ADS_2