
Netranya masih memandang ke layar gawai yang dipegangnya. Lampu merah di depan belum berganti hijau. Tetapi balasan pesan belum juga masuk atau memang tidak dibalas.
Bryan memasukkan ponselnya ke dalam saku bomber jacket hitam yang digunakan. Kemudian melajukan mobil miliknya menuju sebuah tempat yang belum ia kunjungi setelah lulus. Kusuma estate ... ya, dia akan ke sana. Menemui sahabatnya, Candra.
Hari menjelang magrib ketika Bryan tiba di sana. Bangunan dengan pembatas warna hitam itu semakin terlihat tak terawat. Mungkin karena pemiliknya disibukkan dengan aktivitas barunya.
Memarkirkan kendaraan agak maju dari rumah Candra. Bryan turun dari mobil dengan hati bahagia. Disapunya seluruh sudut perumahan yang lama tak ia datangi, membuatnya seakan bernostalgia.
Perumahan ini semakin penuh, tapi ah ... tidak juga, kavling sebelah ini masih kosong. Amanlah untuk parkir mobil. Hahaha.
Mengetuk pintu hingga tiga kali sambil meneriakkan nama Candra yang tak mendapat respon, Bryan teringat bahwa dia masih menyimpan kunci rumah itu, bergegas menuju mobil hitam miliknya dan mencari benda kecil itu di sebuah tas.
"Untung masih ada." Gumam Bryan.
Pintu terbuka sempurna dan Bryan tertarik menjelajahi setiap sudut ruang yang dulu jadi saksi perjuangan hidupnya, termasuk saksi kisah cintanya. Langkah Bryan akhirnya berhenti pada satu ruang yang menyimpan sejuta kenangan, manis dan pahit jadi satu ... kamarnya.
Ingatannya melayang pada satu masa ketika dia menerima surat dari cinta pertamanya, surat hasil tugas ospek yang mengharuskan setiap maba (mahasiswa baru) menuliskan dan menyerahkan surat pada kakak panitia. Menggelikan sekali jika mengingatnya.
Mungkin bagi penulisnya, surat itu tak ada arti sama sekali. Namun, berbeda dengan Bryan. Surat yang mencantumkan nama itu begitu berarti, kalimatnya hangat menjalari aliran darahnya dan berhasil memenangkan hatinya. Namun, sekali lagi ... cinta tak berpihak padanya.
Di sudut ruang itulah Bryan menyungging senyum bahkan berjingkrak membaca kata demi kata yang berhasil membuatnya melayang melebihi awang-awang. Tapi di sudut ruang yang sama pula, keesokan harinya ... Bryan menjatuhkan diri frustrasi setelah tahu keyakinan apa yang dipeluk perempuan pengirim surat itu.
Perbedaan yang memisahkan kita bahkan sebelum bersatu.
Senyum tipis menghiasi wajah tampannya. Meski berat, ia mencoba rela. Hingga akhirnya suara kruk, kruk, kruk dari perutnya menuntun Bryan ke arah pantry. Tak ada apapun di sana kecuali mi instan rasa kari spesial.
"Astagaa. Kenapa kulkasmu juga tak ada makanan sama sekali, Candra?" Gerutu Bryan.
Menempuh perjalanan Surabaya-Malang yang membutuhkan waktu tak sebentar. Membuat Bryan akhirnya memutuskan untuk memasak makanan instan andalan semua orang.
Sambil menunggu mi matang, Bryan terus melantunkan lagu-lagu secara acak demi membunuh sepi dan bosan. Hingga suara sepatu terdengar beradu dengan lantai membuatnya menyadari siapa yang datang.
Benar saja, Candra berada di sana dengan penampilannya yang ... ah sudahlah, kelihatan sekali jika ia sedang putus asa. Sementara Candra menatap tanpa berkedip pada sahabatnya yang datang tiba-tiba. Bryan tersenyum seperti biasanya.
"Hah? Kok bisa?" Gumam Candra.
"Kenapa? Kaget? Gue laper dan kulkasmu sama sekali nggak ada bahan makanan. Hanya mi instan yang tersisa di sini." Ketus Bryan.
"Kenapa ke sini?"
__ADS_1
"Lu nyuruh gue ngeyakinin pacar lu, kan? Makanya gue ke sini!" Jelas Bryan mematikan kompor.
Candra hanya mengangguk pasrah, semoga saja Bryan bisa membantuku mendapat maaf Anara!
"Naik apa?"
"Mobil."
"Nggak ada di depan?"
"Gue parkir sedikit maju." Penjelasan Bryan membuat Candra hanya mengangguk tanda paham.
Bryan membawa mangkuk berisi mi instan kari spesial-nya menuju ruang tamu. Aroma harumnya menyeruak hingga ke hidungnya. Tak butuh berlama-lama, Bryan mulai mengisi perutnya dengan makanan keriting itu.
"Enak kayaknya?" Sindir Candra.
"Karena laper."
"Suruh siapa ke Malang nggak kabar?"
"Biar lu terkejut sekalian jantungan." Tukas Bryan cepat.
"Ngeliat lu bagai mayat hidup gini, pengen gue habisin lu. Kenapa cemen sekali?"
"Lu belum merasakan ... bagaimana cinta sesungguhnya Bryan? Gue nggak pengen kehilangan." Sergah Candra.
"Candra, Candra. Bahkan gue udah lebih dulu kehilangan. Tapi, hidup terus berjalan. Lu aja yang nggak pernah menerima masukan gue. Sekarang lihat! Apa yang terjadi? Lu butuh gue juga kan?" Cecar Bryan dengan sedikit emosi.
"Ketika gue nyuruh lu buang foto itu, kenapa nggak lu buang?"
"Itu foto milik lu, Candra. Kenapa gue yang harus bertindak? Lu nggak cukup berani untuk sekadar melangkah move-on?" Seringai Bryan nampak jelas di wajah.
"Seandainya ... aku lenyapkan foto itu dari lama. Anara tak akan mengabaikanku seperti ini."
Perut Bryan mendadak kenyang sebelum mi di mangkuk habis. Dirinya tak habis pikir akan pola pemikiran Candra. Lelaki berjambang itu susah sekali dinasehati. Ketika nasi sudah jadi bubur begini, baru menyesal.
"Sekarang fotonya di mana?"
"Udah gue buang."
__ADS_1
"Dengan akhir sama, seharusnya itu lu lakuin dari dulu. Lu emang bodoh!"
"Iya ... gue bodoh. Mengabaikan calon masa depan demi meratapi masa lalu." Sesal Candra dengan lirih.
"Udah! Gue mau mandi." Bryan berlalu dari hadapan Candra. Tak lama setelahnya, suara guyuran air terdengar dari balik kamar mandi.
"Aku juga harus mandi. Rasanya tubuhku lengket setelah tiga hari tak diguyur air." Gumam Candra mengingat kembali perkataan Anara agar dia mengurus dirinya.
...----------------...
"Rapi sekali?" Ucap Candra mengamati penampilan Bryan yang terlihat kasual dengan celana chinos kremnya berpadu kemeja hitam.
"Iya, mau kencan."
"Tega sekali kamu, Bryan."
"Kesambet apa lu pakai kamu?" Bryan mengernyitkan dahinya.
"Di saat aku patah hati harus berjuang mendapat maaf dari Anara, kamu ke sini bukannya bantuin. Malah mau sibuk kencan. Sahabat macam apa?"
"Hei, aku kencannya dengan Anaramu itu. Semoga saja dia tertarik padaku dan pindah ke lain hati," tawa Bryan menggema di seluruh ruang.
"Sialan! Gue hajar lu kalau bener iya." Decak Candra tak terima.
"Gitu dong! Ini Candra yang gue kenal. Nggak kayak tadi, persis orang nggak makan satu bulan." Ledek Bryan terang-terangan.
"Gue berangkat. Doain! Moga gue bawa kabar bahagia buat lu."
"Pasti gue doain. Kan emang ini tentang gue." Balas Candra.
"Semoga pacar lu di kos ya! Nggak lagi keluar sama gebetan barunya. Biasanya sih kalau pas di masa seperti ini, cewek sering ke lain hati pas nemu cowok yang lebih dinilai bisa mengerti." Bryan berujar seolah menyindir keadaan Candra.
"Mulut lu Bryan. Bener-bener minta dilakban. Dasar kadaaaal!"
Bryan hanya meresponnya dengan tawa sambil berlalu pergi. Langkahnya sedikit berlari karena takut hari semakin malam.
Setelah menyetel musik di audio mobil, perlahan mobilnya bergerak meninggalkan rumah Candra. Menuju ke kos sahabatnya, Anara.
Candra, Candra. Semoga cinta Anara masih cukup untuk sekedar bisa menerima kesalahanmu!
__ADS_1
...----------------...