Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Nama Aron


__ADS_3

Anara tersenyum, mengingat sesuatu yang menjadi titik terang perdebatan kusirnya dengan Candra.


"Nggak mungkin, Ndra," wajah perempuan itu berbinar.


"Apa yang nggak mungkin?" Tanya Candra menatap lekat pada Anara.


"Nggak mungkin Bryan tertarik padaku," ujar Anara tersenyum.


"Kenapa?" Candra semakin penasaran dibuatnya.


"Pas ke Jogja yang terakhir. Dia sempat curhat--," Anara mulai bercerita.


Mendengar kata 'curhat' rasanya sudah membuat Candra gerah.


Kalian sungguh terlalu, selama ini kalian curhat-curhatan?


"Apa?" Ketus Candra. Semoga ceritamu ini kabar baik, An!


"Dia tuh hanya cinta sama cinta pertamanya. Katanya perempuan itu sudah ada sebelum siapa? Siska, Rika, bahkan Caroline."


"Kayaknya perempuan-perempuan itu penghiburan buat dia deh aku rasa."


"Cinta pertama? Siapa?" Tanya Candra heran.


"Aku nggak tahu namanya. Dia nggak bilang," balas Anara mengerdikkan bahunya.


"Dia cuma bilang, perempuan itu beda keyakinan dengan Bryan, lah aku sama Bryan kan se-iman. Nggak mungkinlah," imbuh Anara.


"Jadi, kamu stop seolah-olah Bryan suka sama aku!"


Deg


Hati Candra semakin ngilu rasanya mendengar perkataan Anara barusan. Dia semakin meyakini jika Bryan menaruh hati pada kekasihnya itu. Bisa-bisanya si Bryan?


"Kamu selama ini nggak tahu?"


"Apa?"


"Aku sama Bryan itu beda agama," terang Candra.


"Maksudmu?" Kali ini Anara yang ganti terkejut.


"Dia nasrani."


Anara melebarkan matanya, mencoba menelan kalimat Candra. Tapi, otaknya belum mampu menerima.


"Bercanda," tangkis Anara.


"Agama bukan untuk dibercandakan, An."


"Kenapa aku nggak tahu?"


"Dari namanya aja kelihatan kan, Aron Bryan Wijaya?"


"Ayahnya, yang pengusaha tongkang itu. Antoni Wijaya, kalau kamu mau tahu, dia umat yang taat," jelas Candra.


"Aron?" Ingatan Anara mundur ke belakang. Ke beberapa tahun silam.


"Iya, baru tahu juga kamu nama lengkap Bryan?"


"Kalian curhat apa aja selama ini? Sampai begituan aja nggak tahu," geram Candra.


Anara hanya terdiam. Pikirannya melanglang entah kemana? Yang jelas dia semakin pusing dengan kejutan-kejutan yang menimpa.

__ADS_1


"Kenapa diam?" Tanya Candra dengan nada tinggi.


"Nggak usah teriak!"


"Suka juga sama dia?" Tebak Candra.


"Kalian ini, diam-diam curhat, diam-diam ketemu, lalu diam-diam suka?"


"Diam-diam mau jadi pengkhianat kalian? HA?" Berang Candra.


"Perempuan yang beda agama dengan dia banyaaak, Ndra. Kenapa kamu begitu yakin kalau aku yang Bryan suka?"


"Karena dia selalu ngikutin kemana kamu berada."


"NGERTI?" Ucap Candra menatap tajam pada Anara.


"Berlebihan kamu," balas Anara memutus kontak mata mereka.


Anara mulai merangkai kepingan-kepingan memori yang dilaluinya dengan sahabatnya itu, memeriksa satu per satu setiap detail momennya.


Tapi dia mendukung penuh hubunganku dengan Candra. Apa mungkin?


"Siniin ponselmu!" Titah Candra.


"Untuk apa?"


"Siniin!"


Anara merogoh ponsel dari tasnya, Candra dengan sigap mengambil alih ponsel itu, "buka kunci polanya!"


Anara hanya mematuhi perintah Candra dengan seksama. Pria itu sedang diselimuti amarah yang meletup. Menakutkan.


Padahal belum tentu semua ini persis yang kamu sangkakan, Ndra.


"Sudah kublokir. Sekali saja kamu berhubungan dengan dia, aku hajar dia." Candra mewanti-wanti dengan wajah merah menyala.


"Kamu apa-apaan sih, Ndra. Lebay tau nggak?" Anara tak kalah bernada tinggi.


"Terserah. Aku nggak suka kamu hubungan sama dia, playboy sialan itu. Apapun alasannya."


"Kamu bilang begitu seolah dugaan kamu sudah benar saja, Ndra. Justru kamu harus tanya ke Bryan! Bukan menghakimi sepihak begini," timpal Anara.


"Aku kenal dia, benar saja. Ada lelaki lebih segalanya kan dari aku. Dan sepertinya kamu juga tertarik sama dia."


"Kamu meragukan perasaanku? Kamu menilaiku mudah goyah? Begitu isi pikiranmu selama ini?" Anara yang awalnya mencoba menahan emosi pun, ikut tersulut amarah.


"Kamu sama saja, brengsek!!" Ketus Anara meraih tasnya dan bangkit berdiri.


Candra sigap mencekal tangan Anara yang akan berlalu, "mau kemana kamu?"


"Aku mau pulang. Sia-sia ngomong sama kamu, emosian," ketus Anara melepaskan cekalan tangan Candra yang kali ini sangat erat bahkan menyakitkan.


"Kita nikah saja!"


"Apa-apaan kamu? Nggak."


"Aku nggak mau kamu lepas gitu aja."


"Sekali pun kalau aku suka sama Bryan. Nggak mungkin kan aku sama dia bersama jika itu yang kamu takutkan."


"Karena aku sama dia beda keyakinan. Jadi, buang jauh-jauh ketakutanmu itu! Berlebihan."


"Aku pun nggak mau, mantanmu itu ... Si Janu tiba-tiba datang lagi."

__ADS_1


"Kamu makin ngaco, Candra. Lepas! Aku mau pu-lang."


Anara terus berontak berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Candra. Tapi, itu tak berhasil. Pria itu terlalu kuat.


"Lepas Candra!"


"Lepaaasin!"


Air mata itu perlahan menitik juga, sedih dan kecewa bersekongkol datangnya. Tiba-tiba perasaan kecewa menggelayuti Anara.


Kenapa kamu kasar sekali, Candra? Padahal kita nggak tahu sebenarnya siapa yang disukai Bryan?


"Kenapa kita memperdebatkan hal yang belum pasti?" Tanya Anara terisak.


Cengkeraman Candra perlahan melonggar, "maaf, An."


"Aku takut kehilangan."


"Kenapa? Karena aku mirip Anjani?"


"Jangan memulai!" Candra menarik Anara ke dalam dekapan.


Pelukan itu hangat dan dalam. Perlahan isakan Anara mulai reda, tetapi hatinya masih tak karuan.


"Aku terlalu sayang, aku takut kamu pergi," ucap Candra membelai lembut rambut Anara.


"Aku mau pulang," ucap Anara melepaskan pelukan.


Candra meletakkan tangannya ke bahu Anara, membawa perempuannya semakin dekat. Menghapus jarak yang ada, perlahan Candra memiringkan kepalanya, sapuan napasnya terasa hangat menyentuh seluruh sisi wajah Anara.


Pandangan keduanya saling mengunci, semakin sayu, dan mendorong Candra untuk kembali menyinggahi bibir yang semakin merah karena tangisan barusan.


Ketika napas Candra semakin sesak terasa, Anara malah menepis tangan Candra begitu saja.


"Aku mau pulang. Kamu antar atau aku pulang sendiri?"


Candra berusaha menetralkan degup jantung dan juga napasnya. Kali ini dia harus meredam gelora di dadanya. Demi menjaga perasaan Anara yang sedang tak menentu.


"Aku antar," ucap Candra akhirnya.


Anara berlalu begitu saja keluar menuju garasi. Tanpa basa-basi lagi perempuan itu duduk terdiam di jok sebelah kemudi.


Sepanjang perjalanan menuju kos Anara, keduanya saling diam membisu. Sibuk dengan hati dan pikiran masing-masing.


Anara sibuk memikirkan setiap kemungkinan yang Candra dengungkan, pikirannya kini hinggap pada amplop putih yang tadi diberikan Bryan. Juga, nama 'Aron' yang menyita fokusnya.


Apa Kak Aron dengan Bryan itu orang yang sama? Ya Tuhaaaan. Kalau iya, berarti amplop ini mungkin balasan suratku yang dulu.


Sementara Candra, sibuk dengan rasa inginnya untuk segera melamar perempuan yang kini tengah duduk di sampingnya. Ia tak ingin kembali kehilangan cinta. Rasa obsesinya kini lebih mendominasi.


Netranya melirik ke arah Anara, "aku serius. Ingin segera menikahimu."


"Aku sedang nggak mood bicara tentang itu, Candra."


...----------------...


*Saya menerima masukan, tapi gunakan bahasa yang santun!


** Juga membuka lebar pintu makian. Hanya via chat pribadi.


*** Cerita ini saya rancang dari awal memang akan sampai ke tiga judul nantinya (Semoga istiqomah). Tapi saling terpisah. Jadi, bisa dibaca per judul tanpa harus marathon.


Terima kasih yang masih setia menunggu "Langkah Bersambung" up. Untuk silent readers dan juga pembaca yang aktif memberi like serta komentar. Saya ucapkan terima kasih.🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2