Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Menuju Tunangan


__ADS_3

Dengan segala pertimbangan. Akhirnya Anara menyetujui acara pertunangan antara dirinya dengan Candra. Ia baru menelepon keluarganya di Kediri untuk mengabarkan kabar yang seharusnya bahagia itu.


Bapak Nyoto dan Ibu Eka tentu kaget dibuatnya. Ini begitu mendadak ucap mereka. Juga, Anara belum lulus kuliah. Agaknya mereka keberatan.


Tetapi, Anara mengatakan acara ini seperti pertemuan keluarga saja. Tidak ada obrolan mengenai tanggal atau perhitungan Jawi seperti yang keluarga Anara yakini.


"Hanya agar kita lebih tau batas dalam bergaul aja, Buk," terang Anara pada Ibu Eka.


"Tapi gimana dengan Swara?"


"Ga pulang ga papa. Kasihan, jauh."


"Ya sudah. Jadi tanggal sembilan Mei ituuu ... ya ampun hari Sabtu, Ri? Lima hari lagi?" Tanya Bu Eka dari seberang. Seolah tak meyakini 100% rencana dadakan ini.


"Iya, Bu. Aku Kamis sore pulang, sama Hartik. Temenku yang Gresik itu."


"Iya sudah. Kamu hati-hati di sana!" Pungkas Pak Nyoto dan Bu Eka bergantian.


Kemudian sambungan telepon itu terputus. Anara meletakkan ponsel begitu saja di lantai kamar. Dia sedang duduk di lantai, bersandar pada sisi ranjang. Napasnya kemudian lega setelah memberi tahu keluarganya.


Semoga diberi jalan yang terbaik! Entahlah!


Anara meraup wajahnya kasar. Dia sedang menyelesaikan masalah atau entah menciptakan masalah baru yang besar? Hatinya tak tahu, pikirannya tak jernih.


Yang sedang dia pikirkan adalah, kedatangan keluarga Candra yang jauh-jauh dari pulau seberang. Mengingat wajah mereka membuat Anara tak tega. Tetapi sekejap kemudian, wajah kedua orang tuanya hadir dan menyayat hatinya.


Ini hanya tunangan. Percayalah, An! Ini bukan kiamat!


Anara menuruni tangga dengan cepat. Menuju kamar Hartik dan mengetuknya tak sabar. Ia akan mengabarkan berita penting untuk sahabatnya itu.


"Iyaa, sebentaaaar!" Ucap Hartik setengah berteriak dari dalam, mungkin dia terganggu dengan suara ketukan di pintu.


"Kamu, An. Berisik tau? Ada apa?"


"Suruh masuk kek!" Sergah Anara.


"Tamu malah lebih galak," gerutu Hartik membuka pintu kamarnya.


"Kamis sore kita ke rumahku!" Cetus Anara.


"Hah? Rumahmu? Kediri?"


Anara mengangguk, "bisa ga bisa ... harus bisa!"


"Ya Allah. Cocok kamu sama Candra, beneran. Sama-sama pemaksa."


Anara mendelik tajam, kemudian Hartik segera berucap lagi, "iyaa. Apa sih yang ga buat kamu?"


"Tapi, emang acara apa sih? Swara pulang gak?" Tanya Hartik tersenyum.


"Enggak. Kasihan, Bandung jauuuuh kale. Acara tunangan."


"Tunangan siapa?" Tanya Hartik lantang dengan mata membelalak.


"Akuu."


"Sama Candra?" Tanya Hartik lagi.


"Atau Bryan?"


"Astagaaa, Tik. Menurutmu?"


"Candraaa. Beneran kamu, An? Yakin?"


"Tuuuuh, malah bikin aku makin ngerasa pengen batalin kan. Apa aku batalin aja ya?"


"Eeeh kenapa? Aku cuma nanya?"


"Kamis ya, Tik. Kita naik travel. Mungkin sampai sana malem."

__ADS_1


"Kok travel sih, An. Kamu lupa aku suka mabuk perjalanan."


Anara menepuk dahinya, "ya ampun. Iya ya. Ya udah besok pagi ke stasiun! Pesen tiket kereta."


Hartik menyatukan telunjuk dan ibu jarinya, kemudian tertawa. Dia akan jalan-jalan naik kereta.


*****


"Beres, Tik."


Ucap Anara setelah mendapatkan dua tiket kereta menuju Kediri. Hartik yang sumringah karena tidak takut mabuk perjalanan jika naik kereta. Keduanya lalu menuju kampus, konsultasi skripsi.


Anara benar-benar bersyukur. Pengerjaan skripsinya berjalan mulus bak jalan tol. Tanpa terjun ke lapangan skripsi telaah pustaka itu resmi acc ujian..Akhirnya.


Ketika matahari tepat berada di atas kepala, Anara dan Hartik kembali menapaki jalan menuju kos dengan matic Anara. Cuaca begitu panas, menyengat hingga terasa memecah ubun-ubun.


"Mampir beli minum dulu, An!" Pinta Hartik sambil menepuk-nepuk pundak Anara, persis emak-emak ketika minta berhenti.


"Boleh. Di manaaa?" Tanya Anara sedikit lantang, suaranya sedang berlomba dengan angin.


"Depan sebelah kanan, ada teh racikan tuh. Seger kayaknya," ungkap Hartik.


Kemudian Anara membelokkan stang motornya. Berhenti di depan stan penjual teh racikan dalam gelas yang letaknya di area parkiran depan IndoJuni.


"Mbak, teh melati dua!" Pinta Hartik.


"Tinggal dulu ya, mbak!" Sambung Anara memasuki IndoJuni, diikuti oleh Hartik.


"Ngadem, Tik. Sambil lihat-lihat," ungkap Anara merasakan sejuk pada tubuhnya. Telinganya juga sedang dimanjakan oleh musik yang diputar minimarket itu.


"Eh, An. Ada diskon. Sini lihat!" Seru Hartik menunjuk ke satu brand lotion tubuh.


"Eh, iya. Lumayan loh. Belii yuk!" Ajak Anara yang diangguki Hartik.


Mahasiswa dan wanita adalah penggemar diskon nomor wahid.


"Lin," sapa Anara.


"Eh, An!" Balas Caroline menyadari Anara di depannya.


"Dari kampus?"


"Iya, skripsi."


Anara mengangguk paham, "ya udah. Aku duluan!"


Caroline mengangguk kemudian segera membuka pintu dan masuk ke dalam minimarket. Gadis sipit itu terlihat masih menoleh ke arah Anara dan mengangguk sekali lagi, kemudian sibuk dengan tujuannya.


"Siapa?"


"Caroline," jawab Anara.


"Iya, dia siapa?"


"Mantannya Bryan. Tapi ... tumben ga nanyain Bryan."


Ah, lelaki itu. Apa kabarnya?


"Udah move on kali," sambung Hartik menggiring Anara menuju stan penjual teh racikan tadi.


"Delapan ribu, mbak."


"Pas ya, Mbak?" Balas Hartik setelah menyodorkan uang pas.


"Pulang kita, An!"


"Iya, Ndoro."


Hartik tertawa mendengar jawaban Anara barusan.

__ADS_1


Tak perlu waktu lama, keduanya sudah memasuki garasi kos. Dengan menenteng dua kantong kresek, Hartik menghambur menuju kamar lebih dulu. Aura bahagia tersirat sekali dari tingkahnya.


"Seneng banget, tiket kereta?"


"Ya ampun, iya An. Seneng banget aku. Berlebihan ya?"


"Ga kok, Tik. Dulu pertama, kedua, ketiga kali aku naik kereta juga heboh," balas Anara menggeleng. Kemudian menyesap teh dingin miliknya.


"Eh, bentar deh, An! Bukannya Bryan suka sama kamu dari awal. Trus perempuan sipit tadi, mantannya yang kapan?"


"Mantannya yang barusan. Pacaran bentar. Tapi ... ya gitu, jadiannya ga sengaja. Karena Bryan ga tega liat Caroline nangis, gitu deh. Panjang."


"Pelampiasan?"


"Pelampiasan apa?" Tanya Anara masih fokus dengan teh miliknya.


"Ya karena kamu sama Candra, dia sakit hati mungkin. Akhirnya jadian sama cewek lain. Biar ga kosong aja, kalau bener begitu. Kasihan juga tuh cewek," sambung Hartik dengan serius.


"Hmm, ga tau, Tik. Ga mau mikir."


"Iya, iya. Bentar lagi kan tunangan, ciyeeee."


"Hartik, apaan sih?"


Drrrrt ... drrrrt ... suara getar timbul dari tote bag milik Anara. Perempuan itu merogoh tas dengan malas, nama Candra di sana.


"Halo."


"Ketus banget, yang lembut gitu loh!" Sungut Candra dari seberang.


"Ada apa?"


"Kamu keluar! Aku udah di luar."


"Hah? Di luar mana?"


"Iya, iya. Aku keluar. Tungguin!" Balas Anara lagi, kemudian memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.


"Kenapa?"


"Candra di luar. Aku keluar dulu!" Ucap Anara bangkit dari duduknya.


"Aduh, yang mau tunangan. Mau kemana ih?"


Anara melebarkan pandangannya, "rese deh, Tik." Hartik malah tertawa hingga Anara benar-benar berlalu.


Perempuan itu berjalan keluar kos. Matanya menemukan lelaki berjambang itu di halaman. Dengan setelan kemeja yang lengannya sudah digulung sebatas siku.


"Ga kerja kamu?"


"Pulang cepet. Mau ngajakin kamu makan. Belum makan, kan?"


Anara menggeleng, "ya udah yuk!"


Candra mengarahkan mobilnya keluar gang. Tatapannya tak lepas dari perempuan di sampingnya, perempuan yang akhirnya menyetujui untuk tunangan dengannya Sabtu besok.


"An, kamu siap Sabtu besok?" Tanya Candra menggapai tangan Anara, membawanya ke atas pahanya.


Siap ga siap bukannya emang harus siap? Emang kalau aku bilang ga siap, keluargamu bakal batal ke sini? Enggak kan, Candra?


Bahkan sebelum aku bilang iya aja, kamu udah telepon mereka buat ke sini.


"Kita makan dimana?" Tanya Anara menarik tangannya. Kemudian beralih ke ponselnya, mencari referensi makan siang.


"Makan geprek an biasanya aja gimana?" Tawar Anara.


"Boleh," Candra mengangguk dengan wajah datar.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2