
Anara masih terlihat kesal dengan keputusan sepihak Candra. Bahkan ia sengaja tak membantu sedikit pun ketika Candra sibuk mendirikan tenda dome tadi. Hatinya masih sangat kesal dengan Candra yang semena-mena.
Bagai mimpi buruk aku nginep di pantai sesepi ini? Benar-benar ide gila.
"Kamu mau sampai kapan berdiam di situ?" Tanya Candra yang sudah berkalung handuk di lehernya.
"Sampai kamu minta maaf."
"Astagaaa, An. Udah 10 kali aku melakukannya."
"Tetap aja aku kesel sama kamu."
"Aku pikir kamu bakalan terkejut karena surprise dariku ini."
Terkejut sekali, sampai hampir jantungan.
Mendapati Anara hanya berdiam membisu. Candra melangkahkan kakinya menjauh ke arah lain. Di tangan kanannya sebuah kotak kecil berisi peralatan mandi.
"Mau kemana?" Tanya Anara menyadari Candra akan pergi.
"Mandi."
"Aku?"
"Kenapa?"
"Kamu ninggalin aku sendiri? Di sini sepi lo. Udah hampir gelap pula." Anara mengedarkan pandangnya ke sekitar.
"Ya udah sini! Mandi sekalian." Ujar Candra dengan nada tak ramah.
"Harusnya tuh aku yang sewot."
"Kamu udah sewot dari beberapa jam yang lalu."
"Habisnya kamu seenaknya. Nggak nanya dulu kek, mau apa enggak nginep di sini?"
"Oke. Kamu mau nggak nginep di sini?"
"Telat. Mau nggak mau ya jawabannya terpaksa mau. Hari udah gelap. Tenda udah berdiri. Tikar udah digelar. Api unggun udah nyala. Masa iya aku bilang enggak."
"Kalau kamu bilang enggak pun. Kita tetap di sini."
"Iyalah. Aku juga ga mau gelap gini pulang."
"Ya udah. Sekarang jadi mandi nggak?"
"Jadiii ... udah dari pagi aku nggak mandi." Tukas Anara cepat.
Perempuan dengan rambut dikucir kuda itu kini bergegas menuju ke dalam tenda. Tak berselang lama Anara keluar dengan penampilan serupa Candra. Handuk yang mengalung di leher dengan sebuah tas kecil dari mika berisi perlengkapan mandi di tangannya.
"Ada kamar mandi?" Tanya Anara ketika sudah di dekat Candra.
"Ada ... di sebelah sana." Tunjuk Candra pada sebuah bangunan di ujung.
"Aku takuuut." Anara begidik ngeri.
"Ada aku, An."
"Nanti pas aku mandi. Kamu jangan pergi!" Ujar Anara dengan sudah memegangi lengan Candra.
"Kupikir kita mandi berdua."
"Mengambil kesempatan dalam kesempitan." Sewot Anara berjalan cepat mendahului Candra.
Katanya takut. Malah jalan sendirian?
__ADS_1
Keduanya mandi secara bergantian. Candra mendapat giliran terakhir dan Anara setia menunggui Candra di luar. Hari sudah benar-benar gelap ketika keduanya kembali menuju tenda.
"Sudah lebih baik?"
"Apanya?"
"Suasana hati pacarku ini?"
"Aku takut Candraa. Kalau tiba-tiba ada ...."
"Huss, jangan mikir apalagi ngomong yang enggak-enggak! Pamali."
"Ya ampun. Kamu bilang gitu aja aku makin takut."
"Kamu ni, pecinta alam macem apa sih? Takut-takut terus." Ledek Candra. Anara membuang napasnya kasar.
Di dalam tenda Anara sedang sibuk menyisir rambutnya. Dilanjutkan mengoles lotion pencegah nyamuk yang diberikan oleh Candra. Sedang Candra sudah berada di luar bersama api unggun untuk menghangatkan badan.
Udara malam di pantai luar biasa membuat badan menggigil. Panasnya kopi dalam paper cup rupanya tak sepanas biasanya ketika sudah beradu dengan hawa dingin. Candra meneguknya pelan demi melawan dingin yang semakin dominan.
Dua cup mi instan telah Candra seduh. Tinggal menunggu beberapa menit agar siap untuk disantap. Tentu ia melarang Anara makan mi kemarin malam karena alasan ini. Malam ini Candra sendiri yang akan memberikan makanan tak sehat itu untuk kekasihnya.
"Dingin banget." Ujar Anara keluar dari tenda.
"Sini!" Candra menepuk ruang di sampingnya agar Anara duduk di sana.
Anara mengikuti arahan Candra. Kini mereka duduk bersebelahan. Menikmati malam dingin di hiasi langit berbintang di atasnya. Gangan Candra merangkul bahu Anara mendekat ke arahnya.
Mana lagi yang lebih romantis sekaligus menantang dari situasi malam ini? Berdua dengan yang tercinta di tengah sepinya pantai yang jauuuuuh dari hiruk pikuk manusia lainnya?
"Aku seneng malam Minggu kali ini." Ujar Anara masih menatap ke depan.
Dalam sinaran cahaya rembulan. Pantai ini tak sepenuhnya gelap. Pemandangan pulau serta ombak pasang yang berlarian di depan sana tentu masih dapat tertangkap oleh indra keduanya.
"Katanya tadi kesel. Sekarang seneng. Gimana sih?" Candra bingung dengan suasana perempuannya yang cepat sekali berubah.
"Pasti. Ada aku di sini." Ujar Candra penuh percaya diri. Anara tersenyum.
"Aku ingin malam ini indah. Benar-benar milik kita." Ujar Candra kembali menangkup wajah Anara.
"Iyalah milik kita. Di sini nggak ada sinyal sama sekali, Ndra. Mau apa lagi selain menikmati?" Anara ikut menangkup wajahnya sendiri yang terhalang tangan Candra.
"Kamu terpaksa?"
"Enggak." Candra mengernyit dengan jawaban Anara.
"Udah kubilang kan? Aku seneng." Jelas Anara lagi.
Jemari Candra kini beralih menggenggam tangan Anara. Membuat perempuan dengan jaket warna dark grey itu meremang. Hatinya menghangat seiring sentuhan yang ia rasakan.
"Ini kali kedua kita ke pantai setelah dari Balikpapan ya?" Anara basa-basi untuk meredam kekakuan diantaranya.
Masih ajaaaa kaku. Padahal bukan pasangan baru.
"Kamu lupa, waktu di Jogja?"
"Ha?"
"Setelah mantanmu yang sialan itu hampir mencumbuimu?"
Astagaaaaa. Aku bahkan tak mengingatnya.
"Bukankah kita menghabiskan sisa malam di dalam mobil?" Alis Candra dinaikkan sebelah, membuat Anara salah tingkah mengingat apa yang mereka lakukan.
"Oh. Iya." Anara mengangguk.
__ADS_1
"Kenapa?" Candra memajukan tubuhnya.
"Enggak." Sementara Anara menarik tubuhnya mundur.
Dengan sigap Candra menarik tubuh Anara pada posisi semula. Membawa perempuannya ke dalam dada bidangnya. Menghujani puncak kepala Anara dengan ciuman dari bibirnya.
"Sayang banget kamu sama aku?" Tanya Anara mengeratkan pelukan.
"Masih ragu?"
"Sampai kamu benar-benar datang memintaku." Anara mendongakkan wajahnya.
Posisi itu tak Candra biarkan begitu saja. Bibirnya mengecup hidung mancung Anara dan beralih ke bibirnya. Menyesap bagian bibir bawah Anara sebentar.
"Akan aku buktikan."
Candra kembali merengkuh Anara lebih erat. Bibirnya menciumi seluruh wajah perempuan di depannya. Terakhir, bibir Candra berhenti di bibir Anara.
Mengecup sekilas kemudian menjulurkan lidahnya ke dalam. Memberi instruksi pada Anara untuk membuka mulutnya. Menyesap bibir bawah Anara dengan lama.
Sementara Anara mengalungkan kedua tangannya pada leher Candra. Bibirnya membalas ciuman Candra pada bibir atas lelakinya. Napas keduanya memburu. Menjalarkan hawa panas yang kontras dengan dinginnya malam.
Bibir Candra beralih ke lidah Anara setelah puas bermain pada bibir bervolume itu. Menyesapi lidah Anara tak kalah lama, seolah ia ingin melahap benda itu tanpa memberi ruang pada pemiliknya untuk sekadar bernapas.
Napas Anara yang tersenggal membuat dadanya seolah naik turun berupaya mengambil oksigen untuk mengimbangi permainan lidah kekasihnya. Membuat tangan Candra tak tinggal diam. Tangan kekarnya sudah meremas benda kenyal Anara secara teratur.
Kedua benda kenyal itu mendapat perlakuan adil dari tangan Candra. Membuat Anara berada di awang-awang ketika Candra menghujani lehernya dengan kecupan hingga gigitan kecil. Meninggalkan bekas yang tentu kemerahan di sana.
"Jangan kuat-kuat!" Ujar Anara dengan suara parau.
"Kenapa?" Mata Candra terlihat begitu sayu ketika Anara melepas ciumannya.
"Kelihatan bekasnya nanti."
"Biar orang tau kalau kamu sudah aku yang punya."
Anara menyungging senyum mendengar jawaban Candra. Lelaki itu kembali menarik Anara dan mencium bibirnya sekali lagi hingga ia merasa cukup.
Menyudahi aktivitas panas barusan. Candra memandangi bibir Anara yang terlihat bengkak dan basah karena ulahnya. Diusapnya lembut bibir merah itu.
"Bengkak, An."
"Kamu sih. Terlalu kuat nyedotnya." Gerutu Anara.
"Tapi kamu suka kan?" Anara mengangguk membenarkan ucapan Candra. Membuat Candra semakin menginginkannya.
Sabar! Dia belum kamu kasih nafkah lahir, Ndra. Bisa keluar nanti macannya.
Kemudian tangan Candra meraih dua cup mi instan yang tadi ia seduh. Menyerahkan satunya untuk Anara. Pasti perempuan itu merasa lapar setelah permainan singkat yang baru usai.
"Ya ampuuuun, Candra. Ini kelamaan diseduh. Sampai segede ini mi instannya." Ujar Anara memperlihatkan mi yang sudah benyek.
"Kamu sih enak. Aku jadi lupa kalau lagi seduh mi." Ujar Candra tertawa.
"Ya udah. Nggak akan mati dimakan." Ucap Candra lagi sembari menyendok mi ke dalam mulutnya.
Anara mengikutinya. Mulai menyendok mi dalam cup itu dan memberi makan cacing-cacing di perutnya. Membiarkan perutnya terisi.
"Iya. Enak aja selama sama kamu."
"Astaga. Anara makin jago ngegombal." Candra mengusak rambut perempuannya.
"Makan yang kenyang! Setelah ini aku mau menafkahimu secara batin. Pastikan kamu kuat!" Titah Candra dengan wajah seringai.
Anara mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
...----------------...