Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Kalumpe


__ADS_3

Pukul 03.00 dini hari, Honda Brio milik Candra sudah berada di jalan protokol yang menghubungkan Kota Batu dengan Kota Malang. Mobil ia kemudikan menuju daerah Soehat untuk mengantar Caroline pulang.


Mereka berempat masih terjaga, Tetapi hanya Anara dan Candra yang terdengar aktif berbincang mengenai apapun, bahkan hal tak penting sekalipun. Tujuannya agar lelaki yang tengah mengemudi itu tak mengantuk.


"Aku turun dulu, terima kasih ya! An, kapan-kapan mainlah ke apartemenku!" Mata Caroline menatapi setiap orang sebagai tanda berpisah malam ini sambil melambaikan tangan.


Melihat Caroline belum masuk ke apartemen, Anara memberi instruksi pada Candra agar tak menginjak pedal gas dulu.


"Kita tunggu sampai dia masuk, Ndra! Memastikannya aman." Ujar Anara.


"Lagian lu Yan, gebetan lu noh nggak lu antar masuk sih. Bisa batal jadian lu, baru tau rasa" Candra melirik ke Bryan yang juga lurus menatap Caroline hingga gadis oriental itu tak terlihat.


"Dianya nggak mau. Masa gue kudu maksa." Jawab Bryan datar.


Kini mobil dengan cat warna putih itu kembali melesat menuju kos Anara di daerah Kerto. Mereka masih berbincang mengenai kedekatan Bryan dengan Caroline.


"Lagi pula kok dia mau ya sama lu, Yan?" Kalimat Candra lebih terdengar seperti sindiran, ejeken bahkan.


"Lah emang kenapa? Ada yang salah sama gue? Kan gue ganteng, coi." Bryan menimpal sindiran Candra dengan kepercayaan diri tingkat tinggi.


Kenapa semua Adam bisa percaya diri buanget ya memuji diri sendiri? Nggak kayak cewek yang biarpun cantik masih ae ngerasa buruk rupa. ☺


"Lu kan playboy. Haha, baru kemarin sama Siska, kemarinnya lagi siapa tuh? Ricardo?" Candra menyebut satu persatu perempuan yang sempat dekat dengan sahabatnya itu.


"Rikaaaa, udah selesai mereka semua. Terlalu manja, nggak suka gue." Sahut Bryan.


"Emang sukanya model gimana? Kayak Caroline tadi?" Kini Anara ikut nimbrung.


"Alah pasti bentar lagi juga ganti." Candra sudah menyahuti lebih dulu.


"Ck, sialan lu, Ndra."


"Jadi tipeku itu model-model perempuan mandiri, nggak terlalu manja, manja nggak masalah asal nggak lebay, suka tantangan, dan kalau ada sekalian yang jago masak, duh idaman." Bryan antusias dan Anara hanya mengangguk sambil mencebikkan bibirnya.


"Emang ada?" Tanya Candra.


"Adalah pasti."


"Emang ada yang mauu?" Candra tertawa tak mempedulikan umpatan-umpatan Bryan, lelaki ini suka sekali mengatai Bryan sejak zaman SMA. Anara menggeleng-gelengkan kepalanya heran akan tingkah keduanya.


"Ada ya... lu lihat ntar! Emang elu, cowok susah move on." Kalimat barusan keluar begitu saja dari bibir Bryan. Seketika Candra menegang dan Bryan segera menyadari ucapannya.


"Move on? Maksudnya?" Anara menatap Candra dan Bryan meminta penjelasan.


"Eh ... itu, si Candra susaaah bener untuk move on dari Kalumpe, padahal disini kan nggak ada." Jawab Bryan menutupi sesuatu.


"Apa itu?"


"Sayur dari singkong yang ditumbuk. Dikasih terong pipit." Candra kini ikut menjelaskan, jantungnya masih berdegup tak karuan. Dasar Bryan lemes banget mulutnya.


"Lodeh daun singkong sama terong?"


"Nggak tau lah. Pokoknya di Kalimantan gitu." Jawab Candra.


"Ya udah, kapan-kapan coba aku masakin ya?" Anara malah lebih antusias, padahal bahasan Kalumpe tadi ngasal untuk menutupi kata move on.


"Eh beneran? Boleh tuh." Bryan sudah dengan wajah berbinarnya menyambut tawaran Anara, kebetulan sekali dia juga rindu sayur khas Kalimantan itu.


"Nggak usah ntar kamu repot!" Candra menolak tawaran perempuannya.


"Nggak apa-apa. Lagian aku belum pernah kan masakin kamu?"


"Emang bisa?" Candra menyipitkan netranya.


"Ya belajar dong! Resep di google, di youtube kan banyaak."


"Dengan senang hati, nona." Candra akhirnya menyetujui tawaran Anara.


...----------------...


Setelah mengantar Anara pulang hingga masuk ke kos. Bryan sudah berpindah ke jok depan, di samping Candra.

__ADS_1


"Hampir aja, Yan. Sumpah mulut lu tuh kayak ember bocor."


"Keceplosan, Ndraa. Lu sih ngatain gue mulu."


"Nggak kebayang gue kudu gimana kalau Anara tau?" Candra mengacak rambutnya frustrasi.


"Saran gue, mending lu cepet kasih tau deh, Ndra!"


Dengusan kasar napas Candra menandakan bahwa laki-laki itu memang sedang berpikir berat. Terkadang ia ingin saja mengurungkan niat terbuka pada Anara, tetapi akan lebih repot kalau Anara tau sendirinya. Seperti barusan, Bryan hampir keceplosan jika tak lihai mencari alasan lain.


"Seharusnya lu gentle dong! Makin lama lu ulur waktu, makin marah kali Anara pas tau kenyataan." Bryan sudah mulai membuat keriting kuping Candra, lagi.


"Kenyataan kalau Anara itu mirip banget sama Anjani. Kalau dia bener-bener ngira lu pacarin dia karena wajahnya yang mirip Anjani gimana?"


"Tau deh. Buntu gue."


"Banyakin doa deh lu! Moga Anara adalah sosok yang diberkahi sabar luar biasa dan bisa nerima penjelasan lu nanti!"


"Amin."


"Tapi, by the way, Lu pacarin dia bener karena mirip Anjani kan?"


"Awalnya mungkin iya, tapi makin kesini gue ngerasa udah enggak."


"Gimana lu tau?" Bryan menyelidik penasaran.


"Sekarang kalau dia nyebut-nyebut Jogja. Hati gue masih nyeri, tapi bukan karena kecelakaan Anjani, tapi gue kesel karena keinget dia ketemu mantannya disana."


"Ha? Mantan? Kapan tuh?" Bryan membelalakkan mata.


"Di Jogja. Pas Natal kemarin, temennya sengaja nemuin mereka berdua pas Anara mau balik ke Malang." Candra bercerita panjang lebar dan Bryan hanya mengangguk saja.


"Temennya nekat parah. Pengen gue tumbuk jadiin Kalumpe." Kalimat Candra disambut tawa renyah Bryan.


Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan rumah bernuansa cokelat nude dengan pagar warna hitam ... sampai. Bryan turun membuka pagar, memberi akses Candra untuk lebih mudah memarkirkan mobil ke garasi. Dua lelaki flamboyan ini saling melengkapi, sedari SMA ktika satu sial yang lain segera mengulur tangan meskipun kadang keduanya sama-sama keras. Begitulah makhluk bergelar laki-laki.


...----------------...


Setelah membersihkan mangkuk sisa bubur ayam yang menjadi menu sarapan pagi ini, Anara menaiki satu persatu anak tangga menuju kamar. Tak ada rencana kemana untuk hari ini, matanya masih terasa berat karena pulang pagi.


Suasana kos terbilang sepi, Hartik juga pulang ke Gresik. Hanya beberapa anak yang masih stay di kos. Itupun anak di lantai bawah. Proyek UAS milik Hartik yang dititipkan ke Anara menambah keyakinan bahwa Hartik tak kembali hari ini, mungkin besok. Ah kangen juga suara cempreng Hartik.


Rasa sepi yang menyelimuti Anara berangsur memuai ketika ponselnya berbunyi menandakan pesan WA masuk,


Pesan dari +6282297******


Selamat tahun baru, An. Main kemana tahun baru?


Nomor tak dikenal, ia segera menebak mungkin itu Janu. Lelaki itu serupa cenayang, muncul tepat ketika Anara merasa kesepian. Tetapi secepatnya Anara tersadar, lelaki ini menjadi pemicu perselisihannya dengan Candra. Akhirnya ia urungkan niatan untuk membalas chat dari sang mantan.


...----------------...


Mengenakan celana jin hitam di atas mata kaki dipadu kaus stripe warna navy-putih dengan flatshoes hitam polos, Anara melajukan motor matic-nya menuju Kusuma Estate, ke rumah Candra. Ia harap dengan bertemu kekasihnya bisa menawar rasa sepi.


Berhenti di depan rumah bergaya industrial, Anara menggeser pagar yang ternyata tak dikunci. Diayun langkahnya pelan menuju pintu, tangannya membuka pintu yang lagi lagi tak dikunci.


Ish ceroboh sekali mereka.


Anara melongokkan kepala ke dalam, seperti tak ada kehidupan. Lampu ruang tamu yang bersebelahan dengan dapur masih menyala.


Pasti masih pada tidur.


Anara melangkahkan kaki memasuki rumah yang menurutnya persis desain interior kafe itu. Sayup-sayup Anara mendengar alunan musik dari kamar. Semakin langkahnya masuk, musik itu semakin terdengar jelas.


...Andai matamu melihat aku...


...Terungkap semua isi hatiku...


...Alam sadarku alam mimpiku...


...Semua milikmu andai kau tau...

__ADS_1


...Andai kau tau...


...Rahasia Cintaku...


Sambil ikut berdendang, Bryan tiba-tiba muncul dari kamar dimana musik berasal, "Rahasia ciintaaku."


Anara luar biasa kaget mendapati Bryan hanya mengenakan boxer tanpa penutup lainnya, tanpa diaba-aba teriakannya menggema memenuhi seluruh ruangan.


"Astagaaaaaaa ... Bryaaaan." Refleks ia tutup mata dengan kedua tangannya.


"Aduh An, kok kamu di sini sih."


Bryan masuk kembali ke dalam kamar. Kejadian begitu cepat. Di belakang Anara, Candra sudah berdiri dengan ekspresi bingung sesekali mengucek mata.


"Ada apa sih? Kok kamu udah di sini?" Tanya Candra kebingungan setelah terbangun karena teriakan perempuan yang tak lain bersumber dari Anara.


"Aku ... tadi, masuk nggak ada orang, terus ...." Kalimat Anara tertahan ketika Bryan sudah keluar kamar, kali ini tubuhnya sudah ditutup kaos polos warna hitam.


"Sorry An. Aku nggak tau kalau kamu di sini. Habis nggak ada suaranya."


"Iya nggak apa, lagian emang aku main masuk aja."


"Woi, ini ada apa sih?" Candra yang merasa tak tahu-menahu apa yang mereka bahas semakin penasaran.


Kenapa pakai acara minta maaf segala. Ada apa sih?


"Tadi gue keluar kamar pakai boxer doang. Ternyata ada dia." Anara hanya mengangguk ketika Candra menatapnya.


"Ya Tuhan, lu udah nodai penglihatan pacar gue, tau nggak? Sialan lu."


"Untung tuh, gue masih pakai boxer. Lu bayangin kalau gue nggak pakai apa-apa!" Bryan menyeringai puas pada Candra.


"Playboy gila." Candra menarik Anara masuk ke kamarnya dan menutup pintu bermotif kayu itu dengan keras.


"Ngapain kesini?"


"Mata kamu harus aku bersihkan, An."


"Maksudnya?" Kini Anara sudah duduk di pinggir ranjang kayu khas rumah industrial.


"Sebagai pacar kamu, aku merasa tak terima kalau kamu lebih dulu lihat tubuh Bryan."


"Teruuus?"


"Ya aku mau buka baju biar kamu juga lihat."


"Kalian berdua sama-sama gila, bedanya Bryan nggak sengaja. Kalau kamu malah pengen kelihatan gila beneran." Anara bangkit dan akan membuka pintu.


"An." Ditariknya tangan Anara.


"Apa?"


"Sebentar aja!" Kini tangan Candra sudah menangkup wajah perempuan di depannya sambil memohon.


"Apa?"


"Ini." Candra menyentuh bibir Anara.


"Nggak."


"Sebentaaaar doang." Candra menarik pinggang Anara agar lebih dekat.


"Enggak Candra. Aku keluar." Tanpa menunggu sahutan Candra, Anara melepas pelukan Candra dan membuka pintu keluar kamar.


Melihat Anara yang kini tengah duduk di sofa, Bryan yang sedang membuat kopi menawari Anara.


"Boleh deh, nggak pakai gula ya!"


"Doyan? Kopi pahit?" Anara mengangguk mantap.


Tak lama Candra keluar dari kamar dan duduk di sebelah Anara, matanya memelototi Bryan yang sok perhatian pada kekasihnya.

__ADS_1


Dasar buaya.


__ADS_2