Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Penguatan Dari Bryan


__ADS_3

Matanya memanas seketika. Hubungannya dengan Candra memang sudah kandas. Tapi, tak bisa dipungkiri, mengetahui jika Candra akan menikah dengan orang lain. Terlebih orang tersebut adalah perempuan yang Anara kenal, membuat hatinya kian porak poranda.


Saking sakit dan sesak dadanya, kakinya terasa tak lagi menapak bumi. Semua seperti mimpi.


Langkah kaki Anara telah bermuara di sebelah mobil Bryan. Sengaja matanya dipejamkan sebentar demi menghalau visual undangan pernikahan barusan yang ia terima.


Kenapa aku harus diundang? Kenapa? Kamu sengaja, Ndra?


Tak berselang lama, sisi sebelah Anara tak lagi kosong. Laki-laki yang mengikrarkan diri untuk selalu ada nyatanya benar ada di sana. Termasuk kala hatinya tengah menghadapi kemelut yang sulit diperikan.


"Ayo!" Anara sedikit mendongakkan kepalanya.


Bukan hanya agar ia bisa dengan jelas menatap ke arah manik mata Bryan, tetapi agar air matanya yang sudah memenuhi kelopak tak tumpah begitu saja.


Toh, menangis hingga matanya bengkak pun, nasib tak akan berubah. Kesalahan yang Candra ulangi tak akan bisa diperbaiki. Juga, bagi Anara ... pengkhianatan tak ada ampunannya.


Memerhatikan Bryan yang masih diam dan tak segera menyahut, tangan Anara pun terulur hendak membuka pintu mobil di depannya. Ia tak nyaman berdiri dengan suasana hati tak karuan seperti itu.


Namun, jlek!


Pintu mobil itu kembali ditutup. Bukan oleh tangan Anara, melainkan tangan Bryan lah yang menutupnya. Kening Anara terasa mengernyit, menatap penuh protes kepada Bryan.


Tetapi, belum sempat tuturnya menyembur Bryan, laki-laki itu lebih dulu menggelengkan kepala. "Ayo ke mana?"


"Pergi, kan? Kayak yang udah kita sepakati," balas Anara dengan suara bergetar.


Sungguh! Rasa di hatinya tengah tak karuan. Sedih, bimbang, dan ingin lenyap saja dari permukaan bumi.


"Pergi ke mana? Aku nggak mau kita pergi dalam keadaan hati kamu yang nggak tenang!" Di luar dugaan, Bryan yang mengaku akan senantiasa ada justru berujar demikian.


Anna kian bingung. Ia harus apa jika bukan pergi? Memerhatikan undangan dari Candra dan Caroline?


Sungguh! Itu ide yang paling buruk yang pernah ada di kepalanya.


"Tapi, aku nggak mau di sini, Yan."


Berdiam diri di kos pun akan semakin mengusik hati. Setiap jengkal bangunan itu selalu menyimpan nama Candra.


Ya Tuhan!


Patah hati kenapa bisa sesakit ini?


"Kita ke mana? Kamu ngomong!"

__ADS_1


"Terserah! Ke mana pun, asal aku bisa lupa ingatan!" Menatap Bryan sungguh-sungguh, kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa pikir panjang.


Sesuai dengan kehendaknya, Bryan akhirnya mengemudikan mobil keluar pekarangan kos. Entah, Anara pun tak tahu laki-laki itu akan mengajaknya ke mana.


Sepanjang perjalanan, ia lebih memilih untuk menggulir tatapan ke kiri jalan. Memaksa diri menikmati perjalanan. Meski lagi-lagi, undangan yang baru diterimanya sama sekali tak enyah dari pikiran.


Sialan!


"Batu kayaknya sekarang nggak dingin, ya?" Setelah hening yang sekian lama, akhirnya suara Bryan terdengar lebih dulu.


Tiba-tiba, Anara pun menelengkan kepalanya. Menatap Bryan penuh tanya. Laki-laki di sebelahnya baik-baik saja, kan?


"Dingin." Anara mengusap berulang permukaan kulit lengannya yang sedikit merasakan rinding.


Matanya lantas kembali bergulir ke arah Bryan. Apa karena kelamaan di Surabaya sehingga Bryan sama sekali tak mampu merasai hawa sejuk Kota Batu?


"Masih kalah dingin sama kamu." Kalimat Bryan diakhiri dengan sebuah kekehan serta cengiran.


Anara kembali menyetel ekspresinya ke mode awal. Datar. Kalimat Bryan sangatlah garing. Sama sekali tak menawar kegundahan hati.


Ia sedang tidak mood untuk diajak bercanda. Terlebih yang sifatnya remeh-temeh seperti itu. Sungguh tak membangkitkan selera.


Seolah mengerti, Bryan pun kembali terdiam. Kini, suasana perjalanan hanya diwarnai dengan lagu-lagu yang teralun dari audio mobil.


Terungkap semua isi hatiku,


Alam sadarku alam mimpi,


Semua milikmu andai kau tahu, andai kau tahu,


Rahasia cintaku ... (Nidji-Rahasia Hati)


Lagu yang justru kian membuat Anara dikungkung rasa tidak nyaman. Tapi, ia berusaha tak memedulikan apa yang dilakukan oleh Bryan.


Keadaan berlangsung hingga mereka tiba di sebuah lahan luas yang ke semua sisinya bertaburan tanaman dan bunga-bunga. Selecta.


"Kita ngapain ke sini, Yan?"


Mengedikkan bahu, seolah Bryan tak ingin bertanggung jawab mengapa mereka sampai di sana. "Aku juga nggak tahu, An. Tapi, katamu kan terserah. Ya udah, ke sini ini terserahmu!"


"Oh ya, satu lagi. Aku bawa kamu ke sini biar kamu bisa lupa ingatan!" Kali ini wajah Bryan terlihat sungguh-sungguh. Tak ada cengiran di sana.


Belum akan Anara merespons, Bryan telah lebih dulu menarik pergelangan tangannya untuk kian menyatu pada bunga-bunga nun indah di sana.

__ADS_1


Sejenak, benar yang Bryan katakan. Demi melihat warna-warni yang memanjakan mata, Anara lupa akan persoalan hidupnya. Lupa akan Candra terutama.


"Duduk, An!" tawar Bryan kala mereka melewati kursi besi yang berada di tengah-tengah taman.


Tak menolak, Anara pun duduk persis di sebelah Bryan. Mungkin, di saat itulah senyuman untuk kali pertama tercetak di wajahnya setelah menahan tangis sepanjang perjalanan tadi.


"Udah lupa ingatan belum?"


"Apaan sih, Yan?" Anara jadi malu sendiri. Bibirnya sedikit dikerucutkan menanggapi pertanyaan Bryan.


"Aku nggak ngerti perasaan kamu, An. Aku nggak ngerti gimana rasanya ditinggal orang yang kita sayang nikah sama orang lain." Mendadak, nada bicara Bryan amat serius.


"Yang pernah aku rasain, perempuan yang aku suka jadi tunangan orang lain, sahabatku sendiri pula. Tapi, gagal menikah. Bukan lalu aku bersyukur, bukan. Toh, benteng di antara kita amat tinggi."


Anara paham ke mana arah kalimat Bryan. Ya, benteng yang tinggi itu sulit ditembus.


Tapi sebentar, bukankah antara Candra dengan Caroline juga berbeda keyakinan?


Tubuh Bryan lantas menghadap ke arahnya. Menatapnya sungguh-sungguh dan penuh harap. Tangannya pun terjulur ke depan. Menyentuh bahu Anara.


"Aku harap, kejadian ini nggak ngerubah kamu terlalu jauh! Meskipun sakit, Anara yang mandiri, yang kuat, yang tegar ... Harus tetap ada!"


"Jangan hanya karena ujian percintaan begini lantas kamu jatuh dan nyerah, An!" Kepala Bryan digelengkan.


Tangan yang per sekian detik menyentuh bahunya itu, kini berganti menelangkup pipi. "Kamu terlalu cantik buat bersedih, terlalu aku sayang buat jatuh," ucap Bryan lagi.


Berhasil menggelitik hati Anara.


"Kamu boleh sedih, boleh nangis, boleh marah. Aku akan selalu ada! Tapi, jangan sampai lakuin hal bodoh apa pun itu!"


"Kalau kamu mau nangis, pundakku gratis. Pelukanku juga cuma-cuma."


Heeh!


Anara sempat terkekeh akibat kalimat barusan. Terdengar aji mumpung. Tapi, Anara memang membutuhkan itu.


"Ini mungkin terdengar nekat dan gila, tapi aku mau ... Kamu datangi undangan tadi!"


Mata Anara melebar mendengar kalimat Bryan barusan. Ia sama sekali tak berangan demikian.


"Datang sama aku!"


*****

__ADS_1


__ADS_2