Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Perjalanan Pulang


__ADS_3

Setelah melakukan check in, Anara dan Candra menunggu penerbangan di boarding gate. Keduanya saling diam, sehari kemarin dilalui Anara dengan serba salah. Kekasihnya yang cemburuan itu mendiamkannya hingga hari ini.


Candra hanya berbicara jika sangat perlu. Hal itu membuat Anara akhirnya memilih ikut berdiam sejenak setelah permintaan maafnya yang berkali-kali tak dihiraukan Candra. Bahkan kini, posisi duduk mereka pun serupa orang asing.


"Your attention please, passengers of ....”


Panggilan untuk boarding menggema. Candra bangkit dari duduknya dan berdiri menunggu perempuan yang dua hari lalu menyayat hatinya lewat sambungan telepon dengan mantan. Langkah Candra berada di depan memimpin Anara di belakangnya.


Hingga sampai di kursi penumpang pun Candra masih tak bergeming. Mereka berdua duduk berdampingan dengan hati berdampingan pula. Tapi ada tembok egois antara keduanya. Entah kapan akan runtuh?


Pesawat tujuan Surabaya mulai take off dan Anara terlihat menahan ketakutan. Matanya dipejamkan rapat-rapat. Segala doa ia ulangi dalam hati berharap ada sedikit ketenangan.


Mata Anara terkesiap ketika ia merasakan ada yang menggenggam erat tangannya. Ditolehnya Candra yang berada di samping. Lelaki itu menatap dalam pada Anara. Tapi bukan tatapan penuh amarah, melainkan sorot mata penuh cinta.


Apa salahku? Bukankah dia yang menyuruhku mengangkat telepon? Lagi pula mana aku tau kalau Janu kirim WA.


Anara hanya menanyakannya pada diri sendiri. Segala penjelasan dari bibirnya saat ini hanya angin lalu untuk Candra. Ia harus lebih bersabar.


Tak ada percakapan atau pun kalimat berarti selama penerbangan. Perjalanan semakin terasa panjang sekaligus menakutkan bagi Anara. Ditolehnya lagi lelaki di sampingnya yang tengah terpejam.


"Ndra."


"Candra."


Lelaki di sampingnya membuka mata elangnya, ditatapnya Anara seolah ia bertanya ada apa?


"Kamu masih marah?"


"Aku udah jelasin semua, aku sama Janu nggak pernah contact-an. Kemarin aku juga nggak tau kalau dia WA."


Bukan jawaban yang Anara dapat. Candra kembali memejamkan matanya. Sikapnya sangat dingin kepada perempuan di sampingnya.


"Kamu nggak percaya sama aku?"


"Jawab dong! Jangan diam aja! Aku bingung."


"Aku tau kamu nggak lagi tidur."

__ADS_1


Hufh ...


Anara sepertinya sudah hilang akal menghadapi lelakinya. Menurutnya Candra terlalu egois hingga ia harus mendiamkan Anara sekian lama. Padahal, tak terhitung berapa kali kata maaf terlontar dari bibir berharap semua kembali baik-baik saja.


"Candra!" Disebutnya nama itu sekali lagi.


Anara masih berusaha memperbaiki keadaan. Sayangnya usaha itu belum membuahkan hasil dan ia mulai tak tahan dengan tingkah Candra. Ia benar-benar muak.


Ditariknya kasar tangan yang sedari tadi berada dalam genggaman Candra. Ia merutuki dirinya sendiri yang meminta maaf persis sedang mengemis belas kasihan. Kelopaknya kini terasa penuh, ia pejamkan matanya erat. Tak peduli jika ada orang yang melihat.


Seketika mata Candra terbuka ketika tangan Anara lepas dari genggaman. Dilihatnya perempuan di samping yang tengah terpejam. Bulir air mata terlihat menuruni pipi. Ah ia sudah terlalu melukai hati perempuan yang dinilainya sangat kuat itu.


Perlahan Candra raih kembali tangan Anara, tetapi dengan cepat Anara menarik tangannya. Belum menyerah, Candra raih lagi tangan itu. Membuat Anara membuka mata.


"Nggak perlu." Ucap Anara yang kecewa dan melepaskan genggaman Candra.


Aku nggak ngerti jalan pikiranmu. Ndra. Kamu gemar sekali emosi.


...----------------...


Candra POV


Sepertinya adikku menyukai Anara. Mungkin karena Anara yang tanggap dan pribadinya menyenangkan. Hampir mirip dengan kepribadian Rati.


"Lain waktu kamu main ke Malang ya? Kita jalan-jalan bareng." Jawab Anara.


"Tante, saya balik ke Malang dulu. Semoga tante sekeluarga senantiasa sehat. Salam untuk abah." Mama memeluk erat Anara dengan raut sedihnya.


Setelah melepas pelukan dari mama. Mobil yang dikemudikan Pak Slamet membawa kami ke bandara. Pukul 11.25 WITA nanti pesawat yang membawa kami ke Surabaya akan take off.


Keputusan ini kuambil sepihak karena aku cemburu luar biasa pada Janu yang tak henti menghubungi kekasihku. Di tengah amarahku yang memuncak, kuputuskan untuk mengajak Anara kembali ke Malang.


Sejak kejadian malam itu, Anara terus-terusan meminta maaf padaku. Tak peduli lewat pesan singkat atau ketika bertemu denganku. Hanya permintaan maaf yang keluar dari bibir manisnya.


Seharusnya aku yang minta maaf karena telah begitu cemburuan, juga karena telah menyentuhmu.


Tapi, sisi egoisku sangat mendominasi hingga secara tega aku mendiamkan perempuanku hingga kini. Laki-laki macam apa aku?

__ADS_1


Bibirku terasa kelu untuk membalas kalimat-kalimatnya. Aku belum mau membahas itu. Bicaraku hanya singkat, itupun kalau perlu.


Seperti tadi pagi ketika ia bertanya berangkat ke bandara pukul berapa? Dari bibirku hanya terlontar kalimat, "pukul sembilan." Rautnya kecewa, tapi tak bisa berbuat apa-apa.


Satu jam sebelum jadwal keberangkatan, aku dan Anara sudah melakukan check in dan menunggu boarding. Dia duduk selang satu bangku dariku. Mungkin karena sikapku yang keterlaluan akhirnya dia mengambil jarak.


Ah, ada rindu sekaligus kecewa jadi satu.


"Your attention please, passengers of ....”


Panggilan boarding untuk pesawat jurusan Surabaya sudah diumumkan. Aku bangkit dari bangku dan menunggu Anara berdiri. Ia terlihat sibuk memasukkan ponsel ke dalam tasnya.


Baru apa lagi dia? Apa ada pesan lagi dari lelaki sialan itu?


Kulangkahkan kaki di depannya. Ingin rasanya menggamit jemari Anara dan membawanya seiring dengan langkahku. Tapi, hatiku terlalu egois.


Aku sudah mendaratkan diri di kursi dengan Anara di sampingku. Kami masih saling diam tanpa ada percakapan. Menjelang pesawat take off, kulirik Anara yang sedang menutup rapat netranya. Aku tau betul ia sedang ketakutan.


Ingin rasanya kurengkuh tubuh Anara dan menariknya dalam dekapan. Tapi lagi-lagi hatiku terlalu egois hingga tega membiarkannya sendirian menghadapi ketakutan akan ketinggian.


Kutatap wajah cantiknya yang tengah terpejam. Seandainya kami tak sedang marahan mungkin bibirnya sudah kusesap dalam-dalam. Perlahan kuraih tangan Anara yang terasa dingin, seketika matanya terbuka dan balas menatapku lekat.


Aku menyukai matanya yang selalu penuh cinta, ia tak mudah menyerah hanya untuk mendapat maaf dari lelaki macam aku. Sungguh beruntung aku mendapatkan dia dengan sikap dewasanya.


Kupejamkan lagi mataku ketika Anara mulai membahas perihal Janu. Aku sangat membenci nama itu. Perempuan di sampingku masih sibuk menjelaskan dan aku sibuk mendendam.


Tiba-tiba tangan Anara ditarik paksa, lepas dari genggamanku. Mataku terbuka dan manik mataku menemukan ia menangis dengan mata terpejam. Hatiku ikut tersayat.


Apa aku keterlaluan?


Kuraih tangan Anara tapi seketika pula ia menariknya. Kuraih lagi tangan itu dan menggenggamnya lebih erat karena aku tau dia takut ketinggian. Mata kami bertemu dan perempuanku terlihat sangat terluka.


"Nggak perlu." Itu yang terlontar dari bibirnya, tangan Anara ditarik untuk lepas dari genggamanku.


Anara, maafkan aku!


Hatiku ingin sekali mengatakan kalimat itu, tetapi rasa egois kembali merajaiku.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2