
Seusainya menyodorkan uang pada tukang ojek pengkolan, Anara segera berlari memasuki kos. Pikirannya kacau, kakinya bukan menaiki anak tangga, tetapi lurus mencari pintu kamar sahabatnya, Hartik.
Krek ... pintu warna putih itu terbuka. Hartik yang tengah duduk di lantai kamar menatap layar laptop terbengong-bengong melihat kedatangan Anara tiba-tiba. Sahabatnya itu membawa tas. Dari mana atau mau kemana kah Anara ini?
Heh ... heh ... heh ... suara napas Anara masih terengah-engah. Membuat Hartik memicingkan netranya.
"Kenapa sih? Mau kemana atau dari mana?" Hartik akhirnya melontarkan kalimat tanya setelah melepas headphone dari kepala.
"Mau ke sini," sahut Anara masih mengatur napasnya.
"Kalau ada siapa pun yang cari aku, jangan kasih tahu!" Pinta Anara mengiba.
"Ada apa sih, An?"
"Ada masalah, Tik."
"Ya udah. Nanti kalau ngos-ngosannya udahan, cerita ya!" Seru Hartik kembali memasang headphone.
Sementara Anara merebahkan dirinya di kasur, kakinya digantung tinggi ke dinding dan kepalanya hampir terjuntai ke bawah. Tangannya sibuk memencet tombol di ponselnya.
Netranya yang sudah berkaca-kaca lagi, membuat pandangannya ke layar ponsel semakin memburam. Pikiran dan batinnya masih kacau.
Apa yang kamu pikirkan, Candra? Bisa-bisanya kamu nekat hampir melakukannya.
Air matanya sudah mengalir lagi, begitu sakit luka yang ditoreh Candra barusan. Meski awalnya ia juga terbawa pada suasana intim tadi, tapi saat ini fokusnya sedang terbagi. Bahkan mungkin, setelah kejadian tadi. Hatinya benar-benar terbagi.
Tangannya sudah yakin memblokir nomor Candra. Betapa sempit pikiran Anara? Bukan menyelesaikan masalah, tetapi ia malah lari jauh dari kemelut hubungan mereka.
Sejurus setelahnya, jemari lentiknya beralih ke kontak Bryan. Ingin rasanya perempuan itu mencurahkan segala perasaannya saat ini. Bagaimana Candra mencemburui lelaki bermata cokelat itu? Bagaimana ia sudah membuka amplop itu lebih dulu, dan bagaimana perlakuan Candra barusan?
Ingin rasanya kamu di sini seperti hari lalu.
Namun, ia urungkan niatnya untuk membuka blokiran nomor Bryan. Hatinya ingin tenang tanpa mereka berdua barang sebentar. Ia benar-benar merutuki semua ini.
Memperhatikan Anara yang sedang rebah di atas ranjangnya dengan dada yang naik-turun seperti terisak, membuat Hartik menghentikan kesibukannya. Gadis berjilbab itu mulai beringsut ke samping Anara, menyamai posisi sahabatnya.
"Ya ampuuun, beneran nangis dia. Ada apa sih, An?"
Tangis Anara semakin meledak, "hari-hari ini rasanya hatiku terkejut bertubi-tubi, Tik."
Hartik mulai menyimak cerita Anara yang kurang jelas karena napasnya tersengal akibat tangisan itu.
"Mulai dari kecemburuan Candra pada Bryan, surat balasan dari Bryan untukku, sampai hari ini Candra ...," Anara menjeda ceritanya.
"Candra kenapa?" Tanya Hartik tak sabar.
Anara menatap sayu pada Hartik, "aku hampir saja tidak perawan."
Air mata Anara kembali tumpah mengingat cumbuan yang semula lembut tadi berangsur menuntut dan memaksa balas, bahkan gambaran bagaimana Candra menggagahinya masih nyata dalam ingatan.
__ADS_1
"Ha?" Hartik menangkup rahang dan mulutnya.
"Aku nggak ngerti deh jalan pikiran kalian," ucap Hartik ikut bingung.
"Kamu tahu, Tik? Perempuan yang disukai Bryan itu beneran aku. Kayaknya juga, karena itu Candra ngebet minta nikah. Tapi, karena aku nolak terus, dia nekat merawanin aku," ucap Anara kesal menyeka air mata.
"Kamuuu ... udah nggak perawan?"
"Ya ampuuun. Hampir, Hartik. Aku jadi kesel sendiri curhat sama kamu."
"Habis kamu cerita sambil nangis, nggak jelas, An. Sorry ... sorry."
"Nomor dua-duanya aku blokir. Kalau mereka datang, bilang aku ga ada. Terserah gimana alesanmu, pokoknya gitu," pungkas Anara beranjak dari kamar Hartik. Langkahnya gontai keluar dari kamar.
Hartik masih tercengung mendengar curhatan Anara barusan. Ia semakin begidik ngeri membayangkan punya pacar. Cerita Anara makin memberi gambaran tidak indahnya hubungan pacaran.
...----------------...
Candra
Pasar Minggu,
"Buat aku lebih tenang! Paling tidak dengan kita tunangan kalau kamu belum ingin kita nikah," ucap Candra.
Berkali-kali lelaki itu mengatakan ingin serius membawa hubungannya dengan Anara ke jenjang lebih serius. Tetapi, berkali-kali pula perempuannya itu menunda niatannya dengan alasan skripsi.
Omong kosong macam apa ini? Semua karena Bryan.
"Apaa?"
"Lupakan!" Pungkas Candra menarik pelan Anara.
Motor yang membawa keduanya melaju kencang melintasi jalan protokol Kota Malang. Di tengah hingar-bingar kota, kedua manusia itu hanya saling diam.
Tak ada percakapan hangat atau sentuhan berarti dari Candra selama perjalanan. Hanya pelukan Anara dari belakang yang sedikit menenangkan hati Candra.
Motor Candra terus melaju melewati gang yang menuju kos perempuannya. Dia berniat mengajak kekasihnya ke rumah. Candra ingin membicarakan hubungan mereka dan tentu ... surat dalam amplop putih yang dibacanya pagi tadi.
Surat dari Bryan itu, membuatku gila. Ternyata kamu pun pernah tertarik dengannya, An.
"Candraaa! Kita kemana?" Tanya Anara ke sekian kalinya.
"Ke rumahku."
Sesampainya di rumah Candra, perempuan itu duduk di sofa. Terlihat menyapu seluruh ruang dengan netranya. Sementara Candra bergegas membersihkan tubuhnya yang lengket akibat mengikuti gerakan zumba yang tak tuntas pagi tadi.
Langkahnya semakin mendekati Anara yang tengah duduk di sofa seusainya keluar kamar mandi. Dihampirinya Anara setelah menutup pintu dengan sempurna.
Candra yang hanya berbalut handuk itu kembali berujar, "kita tunangan dulu!"
__ADS_1
"I-iya," balas Anara seketika.
Candra memajukan tubuhnya tanpa melepas tatapan intimidasinya, menekan Anara hingga di batas sofa. Perlahan kepalanya dimiringkan dan bibirnya menyinggahi bibir Anara.
Dengan lembut Candra memagut perempuannya. Tangan satunya sudah sibuk meremas benda kenyal di depan. Suara yang keluar dari bibir Anara semakin membuatnya berlaku lebih.
Candra menyusupkan tangannya ke dalam kaus, menaikkan penutup benda kenyal itu dan jemarinya mulai sibuk bermain di pucuk dada kekasihnya.
"Teruslah mendesah, Anara!"
Kemudian lidahnya beralih ke pucuk dada perempuannya, bermain di sana. Tangan Candra semakin turun melewati perut Anara dan menyusup ke dalam celana olahraga Anara hingga semakin ke bawah menyentuh kain terakhir. Masuk di antara sela paha dan menemukan benda yang sudah mulai basah karena ulahnya.
Maaf, An. Aku ingin membuatmu utuh menjadi milikku, meski harus menodaimu lebih dulu.
Jari candra perlahan bermain di area sensitif itu. Tak kuasa lagi, Candra melepas celana Anara dengan kasar dan tak sabar. Jarinya kembali menyentuh benda itu bahkan semakin liar, dengan cepat tangannya membuka lilitan handuknya.
"Can-dra, stop!" Pinta Anara di sela cumbuan.
Tetapi, Candra tak menghentikan aktivitasnya. Satu-satunya yang diinginkannya adalah memasuki Anara dan membuat perempuannya itu mau untuk segera dinikahinya.
Dengan tak sabar, Candra menekan miliknya pada milik Anara yang terasa sempit. Mata berkaca-kaca Anara begitu menyesakkan hatinya. Namun, ia tak mau kehilangan perempuan itu hanya karena Bryan.
"Bersiaplah sayang. Ini menyakitkan, tapi ... kamu akan ketagihan," ujar Candra mulai menggerakkan panggulnya maju.
"Kau sempit sekali, sayang," Candra terus menekan miliknya untuk masuk, meski itu terasa susah sekali.
"Sudah Candra! Cukup!"
Candra mengabaikan suara Anara yang semakin terisak. Ia begitu menginginkan perempuannya saat ini juga, tetapi perempuan itu seakan menyempitkan miliknya agar tak dimasuki Candra.
Candra mulai merasakan pergerakan Anara melemas, mungkin perempuannya itu mulai terbawa suasana permainan. Perlahan, tangan Candra mulai pindah ke dada Anara lagi.
Namun, tiba-tiba dorongan dari bawah membuat Candra melanting. Kemudian, tengkuknya terasa dihujam, membuatnya gontai.
"Bajingan kamu, Candra."
Candra masih bisa melihat bagaimana Anara memungut pakaian dan memakainya sambil menyumpah serapahi dirinya. Perlahan, perasaan menyesal serta kecewa menjalari tubuh polosnya.
An, maaf!
Perempuan bernama Anara itu pasti akan membencinya dan bukan tidak mungkin malah mengakhir hubungan di antaranya.
Candra meraup wajahnya kasar, seperginya Anara dari hadapannya membuat kewarasannya berangsur dikuasai. Hatinya begitu menyesal memaksa melakukan itu.
Jika saja dia bisa lebih sabar, mungkin dengan suka rela Anara malah menyambutnya dan mereka melakukannya dengan penuh keinginan tanpa paksaan.
"Aaaaaaaargh!"
Candra bangkit dan kembali melilitkan handuk menutupi tubuh polosnya. Langkahnya cepat menuju kamar dan seketika bayangan Bryan singgah di otaknya.
__ADS_1
Playboy sialan! Bisa-bisanya lu kirim surat ke pacar gueeee.
...----------------...