
"Aku pulang." Ucap Candra berpamitan. Perlahan dilepasnya Anara dari pelukannya.
"Ya, hati-hati!" Balas Anara seperti biasa.
Hujan masih sedikit berderai ketika Candra meninggalkan kamar Anara, tetapi tak ada kalimat atau kata yang keluar dari bibir Anara agar kekasihnya itu tinggal sejenak.
Toh dia bawa mobil. Nggak akan basah.
Sepeninggal Candra, Anara kembali diliputi perasaan tak menentu. Entah perasaan yang masih marah entah hatinya yang belum bisa kembali percaya.
Diraihnya benda pipih dari atas kasurnya. Terlihat jarinya mengetikkan cerita dan mengirimnya pada orang yang akhir-akhir ini selalu menampung keluh dan kesahnya.
Anara:
Bryan! Barusan Candra dari sini.
Aku bingung
Kenapa perasaanku belum bisa kayak dulu?
Tiga pesan sekaligus Anara send pada sahabatnya. Setidaknya dengan berbagi, dia tak bingung seorang diri. Minimal ada sahabatnya yang mengerti.
Lama chat WA-nya tak kunjung dibalas. Sekali lagi Anara putuskan mengirim pesan. Tak mungkin cerita ke Hartik karena Bryan lah yang lebih memungkinkan untuk jadi jembatan diantaranya dengan Candra.
Anara:
Yan! Bales! Pengen curhat.
Setengah jam berlalu dan pesan yang dikirimnya belum mendapat respon dari Bryan.
Sibuk pasti. Aku tinggal cari makan aja.
Anara meraih sweater yang digantungnya di gagang pintu lemari dan dengan cepat menuruni anak tangga. Langkahnya berhenti di depan kamar Hartik. Diketuknya pintu itu sambil meneriakkan nama pemiliknya.
"An."
"Cari makan yuk!"
"Masih ujan nggak?" Tanya Hartik karena memang dari kamar bawah tak terlihat hujan masih atau sudah berlalu.
"Gerimis dikit. Bawa payung!"
Hartik kembali masuk mengambil dompet dan keluar lagi sudah dengan penutup kepalanya, jilbab blusukan andalan yang tinggal pakai.
"Ati-ati licin!" Ucap Hartik mengingatkan.
"Kalau jatuh paling sakitnya nggak seberapa, malu iya." Sambung Anara.
"Lebih sakit jatuh cinta ya?"
"Iya, jatuh cinta ke orang yang nggak tepat." Ucap Anara datar.
"Menjiwai banget sih kayaknya." Kalimat ledekan lolos dari Hartik.
"Hmmm."
"Bukannya udah dimaafin?"
"Udah. Tapi bekasnya masih ada."
"Semoga cepet kelarlah!"
"Apanya, Tik?"
"Masalahnya, Aaaaan. Masa hubungannya?"
"Semoga deh. Amin. Ganggu skripsi banget soalnya."
"Pasti, An. Aku yang nggak ada gangguan macem itu aja mau nulis skripsi maju-mundur. Apalagi ditambah masalah kayak gitu. Bisa balik kanan maju jalan kalau aku."
"Hahaha. Lebay deh! Ya jangan sampai balik kanan dong!" Tawa Anara pecah akhirnya.
__ADS_1
Di sebuah warung lalapan keduanya berhenti. Memesan lalapan ayam plus tahu goreng dengan sambal hijau yang level pedasnya tepat di bawah pedas mulut tetangga.
"Dibungkus, Mas!" Terang Anara.
"Sip mbak." Balas lelaki yang masih muda itu. Mungkin mahasiswa yang punya part time kerja.
Setelah menukar uang dengan dua bungkus nasi lalapan, dua mahasiswa semester tua itu menuju kos kembali. Payung yang tadi dibawa kini sudah terlipat dengan paksa dalam keadaan basah. Hujan baru saja reda, tinggal aromanya yang masih tertinggal di sana.
"Tik. Aku langsung naik."
"Oke, An." Balas Hartik menautkan ibu jari dan telunjuk.
Memutar kunci kamar, Anara segera masuk setelah pintu kamar terbuka sempurna. Membuka nasi bungkus berisi lalapan yang aroma sambal hijaunya menyeruak harum ke indra penciuman.
Hmm ... menggugah selera.
Mengisi perutnya dengan pikiran yang terus menjelajah dan berakhir dengan segelas air putih dari botol mineral. Kini Anara menaruh fokus pada ponsel yang tergeletak di kasur.
Lima pesan di sana. Dua dari Candra dan tiga lainnya dari Bryan.
Candra:
An, aku serius pengen minta kamu langsung ke orang tuamu.
Gitu lagi. Aku tuh maunya kamu peka. Kasih waktu aku menata kembali hati yang sudah kamu banting jadi berkeping.
20 menit dari pesan pertama, Candra mengirim pesan lagi,
Candra:
Kamu belum yakin? Makanya aku mau yakinin.
Terserah deh! Nggak peka banget. Hati Anara semakin kesal, pesan Candra berakhir dengan dibaca, tanpa balasan dari Anara. Sudah persis berita di koran. Jadi bahan bacaan. Tangan Anara beralih ke pesan Bryan.
Bryan:
Maaf baru sempet bales, An. Tadi habis ngerjain content.
Lambat laun pasti kembali. Ibarat piring pecah dikasih lem juga butuh proses kali, meski hasilnya nggak akan sempurna. Setidaknya hampir serupa awalnya kan?
Anara tersenyum, sahabatnya itu memang luar biasa kadalnya. Bukan kaleng-kaleng.
Anara:
Klise pol Bryan😂 tapi lumayan menenangkan.
Bryan:
Mau curhat apa?
Anara:
Ya tentang sahabatmu itu lah. Tapi nggak enak kalau lewat chat.
Bryan:
Ya udah. Aku telepon?
Anara:
Ketemu aja.
Bryan:
Dimana?
Bentar deh ... pacarmu barusan banting hp kayaknya. Kenapa sih?
Anara:
Labore ya. Sekarang!
__ADS_1
Anara segera mengganti pakaiannya menjadi lebih layak untuk datang ke kafe. Tanpa menunggu lebih malam lagi, Anara menuju kafe yang terletak di kawasan Soehat.
Pukul delapan malam kurang, itu yang tertera di bill menu pemesanan brown sugar latte milik Anara. Ia memilih duduk di area non-smoking untuk memerdekakan paru-parunya.
Menunggu sekitar 10 menit, Bryan datang dengan wajah yang nampak sedang mencari-cari. Anara melambaikan tangan kepada sahabatnya itu sebagai tanda keberadaannya.
"Lama?"
"Baru. 10 menit mungkin."
"Kamu bilang ke Candra kan?"
"Enggak." Anara menggeleng dengan santai.
"Astagaaa, bisa jadi duri kalau tau."
"Apaan sih, Yan. Berlebihan tau."
"Bentar deh! Kalian berantem lagi?"
"Enggak."
"Terus kenapa dia ... hmm, kayaknya beneran hp deh yang dibanting."
"Kurang tau. Dia WA sih, tp emang nggak kubales."
"Ya ampun, An. Ya pasti karena itu lah dia emosi," terang Bryan sungguh-sungguh. Tangannya sudah menepuk dahi.
Terdengar Anara mengembuskan napasnya kasar. Seolah entah harus bagaimana? Jika dipikir, mudah saja menerima kembali Candra. Toh, lelakinya itu sudah minta maaf. Namun, perasaan memang tak semudah itu, hati tak bisa jika diukur dengan logika, ini tentang rasa.
"Candra kekeh banget mau nglamar aku." Ucap Anara setelah lama hening.
Bryan nampak terdiam, "bagus dong. Pacaran kan ujungnya ke sana."
"Aku belum yakin, Yan. Hatiku yang masih bimbang dengan aku sendiri. Bukan aku nggak yakin ke dia, tapi ke perasaanku sendiri."
"Kenapa rumit banget sih?" Gumam Bryan meraup wajahnya sendiri.
"Aku nggak bisa bantu banyak, An kalau masalah perasaan. Kamu sendiri pemegang kendali. Tapi ... pikirkan baik-baik semuanya!" Ucap Bryan lagi.
Anara hanya mengangguk memahami. Setidaknya uneg-uneg di hatinya ada yang mendengar.
"Mungkin aku hanya butuh waktu."
"Dan kudoakan semoga Candra sabar." Balas Bryan tersenyum.
Keduanya keluar kafe ketika hampir tutup. Jalanan sudah mulai sepi, tepat ketika mereka diambang pintu, dari arah lain berjalan pula perempuan berkulit putih dengan mata sipit.
"Anara." Sapa perempuan dengan kemeja garis-garis.
"Caroline."
Keduanya saling berpelukan, sementara Bryan diam mematung.
"Yan. Pa kabar?" Sapa Caroline pada mantan.
"Lin. Baik."Balas Bryan menuai anggukan canggung Caroline.
"Kalian berdua aja? Candra?"
"Hmmm, Can-draa. Nggak ikut." Jawab Anara, Caroline mengernyitkan dahi.
Ya Tuhan semoga dia nggak mikir macem-macem!
"Ya udah aku duluan." Caroline berlalu pergi dari keduanya.
"Kaku banget sama mantan," sindir Anara menuju sepeda motornya.
Bryan mengikuti Anara dengan mobil sampai sahabatnya itu masuk ke halaman kos. Mengingat malam sudah sepi, tak mungkin tega membiarkan perempuan pulang sendirian.
Anara melambaikan tangan dari ambang pintu masuk dan mengibaskan tangan memberi tanda agar Bryan segera pergi.
__ADS_1
"An, An, makin nggak karuan gue." Lirih Bryan menatap punggung Anara.
...----------------...