
Pagi ini mereka berlima sudah berada di peron stasiun Kota Malang. Kereta yang akan membawa mereka juga sudah di tempatnya. Tinggal menunggu waktu keberangkatan.
Merupakan pengalaman pertama bagi Rati dan Caroline menaiki ular besi. Caroline excited sekali, beberapa jepretan berhasil mengabadikan momen penting dalam hidupnya. Sejurus kemudian, jepretan itu sudah bertengger di feed instagram.
"Nanti kita jadi bermalam di hotel, sudah booking?" Tanya Anara menatap pada Candra.
"Nggak jadi, An. Di rumah budeku. Nggak jauh lokasinya dari tempat Rati ujian." Sahut Caroline yang sibuk mengucir rambutnya.
Sementara Bryan dan Rati sedari tadi raib dari pandangan. Keduanya sedang mencari sesuatu yang bisa mengganjal perut. Tak lama keduanya muncul dengan kantong di tangan.
"Monggoooo. Isinya donat." Tawar Rati membuka kotak kertas dari dalam kantong.
"Tau artinya monggo?" Tanya Candra karena adiknya tiba-tiba pakai Bahasa Jawa.
"Tau dong. Silahkan!" Sahut Rati.
"Ini air mineralnya." Susul Bryan meletakkan kantong satunya di bangku sebelah mereka.
Semuanya hanyut dalam cerita dan gambaran perjalanan yang akan ditempuh sambil menggigit donat hingga tak tersisa. Candra dan Rati sangat berbeda ketika di luar seperti ini. Mereka banyak omong tentu ketika makan. Berbanding terbalik ketika di rumah.
"Sudah siap, Rati?" Tanya Caroline.
"Siap dong, Kaaaa." Rati menjawab dengan sikap tegap.
"Awas aja kalau sampai nggak lulus ujian! Udah nyusahin orang sekampung ini." Sambung Candra yang langsung mendapat cubitan perut dari tangan Anara.
"Ya didoain dong, Mas! Lagian kalian kan juga bisa double date. Malah aku ini yang ngenes." Rati menggerutu.
"Eh, ngerti double date juga anak kencur." Bryan ikut menimpal.
"Ngertilah. Kan aku biasanya juga gitu." Rati tersentak sendiri dengan ucapannya. Membuat mata sang kakak sudah bisa dipastikan, hampir keluar dari kelopaknya. Sementara lainnya diam menahan tawa.
Tepat pukul setengah 9 kereta Malioboro Ekspres meninggalkan stasiun. Suara gesekan roda dengan rel begitu nyaring di telinga. Membawa kelima anak manusia menapaki cerita baru dalam hidupnya.
Kursi kelas ekonomi yang mereka pilih membuat posisi berhadap-hadapan. Dua kursi untuk pasangan baru dan tiga kursi di depannya untuk Candra, Anara, dan Rati dengan posisi Rati di dekat jendela.
"Seru ya kak ternyata. Kira-kira kita sampai jam berapa?"
"Sore sekitar pukul setengah 4 mungkin, Rat."
"Rati, kak, Ra-ti!"
"Iya, iya. Lupa." Sahut Anara nyengir kuda.
Sepanjang perjalanan mereka lalui dengan saling bercerita. Bertegur sapa dengan penumpang lainnya dan juga saling ledek antara Bryan atau Candra. Dari sana diketahui bahwa Rati memilih kuliah di Jogja karena ingin belajar Bahasa Jawa. Alasan yang cukup nice.
"Laper deh. Ke restoran KA yuk!" Ujar Anara memegangi perutnya.
"Ada?" Tanya Candra antusias. Mungkin dia juga lapar.
"Ada." Seketika Candra menarik Anara bangkit untuk menuju restoran KA.
"Sebentar dong!" Tukas Anara cepat. Kekasihnya itu suka sekali grasak-grusuk, mengesalkan.
"Kita gantian ya? Atau mau nitip sekalian?" Tawar Anara pada yang lain.
"Nitip aja deh!" Ujar Rati.
__ADS_1
"Adanya bakso, mie, nasi pecel, sama nasi goreng." Jelas Anara.
"Bakso aja, Kak."
"Kalian?" Kini Anara menatap kepada Caroline dan Bryan bergantian.
"Kita gantian sama mereka aja ya?" Pinta Caroline yang diangguki Bryan.
Dalam hitungan detik. Candra sudah menarik Anara menuju lorong panjang menemukan reska. Sementara Rati memilih menikmati pemandangan di luar yang didominasi pohon-pohon serupa hutan.
"Yan. Anterin ke toilet yuk!" Pinta Caroline.
"Nggak enak ninggalin Rati di sini sendirian. Kamu sendirian nggak apa ya? Diujung gerbong ini."
"Pertama banget naik kereta. Temenin dong!"
"Nah dia juga pertama kali naik kereta." Telunjuk Bryan mengarah pada Rati yang masih fokus pada pemandangan di luar.
"Kamu ni sama pacar nggak ada peduli-pedulinya." Caroline pergi dengan kecewa.
"Udah susulin sono, Mas! Perempuan kalau marah bisa awet. Aku nggak apa kali di sini sendirian." Jelas Rati.
Akhirnya lelaki berbadan tegap itu menyusul kekasihnya. Haha, hatinya tertawa getir menyebut Caroline kekasih. Sudah sebulan mereka resmi jadian, tak pernah sekalipun Bryan menyentuh Caroline.
Lelaki dengan kaus pendek warna navy itu pun berdiri di depan pintu toilet. Berharap yang di dalam benar Caroline. Jika bukan, ia tinggal mengatakan sedang mengantre, beres.
Entah malaikat mana yang menuntunnya hingga menyusul kekasih yang sama sekali tak ada di hatinya itu. Beberapa menit menunggu. Akhirnya pintu toilet terbuka, menampakkan perempuan cantik dengan rambut dikucir ke atas memamerkan leher putihnya.
"Ngapain kamu?" Sergah Caroline.
"Nggak perlu. Aku bisa sendiri."
"Kamu marah?"
"Lagian kamu milih nemenin dia daripada nemenin aku."
"Ini aku udah temenin, Lin."
"Telat." Caroline hendak pergi tetapi tangannya ditahan oleh Bryan.
Itu adalah pegangan tangan Bryan untuk pertama kalinya. Ia tak ingin kekasih bohongannya itu marah hingga nampak tak suka kepada Rati. Ia hanya tak ingin membuat suasana kacau.
"Apa?" Ketus Caroline.
"Kamu ni kenapa sih? Udah ditemenin malah marah-marah." Bryan bingung.
"Kamu yang kenapa? Bingung aku sama kamu, Yan."
"Maksudnya?" Bryan makin terlihat dongo.
"Kamu sendiri yang nyatain rasa ke aku. Tapi, kayaknya kamu sama sekali nggak butuh aku tuh. Nggak ada romantis-romantisnya."
"Trus kamu maunya gimana, Lin?"
"Lihat Candra sama Anara. Mereka romantis, kelihatan banget kalau Candra sayang sama Anara ...."
"Kamu mau aku kayak Candra?" Potong Bryan.
__ADS_1
"Aku belum selesai. Aku nggak berharap kamu kayak gitu. Cukup hargai aku, Yan!" Pinta Caroline dengan suara bergetar.
"Aku bingung. Dulu pas awal deket, kamu hangat. Makin kesini makin dingin. Kenapa? Sudah pupus rasamu?" Mata Caroline berkaca-kaca.
Bukan pupus, tapi memang nggak ada. Astaga aku jadi pusing sendiri sekarang.
"Kenapa diem? Nggak bisa jawab kamu? Ha?" Caroline sudah muak dengan Bryan yang terlampau dingin padanya.
"Minggir!" Bryan masih tak bergeming.
"Minggir! Aku mau lewat."
Digesernya tubuh tegap Bryan dari hadapan Caroline. Perempuan itu pergi dengan perasaan campur aduk yang hanya bisa ditatap nanar oleh Bryan.
Apa aku keterlaluan?
Di tempat duduk, Anara dan Candra sudah kembali. Rati sedang menikmati bakso yang tadi ia request. Caroline duduk melempar pandangan ke luar. Hatinya terluka oleh sikap tak menentu kekasihnya.
Bodo amat kalau Bryan mau apa? Aku bener-bener nggak peduli. Hatiku terlalu sakit untuk menerima sikapnya yang tak menentu.
"Giliran kalian ke reska!" Titah Anara tapi tak ada respon dari pasangan di depannya.
"Woi! Buruan! Keburu pingsan ntar yang susah semua." Ucapan Candra membuat Anara mendaratkan cubitan di paha.
"Sakit, An." Mendapati ekspresi Bryan dan Caroline yang kurang enak, Anara memberi isyarat pada Candra untuk diam.
"Yuk!" Ajak Bryan. Namun, Caroline tak bergeming.
"Ayuuk! Nanti kamu sakit." Sambung Bryan.
Candra menahan tawa mendengar kalimat terakhir Bryan. Dari kapan ni kadal peduli banget sama kondisi orang lain? Eh tapi kan ini ceweknya. Wajar kali ya. Gue geli aja dengernya.
"Lin! Ayuk kita makan!" Tanpa menunggu anggukan, Bryan menarik tangan Caroline dan menuntunnya ke arah reska.
"Aku minta maaf!" Kalimat itu akhirnya terucap dari bibir Bryan ketika menunggu pesanan datang.
"Untuk apa?"
"Membuat kamu merasa tidak dihargai." Caroline terdiam.
"Lin! Maafin aku!" Bryan hanya tak ingin perempuan di depannya menangis seperti waktu di mal, yang akhirnya membuat mereka jadian tanpa disengaja itu.
"Aku akan bersikap lebih baik lagi."
"Kamu bahkan nggak pegang tanganku, Yan. Dimana letak kesungguhanmu?"
Astagaaa ni cewek bener-bener nguji mentalku ya.
Akhirnya ia meraih tangan kekasihnya itu dan merapalkan kalimat maaf berkali-kali. Senyum Caroline mengembang.
"Aku sayang kamu." Caroline menatap manik mata Bryan.
"Kita sedang di reska. Nggak enak mau bilang begitu-begituan." Balas Bryan menatap Caroline dan menggenggam jemari perempuan itu erat.
Entah bagaimana pun? Hatinya masih belum terbuka untuk Caroline. Dia hanya sedang melanjutkan kebohongan yang telah ia mulai.
...----------------...
__ADS_1