
"Bajingan lu!" Pekik Candra setelah teleponnya diangkat oleh Bryan.
Kenapa sih lu, Ndra?
"Pura-pura pikun? Maksud lu apa kirim-kirim surat ke Anara?"
Surat?
"Kenapa? Kaget karena gue tau? Nggak nyangka gue, ternyata selama ini lu naruh rasa ke cewek gue. Bener-bener brengsek lu!"
Candra! Gue --
"Nggak usah lu jelasin apa-apa! Gue muak, nyesel punya sahabat macem lu, Bryan."
"Jangan pernah berharap pula lu bakalan dapetin dia! Kubur mimpi lu dalam-dalam!" Pungkas Candra mematikan ponselnya.
Brakk
Kakinya menendang pintu kamar yang terbuka. Pikirannya begitu kacau, terlebih nomor Anara sudah tak bisa dihubungi.
Candra menyugar rambutnya kasar, meraup wajahnya sembari terus mengumpat kesal,
"Bajingan lu Bryaaaaan. Dasar brengsek!"
Candra menyambar kunci motornya, membanting pintu rumah, dan dengan tergesa melajukan motornya menuju kos Anara.
Sesampainya di depan kos dengan warna dinding putih itu, Candra melongok-longokkan kepalanya. Gerbang yang biasanya terbuka itu, tengah tertutup.
Pucuk dicinta ulam tiba. Netra Candra yang tengah menyapu seluruh sudut kos dan jalan di depannya, menemukan Anara di seberang sana, perempuan itu sedang berjalan menuju kos bersama sahabatnya, Hartik.
Melihat Candra yang berdiri di depan gerbang. Sontak membuat Anara memutar arah. Mempercepat langkahnya menjauh.
Hatinya masih dipenuhi amarah, sesal juga kecewa. Lelaki yang dicintainya tega bertindak brutal dan kasar.
Anara semakin mempercepat ayunan kakinya. Kantung plastik di tangannya berayun tak tahu rimba. Namun, sekuat apa pun Anara melangkah. Lelaki dengan jambang tipis itu sudah menyamai langkahnya. Keduanya berjalan beriringan.
"An!"
Anara terus melangkah. Tak diindahkan suara Candra yang memanggil namanya. Hatinya masih begitu tak terima dengan perlakuan Candra.
"An, aku pengen ngomong."
Sekali lagi suara itu tak Anara gubris. Gadis dengan rambut dikucir kuda itu semakin mempercepat langkah entah kemana?
"Anara, kamu berhenti atau ku bawa paksa?" Tanya Candra lirih, menghindari mereka jadj pusat perhatian di antara mahasiswa lain yang lalu-lalang.
Demi menghindari ucapan Candra terakhir berubah jadi kenyataan, Anara menghentikan langkahnya. Namun, netranya fokus ke bawah. Sandal teplek hitamnya mendadak begitu menarik fokusnya.
"Aku minta maaf," ucap Candra.
Sudah kuduga kamu bakal bilang ini, Ndra.
Namun, Anara masih terdiam. Sekali lagi, hatinya masih kecewa bercampur jijik pada Candra, juga jijik pada dirinya sendiri.
"An!"
"Jangan diam aja dong, An!"
Gadis itu akhirnya mengangkat wajahnya. Menatap lekat dan dalam pada Candra. Ia tahu betul ... Candra menyesal. Tapi hatinya sungguh tak ingin lagi memberi kesempatan, ia lelah.
__ADS_1
"Kita putus saja!"
Akhirnya kata pamungkas itu yang keluar dari bibir Anara. Kata yang sama sekali tak ingin Candra dengar. Tetapi bagai suara petir, jantungnya dibuat kaget oleh ucapan Anara.
"Aku ga mau."
"Aku juga gak mau kita bertahan. Untuk apa? Kamu hanya terobsesi dengan nikah, nikah, dan nikah. Bahkan kamu hampir menghalalkan cara paling haram sekali pun untuk membuatku menikah denganmu," tukas Anara.
"Apa karena Bryan?" Tanya Candra mengembus napas kasar.
Anara menggeleng, "jangan bawa-bawa Bryan! Ini masalah kita, tidak ada sangkut pautnya dengan dia."
"Kamu yakin menolakku bukan karena setelah membaca surat balasan itu?"
Astagaaa, dia baca surat itu ternyata.
"Kasih aku kesempatan lagi, An!"
"Bahkan ini kesempatan keduamu, Ndra. Tapi, kamu sia-siakan."
"Aku janji, akan nunggu kamu sampai siap," ucap Candra bersungguh-sungguh.
"Sudahlah, Ndra. Aku bosan dengan janji-janjimu."
"Aku janji nggak akan nekat lagi."
Anara menggelengkan kepalanya. Hatinya begitu kecewa dibuat Candra. Padahal belum lama, perasaan cintanya terbangun lagi untuk kekasihnya itu setelah insiden foto Anjani. Tapi rupanya lelaki itu tak memegang janjinya dengan baik.
"Kamu bahkan cemburu buta dengan Bryan."
"Gimana aku bisa diam? Dia menyukaimu."
"Kamu meragukan perasaanku?"
"Sekarang aku yang ragu sendiri pada hatiku, Ndra," tukas Anara dengan wajah datar.
"Maksudmu?"
"Kita putus!" Kalimat itu sekali lagi sampai ke telinga Candra.
Bagai sayatan tajam yang mencabik-cabik hatinya. Candra begitu mencintainya Anara, namun ulahnya kemarin membawa kisah indahnya dengan gadis itu berada di ujung tanduk.
"An!"
"Pulanglah Candra!"
"Omong kosong apa ini, An? Sesuai kataku, dua minggu lagi abah dan mama akan ke Kediri, melamarmu."
"Jangan konyol kamu, kita putus, Ndra. Putus."
"Nggak akan dan jangan harap!" Ucap Candra serius.
Candra berlalu setelah mengucapkan kata itu. Sementara Anara memutar kembali tubuhnya menuju ke kos. Menatapi punggung Candra yang sudah berjalan lebih dulu. Lelaki itu sungguh nekat.
Anara berjalan gontai setelah menutup pintu gerbang. Kepalanya benar-benar pening memikirkan setiap perkataan Candra.
"An!" Panggil Hartik dari ambang pintu.
Anara mendekat tanpa menyahut. Bibirnya masih terasa kelu.
__ADS_1
"Gimana?"
"Aku minta putus."
"Lalu?"
"Dia malah bilang dua minggu lagi orang tuanya akan datang melamar."
Keduanya memasuki pintu dan menaiki anak tangga dengan tak berminat.
"Aku nggak nyangka semua akan begini, Tik?"
"Padahal kamu tahu sendiri, gimana percaya diri Candra. Tetapi lelaki itu cemburu pada sahabatnya sendiri, Bryan. Dia kehilangan kepercayaandiri."
"Lalu, kenapa kamu minta putus, An?" Tanya Hartik membuka kertas minyak berisi makan siang.
"Aku nggak mau dia begitu lagi. Salah minta maaf, lalu diulangi. begitu terus, Tik."
"Kamu yakin bukan karena Bryan?" Tanya Hartik serius.
"Hartiiik?" Ucap Anara melirik tajam.
"Aku kenal kamu, mata kamu ga bisa bohong. Jika hanya karena Candra salah. Aku pikir kamu nggak akan minta putus," terang Hartik.
"Candra begitu sayang sama kamu. Mungkin ia hanya tak ingin kehilangan kamu, An," ujar Hartik menengahi.
"Tapi caranya salah. Setelah aku tolak halus keinginannya untuk ngajak nikah. Bersamaan dengan kecurigaan Candra kalau Bryan suka sama aku. Dia teruuuuus mbahas nikah, nikah, nikah."
"Perempuan mana yang tak ingin segera dipinang, An?"
"Tapi bukan dengan cara buka segel duluan, dong Tik?"
"Iya, trus gimana kalau dua minggu lagi orang tua Candra beneran ke sini?"
"Ya tinggal aku bilang ga mau, kan udah?"
Ya ampuuun Candra. Aku tuh sayang, tapi kenapa kamu tega banget sih? Emosianmu itu, bener-bener bikin aku kadang ga betah.
"Sebenarnya siapa yang sekarang mendominasi hatimu?"
"Apaan sih, Tik?"
"Candra ... atau Bryan?"
"Mereka berdua itu sahabat baik, ga mungkin aku rusak dengan hal remeh temeh begini," jelas Anara.
"Tapi, gimana kalau hubungan mereka memang sudah rusak, An."
"Entahlah, Tik. Aku bingung," Anara mengerdikkan bahunya.
Hufh ... Anara membuang napasnya kasar, hari ini kenapa berat sekali? Jika ditanya tentu dia masih sangat amat sayang dengan kekasihnya, mantan kekasihnya itu. Tapi, ... sikap emosian Candra membuatnua gerah lama-lama.
Bukan ga mungkin habis nikah jalan pikiranmu makin pendek.
"Tapi, kalau Abah Kayaat sama Mama Ira beneran ke Kediri gimana dong? Ya ampuun mereka baik banget, tapi anaknya bener-bener bikin naik pitam."
Kepala Anara berdentum memikirkan kemungkinan jika orang tua Candra benar-benar ke Jawa. Harus apa dia? Tega menolak?
"Semoga hanya gertakan," lirih Anara.
__ADS_1
"Tapi, kalau Candra beneran nekat? Ya ampuuuuuuun."
...----------------...