
Empat bulan berlalu, Intensitas pertemuan Candra dan Anara tak sesering biasanya. Candra mulai disibukkan urusan skripsi, aktivitas kampus lainnya pun sudah mulai berkurang, termasuk kesibukannya sebagai ketua BEM.
Candra bertekad untuk menyelesaikan studi semester ini. Menyusul Bryan yang skripsinya sudah menyentuh bab IV. Benar-benar seiya sekata dua sahabat karib itu, saling men-support agar tak menambah semester.
"Pengen cepet-cepet lulus gue. Kerja trus nikahin Anara." Celetuk Candra diiringi tawa renyah khasnya.
"Nikaaah mulu bahasan lu dari kemarin-kemarin." Timpal Bryan yang baru menyesap kopi.
Kali ini telinga Bryan hampir keriting mendengar cita-cita Candra untuk menikah. Pasalnya kata itu berulang-ulang keluar dari bibir sahabatnya. Seperti kalimat mantra yang membuat kobaran semangat sahabatnya membara.
Seperti lima hari yang lalu, setelah bab I Candra dipenuhi tanda cinta berwarna merah dari dosen pembimbing. Lelaki itu merevisi tulisannya sendiri tanpa keluh. Dua hari kemudian, ia lanjut ke bab II. Ingin rasanya Bryan berdiri memberi tepuk tangan, tapi niat itu diurungkan. Bisa-bisa Candra besar kepala.
"Gue udah pengeen serumah terus ama dia. Bangun keluarga kecil. Anak-anak yang menggemaskan, yang mukanya mirip gue semua. Hahaha ngayal parah nggak sih?"
Bryan hanya terdiam menanggapi celoteh Candra. Menurutnya, Candra sudah benar-benar gila pada Anara. Tapi, tidak juga. sahabatnya itu justru waras karena tak pernah sedikitpun berpikir untuk berpaling dari perempuannya. Berbeda dengan dirinya yang pusing mengakhiri hubungan tanpa status dengan gebetannya.
Sebrengsek itukah aku?
"Eh, Yan. By the way, gimana lu sama Caroline? Adem ayem aja kayaknya." Candra mengalihkan fokus dari laptop di depannya dan berganti menatap Bryan.
"Saking ademnya jadi anyep. Hambar."
"Ah, nggak kaget gue. Gila lu! Udah lu baperin tapi nggak lu tembak-tembak juga dia."
"Enakan gini kali, Ndra. Nggak pikiran."
"Dasar lu! Lagian si Caroline kenapa nggak pergi cari yang lain aja sih? Kasian juga lihat dia lu gantung." Candra kembali fokus pada skripsinya.
"Kalau gue punya alesan yang pas. Udah gue bikin tamat kali hubungan tanpa status ini." Ujar Bryan sambil menuju pantry.
"Beneran gila sahabat gue."
"Lu lebih gila, mau-maunya nampung orang gila." Keduanya tertawa.
Suara motor matic yang berhenti di garasi meredakan tawa dua sahabat di dalam. Perempuan berambut sebatas dada tengah melepas helm. Senyumnya merekah mendapati dua pasang mata menatap ke arahnya.
"Hai." Suaranya lembut menyapa.
"Kalian sibuk?" Lanjutnya.
"Enggaaaak." Sahut Candra dan Bryan kompak yang membuat Anara tertawa.
"Lu kan sibuk ngerjain skripsi." Ujar Bryan kepada Candra yang disambut sebuah dengusan.
Mata Anara menatap pada laptop di depan Candra. Ia mendekati tempat duduk pacarnya, seabrek buku berada di meja. Betul saja yang Bryan bilang, Candra sedang sibuk.
"Yaaah. Sayang banget dong." Raut wajah Anara terlihat kecewa.
"Aku juga sayaaaaang banget." Potong Candra.
"Ya ampun. Jijik gue ma lu, Ndra."
"Apaan sih? Pacar-pacar gue juga."
"Padahal mau minta anterin ke dinas sosial."
"Mau apa, An?" Tanya Bryan.
"Mau penelitian di sekitaran stasiun. Bahasa waria. Takutnya nggak pegang surat dari dinsos ntar ada razia ikut keciduk lagi." Jelas Anara.
"Tugas Pak Sarwo?" Anara mengangguki pertanyaan Bryan.
"Kenapa nggak di tempat lain aja sih?" Tanya Candra lalu menatap laptop.
"Udah kesepakatan kelompok, Ndra."
Lagi-lagi Candra mengangguk tanpa menatap pada Anara. Lelaki itu sedang fokus pada bab II skripsinya. Ada Anara di sampingnya membuat otaknya encer dan ide-ide bermunculan begitu saja.
"Candra!"
"Hmmm."
"Ck. Bisa anter nggak?"
__ADS_1
"Besok aja gimana sayang?" Kali ini netranya menatap perempuan di depannya.
"Huuuh. Gue masuk aja. Kalian membuatku gerah." Tukas Bryan yang akan berlalu.
"Bryan! Sebentar." Titah Anara menghentikan langkah Bryan.
"Eh. Biar aku dianter Bryan aja. Dia nggak sibuk kan?" Ujar Anara yang disambut pelototan Candra.
"Nggak."
"Ayolaaah! Katamu belajar nggak cemburuan. Buktiin. Ini penting banget loh." Sementara Bryan sudah tertawa.
"Jadi, lu juga cemburu sama gue? Astaga Candraa. Hahaha."
"Diem lu!"
"Lu takut Anara bakal terjerat sama pesona gue?" Tanya Bryan dengan gaya sok cool-nya.
"Dasar playboy kadal!"
"Setidak percaya diri itu ternyata elu?"
Ledekan Bryan yang terus-menerus membuat Candra jengkel, "biar aku yang anter!"
"Kan kamu lagi nulis. Ntar ditinggal jalan, idenya menguar lagi."
"Udah, An! Aku anter yuk!"
Bryan sudah masuk ke kamar dan keluar dengan memakai jaket levisnya. Langkahnya menuju ke garasi untuk mengambil motor.
"Aku pergi dulu sayang." Diciumnya sekilas pipi Candra dan bergegas keluar. Namun, tangannya ditahan oleh Candra.
"Kamu bahkan nggak minta izinku, Anara."
"Aku izin ke dinsos dulu ya pacarku! Ntar aku bawain es buah yang segeeeer banget. Biar ati dan pikiran adem." Candra mengangguk pasrah.
"Hati-hati selama jauh! Jangan macem-macem, selalu kasih kabar, jaga mata, jaga hati, dan jaga semua!" Tangannya menggenggam erat jemari Anara.
"Tapi kamu ke dinsosnya sama kadal. Bukan sembarangan playboy itu."
"Dia sahabat kamu loh. Kamu nggak percaya sama aku?"
"Aku percaya kamu, An. Tapi enggak sama Bryan."
Anara mengembuskan napasnya kasar. "Jadi, boleh apa enggak?" Raut wajah Anara yang berubah membuat Candra akhirnya melepas tangannya.
Anara menyusul Bryan di luar yang sudah siap di atas motor trail-nya. Dua sahabat karib serumah ini punya selera sama sampai motor pun sejenis. Hanya beda warna saja.
"Nggak, nggak. Pakai motorku aja!" Bryan mengernyit.
"Itu bikin pegel di badan." Sambung Anara.
"Baik, Nona." Bryan kembali memarkir motornya dan mengambil kunci dari tangan Anara.
Keduanya berlalu dari rumah setelah melambaikan tangan pada Candra yang masih berekspresi tak merelakan. Apa terlalu berlebihan kalau dia melarang Anara pergi selain dengannya? Kenapa perempuan itu tak memahami sorot matanya yang dibakar api cemburu?
Ah, anggap ini sebagai bukti kalau aku bukan tipe pacar cemburuan. Lagian tak akan Bryan aneh-aneh ke Anara. Dia sahabatku, meski brengsek, dia baik.
Candra berusaha menenangkan hatinya dan kembali duduk menghadap laptop. Tapi faktanya perginya Anara membuat dia tak mampu berpikir rasional lagi. Otak yang tadinya encer mendadak tumpul.
Ditutupnya laptop keluaran terbaru itu. Langkahnya menuju pantry dan membuka kulkas, mencari sesuatu yang dingin.
Motor matic Anara sudah dilajukan ke arah kantor dinas sosial oleh Bryan. Sepanjang jalan keduanya sama-sama membahas Pak Sarwo. Dosen tegas yang tak segan menyuruh mahasiswanya mengulang kalau tugas tak sempurna. Luar biasa membuat mahasiswa menderita.
"Pasti Pak Sarwo dan Bu Ratri itu satu geng." Ujar Bryan sesampainya di dinas sosial.
"Hahaha, Kok bisa?"
"Lihat aja mereka. Sifatnya sama! Killer." Bryan begidik ngeri yang membuat Anara tertawa.
Hampir satu jam menunggu. Akhirnya surat yang diidamkan mendarat di tangan. Senyum Anara menghiasi wajah cantiknya.
"Makasih ya, Yan." Ujar Anara sambil memasang helm.
__ADS_1
"Makasih doang?"
"Emang apa lagi?"
"Traktir aku makan!"
"Boleeeh. Tapi dimana?" Tanya Anara, Bryan nampak berpikir.
"Kamu suka pedes nggak?"
"Sukaa."
"Ya udah. Naik!"
Motor melaju menuju kawasan Mergosari, Lowokwaru. Anara merasa tak asing dengan jalanan yang dilalui. Ya iyalah kan lewat jalan depan gang kos, Aaan.
Setelah hampir 40 menit perjalanan. Mereka turun di depan sebuah warung sederhana. Kanan-kiri warung terlihat sepi tak seperti di sekitaran kampus, tapi warung ini nampak ramai dan dipastikan itu adalah mahasiswa.
"Udah pernah kesini?" Tanya Bryan, Anara menggeleng.
"Ini warung Mak Par. Favoritnya mahasiswa. Selain sambelnya enak harganya ramah di kantong. Jadi, kamu nggak perlu khawatir nraktir aku." Bryan menyunggingkan senyum.
"Kamu sedang ngremehin dompetku?"
"Iya." Anara mengernyit mendengar jawaban Bryan.
"Uang dari ortu, kan?" Anara mengangguk dan Bryan tersenyum simpul.
"Yuk! Kita antre." Ajak Bryan menarik Anara untuk masuk barisan antre.
Setelah berdesakan dengan pembeli lainnya. Akhirnya dua piring nasi porsi kuli, dengan lauk ayam dan tempe goreng tepung lengkap sambal bawang yang nggak pelit itu berhasil didapat. Keduanya duduk lesahan menikmati makan siang.
"Kamu sering kesini?" Tanya Anara.
"Kadang-kadang."
"Candra juga?" Bryan mengangguk sambil menyuap nasi ke mulutnya.
"Kok aku nggak pernah diajak dia ya?"
"Emangnya mau?"
"La menurutmu?" Mata Bryan menatap makanan Anara yang tinggal separo.
"Banyak juga ya makanmu!" Bryan terkekeh.
"Ilfeel?" Tanya Anara dengan raut tak suka.
"Enggaaaak."
Setelah mencuci tangan dan meneguk es jeruk hingga tandas. Anara bergegas membayar makanan. Sementara Bryan menunggui di belakangnya.
"Murah banget, Yan. Nggak sampai 30 ribu." Anara berseri-seri masih tak percaya.
"Di sini murah, An. Aku sering banget kesini. Selain porsinya banyak. Bisa berhemat karena murah. Uangnya bisa buat yang lain." Tutur Bryan melajukan motor.
Di tengah perjalanan, Anara menyuruh Bryan menghentikan laju motor. Ia berniat membeli es buah sesuai janjinya pada Candra tadi. Tiga bungkus es buah sudah ditenteng Anara. Kemudian berpindah pada cantolan di bagian depan motor.
Setelah pergi hampir empat jam. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Anara dan Bryan sudah muncul dengan wajah sumringahnya. Membuat Candra semakin kesal. Tapi, tak mungkin ia protes.
"Ini es buahnya." Candra mengambil kantong dari tangan Anara dengan segera.
"Kukira kalian lupa arah pulang. Kenapa lama sekali?"
"Makan siang dulu lah." Ujar Bryan santai, tetapi suara genderang perang bergemuruh di dada Candra.
"Makan? Kalian makan berdua?"
"Iya. Aku yang traktir dia. Kan udah anter aku." Jawab Anara.
Anaraaaaaaaa. Kamu dengan santainya makan. Sedang aku mati-matian berperang melawan hati yang terbakar. Lihat saja nanti! Kamu benar-benar harus diberi pelajaran.
...----------------...
__ADS_1