
Desa Junrejo pagi ini menyuguhkan hawa sejuk khas Kota Batu. Hartik dan Anara yang sudah rapi dengan jas almamaternya beranjak dari posko KKN menuju tempat proker. Ke Rejosari tujuan mereka pagi ini, menyambangi sentra pembuatan cobek.
"Janjian sama Pak Tohu jam berapa sih, An? Nggak kepagian ini?"
"Jam 7, Tik. Sebentar aja kata beliau. Kenapa?"
"Laper. Anak yang lain masih pada buat konsumsi, ini kita udah ngerjain proker." Gerutu Hartik merasakan asam lambungnya naik.
"Nggak apa-apa. Yang bantuin masak udah banyak." Balas Anara melajukan motor maticnya semakin cepat.
KKN tematik yang mereka laksanakan sudah tiga minggu berjalan. Salah satu proker kelompok adalah memajukan sentra kerajinan cobek sebagai destinasi wisata Desa Junrejo. Tentu memerlukan kerja sama dengan pihak Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) yang kebetulan diketuai oleh Pak Tohu.
"Berarti buat web nih kita?" Ujar Hartik seusai menutup pertemuan singkat dengan Pak Tohu.
"Blog ajalah! Web itu berbayar, Tik."
"Iya deh, ntar biar bagian itu diurus sama Si Bagus. Dia kan paling sat set tu urusan dunia maya." Anara mengangguk setuju.
Kembali keduanya menapaki jalan yang sama. Beruntung udara masih sejuk dengan cahaya dari raja siang yang masih sopan untuk kulit. Junrejo memang kurang ramah ketika siang. Terik bukan main, bahkan kini kulit Anara terlihat lebih gelap karena banyak menghabiskan waktu di lapangan.
Sesampainya di posko, sebuah mobil putih sudah terparkir di sana. Mobil yang tak asing bagi Anara dan Hartik. Bahkan kini juga tak asing bagi semua mahasiswa KKN.
"An, ada yang cari." Seorang perempuan bertubuh tambun memberi tahu Anara ketika perempuan itu baru saja turun dari motor.
"Iya, makasih ya." Balas Anara disertai senyum.
"Darimana?"
Candra sudah berdiri dari duduknya di atas karpet leseh yang di gelar sebagai tempat berkumpul mahasiswa KKN. Raut wajahnya datar, tidak menunjukkan kebahagian juga tidak menyiratkan amarah. Hanya terlihat cerah menanti perempuan yang ditunggu tiba.
"Ketemu ketua Pokdarwis."
"Sama siapa?"
"Hartik."
Mata Candra menatap pada sosok perempuan berhijab yang masih jauh di belakang Anara. Tak lama Hartik masuk pada ruang yang sama. Merasa ada sesuatu yang kurang nyaman, Hartik izin untuk enyah dari sana.
"Mas. Saya masuk dulu!" Hartik lenyap dari pandangan tanpa menanti persetujuan.
"Ada apa?"
"Pengen ketemu aja."
"Aku tuh nggak enak sama yang lain. Kamu sering banget kesini."
"Trus aku harus kemana? Perempuan yang aku rindui ada di sini."
Sudah terhitung enam kali ini Candra menyambangi Anara. Tentu, perempuan itu merasa geram. Kekasihnya itu sungguh tak mau mengerti posisinya.
"Kamu lo udah kesini enam kali, Ndra. Ini terakhir ya!"
"Kenapa sih?"
"Aku nggak enak sama yang lain."
"Pasti karena lelaki itu."
"Terserah kamu lah." Tukas Anara cepat.
Ia tak habis pikir kenapa bisa-bisanya Candra menaruh cemburu pada Bagus. Pacarnya itu sungguh menyebalkan. Terlebih di saat jauh seperti ini. Segala telepon dan pesan memenuhi ponsel Anara. Dengan pertanyaan klise macam sedang apa, dimana, sama siapa?
"Kamu nggak punya kesibukan?" Anara mendaratkan tubuhnya di karpet berwarna hijau.
"Ya ini kesibukanku. Nyamperin kamu." Anara memutar mata malas.
Seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan rambut gondrong masuk ke ruangan itu. Senyumnya ramah menyapa. Sementara Candra terlihat tak suka.
"Bagus."
"Iya?" Bagus menghentikan langkahnya untuk masuk ke ruangan dalam.
"Tadi aku sama Hartik udah ketemu Pak Tohu. Mereka butuh semacem blog buat promosi. Kamu buatin ya?" Jelas Anara.
"Bisa. Nanti aku buat dan desain. Kalau udah kamu cek ya!" Setelah Anara mengangguk. Lelaki gondrong itu berlalu.
"Sengaja?" Sergah Candra.
"Apa?"
"Kenapa harus ngobrol sama dia?"
"Ya ampun Candra. Dia itu satu kelompokku KKN. Ketua pula. Ya masa aku sama dia mau diem-dieman? Nggak mungkin kan? Kamu yang bener aja."
__ADS_1
"Terserahlah. Kamu tuh tiga minggu di sini udah berubah."
"Aku ini nggak berubah. Kamu aja yang terlalu takut."
"Kalau aku udah uring-uringan gini. Tandanya aku butuh pelukan."
Bukan hanya pelukan. Tapi juga ciuman, Anara.
Sesaat keduanya terdiam. Berusaha meredam gemuruh emosi di dalam sana. Merogohi diri agar tak terjadi pertengkaran yang hanya disebabkan kecemburuan tak masuk akal dari pihak lelaki.
"Udah sarapan?"
"Belum. Tadi berangkat pagi-pagi."
"Ya udah. Kita keluar sebentar. Cari sarapan." Ajak Candra.
"Aku sarapan di sini aja."
"Aku nggak nerima penolakan, An." Ujar Candra disambut suara napas kasar Anara.
Anara bangkit dan melenggang pergi. Menuju ke dalam rumah entah untuk apa. Tak lama ia muncul dengan sudah menanggalkan jas almamaternya. Dirinya hanya dibalut kaus lengan panjang warna hitam dan celana jins warna light blue.
"Darimana?"
"Izin sama ketua."
"Dia lagi, dia lagi."
"Jadi pergi nggak?"
"Iya, jadi dong." Senyum Candra mengembang suka cita.
Mobil yang dikendarai Candra dan Anara akhirnya berhenti di salah satu warung makan soto. Sesuai janjinya tadi. Candra mengajak Anara sarapan.
"KKN berapa lama?"
"Satu bulan aja."
"Syukur deh kurang satu minggu lagi." Tutur Candra mengaduk teh hangatnya dengan sedotan.
"Gimana jauh sama aku?"
"Pakai ditanya. Kangen lah."
"Hah? Mana bisa begitu?"
"Harus bisa!"
Dua mangkuk soto babat yang masih mengepul telah tersaji di depan keduanya. Aromanya menyeruak ingin segera Anara santap. Tapi, perempuan yang kini tone kulitnya agak gelap itu segera sadar kalau panasnya soto itu bisa melukai indra pengecapnya.
"Sabar! Masih panas." Pinta Candra menggenggam tangan Anara.
"Kangen banget kayaknya."
"Jangan mancing deeeh!"
"Sarapan dulu! Laper banget."
"Tapi setelah ini jalan ya!"
"Enggak. Tadi aku izin cuma sebentar." Tolak Anara tegas membuat Candra kecewa.
Setelah menyantap soto babat hingga tak tersisa. Candra masuk ke warung untuk membayar tagihan makan. Sementara Anara menunggui Candra di bangku yang terbuat dari bambu.
"Sudah?" Candra mengangguk.
Mobil putih milik Candra menuju jalan yang tadi mereka lewati. Rencananya melepas rindu dengan Anara gagal karena perempuan itu menolaknya. Candra pun sadar, Anara tak bisa seenaknya bertindak, ia sedang hidup di desa orang.
Menahan rindu itu berat, lebih berat dari menahan haus dan lapar. Jika kau tak makan atau minum sebentar mungkin akan pingsan. Tapi kalau rindumu tak bertemu pemiliknya, bisa uring-uringan bahkan mendadak jadi bajingan. 😄
"Lusa. Aku wisuda."
"Kok baru bilang?"
"Emang kita jarang ketemu. Makanya baru bilang."
"Lewat WA kan bisa."
"Bisa nggak bisa, lusa kamu harus datang. Nggak nerima alasan."
"Sabtu ya? Biasanya sih nggak ada agenda. Cuma evaluasi aja."
"Baguslah."
__ADS_1
"Mama, abah, sama Rati?"
"Dateng pasti. Besok pesawatnya."
Anara membulatkan bibirnya. Hatinya bersyukur lelaki di sampingnya akhirnya akan lulus. Batal dia punya pacar mahasiswa abadi. Hahaha. Alhamdulillah.
"Pagi, setelah subuh. Aku jemput kamu."
"Emang bisa bangun sepagi itu?"
"Wah kamu ngremehin aku." Tangan Candra menarik hidung Anara.
"Fokus bang! Lagi di jalan." Titah Anara.
Keduanya tertawa. Jalanan terlihat begitu sepi, mungkin karena tengah hari. Panasnya bukan main.
Pantas saja Anara jadi gosong. Panas gini.
"An."
"Hmmm."
"Aku kangen."
"Sama."
"Sama kamu lah."
"Maksudnya samaaa. Aku juga kangen."
"Ya udah jalan dulu yuk yuk!"
"Candra. Sabar!!! Seminggu lagi KKN selesai." Anara dengan nada tinggi.
"PMS ya?"
"Gak."
"Kok bisa segarang ini?"
"Kamu sih bawel banget."
Mobil menepi di bahu jalan. Kanan-kiri berjejer banyak pohon dengan hamparan sawah khas daerah Batu. Sebentar kemudian mesin dimatikan.
"Ngapain berhenti?" Selidik Anara.
"Dibilang aku kangen."
"Terus?"
"Menurutmu aku mau ngapain?"
"Mau minta jatah cium kan?" Tanya Anara.
"Gadis pintar." Tukas Candra memajukan tubuhnya. Namun secepat kilat Anara mengelak.
"Jalan lagi!"
"Kamu ya, An. Nggak ada kasihan-kasihannya sama aku." Gerutu Candra.
"Nanti."
"Kapan?"
"Habis wisuda."
"Beneran ya? Serius?"
"I-ya. Ayo jalan lagi!"
"Oke nona." Candra memajukan tubuhnya dan sebuah ciuman mendarat di pipi Anara.
"Beneran nggak sabar kamu ya."
"Kamu juga mau." Tutur Candra membuat perempuannya merona.
"Yuk. Anterin balik! Keburu dicari ketua."
"Baru juga adem. Kamu bahas dia lagi."
Candra menginjak pedal gas dalam dan melajukan mobil dengan cepat. Tentu membuat Anara semakin geram padanya.
"Candraaaaaaaaa. Pelan!"
__ADS_1
...----------------...