Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Bisa Gila


__ADS_3

Mobil Bryan sudah terparkir di halaman kos Anara. Lelaki bermata cokelat itu turun dan menunggu penghuni kos yang mungkin saja akan lewat karena ini adalah jam-jam biasa anak kos cari makan malam.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, tak menunggu lama dua perempuan keluar dari balik pintu. Bryan segera melangkah mendekati mereka.


"Permisi!"


"Ya, Mas?" Tanya seorang perempuan dengan kaus kuning.


"Mbaknya kenal Anara?"


"Hmm ... Anara yang anak Sastra bukan?" Kali ini suara yang pakai jaket hitam.


"Iya, Mbak. Bisa minta tolong nggak mbak?"


"Apa, Mas?"


"Panggilin dia, bilang aja kalau ada yang nungguin di sini!" Keduanya mengangguk.


Setelah mengucap terima kasih. Bryan masuk ke dalam mobil menunggu pacar sahabatnya itu muncul. Pintu terlihat terbuka, tetapi yang keluar dua perempuan tadi.


Sekitar 10 menit kemudian pintu kembali terbuka, kali ini yang muncul benar-benar Anara. Dengan celana kain ⅞ dan kaus polos warna maroon, perempuan itu berjalan ke arah mobil dengan wajah tak bisa diterka.


Anara mengernyitkan dahinya, "Siapa? Bukan mobil Candra."


"An!" Sapa Bryan membuka kaca mobilnya.


"Bryan. Ya ampuuuun apa lagi?" Gumam Anara.


Pria dengan penampilan rapi itupun keluar dari mobil hitamnya. Menyambut Anara yang memasang wajah heran melihat kedatangannya yang tiba-tiba.


"Ngapain?"


"Ya ampun. Ketus banget. Tanya kek kapan aku sampek Malang! Atau kenapa aku ke sini?"


"Udah tau tanpa perlu aku nanya."


"Emang apa?"


"Candra kan?" Bryan mengangguk.


"Nurut banget." Lirih Anara.


"Apa, An?"


"Nggak."


Ampuuuun. Cuek banget. Siapa yang salah? Semua diperlakukan sama. Dasar wanita.


"Aku nggak dipersilakan masuk?"


"Nggak."


"Astaga, An. Tega banget. Haus loh aku."


"Hei, siapa yang lebih tega?"


"Ha?" Bryan melongo bingung.


"Haheho, haheho. Kamu tau kan tentang Anjani?" Bryan mengangguki pertanyaan Anara.


"Kenapa kamu tuh nggak cerita, Bryan? Tega banget." Lirih Anara.


"Emm ... itu bukan hakku, An."


"Trus melihatku kayak keledai dungu begitu ... hakmu?"


"Bukan gitu, An." Bryan memijat keningnya.


"Kalian tuh luar biasa dalam bermain drama. Mengesalkaaaaan." Pekik Anara.


Tapi entah kenapa kekesalah Anara terasa lucu dalam penglihatan dan pendengaran Bryan.


"An ... jangan kenceng-kenceng dong!"


"Kenapa?"


"Malu. Dikira aku yang jadi penyebabnya."


"Emang iya kan? Kamu salah satunya. Bener-bener konspirasi kejam."


"Kalian patut dianugerahi piala dengan nomine pemain peran kejam tersukses." Imbuh Anara dengan wajah berangnya.

__ADS_1


Sementara tawa Bryan meledak membahana. Membuat Anara bingung dibuatnya. Apa yang lucu?


"Kamu ketawa?"


"Kamu kok bisa lucu sih pas marah gini?"


"Sumpah kamu, Yan. Membuatku ingin makan orang." Anara membelalak.


"Ikut aku, An!" Bryan menarik lengan Anara.


"Kemana? Kalau ketemu Candra aku males."


"Bukan. Janji." Ujar Bryan serius.


Anara pun mengikuti arahan Bryan. Kini perempuan itu sudah duduk di jok sebelah kemudi. Mengikuti kemana mobil Bryan melaju.


"Kemana?"


"Asal nggak ketemu Candra, kan?" Tanya balik Bryan.


"Hmmm."


Mobil terus menuju ke arah Batu. Udara semakin terasa dingin memeluk tubuh. Anara menggosok pelan telapak tangannya.


"Tutup aja kacanya, An!" Seru Bryan melihat gerak-gerik Anara.


"Kamu nggak bilang kita ke Batu. Tau gitu aku bisa ambil jaket dulu kan tadi." Gerutu Anara merasakan kulit wajahnya semakin dingin.


"Kalau aku biarin kamu ambil jaket, bisa-bisa malah nggak keluar lagi. Sia-sia dong kedatanganku ke Malang." Balas Bryan menatap ke depan.


"Curigaan banget."


"Di belakang ada jaketku. Pakai aja!"


"Nggak ah."


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa." Jawab Anara datar.


Sekitar setengah jam perjalanan. Mobil berhenti di Alun Alun Batu. Bryan turun lebih dulu dan membuka pintu sebelah. Anara mengedarkan pandangan ke tempat yang terlihat ramai ini.


"Mau bicara."


"Di kos kan bisa."


"Biar lebih santai aja. Lagi pula aku kangen ketannya." Tutur Bryan mengalungkan jaket bomber hitam ke tubuh Anara.


"Yan?"


"Pakai aja. Kasihan kamu ... kedinginan." Tutur Bryan diakhiri senyum simpul.


"Oke. Makasih."


Keduanya berjalan beriringin sekedar bertanya kabar dan kesibukan masing-masing. Mencari tempat duduk yang masih kosong terlebih dahulu. Kemudian Bryan memesan ketan keju susu di bagian kasir.


"Kamu suka ketan kan?" Anara hanya mengangguk.


"An!"


"Hmm."


"Tentang Candra."


"Aku males bahas itu."


Astaga. Ya sudah ... sambil makan nanti mungkin.


Menunggu lama akhirnya dua piring kecil mendarat di meja mereka bersamaan dengan minumannya. Suara Anara pun kembali terdengar setelah keduanya saling diam lama.


"Hmmm. Enak kayaknya. Pas dimakan dingin-dingin gini." Celetuk Anara dilanjutkan menyuap ketan ke dalam mulutnya.


"Iya, enak." Balas Bryan datar. Otaknya sedang sibuk merancang kalimat pertama untuk membahas Candra.


Ah ... merepotkan sekali.


"An! Biasanya kamu sama Candra kalau jalan kemana?"


"Hmm nggak ada tempat khusus sih. Paling ya makan, ke pantai mungkin. Itu itu aja."


"Tapi bahagia kan meski itu itu aja?"

__ADS_1


"Bahagia lah."


"Mancing banget sih, Yan." Ujar Anara lagi.


"Dia tuh beneran cinta lo, An sama kamu."


"Tau dari mana?"


"Kamu lupa aku sahabatnya? Awalnya memang mungkin iya, karena kamu mirip dengan mendiang Anjani. Candra seperti menemukan separuh jiwanya kembali. Tapi ... seiring waktu, dia sadar kalau cintanya ke kamu, bukan lagi ke Anjani."


"Kamu masih inget pas kamu ke Jogja di antar Candra ke terminal."


"Hmmm."


"Dia masih merasa belum siap ke sana. Karena di sanalah Anjani merenggut nyawa."


"Hmmm."


"Mungkin kamu ngerasa ucapanku ini hanya sebatas bualan agar kamu yakin ke Candra. Tapi, An ... percayalah! Dia lelaki baik yang berusaha berubah, berusaha move on demi kamu."


"Dia bahkan menunda semua kepentingannya jika ada hal yang berkaitan denganmu."


Sekelebat teringat Anara akan momen sarapan pagi dengan Candra di kampus. Tepat ketika lelaki itu sibuk mempersiapkan acara Pemilwa. Benar yang Bryan bilang. Candra hampir tak pernah menolak keinginannya.


"Kamu cinta kan sama dia?"


"Aku benci dibohongi, Yan."


"Dia bukan bohong, An. Dia hanya belum jujur."


"Tapi ... dia bilang jika saja aku nggak nemu foto itu. Dia nggak akan cerita."


"Trus kenapa kalau dia nggak cerita. Kamu juga nggak akan tahu kan? Apa masalahnya?"


"Kalian sama saja." Desis Anara.


"Enggak, kita beda. Bahkan aku lebih pecundang dari Candra. Udah bagus loh, An ... Candra mau cerita yang sebenarnya."


"Iya, karena terpaksa."


"Ya ampuuun. Jangan sampai kamu nyesel!"


"Nyesel kenapa? Dia harusnya nyesel."


"Dia udah minta maaf, Anara. Tinggal nunggu maaf dari kamu ini."


"Tapi aku perlu waktu, Yan."


"Hmmm. Oke. Pesanku cuma satu ... jangan sampai besar egomu mengalahkan cinta."


"Iya. Makasih masukannya." Anara kembali memakan ketannya yang sudah dingin. Rasanya jadi tawar seperti hatinya.


...----------------...


"Gimana, Yan?" Tanya Candra ketika Bryan sampai.


"Lu kudu ekstra menangin hatinya."


Candra mengusap wajahnya kasar. Dia menyadari maksud ucapan Bryan. Menyesal pun kini tak ada guna, yang harus Candra lakukan adalah memikirkan bagaimana mendapat maaf Anara.


"Gue harus gimana, Yan?"


"Huh ... gue juga bingung. Lu yakinin lagi lah! Cuma itu cara satu-satunya."


"Ajakin ketemu!" Tambah Bryan.


"Bunga? Coklat?"


"Haha ... lu coba deh! Meski kayaknya dia bukan tipe begitu."


"Aaah. Gue ajakin ke Jogja?" Tanya Candra dengan wajah polos nan bodohnya.


"Makin konyol aje lu. Mana mau? Dia ketemu lu aja mungkin masih eneg. Segala lu ajakin bepergian. Mual muntah dia."


"Makin patah hati gue denger omongan lu."


"Sabar! Cinta butuh diperjuangkan." Pungkas Bryan menepuk bahu Candra dan masuk ke dalam kamar.


"Anaraaa ... aku bisa gila."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2