
"Punya siapa?" Tanya Anara mengangkat benda kecil di tangannya.
Candra terkesiap melihat benda kecil di tangan Anara, hatinya berdebar menilik benda itu.
"Di mana nemunya?" Tanya Candra.
"Di kamarmu, baru aja."
"Owh, milik Rati mungkin."
"Rati kapan ke sini?" Tanya Anara masih penasaran.
"Lama sih ga ke sini, ya pas dulu aku wisuda itu. Tapi siapa tahu ketlisut."
"Pas wisuda bukannya Rati tidur hotel?" Cecar Anara.
"Ya ampuuun, punyamu mungkin, An. Kamu lupa. Siapa lagi coba yang punya ikat rambut begituan kalau bukan kamu atau Rati. Mana ada lagi, orang lain masuk kamarku."
Anara masih terdiam mencoba menerima penjelasan kekasihnya. Barangkali dirinya yang terlalu curiga.
"Atau mungkin punya Bryan. Waktu rambutnya masih gondrong," tambah Candra dengan ekspresi datar.
"Selama itu kamarmu ga disapu?" Sungut Anara mendengar kalimat barusan.
"Ya udah, masalah iket rambut begitu doang jadi panjang. Jangan curigaan kamu!" Seru Candra menyesap tehnya.
Anara menganggukkan kepalanya. Kemudian berpindah ke sisi Candra. Kebaya brokat warna maroon beserta kain batik parang itu akhirnya sudah masuk ke dalam paper bag dan siap digunakan ketika acara pertunangan nanti.
"Anterin pulang yuk!"
"Masih sore ini, habis magrib deh," balas Candra meletakkan tangannya ke atas paha Anara.
"Candraaa, aku capek. Harus istirahat."
"Kamu tidur di sini aja!" Pinta lelaki itu.
"Gak," balas Anara cepat.
"Aku gak akan aneh-aneh. Kamu tidur di kamarku, biar aku di kamar sebelah."
Anara memicingkan netranya. Mengamati raut wajah Candra dengan seksama.
"Kenapa?" Tanya lelaki itu.
"Kamu beneeeer mau tidur di kamarnya Bryan?"
"Kamarkuuu. Ga ada lagi kamar playboy itu, jangan mancing-mancing kamu, An!" Sahut Candra dengan nada meninggi.
Hatinya masih kesal pada sahabatnya yang tidak tahu diri itu. Bisa-bisanya memendam rasa pada kekasihnya. Bryan benar-benar kurang ajar.
Tapi, Candra boleh sedikit lega. Sebentar lagi Anara akan jadi tunangannya. Itu artinya dia yang akan jadi pemenang. Lagi pula, tak akan ada kesempatan untuk perasaan Bryan dan Anara mendapat porsi.
"Iya iya. Kamu yakin tidur kamar sebelah?" Tanya Anara lagi.
"Kamu mau kita tidur satu kamar? Kalau mau ya aku ogah tidur kamar sebelah."
"Ga ah. Ntar aneh-aneh lagi."
"Gak akan. Janji deh," balas Candra mengangkat dua jarinya.
__ADS_1
"Ya udah. Tapi-"
"Apa lagi, sayang?"
"Ga pake aneh-aneh!"
"Jadi kita tidur satu kamar?"
"Kamu tidur sebelah tetep. Aku tidur kamar kamu."
Candra mengangguk mengiyakan.
Mereka menghabiskan sisa sore dengan saling bercengkerama, mengobrol, dan seperti kata Candra tadi, menghangatkan hubungan yang hambar. Agaknya kehangatan mulai timbul lagi menyelimuti hati keduanya. Ternyata, mereka hanya butuh waktu. Itu saja.
Setelah rampung membersihkan diri. Anara keluar dari kamar mandi dengan kaus hitam milik Candra yang kebesaran. Bawahannya perempuan itu hanya mengenakan boxer Candra yang pada karet pinggangnya terdapat tulisan merk.
Candra bilang boxer itu baru. Entah baru beli atau baru cuci Anara tak tanya detailnya. Paling penting, dia mengganti pakaiannya dan nyaman.
"An, kamu membangunkan naluriku sebagai lelaki."
Melihat Candra yang mendekat, Anara menarik mundur dirinya. Tetapi, lelaki itu menarik tubuh Anara dan memeluknya, memagut bibir dingin Anara berkat air mandi barusan. Satu tangannya meremas bokong Anara.
"Kamu menggodaku, An."
"Ga mau tahu. Tidur sebelah pokoknya!"
Candra mengangguk pasrah, rambutnya disugar dengan kecewa.
"Kita delivery order ya?" Tanya Candra yang disetujui Anara.
Malam semakin larut. Setelah menghabiskan makan malam mereka. Keduanya kembali hanyut dalam obrolan-obrolan ringan yang memantik ingatan manis tentang hubungan mereka. Cerita dari bibir Candra mengantar Anara dalam pangkuannya tertidur pulas di sofa.
Candra membelai lembut rambut kekasihnya. Perempuan yang dalam waktu dekat akan jadi tunangannya, dan Candra akan bertekad menjadikan istrinya tepat setelah Anara lulus sidang. Itu tak akam lama lagi, mengingat Anara hampir merampungkan skripsinya.
Sebentar lagi, An. Kamu akan utuh kumiliki.
Pandangan Candra kembali pada benda kecil yang ditemukan oleh Anara di kamar tadi. Benda yang Candra ingat betul siapa pemiliknya? Hati Candra merutuki benda itu, pemiliknya, juga dirinya.
Hatinya terasa remuk mengenang malam singkat beberapa hari lalu. Dirinya kacau setelah perempuan yang kini tidur berbantal pahanya minta mengakhiri hubungan mereka. Candra begitu rapuh jika menyangkut Anara. Ya, begitu berlebihannya dia membangun istana rasa.
Malam di mana ia memutuskan pergi ke club malam. Melepas penat, stres, juga beban di pundaknya. Entah berapa botol yang ia minum malam itu? Yang jelas ia sampai tak dapat mengontrol diri.
Pertemuan tak sengajanya dengan seorang gadis yang tak asing baginya. Gadis yang bukan hanya sekali dua kali mengunjungi tempat dengan musik berdentum keras itu, 'melampiaskan rasa' begitu ucap gadis yang hanya minum beberapa gelas malam itu.
Merasa memiliki nasib serupa. Keduanya larut dalam obrolan yang makin ngalor ngidul. Hingga obrolan apa setelahnya? Candra tak lagi dapat mengingat semuanya. Kepalanya sakit jika dipaksa.
Yang tersisa di ingatan Candra. Esok paginya, dia mendapati dirinya sudah berada di kamar rumah. Dengan selimut tebal yang hangat menyelimuti tubuh polosnya.
Betapa terkesiap mata Candra. Tubuhnya benar-benar polos tak menyisakan satu helai pakaian pun. Dia benar-benar melakukannya semalam.
Yang dia ingat, semalam ia menggagahi Anara. Perempuan itu meronta, tetapi Candra berhasil memasuki perempuan itu dan sama-sama terkulai lemas setelah Candra meneriakkan nama Anara tepat setelah pelepasan pertamanya.
Namun, pagi ini. Candra tak menemukan Anara di sampingnya. Juga tak menemukan siapa-siapa. Hanya baju berserakan di lantai yang menyapa paginya.
Candra berusaha memijat kepalanya yang sedikit sakit karena mengingat kejadian semalam. Namun, kepalanya terasa pening dipaksakan.
Matanya bergulir pada ponsel miliknya di atas nakas. Tak ada ketertarikan dengan benda pipih itu. Candra memutuskan memakai pakaiannya kembali dan keluar rumah.
Mobilnya sudah terparkir di luar pagar. Semakin membuat Candra bertanya-tanya siapa yang membawanya pulang? Ia ingat betul, ia sedang berada di club semalam. Tetapi, Anara di mana?
__ADS_1
Seharusnya perempuannya itu tengah meringkuk di sampingnya tadi. Tapi perempuan itu tak ada. Kembali Candra melangkah cepat menuju kamar. Meraih benda pipih dari atas nakas.
+62816158*****
Candra. Aku benar-benar membencimu.
Mata Candra menemukan satu pesan baru di WA miliknya. Entah siapa pengirimnya? Nomor itu belum ada dalam kontaknya.
Beralih dari pesan itu. Candra menghubungi Anara. Namun, nomornya masih diblokir oleh perempuan itu.
Kepala Candra hampir pecah memikirkan kejadian apa yang dilewatkannya semalam? Yang dia ingat, perempuan terakhir yang ditemuinya di club semalam adalah Caroline, ya ... mantan Bryan itu.
"Ga mungkin, ga mungkin. Semalam Anara lah yang berada di bawahku," gumam Candra menampik kemungkinan lain.
Tapi, bukankah Anara ga bisa nyetir?
Sial! Siapa sebenarnya yang mengantarku pulang?
Tangannya bergegas membalas pesan WA dari nomor barusan.
Siapa kamu?
Lama. Candra menunggu balasan WA itu hampir dua jam lamanya. Dia harap ada titik terang dari sana. Dan benar saja ...
+62816158*****
Caroline
Tangan Candra sigap membalas pesan singkat itu, bibirnya tak henti merapal harap semoga ketakutannya tidaklah nyata.
Apa maksudmu?
+62816158*****
Kamu ga ingat mendorong dan menggagahiku? Lalu menyebut-nyebut nama kekasihmu?
Jantung Candra bagai dihujam pedang paling tajam di dunia.
Ga mungkin, ga mungkiiin! Pekik Candra pagi itu.
Air mata Candra mulai menitik mengingat hari paling memuakkan sepanjang hidupnya. Hari paling buruk selama hidupnya. Hari yang ingin Candra ulangi dan rubah semua jika bisa.
Tak Candra sadari. Anara perlahan membuka mata pelan merasakan wajahnya hangat oleh tetes air mata dari Candra. Perempuan itu bangkit dan duduk. Terlihat Candra menyeka netranya.
"Kenapa?" Tanya Anara.
"Aku ketiduran," ucap Anara lagi, wajahnya masih sedikit celingukan.
Candra menggeleng, "Gak papa. Aku cuma terharu dengan kisah kita."
Candra menarik Anara dan memeluk perempuan itu erat, bahkan seperti tak ingin melepas.
Kita akan segera menikah setelah kamu sidang! Aku akan membawamu pulang ke Balikpapan.
"Aku sayang sama kamu, An."
"Aku juga, Candra," balas Anara mengeratkan pelukan. Hatinya menghangat kembali.
...----------------...
__ADS_1