
"Kok ke sini?" Tanya Anara dengan wajah bingung.
"Iya, aku masih pengen ngobrol sama kamu, ga papa kan?" Tanya Candra meletakkan tangannya di pucuk kepala Anara. Kemudian menyungging senyum teduhnya.
Anara mengangguk tanda setuju. Kemudian keduanya sudah beralih ke dalam ruang tamu rumah Candra. Agaknya rumah itu sudah lebih bersih dan rapi dari sebelum-sebelumnya. Mungkin karena orang tuanya akan datang.
"Abah sama mama Ira berangkat kapan?" Tanya Anara masih sambil menyapu sudut ruang. Rumah itu memang bersih.
"Besok, penerbangan setelah zuhur."
"Hmm, lebih bersih. Rapi lagi, kamu sendiri?" Tanya Anara tanpa melepas tatapannya dari segala sudut ruang.
"Owh, rumah? Aku panggil tukang kemarin."
"Kamu izin cuti beberapa hari ke depan?" Kali ini perempuan itu menatap calon tunangannya.
"Iya. Tapi, rencananya setelah kita tunangan. Aku mau resign."
"Resign?"
Candra mengangguk yakin, "aku mau coba buka usaha kafe di Kalimantan. Lumayan, di sana masih jarang kafe-kafe kayak di Malang ini."
Anara masih mengernyitkan keningnya, ia terkejut tapi sedikit lega. Setidaknya lelaki itu tak akan mendatanginya setiap hari. LDR barang sebentar tak akan apa.
"Ke Balikpapan?"
"Iya. Aku rasa pekerjaan di sini terlalu berat, bukan masalah tekanan atau rekan kerja. Setiap hari harus wara-wiri di jalanan. Kayaknya aku bener-bener ga ada bakat untuk kerja di media," terang Candra mendudukkan diri di sebelah Anara.
"Kerja kok nunggu bakat, emang buka usaha itu bakat?" Sahut Anara lirih.
"Setidaknya kan lebih santai, ga terlalu kaku."
"Kita LDR-an?"
"Sementara, gak lama lagi kamu lulus juga."
Terdengar suara napas Anara diembus kuat, membuat Candra memicingkan netranya.
"Kamu ga suka?"
"Menurutmu?" Tanya Anara balik.
"Aku akan sering berkunjung!"
"Jangan! Kamu cari uang yang banyak! Biaya nikah mahal kan?" Balas Anara mengembangkan senyum yang dipaksakan.
Mendengar kalimat Anara barusan, Candra malah mengusak rambut perempuannya.
"Jadi kamu suka kita LDR-an?"
__ADS_1
"Bukan masalah suka apa enggak. Setidaknya kita sama-sama punya ruang untuk saling bergerak. Saling bisa merasa, sebenarnya kita masih saling butuh apa enggak," terang Anara.
"Kalau hubungan cuma diisi ketemu, makan, berduaan. Lama-lama hambar juga," imbuh Anara.
"Gitu?"
Anara mengangguki pertanyaan Candra. Memang begitu yang dirasakannya. Bahasan keduanya akhir-akhir ini melulu soal nikah. Seperti tak ada hal menarik lainnya di dunia ini.
"Oh, ya. Aku ada sesuatu," ucap Candra kemudian bangkit menuju kamar.
Mata Anara malah tertuju ke kamar sebelah yang tertutup. Penghuninya entah sedang apa di jauh sana? Yang jelas ... lelaki itu tak akan datang di acara sakral lusa. Candra sangat membencinya.
"Kebaya?" Tanya Anara kaget ketika Candra keluar kamar dengan menenteng kebaya brokat warna maroon berbentuk peplum yang digantung di sebuah gantungan baju.
Pada bagian leher kebaya itu, menyampir kain batik yang dipastikan itu bawahannya. Warnanya putih dengan motif parang.
"Aku beli buat acara kita," jawab Candra.
"Jadi ngajakin ke sini tadi mau lihatin ini?"
Lelaki yang sudah duduk itu mengangguk, "sekalian mau hangatin hubungan kita yang lama dingin."
Posisi mereka tak dipisah jarak. Dekat dan seperti biasa. Padahal hati keduanya sedang berkemelut.
Mata elang Candra menatap ke arah Anara. Tajam dan mengantarkan sorot keseriusan. Tatapan yang pernah menyelamatkan Anara dari kubangan luka beberapa tahun silam. Tapi, tatapan itu pula yang membawa perasaan Anara di ambang tak kepastian.
Sibuk dengan pikirannya, tak disadari Candra sudah semakin menghapus jarak mereka. Wajah lelaki itu begitu dekat, bahkan sapuan napas Candra terasa menerpa setiap inchi wajah Anara.
"Muat gak ya ini di aku?" Tanya Anara meraih setelan kebaya yang teronggok di meja.
Candra mengembus napas kecewanya. Anara masih menghindar darinya. Lalu apa arti perempuan itu menerima tawaran tunangan darinya?
"Kamu coba!" Seru Candra menunjuk kamarnya.
Sejurus kemudian perempuan itu beringsut dari duduknya menuju kamar Candra. Menutup pintu dan terduduk lesu. Menata hatinya, memastikan perasaannya bahwa ia tak sedang bermain-main belaka.
Ya Tuhan! Kenapa berat?
Netranya bergulir pada kebaya maroon yang diletakkan begitu saja di ranjang. Menatap nanar pada onggokan kain itu. Seperhatian itu lelaki di luar padanya. Namun, hatinya menyoal entah apa?
Candraaa. Yakinkan hatiku, sekali lagi!
Klek ...
Pintu yang tak dikunci itu terbuka. Candra masuk dan mendapati Anara dengan wajah tak dapat diterka. Seharusnya perempuannya itu sumringah karena tiga hari lagi mereka akan jadi pasangan tunangan.
"Kenapa?" Tanya Candra meraih tangan Anara yang masih termangu.
"Candraa, aku mau ngomong."
__ADS_1
Candra mengambil posisi berdiri dengan tumpuan kedua lututnya di hadapan Anara. Lelaki itu seolah tau apa yang akan diutarakan perempuan di depannya. Hatinya bimbang dan goyah tak percaya diri.
"Apa, An?" Tanya Candra dengan lembut. Tangannya menggenggam jemari perempuannya.
"Maafin aku, Ndra!"
"Maaf?"
"Aku belum sepenuhnya yakin, bahkan hatiku tak lagi sempurna untuk membalasmu," terang Anara.
"Karena Bryan?"
"Entah," balas Anara cepat.
Iya, Candra. Bayangannya menghantui. Bahkan aku sudah coba tepis. Tapi, kenyataan ini menyakitkan. Senyum teduhnya hadir semakin menjadi-jadi beberapa waktu ini.
"Bryan?" Tanya lelaki itu lagi.
"Aku ga tau, Ndraaaa."
Pundak Anara mulai bergetar. Dadanya naik turun berusaha menormalkan jantungnya. Matanya berkaca-kaca.
"Aron Bryan?" Tanya Candra sekali lagi.
Mendengar nama itu. Perasaan Anara tak lagi dapat dibohongi. Bayangan lelaki itu dengan sial menghampiri akalnya lagi.
Air mata yang ditampung kelopak matanya sudah menuruni pipi seiring sakit dan sesalnya.
"Maaf, Ndraaaaa!" Isak Anara memeluk Candra.
Hatinya merasa bersalah. Dia berpaling dari kekasih yang selama ini selalu ada. Menghunjam pedang tepat di dada Candra. Tapi, melukai perasaannya sendiri.
"Aku yang salah," balas Candra merengkuh tubuh perempuannya lebih erat.
"Aku yang memberi celah bagi dia."
"Perasaannya semakin besar dari hari ke hari. Tapi aku, tak menghentikan itu," ucap Candra menciumi pucuk kepala Anara.
Perempuan dalam dekapannya itu semakin terisak. Tangisnya benar-benar pecah mendengar respons Candra. Betapa Anara merasa menjadi perempuan paling kejam saat ini?
"Harusnya aku peka dan sadar kenapa Bryan begitu tak bisa menjalin hubungan dengan perempuan lain. Ternyata, alasannya adalah kamu."
"Ma-af, Candraa! Buat aku yakin! Buat aku kembali yakin kamu satu-satunya!" Pinta Anara dengan suara lirih.
Karena aku tau, aku dengan Bryan adalah kemustahilan yang tak perlu disemogakan. Biarlah dia jadi masa lalu yang tak pernah mendapat kisahnya.
"Aku akan membuatmu yakin, An! Bahkan jika itu hanya dari sisiku seorang."
Dada Anara semakin sesak mendengar ucapan Candra. Dia benar-benar melukai kekasihnya.
__ADS_1
...----------------...