
Jumat pagi, Anara sudah bersiap dengan kemeja berwarna hijau tosca dengan celana bahan warna nude serta sneakers putih menutupi kakinya. Rambutnya ia biarkan tergerai menari seiring angin menyapa.
Sepeda motornya menuju ke arah fakultas. Menemui Pak Sarwo yang akan menjadi pembimbing skripsinya. Anara sedang duduk di bangku besi di depan ruang dosen. Masih setengah jam lagi waktu konsultasinya.
Sepulangnya dari Jogja empat hari lalu, Anara sibuk menuliskan rancangan bab satu hingga tiga. Ternyata benar kata senior-senior terdahulunya. Skripsi akan ada selama niat dan tekad diri sendiri juga ada.
"Selamat pagi, Pak." Sapa Anara kepada dosen dengan rambut hampir memutih sempurna itu.
"Pagi, pagi. Duduk dulu!" Terlihat dosen killer itu masih menekuni beberapa dokumen.
"Bab satu sudah ada?"
"Masih rancangan bab, Pak." Jawab Anara sembari menyerahkan map berisi dokumen hasil memeras otaknya.
Terlihat Pak Sarwo membolak-balik tiga lembar dokumen milik Anara. Sesekali mengangguk seolah mengerti maksud tulisan itu. Sekali lainnya dahi dosen itu berkerut seakan tak menerima.
"Kamu yakin ambil novel ini?"
"Iya, Pak." Anara mengangguk yakin.
"Semoga bacanya serius dan nggak bosen di tengah jalan, ya!"
Setengah jam Anara berkonsultasi mengenai rencana tugas akhirnya dengan Pak Sarwo. Tepat pukul 10 pagi Anara keluar dengan wajah sedikit berbinar seperti baru mendapat pencerahan. Itulah gunanya dosen pembimbing, mencerahkan apa yang sebelumnya kusam.
"Udah, An?" Tanya Hartik yang sedang menunggu sahabatnya di depan ruang dosen.
"Udah. Kamu?"
"Baru selesai. Yuk cari sarapan!"
Keduanya menuju kantin kampus. Menjadi mahasiswa tingkat akhir tentu merepotkan. Selain dipusingkan urusan skripsi, pertanyaan nylekit 'kapan lulus?' pun jadi bagian yang tak kalah memusingkan.
"Malam Sabtu, An. Jalan sama Candra?"
"Entahlah, Tik. Kenapa?"
"Belanja yuk! Sabun, sampo, hampir habis."
"Boleh. Kebetulan lagi pengen beli kertas juga kan buat print skripsi." Sahut Anara.
Keduanya pun menghabiskan bubur ayam dengan lahap tanpa babibu. Rasanya momen-momen seperti ini pasti akan berlalu ketika mereka lulus dan berjauhan nanti. Sungguh, hampir empat tahun di Malang rasanya masih seperti kemarin sore. Semua berlalu dengan cepat.
Anara sedang sibuk memundurkan motornya, dibantu Hartik yang mengerahkan seluruh tenaga untuk menarik pegangan jok belakang untuk dapat keluar dari garasi yang hampir penuh.
"Tumben banget sih ini garasi penuh."
"Iya, pada nggak keluar apa ya? Weekend ini." Balas Hartik.
"Mau kemana?" Suara familiar menuntun Anara dan Hartik menoleh ke sumber suara.
"Can-ndra." Kaget Anara.
"Mas." Hartik ikut menyapa.
"Mau kemana?"
"Ke swalayan."
"Aku anter aja, yuk!"
Anara melayangkan pandangan ke halaman luar. Di sana terparkir mobil putih milik Candra. Itu artinya tentu mereka bisa keluar bertiga, dengan Hartik jadi obat nyamuknya. Haha
"Beneran? Cewek kalau belanja lama lo." Anara menatap netra Candra.
"Belanja apaan?"
"Ya sabun, sampo, lotion ... hmmm segala keperluan pokoknya."
"Selama apa sih? Sejam kelar kan?"
"Nggak tau juga. Belum kita muternya, lihat-lihat barangnya, tanya-tanya ke mbak-mbak SPG-nya. Beluuuuum ... banding-bandingin harganya." Jelas Anara.
"Ya ampuuuun. Jiwa emak-emak kalian sudah tertanam sejak dini ya?"
"Itu bakat sayang. Gimana? Sanggup?"
"Iya, Nona. Silahkan!" Tangan Candra mempersilahkan memberi jalan. Sementara bibirnya dihiasi senyuman.
Mobil putih itu melaju cepat menuju salah satu mal di Kota Malang. Ikut berderet meramaikan malam di akhir pekan. Hingga tiba memasuki lokasi antre untuk parkir di lantai bagian bawah mal.
"Kok nggak kabar tadi?" Tanya Anara ketika memasuki mal.
"Kamu kali yang nggak liat hp."
Anara menarik resleting sling bag-nya. Mengusap layar dan mendapati beberapa pesan WA dari lelaki di samping yang kini menatapnya. Anara mengukir senyum paksa di bibirnya.
Sementara Hartik sudah melenggang di depan keduanya. Mengambil troli dan mendorongnya pelan memasuki deretan rak tinggi yang berisi berbagai macam merk sabun mandi.
Tak lama Anara sudah mengikuti aktivitas Hartik, membuka tutup sabun mandi dan menghirupnya. Bergantian dari satu botol ke botol lainnya.
__ADS_1
Aktivitas macam apa ini?
"Kenapa harus diciumi satu-satu?"
"Enak aja. Coba! Enakan yang mana?" Tanya Anara menyodorkan dua sabun mandi bermerk Geore.
"Enak semua, An."
"Nggak mungkin dong aku beli dua-duanya, Ndra." Sergah Anara.
"Ya sudah pilih satu yang biasanya kamu pakai!"
"Aku biasanya pakai yang ini. Tapi, ini juga seger deh." Tunjuk Anara pada botol ungu kemudian pada botol biru.
"Kamu suka yang mana?"
"Semuanya wangi, An."
"Ya ampun Candra. Disuruh pilih malah dua-duanya dibilang wangi. Kalau pilih itu ya yang paling ... paling wangi." Gerutu Anara.
"Apa pentingnya?"
"Biar wanginya sesuai sama maumu." Sahut Anara cepat.
"Udah, udah! Diem aja! Percuma minta pendapat." Ujar Anara lagi sambil memasukkan botol sabun berwarna ungu ke dalam troli.
Astagaaaa. Urusan sabun bisa memicu perang juga. Lagi pula yang dipilih akhirnya yang biasa dipakai kan. Ngapain harus nanya sih?
Beralih dari rak sabun mandi. Kini Anara dan Hartik berhenti pada blok berisi sampo dan conditioner. Kali ini tanpa berlama-lama sibuk menciumi aroma dari botol-botol plastik itu, keduanya dengan cepat menjatuhkan pilihan.
Candra terlihat lega, napasnya keluar leluasa tanpa ada yang mencekat rongga pernapasan. Ia pun masih setia mengikuti kemana langkah Anara bermuara.
Hampir dua jam berlalu. Kini mereka berada pada deretan bahan makanan instan yang menawarkan berbagai pilihan santapan enak tanpa perlu ribet-ribet segala. Dua jam pemirsa ... dua jam.
Lima bungkus mi instan merk Lezaat varian kari spesial telah berhasil menggoda tangan Anara untuk meraupnya. Makanan berbentuk keriting panjang ini adalah penolong pertama mahasiswa ketika lapar menyapa bukan pada jamnya.
Nggak Rati, nggak Anara. Ternyata sama saja.
"Udah! Jangan banyak-banyak makan mi!" Ujar Candra pada Anara.
"Lima doang, Ndra."
"Dasar mahasiswa!"
"Eh, eh. Kamu dulu juga mahasiswa yang doyan mi. Lupa?" Anara mengingatkan kebiasaan pacarnya.
"Nggak sampai lima juga."
"Ya udah, dua aja!" Ucap Candra lagi sambil mengambil tiga bungkus mi instan dan meletakkannya kembali ke rak.
"Nggak bagus, nggak sehat!" Ujar Candra lagi tanpa perdebatan.
"An, aku sudah. Kamu masih mau beli apa?" Hartik mendekati arah Anara dan Candra berada.
"Beli kertas, Tik. Buat print skripsi."
"Oh, iya. Aku juga mau."
Kemudian kedua perempuan itu berjalan menuju bagian alat tulis menulis berada. Troli yang hanya berisikan sedikit belanjaan tadi didorong oleh Candra. Membuat lelaki itu merasa menjadi asisten.
Untung pacar, untung sayang. Belajar Candra! Pasti kegiatan seperti ini akan rutin kamu lakukan nanti kalau sudah berstatus ayah atau suami.
"Sudah?" Tanya Candra setelah memasukkan dua rim kertas HVS. Anara mengangguk dihiasi senyum pada bibirnya.
Setelah menyelesaikan proses pembayaran di kasir dan barang belanjaan sudah berpindah ke bagasi mobil. Ketiganya kini sedang berada di foodcourt mengisi perut untuk makan malam. Di akhir pekan seperti ini tentu tempat publik akan dua kali, bahkan tiga kali lipat lebih ramai dari hari biasanya.
Mata Candra memerhatikan pada seorang perempuan berbaju hitam di sana. Oh, perempuan itu berjalan ke arah mereka. Tentu wajah oriental itu tak asing.
"Anara! Candra!" Sapa Caroline.
"Hey!" Anara bangkit dari duduknya dan kedua perempuan itu sudah saling memeluk.
Setelah menjulurkan tangan pada Hartik sebagai tanda perkenalan, keempatnya kini berkumpul dalam satu meja. Saling bertanya kabar dan keadaan. Ternyata Caroline juga sedang sibuk menyelesaikan skripsinya.
"Lama ya nggak ketemu?" Ujar Anara.
"Terakhir ketemu pas Candra sama Bryan wisuda kan?" Sambung Anara lagi.
"Iya. Pas makan siang di Batu." Tutur Caroline.
"Candra kerja di mana sekarang?"
"Di jalanan, Lin." Jawab Candra terkekeh.
"Cari berita." Lanjutnya.
"Oh, wartawan?"
"Ya, itu." Candra mengangguk membenarkan.
__ADS_1
"Bryan?"
"Di Surabaya." Jawab Candra.
"Masih ajaaaa ... masih cinta ya?" Goda Anara.
Caroline tersenyum kecut. Tak bisa dibohongi kalau di hatinya masih terpatri nama Bryan di sana. Sayang saja, lelaki itu tak membalas sedikit pun perasaan yang Caroline punya.
"Oh, Mbaknya ini mantannya Mas Bryan toh?" Tanya Hartik.
"Iya, Tik." Hartik menggangguk paham.
"Ya udah. Aku duluan ya? Kalian lanjut aja!"
"Kenapa buru banget sih, Lin?"
"Tadi aku sama temenku soalnya, apartemen sebelah. Ntar dia nyariin takutnya." Ujar Caroline sambil menunjuk satu gerai baju.
"Ati-ati, Lin!" Ujar Candra.
"Sampai jumpa lain waktu." Sambung Anara. Perempuan berwajah oriental itu pergi.
"Cantik ya?"
"Cantik, Tik. Tapi sayang nggak cukup buat luluhin hati Bryan."
"Maksudnya?"
"Mereka tuh pacaran. Tapi bukan atas dasar suka. Bryan terpaksa nerima karena kasihan aja." Jelas Anara. Sementara Hartik membentuk bibirnya menyerupai O sempurna.
Pukul sembilan kurang ketiganya keluar dari mal. Mobil Candra membelah padatnya jalanan kota dengan pelan. Tak seramai ketika berangkat tadi. Hanya butuh sekitar 15 menit untuk tiba di halaman kos Anara.
Hartik sudah lebih dulu masuk ke kos setelah barang belanjaan diturunkan. Sementara Anara dan Candra tengah duduk di sofa lantai bawah sekadar memupus rindu yang hampir berbunga saking lamanya.
"Besok aku jemput pagi-pagi banget ya?" Ujar Candra meraih tangan Anara.
"Kemana?"
"Ikut aja!"
"Kemana dulu? Nggak mau dong main ikut aja."
"Udah, ikut aja! Nggak akan aneh-aneh."
"Yakin nggak aneh-aneh?" Anara mengerlingkan mata.
"Kebiasaan deh. Udah mau pulang ini. Mana di kos kamu suka ada anak kos tiba-tiba muncul, tiba-tiba naik-turun tangga."
"Kenapa emangnya?"
"Anara!" Genggaman tangan Candra makin kuat Anara rasakan.
"Iya ... iya. Besok aku siap dijemput pagi-pagi sekali."
"Aku pulang ya?"
"Hati-hati! Langsung pulang nggak usah belok kesana kemari."
"Ya beloklah, An. Kan pulang ke rumah ada jalan menikung, jalan berbelok, menanjak, dan menurun." Candra terkekeh.
"Maksudnya nggak usah mampir-mampir."
"Iya, iya sayang."
Anara mengantarkan Candra hingga ke depan. Di gang depannya hikir-mudik beberapa kendaraan masih ada. Namun, tak sebanyak ketika sore tadi.
"Pulang ya?"
"Iyaa Candra."
"Langsung naik! Jangan keluar-keluar lagi!"
"Iyaaa."
"Jangan makan mi!"
"Iyaaaa sayang."
"Sini!" Candra menarik Anara dalam sebuah pelukan singkat.
"Aku kangen." Candra melepaskan pelukannya.
"Sama."
"Ya udah besok pagi banget. Cepetan tidur! Biar bisa bangun pagi." Ujar Candra.
Sekilas Candra kembali menarik Anara dan mendaratkan ciuman singkat di bibir perempuannya. Bibir yang lima hari ini tak ia sapa. Anara hanya tersenyum sipu mendapati perlakuan kekasihnya.
Rasa berdebarnya awet kayak masih kemarin sore, An.
__ADS_1
...----------------...