Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Kejadian di Rumah Candra


__ADS_3

Anara masih terdiam menanti kalimat berikutnya yang mungkin akan membuat kekesalannya menguap. Mata di depannya masih menatap lekat ke arahnya, sesuai dengan harapan, akhirnya Candra membuka mulutnya lagi ... hendak menjelaskan.


"Maafin aku!" Ekspresi dari lelaki di depannya masih dingin. Ia meminta maaf dengan begitu tenangnya. Sedangkan Anara masih mengunci rapat mulutnya, ia bersumpah tak akan menanggapi permintaan maaf Candra sebelum ada penjelasan.


"Aku menyesal sudah meninggikan suara kemarin, aku ... hanya sedang sibuk. Pikiranku sedang kacau saja."


Anara masih setia pada sumpahnya. Mana mungkin hanya karena ia sibuk lantas berkata tidak suka pada cerita Jogja dari kekasihnya. Berlebihan.


"Kamu ngomong dong! Jangan diam gini!" Candra mulai kehilangan sikap tenang. Anara menarik tangannya dari genggaman Candra. Kini matanya sudah tak terlihat pada pantulan mata Candra.


"Tatap aku Anara! Aku sedang bicara!" Tangannya memegang dagu perempuan disampingnya dan menuntun netra milik Anara untuk menatapnya kembali.


"Bukannya aku tak suka pada cerita Jogja darimu. Kemarin aku hanya sedang banyak pikiran, persiapan Pemilwa Selasa besok menguras energi dan pikiranku. Percayalah!"


"Hanya itu?" Anara menerawang mencari-cari pada mata di depannya, adakah yang lelaki itu sembunyikan? Tak masuk akal rasanya jika hanya karena sibuk dan capek sampai-sampai harus bernada kasar bicara padanya.


"Iya ... apalagi yang ingin kamu dengar?" Lelaki itu mulai gusar dan mengacak rambutnya sendiri.


"Jangan-jangan kamu memang ... nggak suka aku ke Jogja kemarin?


Deg ... hati lelaki di depannya kini berdetak tak biasa. Ia ingin mengatakan saja semua, tapi bukan ini waktu yang tepat. Belum saatnya.


"Kalau aku nggak suka, sudah kubuat kamu nggak berangkat, An. Tapi, kamu sampai ke kota yang kamu idam itu, kan? Kamu juga nggak amnesia kan kalau aku yang nganter ke terminal?" Kebohongan macam apa ini, faktanya memang ia tak menyukai perempuannya itu ke Jogja. Untuk apa juga Anara harus ke Jogja?


Hati Anara belum tersentuh dengan alasan rasional dari Candra, bibirnya masih ia gembok rapat dan kuncinya entah ada dimana?


"Kalau kamu masih nggak percaya, nanti kita kesana sama-sama!" Omong kosong macam apalagi ini? Hatinya bahkan tak rela untuk sekadar memberi janji membersamai kekasihnya untuk sampai Jogja. Untuk satu kalimat ini, semoga telinga Anara sedang konslet. Hanya itu yang Candra semogakan, ia merutuki kecerobohannya sendiri.


Tapi, di sisi lain. Anara terlihat mulai menggerakkan bola matanya. Oh, apakah ia sedang menimbang tawaran lelaki di hadapannya?


"Aku hanya tak suka ketika kamu jauh." Candra melanjutkan kalimatnya dengan nada yang dibuat tenang dan ... bunga-bunga bermekaran di hati Anara. Senyum tipisnya terlihat jelas oleh lelaki di depannya. Dasar perempuan, telinganya terlalu mudah bernegosiasi jika kata manis berhasil melambungkan hatinya.


"Jadi ... ?" Candra menghentikan kalimatnya.

__ADS_1


"Aku maafin. Jangan gitu lagi! Kamu nggak tau kan gimana sedihnya digituin? Nggak ada kabar lagi setelahnya."


"Ooh ... kamu nunggu kabar dariku." Ia menggoda perempuannya sampai Anara terlihat salah tingkah.


"Aku minta maaf membuatmu sedih dan menunggu di waktu bersamaan." Anara hanya mengangguk dan mereka sudah saling memeluk satu sama lain.


"Ini rumah siapa?" Pertanyaan yang bersarang di pikiran Anara dari awal menginjak halaman rumah ini akhirnya terlontar.


"Rumahku." Anara menatap seolah tak percaya, "rumah orang tuaku." Candra segera mengoreksi jawabannya dan Anara hanya ber-hmm ria ketika tau itu adalah rumah kekasihnya.


"Sepi ya?" Anara mengedarkan pandang dan memang tak ada orang lain selain mereka, suara aktivitas lain di rumah ini pun tak ada.


"Iya, hanya aku dan Bryan. Kebetulan pagi ini Bryan sedang ke Ijen CFD (Car Free Day)."


"Ooh ...."


"Jadi kalau sekarang aku ingin macam-macam denganmu pun tak akan ada yang tau." Candra memajukan wajahnya untuk semakin memangkas jarak di antara mereka.


Anara menarik mundur tubuhnya, berusaha menjauh. Matanya sibuk mengawasi sekitar, benar saja, perumahan ini sepi, jarak pintu rumah dengan pagar juga lumayan jauh. Diantaranya terlihat rimbun dengan bunga dan tumbuhan. Kalau Candra benar macam-macam, teriak pun sepertinya tak akan ada yang mendengar.


"Apa ini?" Anara menaruh curiga pada minuman di gelas itu.


"Ini teh biasa Anaraaaa. Tenanglah aku tak akan menaruh obat tidur di dalamnya."


"Kalau begitu, coba kau minum!"


"Astagaaaa ...." Akhirnya Candra mengalah dan meneguk separuh dari minuman itu.


"Lihat! Baik-baik aja, kan?"


Tak cukup puas sampai di sana. Anara memaksa Candra meneguk sampai habis tak tersisa.


...----------------...

__ADS_1


"Jadi, kapan kita ke Jogja?"


Derrrr ... hati Candra bagai disambar petir berkekuatan 26.000 ampere. Berjuta kali lipat lebih mengejutkan dari tegangan listrik yang bisa diterima manusia. Telinga perempuannya itu tidak benar-benar bermasalah ketika ia mengatakan kalimat yang bahkan ia sendiri tak ingin mewujudkannya.


"Kamu bahkan baru saja dari sana, An." Hatinya merutuki ucapannya sendiri yang kini sudah menjadi bumerang baginya. Beruntung perempuan itu tak lagi melanjutkan bahasan kapan kita ke Jogja lebih lanjut. Ia boleh bernapas lega, sedikit lega.


"Hartik ... ya ampun." Tiba-tiba Anara teringat sahabatnya yang pulang seorang diri dari stasiun tadi.


"Kamu tenang, Hartik pasti sudah sampai kos. Coba telepon dia!" Tanpa menyahut Anara sudah melakukan panggilan pada Hartik. Sahutan suara cempreng dari seberang berhasil menguapkan rasa khawatir di hatinya. Ia memutus sambungan telepon setelah memberi tau Hartik bahwa ia sedang di rumah Candra.


"Terima kasih sudah menepati janjimu." Tatapan Anara terasa lekat ditangkap oleh mata elang milik Candra disertai sesungging senyumnya.


"Janji?"


"Iya, untuk menjemputku pagi ini. Padahal semalaman kamu tak ada kabar." Anara kembali teringat malam kepulangannya dari Jogja dan Candra yang hilang entah kemana?


"Semalem aku tidur lebih awal karena capek. Kalau nggak gitu, bisa terlambat aku jemput kamu pagi tadi." Padahal yang sebenarnya terjadi adalah kupingnya yang hampir keriting mendengar ceramah dari Bryan. Tak sia-sia, ceramah yang hampir membuatnya gila itu membuahkan hasil. Anara sudah memaafkannya.


...----------------...


Cahaya matahari sudah mulai hangat, mungkin sedikit panas. Dilirik jamnya yang kini sudah melingkar kembali di pergelangan tangan kirinya ... pukul 10 pagi. Perempuan berambut hitam legam itu sudah lebih rapi dari sebelumnya setelah Candra memintanya membersihkan diri, memaksanya lebih tepat. Dan kini yang ia kenakan adalah black tshirt milik Candra, sedikit kedodoran tapi tak mengurangi nilai cantik dirinya.


Ia sedang duduk di ruang tamu mengecek jadwal UAS melalui ponselnya. Baru sempat dilihatnya jadwal di websbite milik jurusan itu. Hari-hari sebelumnya ia terlalu menyibukkan diri menghidupkan mimpi.


Candra keluar dari ruang kamar bersamaan dengan selesainya Anara melihat jadwal ujian. Lelaki berjambang tipis di depan, sepersekian detik menyita fokusnya, titisan dewa mana yang sedang diturunkan ke bumi?


"Kamu sedang apa?"


"Lihat jadwal ujian besok."


Kini Candra sudah duduk lagi di samping Anara. Diraihnya ponsel Anara dan diletakkan ke atas meja kaca di depannya. Tak ada protes dari perempuan yang kini terlihat lebih memesona dengan bajunya di sana. Tangannya menarik tubuh Anara untuk lebih dekat, aroma woody dari parfumnya dengan lembut menyeruak ke indra penciuman perempuan yang kini sudah sangat dekat dengannya.


Entah mulai kapan tangan kanan Anara sudah menempel pada punggung lelaki di depannya dan tangan lainnya menyentuh leher orang yang sama. Keduanya semakin mendekat, napas mereka saling memburu. Anara berusaha tenang dan memejamkan matanya ketika hembusan napas Candra terasa meyentuh bibirnya ...

__ADS_1


"Woi ... tutup pintu kek kalian!" Suara Bryan dalam sekejap memisahkan keduanya. Anara menunduk dan memegangi wajahnya yang mungkin semerah tomat.


Sial ... Candra mengumpat dalam hatinya.


__ADS_2