
"Sebentar, trus apa ya hubungannya?" Pertanyaan Anara memantik rasa ingin tahu Bryan yang sudah mendekati ke arah dua perempuan yang tengah duduk bersebelahan, dipisah meja.
Pria bermanik mata cokelat itu berdiri di samping Anara, berjarak sekitar satu meter demi ikut mendengar bahasan apa yang sedang ditekuni kedua perempuan yang pernah singgah di hidupnya itu.
Namun, beberapa detik mematung di sana. Tak ada kalimat lanjutan dari Caroline yang menjawab pertanyaan Anara, entah menyoal apa Bryan pun belum tahu.
"Yan, bisa tinggalin kami dulu?" Tanya Anara. Bukan bukan. Itu permintaan. Hampir seperti sebuah usiran malah.
Dengan senyum yang dipaksakan akhirnya Bryan melangkah pergi. Meninggalkan keduanya dengan hati yang semakin bertanya-tanya. Membahas apa kiranya Anara dan Caroline? Tentang wanita?
"Apa hubungannya?" Tanya Anara dengan nada sedingin kutub ketika Bryan sudah terlihat jauh. Perasaan perempuan itu kini sudah berganti level dari bertanya-tanya menjadi curiga, waswas, selidik, atau apalah apa pun itu, intinya dia mulai merasa ada yang tak beres.
"Aku hamil, An."
Caroline yang matanya panas kini sudah tak bisa membendung tampungan di kelopak. Air matanya jatuh, berlinang di pipinya yang putih bersih.
Demi menjawab penasarannya, Anara mengembus napas panjang setenang yang ia bisa, "iya Lin."
Bukannya kamu juga belum lulus?
Emang udah nikah?
Berapa bulan?
Sejak kapan?
Siapa ayahnya?
Pertanyaan itu menguar begitu saja demi melihat perempuan di depannya menangis. Naluri kewanitaannya trenyuh juga, ia hanya mengulur tangannya panjang menyentuh pucuk kepala Caroline melintasi atas meja kecil di depannya.
Kehamilan bukankah sesuatu yang menakjubkan? Menggembirakan? Membahagiakan? Betapa keren, ada kehidupan baru di perut gadis oriental itu? Namun, melihat Caroline semakin terisak membuat Anara menarik kesimpulan seorang diri bahwa,
Kehamilan Caroline adalah kehamilan yang TAK DIRENCANAKAN, TAK DIINGINKAN, dan BUKAN SESUATU YANG MEMBAHAGIAKAN, TITIK.
Namun, entah mengapa detik selanjutnya hatinya mencelos. Mengingat perempuan di depannya barusan mempertanyakan keberadaan Candra, iya Candra. Bukan Bryan atau siapa. Apa hubungannya?
Apa mungkin? Ga ga mungkin.
__ADS_1
Candra secinta itu sama aku. Ga mungkin dia berkhianat. GAK!
"Siapa?" Tanya Anara memberanikan diri akhirnya.
Caroline kini malah tak bergeming dan masih sesenggukan dalam sisa tangisnya yang baru saja pecah menuju hampir usai. Anara masih menatap lekat ke arah perempuan yang menunduk itu, tangan Caroline sibuk menyusut hidung dan mata, beralih ke bibir demi mengusap-usap cairan yang ikut keluar ketika pertumpahan air mata barusan.
Tangan Anara sudah ditarik dan ditaut di depan dada, berharap semua baik-baik saja dan Caroline hanya sedang curhat tentang masalahnya dan kebetulan menanyakan kabar Candra, begitu mungkin. Begitu harapannya.
"Aku mau minta maaf," kalimat Caroline sampai di telinga Anara dengan berat. Terputus-putus karena sisa menangis.
Mendengar kata maaf membuat hati Anara meremang, panas, dan tak sabar menunggu kalimat selanjutnya. Ia bagai sedang berdiri di atas lubang, tak mungkin untuk tidak terperosok, jatuh, dan mungkin menangis.
"Can-dra orangnya," tambah Caroline.
Wajah Anara sudah panas, menjalar ke matanya, kemudian pemandangan di depannya kabur karena tertutup air yang memenuhi kelopak. Hingga semua terlihat samar. Namun begitu, ia masih berupaya menampik ucapan Caroline.
"Ga mungkin," gumam Anara lirih, kemudian dengan sekali kedipan. Air mata itu akhirnya lolos juga.
Dunianya runtuh se-ke-ti-ka. Kapan? Di mana? Kenapa dia tidak tahu?
Bukankah antara Candra dengan Caroline tak saling mengenal dekat? Kenapa bisa?
Kalimat Caroline bagai dentuman hebat yang berhasil membuat kepala Anara pening, tak tahu lagi harus apa?
Lepas kendali? Tak kuasa? Omong kosong apa?
Air mata yang hangat menuruni pipi, ia seka kasar begitu saja. Bayangan Candra yang melakukan itu dengan orang lain, dengan Caroline begitu menyesakkan dadanya. Ini seperti mimpi bagi Anara, mimpi paling BURUK. Ia ingin segera bangun dan menemukan Candra di hadapannya tengah tersenyum sambil menggumam bahwa semua ini hanya MIMPI.
Tapi, ketika matanya semakin mengerjap, kenyataan ini tak hilang dan tak lenyap. Anara tak tahu harus apa? Ia tak tahu harus percaya atau melewatkan ucapan Caroline begitu saja? Ia ingin melesakkan diri saja ke tanah. Hilang tak berbentuk lagi.
Di tengah kalut malut hatinya. Bibirnya yang kelu dipaksa-paksa berucap juga, "berapa bulan?" Tanya Anara tanpa menoleh. Ia masih menekuni pemandangan di bawah, di sudut-sudut kakinya yang bahkan seperti ikut menertawakan dirinya.
"Dua bulan," balas Caroline.
Dua bulan? Itu berarti sebelum pertunangan?
Bajingan kalian!
__ADS_1
"Sewaktu aku mengantarnya pulang dari club malam, dalam keadaan mabuk. Aku bermaksud memapahnya ke kamar. Namun, di luar dugaan. Dia berbalik arah menarikku, mengungkung, dan menggagahiku. Merenggut apa yang seharusnya tidak direnggut. Aku menolak, tapi ... kalah kuat. Semua terjadi begitu saja," ungkap Caroline. Semakin membuat hatinya diiris-iris tipis dengan silet, sakitnya lama, terasa, dan meninggalkan guratan yang tak mungkin disembuhkan.
"Aku minta maaf, An."
Anara masih diam seribu bahasa, otak dan hatinya terlalu disibukkan dengan semua yang baru didengar. Ia ingin jatuh saja, menangis sejadi-jadinya. Meraung-raung menerima nasib tragisnya. Dikhianati oleh Candra. Sial!
Candra? Apa ini alasanmu ingin cepat-cepat menikah? Untuk lari?
Tanpa menoleh juga mengucap sepatah kata pun, Anara bangkit dari duduknya. Berlalu tak lagi menghiraukan apa pun di depannya. Pikirannya hanya satu. Mencari penjelasan langsung dari Candra yang sudah 'lari' ke pulau seberang.
Bajingan! Pengkhianat! Pecundang! Pengecut! Sialaaaaaaan! An jing!
Segala sumpah serapah memenuhi sudut-sudut hati Anara. Ingin rasanya ia teriak, tapi ia masih waras di keadaan paling menghimpit ini. Saking keras dan tak pedulinya ia berlari, tubuhnya menabrak Bryan yang ternyata akan keluar dari garasi. Membuat tubuh ringannya terpental hampir terjatuh jika saja tangan Bryan tak sigap memegangi.
Tatapan Bryan penuh selidik melihat Anara yang terisak, "ada apa, An?"
Namun, tak ingin ia jawab. Ia memilih melepaskan tangan Bryan yang masih sibuk menahannya dan berlalu, menuju kamar dan membanting pintunya dengan kasar. Menghempaskan tubuhnya ke ranjang, menangis sejadi-jadinya.
Sebersit ingatan wajah Candra, Abah Kayaat, Mama Ira, Rati, Ibunya, ayahnya, dan Swara, semua silih berganti membuat kepalanya berdenyut nyeri.
Bryan yang semakin diliputi tanda tanya segera melangkah ke arah Caroline yang masih duduk terdiam di teras depan. Mata perempuan itu juga terlihat merah, apa ia juga baru menangis? Ada apa ini?
Bryan yang masih mematung menatap ke arah Caroline dengan tak kunjung bersuara, namun dari sorot matanya tersirat tanya ADA APA?
Caroline yang merasa diintimidasi akhirnya menengadahkan wajah, menatap Bryan lekat-lekat, lelaki yang masih begitu diharapkannya. Namun, semua sirna. Hancur berkeping-keping, berserakan, dan sulit dipungut kembali.
"Aku pulang," ujar Caroline tak ingin bercerita apa pun pada Bryan.
Namun, tangan Bryan sudah lebih dulu menahan pergelangan tangan Caroline. Menatap mata bulat itu dalam-dalam, "ada apa?" Suara Bryan dingin dan datar. Namun, matanya menyiratkan keteduhan yang tak pernah berubah.
Ingin rasanya Caroline berlari dalam pelukan lelaki di depannya, lelaki yang selalu menempati hatinya, tetapi ... ia memilih melepas cekalan Bryan.
"Tanya pada sahabatmu, Candra!"
Kemudian Caroline benar-benar berlalu. Menjauh hingga lenyap dari pandangan Bryan.
Sial! Ada apa sebenarnya?
__ADS_1
Dengan langkah cepat Bryan kembali menuju ke dalam.
...----------------...