Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Perfect 'Bryan' Playboy


__ADS_3

Anara sibuk membersihkan peralatan makan yang selesai digunakan. Percobaannya berhasil. Sayur itu habis tak tersisa, entah karena Candra dan Bryan memang suka entah karena keduanya kelaparan. Yang jelas menurut Anara, selama masakan Kalumpe pertamanya tidak berakhir di tempat sampah, ia anggap lebih dari cukup.


Disusunnya piring berwarna putih polos itu rapi di tempatnya. Selesai. Ia tuang air putih dari sebuah teko kaca dan meneguknya pelan hingga habis tak tersisa.


"Duuh, capek banget ya pacarku ini?" Suara Candra menyambut Anara serampungnya perempuan itu membersihkan gelas.


"Capeklah. Udah masak, disuruh nenteng tempat nasi beserta sayurnya dari kos sampek kesini, mana mampir Indomaret segala. Ee sampai sini masih nyuciin piring." Anara mengatakannya dengan wajah menahan tawa yang juga disambut tawa bahagia Candra.


"Ikhlas kan?"


"Kalau nggak ikhlas emang kamu mau gimana?" Perempuan itu balik bertanya.


"Aku pijitin deh!"


"Serius?" Candra mengangguk dengan senyuman mautnya.


"Yuk, yuk! Di sofa aja ya." Anara menuju sofa dan mengunjurkan kakinya, bersiap menerima pijatan dari tangan kekar Candra.


"Ya ampun semangatnyaaaa." Anara hanya senyum-senyum saja.


Kini tangan Candra sudah mulai memijit pelan tangan Anara sementara kepala Anara menyender pada tangan sofa.


"Enaknyaaaaaa." Matanya ia pejamkan dan hanya sesekali dibuka untuk merespon cerita Candra yang menurutnya menyita perhatian.


"Nanti kalau kamu udah pernah ke Kalimantan, pasti kamu nagih buat kesana lagi."


"Masa sih?" Anara masih memejamkan matanya.


"Iya, barang siapa satu kali minum air Sungai Mahakam, pasti akan meminumnya lagi. Pernah denger nggak kalimat itu?" Kini pijatan Candra sudah beralih ke kaki.


"Pernah, dari kamu barusan."


"Ck, seriusan, Aaan." Lelaki itu mengacak rambut Anara.


"Iya, emang dari kamu barusan. Emang bisa beneran begitu?"


"Nanti buktiin sendiri!"


"Jadi pikir-pikir buat ikut kamu."


"Jangaaan dong! Tetap berangkat pokoknya."


Tak lama suara napas Anara mulai teratur, ia yang awalnya memejamkan mata untuk menikmati pijatan Candra akhirnya resmi tertidur di sofa.


"An."


"An." Candra mengguncang pelan tubuh Anara dan tak mendapati respon.


"Dia tidur beneran. Kasihan."


Candra berinisiatif memindahkan Anara ke dalam kamarnya agar leher perempuannya tak sakit ketika bangun nanti.


"Pindah ke sini ya?" Suara Candra dibuat sepelan mungkin agar tak membangunkan Anara yang kini sudah menikmati tidur pulasnya di bed milik Candra.


Candra pandangi lekat perempuan yang bahkan rela menunggunya hampir dua jam tempo hari, yang tadi pagi nampak peluhnya karena sibuk memasak makanan favoritnya. Sungguh rasa sayang Candra pada perempuan di hadapannya sedang berada di puncaknya.


Candra menyelimuti kaki milik Anara agar tak merasakan udara dingin yang keluar dari AC. Diciumnya pelan ujung kepala Anara,


Aromanya nggak melati lagi. Apa ini?


Candra kembali mencium ujung kepala Anara berharap menemukan titik terang aroma bunga apa yang keluar dari helai rambut perempuan yang tengah terpejam di kamarnya?


Ini aroma apaan sih? Kayak pernah nyium tapi apa? Bukan apel atau lemon juga.


"Ampuuun Ndra. Tutup kali pintunya! Sengaja ya lu?" Dengan refleks Candra menoleh ke suara yang sangat ia hafal itu, Bryan. Ternyata ia belum menutup pintu.

__ADS_1


"Huss. Berisik." Hampir tak terdengar tapi dengan jelas bisa ditangkap Bryan.


Candra melangkah keluar kamar. Pintu bermotif kayu itu kini telah tertutup meninggalkan Anara seorang diri.


"Tidur pacar lu?" Pertanyaan Bryan diangguki oleh Candra yang sekarang sudah duduk di sofa.


"Yan, lusa gue pulang ke Balikpapan."


"Selasa besok? Mendadak banget." Air muka Bryan bertanya-tanya menyusul Candra duduk di sofa.


"Iya, abah sakit." Kalimatnya lirih menyiratkan kesedihan.


"Sakit apa?"


"Belum tau, kata mama tadi pagi sih muntah-muntah."


"Ya Tuhan. Semoga abah lu nggak kenapa-kenapa ya, amin. Trus lu udah pesen tiket?" Pertanyaan belum dijawab Candra, Bryan sudah melanjutkan kalimatnya.


"Kalau belum gue bisa pesenin. Tapi sorry, gue nggak bisa nemenin lu pulang. Gue mau konsultasi rutin sama Pak Wito. Biar cepet lulus." Senyum Bryan kini mengembang seperti adonan roti yang siap dibentuk.


Bryan memang lebih rajin dibanding Candra. Meski di keningnya terukir tulisan playboy yang disemat oleh beberapa teman di kampus, bahkan oleh sahabatnya sendiri.


Dia tak pernah ambil pusing, yang terpenting baginya bisa segera lulus dan segera mengembangkan bisnis baru bersama ayahnya.


"Makasih, tapi sayangnya gue udah beli tiket tuh tadi sama Anara sekalian."


"Ntar ... entar. Gimana ni maksud lu? Lu udah beli tiket bareng Anara gitu?"


"Yap, gue mau ajak dia ke rumah. Kenalin ke keluarga." Mata Bryan melotot bagaikan ingin keluar dari kelopaknya.


"Lu seriusan?" Mengingat paras Anara yang sekilas mirip Anjani, Bryan terkejut mendengar statement Candra.


Gimana nanti mamanya? adiknya? atau abah Candra yang katanya sedang sakit itu? Ah, tapi bukan urusan gue lah gimana keluarga Candra merespon kedatangan Anara nanti.


"Eh mau ngapain lu?" Tangan Bryan cekatan menahan Candra.


"Tidurlah."


"Dengan Anara di dalem? Nggak, nggak. Lu mending tidur di kamar gue daripada gue ikut nanggung dosa kalian." Bryan mendorong punggung Candra mengarah pada kamarnya.


"Elaaaaaah, Yan. Lu ya bener-bener." Akhirnya Candra pasrah, dengan langkah gontai ia memasuki kamar Bryan yang didesain minimalis. Berbeda dengan kamarnya yang bergaya industrial.


Di salah satu sudut ruang, teronggok sebuah gitar acoustic electric yang biasa Bryan petik ketika sedang menghabiskan waktu senggang.


Cowok playboy emang harus punya modal juga.


Deretan buku tersusun rapi pada sebuah rak minimalis yang berdiri di samping sebuah meja menghadap jendela. Di atasnya mesin printer, sound bluetooth speaker, dan laptop yang belakangan sering dihampiri Bryan demi lulus tepat waktu.


Di samping laptop, masih terserak beberapa kertas yang dihiasi coretan tinta hitam khas dosen pembimbing. Sekilas mata Candra melirik sampul skripsi Bryan.


Aron Bryan Wijaya


Potret Penerimaan Batin Wanita Jawa Terhadap Status Sosial Pada Tokoh Pariyem dalam Novel Pengakuan Pariyem Karya Linus Suryadi AG (Kajian Feminisme-Radikal Kultural)


Buset ini judul panjang amat. Totalis juga dia memahami perempuan, bukan playboy sembarangan.


Kemudian mata Candra bergulir pada bagian atas headboard, tergantung lukisan kapal laut dengan background langit berwarna jingga di belakangnya. Sedangkan di bagian dinding lain, terdapat hiasan jangkar dan kemudi kapal dengan tone warna krem yang juga digantung menambah kesan marine kamar ini.


Mungkin lukisan hadiah dari ayahnya.


Candra merebahkan tubuhnya di atas single bed. Ia mengulum senyum dan sibuk menilai bahwa Bryan terlalu perfect untuk jadi playboy. Tapi, bukankah playboy biasanya emang cakep-cakep?


Sebenarnya ia sangat kesal dengan sikap sahabatnya barusan, menghalangi keinginannya untuk masuk pada satu kamar yang sama dengan Anara. Berdalih tak ingin turut menanggung dosa. Ada-ada saja.


Tak perlu waktu lama, perlahan kesadaran Candra melayang berganti mata yang terpejam dengan suara dengkuran halus.

__ADS_1


Di ruang tamu, Bryan yang karena ulahnya sendiri, akhirnya tak bisa memejamkan mata. Dua gelas sirup dingin dengan rasa melon yang hanya menyisakan kulacino di meja telah berhasil membuka matanya semakin lebar.


"Sial. Nggak enak ternyata tidur di sofa." Bryan menggerutu dan hanya bisa didengarnya sendiri.


Akhirnya ia memutuskan masuk ke dalam kamar untuk mengambil laptop, melanjutkan revisi bab 1 pikirnya. Sekilas terlihat Candra yang sedang berbaring nyenyak di kasur miliknya. Ah nyesel gue.


Hampir dua jam Bryan berkutat dengan skripsi miliknya, hingga suara pintu terbuka mengalihkan atensinya.


"Udah bangun, An?"


"Kok aku bisa di dalem kamar? Tadi kayaknya di sofa. Trus Candra mana?" Anara celingukan mencari kekasih hati yang dalam ingatan terakhirnya sedang sibuk memberi pijatan pada kakinya.


"Tidur di kamar sebelah."


"Kamar kamu?" Bryan mengangguk.


"Trus yang pindahin aku ke kamar?"


"Pacar kamu. Bisa perang dunia kan kalau aku yang pindahin."


"Maaf ya Yan! Gara-gara aku, Candra jadi pindah ke kamar kamu, kamu jadi di sini deh."


"Nggak apa-apa. Daripada aku ikut nanggung dosa kalian yang dua-duaan di kamar. Udah dosa iri masih ditambah dosa karena membiarkan kalian lagi." Alis Bryan sengaja diangkat dan keduanya tertawa.


"Sibuk ngapain, Yan? Eh Caroline gimana kabarnya?" Anara sudah duduk berseberangan dengan Bryan.


"Satu-satu kenapa sih, An?" Anara tersenyum memaksa.


"Ini revisi bab 1, targetnya lulus semester ini nggak mau nambah."


"Wah, Candra kok belum mulai?"


"Nggak tau juga."


"Terus gimana?" Tanya Anara dengan antusias.


"Apanya?"


"Caroline?"


"Baik, so far so good."


"Nggak seru banget sih, maksudnya udah ditembak belum?"


"Mati dooooong." Jawab Bryan asal.


Hufh. Anara yang terlihat kesal meninggalkan Bryan menuju pantry, segelas air putih tandas dalam hitungan detik.


"Eh, An. Lusa ke Kalimantan ya?"


"Hmmmm"


"Gimana gugup nggak mau naik pesawat, pertama kali kan?"


"Nggak biasa aja."


"Masa sih? Dulu aku pertama mau naik pesawat keringat dingin semua loh."


"Cemen doooong."


Perempuan memang makhluk yang nggak lupa untuk balas dendam ya?


Perbincangan keduanya terhenti ketika pintu kamar Bryan terbuka dan menampilkan lelaki dengan jambang tipisnya di sana.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2