
Minggu pagi Anara bangun lebih awal. Mengisi libur UAS, ia berniat untuk membuat Kalumpe seperti yang dijanjikannya pada Candra. Bersama Hartik yang sangat jago dalam urusan tawar-menawar, mereka berdua pergi ke Pasar Joyo Agung untuk membeli semua bahan.
Hampir satu jam berkutat di pasar, akhirnya motor yang dikendarai keduanya sudah masuk ke garasi kos. Dengan menenteng dua kantong kresek, Anara menuju dapur penuh suka cita diikuti Hartik.
"Niat banget sih, An."
"Iyalah. Belajar jadi ibu yang pinter masak biar anak-anakku nanti lahap makannya." Anara sangat bersemangat sambil menyiangi daun singkong.
"Aduuuuh, udah jaut banget ternyata mikirnya. Anak-anak kamu sama Candra?"
"Yaaaaa nggak taulah. Siapa ntar jodohku." Anara mengeluarkan terung pipit yang ternyata di Malang disebut takokak.
Berpedoman pada tutorial resep Kalumpe di youtube, dalam waktu hampir dua jam sayur khas Kalimantan itu baru berhasil diselesaikan oleh Anara, tak lupa ia cicipi.
Enak kok.
Setelah sayur itu ditaruh ke wadah Tupperware dan menyisakan sedikit sisa di panci. Anara mengambilnya untuk dicicipi Hartik.
"Tik, cobain." Hartik yang sibuk mengemas barang ke dalam tas menghentikan kesibukannya dan meraih mangkuk kecil dari tangan Anara.
"Enak, An." Sambil memberi jempol ke Anara.
"Syukurlaaah, hufh. Capek ternyata." Anara membenarkan kuncir rambutnya yang sempat amburadul karena berkutat di dapur.
"Masak begini hampir dua jam, ntar anak-anakmu keburu kelaperan nungguin ibunya kelar masak." Hartik mencebikkan bibir melempar ledekan ke Anara yang masih beraroma rempah bau makanan itu.
"Eh, kamu kok kemas-kemas barang, Tik. Pulang?"
"Iyalah, An. Ngapain juga tiga minggu di sini. Ngabis-ngabisin uang saku. Mending pulang, ketemu keluarga juga." Wajah Hartik menyiratkan kebahagiaan.
"Aku juga rencana mau pulang ke Kediri. Kangen sama ayah, ibu, dan adik. Tapi baru minggu depan. Soalnya adikku masih minggu depan pulang dari Bandung."
"Baik-baik ya di kos. Jangan pacaran mulu!" Hartik menepuk-nepuk bahu Anara diiringi raut wajah ledekan khasnya.
"Makanya cari pacar! Biar tau gimana rasanya berbunga-bunga."
"Nggak ah. Repot harus masakin segala." Kali ini Anara memutar mata malas setelah Hartik tertawa.
"Ngeledek teruuuuus." Anara melengos pergi berniat membersihkan diri dan menemui Candra.
"Eh, An. Nasinya jangan lupa!" Seketika Anara menoleh ke Hartik dan menepuk jidatnya.
"Ya ampuuuun. Kok aku nggak kepikiran, sih." Buru-buru ia kembali ke dapur untuk mencuci beras dan mencolokkan kabel magic com ke mode cook.
Semoga pas selesai mandi, nasi udah mateng.
Anara mengambil langkah cepat hendak menaiki tangga untuk membersihkan dirinya yang sudah lengket, bau aroma makanan, dan dipenuhi peluh perjuangan. Hingga suara bariton yang tak asing memaksanya menoleh ke belakang ketika dua anak tangga baru ia pijak.
"Loh, Candra." Lelaki itu mendekati tempat Anara mematung.
"Di situ aja! Aku masih bau. Nih, keringetan." Tangannya mengelap keningnya yang berkilau karena keringat, sementara Candra tak menggubris peringatan Anara dan tetap mendekat.
"Candra berhenti!" Suara Anara lebih keras memberi instruksi. Beruntung hanya Hartik yang mendengar percakapan itu. Penghuni kos lainnya sudah pulang kampung dari kemarin.
"Apaan sih? Nggak apa-apa."
"Aku yang nggak nyaman. Kamu tunggu di situ aja! Aku mandi dulu." Perempuan berkaus putih itu menunjuk sofa hitam dan langsung menaiki anak tangga setengah berlari.
Duh, untung nggak jatuh.
Candra memutuskan menyusul perempuannya ke lantai atas setelah menunggu hampir 60 menit lamanya.
__ADS_1
Sial kamarnya yang mana?
Tak lama Anara muncul dari pintu kamar bernomor 29 mengenakan celana bahan ⅞ warna putih dengan blouse hitam yang dimasukkan ke dalamnya, rambut hitam sebatas dada ia biarkan tergerai.
"Kamu ya, disuruh nunggu di bawah malah kesini. Ngapain coba?" Langkah Anara sudah sampai ke tempat Candra berdiri.
"Mau nyusulin kamu, tapi sayangnya nggak tau kamarnya yang mana." Lelaki dengan style bawahan warna tan dipadu kemeja polos hitam itu menarik tangan Anara merapat ke tubuhnya.
Tak kalah, Anara menatap manik mata cokelat milik lelaki di depannya dengan lekat. Tangan Candra sudah berpindah ke pinggang perempuannya, tangan satunya menuntun tengkuk Anara lebih mendekat.
Mata itu terpejam merasakan sapuan napas Candra di wajah cantiknya, satu kecupan lembut mendarat di kening Anara berpindah ke ujung kepala.
"Berharap di sini ya? Udah merem-merem gitu." Jari telunjuk Candra menempel di bibir Anara dibarengi alisnya yang diangkat menggoda.
Hufh
Hanya terdengar hembusan napas kasar dari Anara. Malu bercampur kesal jelas tergambar di raut mukanya. Anara melangkah cepat menuju tangga meninggalkan Candra di belakang.
Tak kalah cepat, Candra meraih tangan Anara dan mengungkung perempuan yang terlihat masih kesal itu pada dinding. Anara membuang wajahnya dari tatapan Candra.
Dipegangnya dagu Anara dan perlahan tangan Candra menuntun wajah cantik itu menatap matanya kembali. Kali ini ciuman Candra mendarat di bibir merah Anara dengan cepat.
"Udah kan?" Anara tersipu malu dengan perlakuan Candra barusan.
"Gitu aja ngambek. Kalau di sini nggak nyaman. Takut ada orang yang lihat." Sekali lagi diciumnya bibir Anara sekilas.
"Yuk!" Candra menggandeng tangan Anara menuruni anak tangga.
"Tadi aku mau ke rumah kamu. Tapi kamu malah kesini duluan." Keduanya sudah sampai di lantai bawah.
"Aku mau pesan tiket. Kamu ikut ya?"
"Kemana?"
"Maksudku kamu mau kemana?"
"Pulkam ke Balikpapan, sayang." Tangan Candra menyelipkan rambut Anara ke belakang telinganya.
"Kapan?"
"Selasa rencananya."
"Kok mendadak?"
"Abahku sakit." Anara hanya mematung mendengar penjelasan Candra.
"Ayuk!" Tangan Candra menarik pelan pergelangan tangan Anara.
"Tadi aku masak Kalumpe, mau dibawa?" Candra membelalakkan matanya tak percaya, kekasihnya sungguh-sungguh menepati ucapannya tempo hari.
"Beneran kamu masak?" Anara mengangguk.
"Ya udah dibawa aja. Nggak jadi ngopi di M.T. Haryono kalau gitu. Langsung ke rumahku ya?"
Anara sibuk menata nasi dan sayur di dua wadah berbeda. Candra hanya memandangi perempuannya itu dengan senyum yang mengembang.
"Sudah. Ayuk!" Tangan Anara menarik lengan Candra keluar dan celingukan sesampainya di halaman kos.
"Kenapa?"
"Mobil kamu mana?"
__ADS_1
"Pakai motor." Candra menunjuk motor trail-nya dan Anara sedikit kecewa karena pasti akan kesusahan membawa dua kotak makanan di tangannya.
"Nggak apa-apa kan?"
"Nggak apa, tapi pelan aja ya!" Pandangan Anara menatap pada kotak yang ia pegangi dengan sendu.
"Iyaa." Candra lalu memakaikan helm pada Anara.
...----------------...
"Kenapa aku juga ikut segala sih, Ndra?" Anara belum berhenti mengomel sejak di perjalanan tadi ketika Candra inisiatif membeli tiket untuknya juga.
"Biar kamu kenal keluargaku. Belum pernah ke Kalimantan juga kan?"
Mereka berdua sibuk mencari piring, sendok, dan dua gelas air putih di pantry dan membawanya ke ruang tamu.
"Tapi nggak lama ya! Aku juga rindu pulang kampung."
"Iya, hari Minggu kita balik ke sini." Candra meraih tangan Anara dan mencium punggung tangan itu.
Mereka makan dengan lahap Kalumpe hasil percobaan Anara dan Candra sibuk berceloteh tentang kotanya, berencana mengajak Anara mengelilingi kota sesampainya di Balikpapan nanti.
"Iya, iya, tapi sekarang diem dulu! Tersedak loh ngomong terus." Anara memperingatkan Candra yang justru abai.
Uhuk uhuk uhuk. Anara mengambil gelas di depannya menyodorkan pada Candra dan diteguknya cepat.
"Pelaaan Ndraa!"
"Aduh panas hidungku." Candra berusaha mengeluarkan sesuatu dari hidung yang membuatnya merasa panas dan tak nyaman.
"Makanya diem kalau makan!"
Anara menepuk-nepuk tengkuk Candra sedangkan lelaki yang tengah apes itu terus-terusan mengembus napas kuat-kuat mengeluarkan sesuatu.
"Akhirnyaaaaaaaa." Anara dan Candra kompak ketika sebutir nasi keluar dari hidung Candra.
"Makanya jangan ngomong mulu kalau makan!"
"Bukannya disayang-sayang malah ngomel mulu kamu." Candra melanjutkan makan dan Anara memperhatikan, lebih ke memelototi Candra agar tak bicara lagi selama menyelesaikan makannya.
Tak lama Bryan masuk dan menghampiri mereka berdua yang saling diam. Pandangannya berbinar ketika tau apa yang tersaji di atas meja.
"Kok ada Kalumpe, beli dimana?"
Bryan menoleh ke Candra dan Anara bergantian. Ketika Candra akan membuka suara, Anara lebih dulu menjawab pertanyaan Bryan.
"Bu-at. aku yang buat."
"Wah, pasti enak. Aku cobain ya?" Anara mengangguk sedangkan Candra mengerutkan dahi tak suka.
"Kenapa lu?" Bryan menangkap sinyal tak suka dari sahabatnya.
"Urusan makan, hidung lu paling peka. Tau aja langsung pulang ini."
Bryan melangkah menuju ke pantry mengambil sendok dan piring dan kembali lagi dengan suka cita.
"Kalumpe, mendaratlah di mulut dengan lembut!" Bryan menyuap nasi dengan semangat 45.
"Pelan woi!" Anara memperingatkan. Tak lucu rasanya jika Bryan akan menyusul Candra tersedak.
"Biarin! Bagus kalau kesedak. Biar insaf jadi playboy."
__ADS_1
Selalu begitu kalian berdua.
...----------------...