Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Pantas Saja


__ADS_3

Malam ini baik Candra maupun Bryan sama-sama tak bisa tidur. Candra sibuk memikirkan Anara. Ia tak tenang selama Janu masih ada di hidupnya.


Sementara Bryan sibuk dengan perasaannya sendiri. Apa mungkin aku jatuh hati pada Caroline? Sekuat hati ia menepis kemungkinan yang ada.


Tidak!!! Di hatiku hanya ada satu nama perempuan yang berhasil melambungkan anganku ketika perjumpaan pertama kala itu.


"Belum tidur lu?" Tanya Bryan ketika Candra terus menerus wira-wiri di dalam kamar.


"Lu juga. Kenapa lu?" Tanya Candra balik.


"Nggak. Emang belum ngantuk aja. Gue cuma penasaran lu kenapa sih, Ndra?"


"Lu inget anak budenya Caroline tadi?" Bryan mengangguk.


"Dia mantannya Anara." Informasi dari Candra sukses membuat Bryan membelalakkan mata.


"Astagaaa pantes lu kalut luar biasa." Ujar Bryan menahan tawa.


"Sialan lu."


"Sebentar. Kok bisa si ... siapa tadi namanya? Juna itu mantan Anara?"


"Ja-nu, Yan. Dia mantan pacar Anara zaman SMA dulu. Gue juga nggak nyangka kalau cewek lu sepupunya lelaki sialan itu."


"Trus hubungannya dengan mobil yang lu sewa?"


"Gue sama Anara mau cari penginapan. Gengsi dong gue numpang hidup di rumah mantannya." Ujar Candra.


"Serius?"


"Ya. Kalian bertiga di sini aja!"


Bryan hanya mengangguk setuju. Tak enak rasanya jika ia ikut cari penginapan. Cukup Candra dan Anara saja yang pergi.


Sementara Anara pun juga tak bisa memejamkan mata, Janu kembali menyusup kehidupannya lagi setelah ia benar-benar lupa. Yang ia pikirkan hanya perasaan Candra, lelaki itu mudah sekali emosi. Ia takut Candra tak mampu mengontrol dirinya.


Rati dan Caroline sudah terlihat pulas setelah mendengar cerita Anara tentang siapa sebenarnya Janu dan apa hubungannya dengan sikap Candra yang semenjak makan malam tadi berubah, hingga lelaki itu menyewa mobil.


"Besok aku bilang ke Bude Ningrum kalau kalian akan berkunjung ke Klaten. Biar enggak aneh gitu kesannya pergi tiba-tiba."


Kalimat Caroline masih terngiang di telinga Anara. Perempuan berwajah oriental itu akhirnya membantunya setelah berembuk dengan Rati. Kebetulan oma Candra dan Rati memang orang Klaten.


Maaf ya Caroline. Merepotkan kamu dan membuat kamu terpaksa berbohong.


Merasa tenggorokannya kering, Anara memutuskan keluar menuju ruang makan dimana air minum tersedia. Setelah merasakan tenggorokannya lebih baik. Ia tak segera kembali, langkahnya menuju taman di sebelah rumah.


Matanya mengedar menyapu seluruh penjuru taman yang remang. Sinar rembulan menerpa wajahnya, didaratkan tubuhnya pada kursi kayu di teras samping rumah.


Angannya mengembara. Mencerna sesuatu yang telah terjadi. Bukankah Janu menetap di Semarang setelah kepergiannya tanpa pesan dulu? Lalu kenapa ibunya di sini?


Ah, ini rumah orang tua Bude Ningrum. Mungkin setelah bercerai. Bude Ningrum kembali ke rumah orang tuanya. Lalu, apa ayahnya masih di Kediri?


"Ah bodo amat." Ujar Anara pada diri sendiri.


"Siapa yang bodo?"


Suara yang tiba-tiba berhasil membuat Anara ingin terlonjak. Laki-laki itu mengambil duduk di sampingnya. Hanya terhalang meja kecil.


"An ... Kamu kemana aja? Kenapa nggak bisa kuhubungi?"


"Nomorku ganti." Jawab Anara singkat. Ia takut kalau Candra tiba-tiba juga muncul, salah paham, dan semuanya kacau.


"Aku tanya sama Nilam. Dia juga nggak bilang apa-apa. Kenapa sih?"


"Sudah malem, Janu. Aku masuk."


"Bukannya kamu sudah memaafkanku? Lalu kenapa kamu menghilang? Balas dendam?"

__ADS_1


"Balas dendam? Sedikit pun nggak ada pikiran untuk melakukannya."


"Lalu kenapa nggak kasih kabar?"


"Apa pentingnya sih buat kamu?"


"Aku masih sayang, An. Aku pengen kita mulai lagi dari awal." Tangan Janu meraih tangan Anara namun segera ditepisnya.


"Aku sudah punya pacar, Janu."


"Ck. Yang mana? Yang berjambang atau yang satunya?"


"Maksudmu?"


"Pacarmu yang mana? Nggak mungkin kamu bisa move on dariku? Pasti dia hanya pelarian."


"Sayangnya enggak. Aku beneran sayang sama dia. Jadi, lupakan aku!"


Janu terkekeh mendengar pernyataan sayang dari bibir Anara untuk orang lain. Hatinya terasa diiris sembilu, ia menyesal dulu melepas cintanya begitu saja. Janu terlalu percaya diri bahwa Anara tak mungkin ke lain hati.


"Hanya aku yang akan memilikimu, An." Senyum Janu menyeringai.


"Buang jauh-jauh khayalanmu itu, Janu!"


"Kita bahkan belum putus." Ujar Janu semakin mendekati Anara.


"Hubungan kita sudah selesai ketika kamu pergi tanpa kabar."


"Nggak. Kamu bahkan masih menyimpan semua tentangku." Mendadak Anara mengingat tindakan bodohnya mengirim gambar barang pemberian mantannya itu.


Tetiba Janu dengan kasar sudah mengungkung Anara menuju dinding. Matanya seperti kesetanan. Ingin rasanya ia merengkuh tubuh dan mengulum bibir perempuan di depannya seperti dulu kala. Seperti ketika kisah mereka indah di zaman SMA.


"Berhenti kamu!" Titah Anara, tetapi Janu seperti tak memerdulikan perintah Anara.


"Akan bagus jika pacarmu tau. Kalian putus dan kamu kembali ke pelukanku." Lagi-lagi senyumnya menyeringai.


"Teriak saja! Rumah ini terlalu luas untuk mengirim suaramu kepada penghuninya."


"Janu, stop!" Lelaki itu semakin mendekat. Tangannya mencengkeram pundak Anara kuat dan napasnya menyapu seluruh wajah Anara.


Bug... Bug ...


Dua kali pukulan menghantam rahang Janu. Membuatnya terpelanting hingga terseok. Candra menarik Anara ke sampingnya, perempuan itu bergetar hebat.


"Lelaki brengsek!!" Umpat Candra hendak memberi bogem lagi. Namun, berhasil ditangkis mangsanya.


"Oh, jadi yang ini kekasihmu?" Diliriknya perempuan yang kini tengah memegangi lengan lelaki yang baru saja menghajarnya.


"Iya. Aku pacarnya. Dan kau, kurang ajar berani menyentuhnya." Berang Candra.


"Aku bahkan sudah lebih dulu menikmati bibirnya jauh sebelum kau." Seringai Janu.


Mendengar penuturan Janu, rahang Candra mengeras.


"Bahkan mungkin, ketika dia sudah menjadi pa-car-mu-lah aku pernah memeluknya."


Anara tak menyangka mantan pacarnya akan mengatakan hal demikian. Ia seolah merutuki dirinya sendiri yang menerima pelukan lelaki sialan itu ketika di stasiun enam bulan yang lalu. Ia menyesal bertemu lagi dengan lelaki masa lalunya.


Bug ... Bug ... Bug ...


Tiga kali Candra melayangkan tinju disertai umpatan-umpatan dari bibirnya. Hati Candra bagai diremas hingga luluh lantak mendengar kalimat terakhir lelaki di hadapannya.


Pukulan itu tanpa perlawanan. Hanya tawa renyah Janu yang terdengar puas melihat kemarahan rivalnya. Malam hening berubah menjadi ricuh. Semua penghuni rumah keluar melihat kegaduhan apa yang tercipta?


"Ada apa ini?" Teriak Bude Ningrum melihat anaknya tersungkur ke lantai.


"Tanya sendiri pada putramu!" Candra menarik Anara ke dalam rumah.

__ADS_1


"Kemasi pakaianmu! Kita cari penginapan!"


Tanpa aba-aba Anara masuk ke dalam kamar, air matanya lolos mengaliri wajahnya. Hatinya bagai dikoyak mengingat kalimat Janu yang masih terngiang di telinganya.


"Ada apa?" Tanya Bude Ningrum membantu putranya berdiri.


"Salah paham, Ma." Lelaki yang babak belur itu menutupi kenyataan agar sang mama tak larut khawatir.


Caroline segera mengambil air dingin untuk mengompres luka sepupunya. Sementara Bryan dan Rati yang sedari tadi mematung menyaksikan peristiwa barusan. Kini sudah menyusul Candra dan Anara.


"Kakak mau kemana?" Tanya Rati mendapati Anara sudah rapi dengan ransel menggantung di pundaknya.


"Mau pergi dari sini." Suara Candra menggema memasuki kamar.


Tangan Candra menuntun perempuannya untuk mengikuti langkahnya. Candra dan Anara memasuki mobil dan dalam hitungan detik, mobil itu meninggalkan Rati dan Bryan yang masih diselimuti pertanyaan.


"Ada apa sih, Mas?" Bryan mengedikkan bahu. Ia sendiri tak tau apa yang membuat sahabatnya begitu marah hingga pergi malam ini juga.


"Mau kemana juga semalem ini?" Rati mengusap wajahnya.


"Masuk! Dingin!" Titah Bryan diangguki Rati.


Mereka menuju ruang dimana Janu berada? Dalam pikiran, Bryan merasa sangsi jika tadi hanya salah paham belaka. Sahabatnya tak mungkin segegabah itu.


"Ada apa sebenarnya?" Suara bariton milik Bryan menghentikan aktivitas Caroline mengompres memar sepupunya.


"Dimana lelaki itu?" Sungut Janu.


"Pergi." Tukas Rati singkat.


Rati kenal betul tabiat kakaknya. Tak mungkin jika tak terjadi apa-apa kakaknya sebegitu geramnya hingga melukai. Apalagi Janu adalah tuan rumah. Tentu akan berpikir seribu kali menghadiahi memar untuknya.


"Sebenarnya ada apa, Nak?" Tanya Bude Ningrum.


"Aku hanya ngobrol, Ma. Tiba-tiba lelaki itu datang memukulku."


"Janu, mama bukan orang bodoh." Bude Ningrum menyadari ada yang anaknya tutupi.


"Dia ... aku masih mengharapkannya, Ma."


"Maksudmu?"


"Dia perempuan yang selalu kuceritakan."


Bude Ningrum memijat keningnya. Tamunya ternyata adalah cinta pertama sang anak. Sementara Janu menyesali ucapannya sendiri. Kalimat-kalimatnya tentu membuat Anara akan semakin menjauh. Ia berkata seolah Anara perempuan murahan.


"Lalu?"


"Tadi aku hmmm ...." Kalimat Janu terpotong.


"Apa?" Bryan angkat suara.


"Aku hanya merayunya." Janu menatap pada sang mama. Tetapi manik mata mamanya seolah meminta penjelasan lebih.


"Dan ...." Lagi-lagi Janu menahan kalimatnya, membuat Bryan semakin emosi.


"Dan apa?" Berang Bryan.


"Kamu merayunya dan apa, Janu?" Tanya Caroline mencoba menenangkan kekasihnya.


"Hendak menciumnya." Janu menunduk. Ia merutuki dirinya sendiri. Menyesal, tapi tiada guna.


"Gila." Ketus Bryan. Sementara yang lain mengembus napas kasar.


Pantas saja Candra sampai begitu marahnya hingga memilih pergi. Jika aku jadi dia. Pasti kulakukan hal yang sama.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2