Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Malam Pertunangan


__ADS_3

Anara sedang duduk di kamarnya, masih dengan bathrobe membalut tubuh. Seorang perias yang datang dari satu jam lalu tengah sibuk memoles wajah gadis itu. Berkali-kali Anara mewanti-wanti agar make up-nya jangan terlalu berlebihan, dibuat senatural mungkin saja.


"Ri, kamu bajunya?" Tanya Bu Eka yang baru masuk ke kamar.


"Sudah bu. Sudah ada," jawab Anara tanpa menoleh.


"Ya sudah, ibu mandi dulu! Nak Hartik daripada nungguin Swari bengong. Makan dulu! Ntar lapar malu lagi, anggap rumah sendiri aja!"


"Iya bu," angguk Hartik tanpa beranjak dari duduknya.


"Kalau mau makan apa, ambil aja ya! Pada ribet sendiri-sendiri," sahut Bu Eka terkekeh, kemudian berlalu.


"Kamu kalau lapar, makan aja Tik!" Seru Anara.


"Enggak, An. Aku kok ikut deg deg an ya. Padahal kamu yang mau tunangan."


"Apalagi aku, Tik? Kayak mau copot jantungku," balas Anara terkikik.


"Masih lama mbak?" Tanya Anara pada perias yang tengah menyapukan kuas lipstik ke bibir Anara.


"Enggak kok mbak. Setelah ini tinggal menyanggul rambut aja."


Sekitar sejam lamanya baru urusan persanggulan itu akhirnya kelar. Jarum jam sudah menunjuk angka lima. Tinggal dua jam lagi acara dimulai. Anara mengembus napas lega ketika perias menyudahi pekerjaan tangannya.


Sebelum mengganti pakaian, gadis yang sudah terlihat lebih cantik dalam polesan make up natural yang flawless itu menyempatkan diri melihat ponsel. Benar saja, keluarga Candra sudah dalam perjalanan menuju Kediri. Anara segera mengetikkan pesan balasan.


Hati-hati ya! Ditunggu di rumah! :)


Sebuah pesan balasan dari Candra menggetarkan ponsel Anara yang sudah teronggok di atas ranjang.


Iya calon istriku. Aku ga sabar ketemu kamu.


Anara yang sudah berganti kebaya broklat maroon pemberian Candra itu pun tersenyum membaca pesan kekasihnya. Kiranya ia sedang merasakan bunga-bunga bertebaran di sekitarnya. Seperti yang dirasakan oleh orang-orang yang lebih dulu memasuki level itu.


"Kamu cantik banget sih, An."


"Aku grogi, Tik."


Hartik memegang tangan Anara, telapaknya benar-benar dingin seolah membenarkan jika sahabatnya itu memang sedang merasakan gugup yang luar biasa.


Padahal itu masih tunangan. Belum lamaran, apalagi nikahan. Bisa-bisa kutub es kalah dingin.


"Swariii, sudah?" Pekik Bu Eka dari luar, tak lama wanita yang sudah cantik dalam balutan gamis berwarna black gold dengan warna jilbab senada itu muncul dari arah pintu.


Menatap putrinya yang sudah cantik dengan senyum mengembang di bibirnya, menampakkan garis halus di usianya yang tak lagi muda. Terlihat sekali Bu Eka tengah berbahagia.


"Kamu cantik," puji Bu Eka.

__ADS_1


"Ibu juga," balas Anara tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.


"Santai Ri! Dulu ibu juga gitu. Doa aja!"


Bu Eka menatap penampilan putrinya dengan seksama, kebaya broklat warna maroon dengan cutting peplum di bagian bawah. Juga kain batik putih bermotif parang yang dikenakan Anara.


"Ri, ini bajunya--"


"Candra yang kasih, bu. Katanya nanti dia pakai kemeja maroon gitu biar seragam," jelas Anara.


"Kok motifnya begini?"


"Kenapa ga yang lain?" Imbuh Bu Eka.


"Candra yang milih bu. Aku tau-tau dikasih ini, disuruh pake gitu. Kenapa bu?"


Bu Eka menggelengkan kepala, "enggak, Ri."


"Sampai mana keluarga Candra?" Tanya Bu Eka masih menatap kain batik yang dikenakan Anara.


"Sebentar lagi, Bu. Sudah sampai Kediri Kota."


"Ya sudah. Ibu keluar dulu ya! Siap-siap."


Bu Eka kemudian keluar dari kamar. Sementara Anara semakin digelayuti perasaan gugup yang kian menjadi-jadi. Bolak-balik gadis itu ke kamar mandi.


Terdengar suara salam dan balasan dari ruang depan. Lalu pertanyaan basa-basi sebagai ucapan selamat datang. Anara masih duduk di kamar dengan Hartik. Hatinya semakin luar biasa gugup.


"Silahkan duduk, makanannya silahkan!" Seru Pak Nyoto dari ruang depan.


Tak lama Bu Eka muncul lagi di kamar Anara, menitahkan anak gadisnya untuk keluar kamar dan menyalami calon serta keluarga Candra.


"Huh, bismillah," lirih Anara beringsut dari duduknya dan keluar.


Melewati beberapa kerumunan kerabat yang duduk di ruang keluarga hingga tiba di ruang tamu yang letaknya paling depan. Anara kemudian menemukan Candra yang terlihat gagah dalam balutan kemeja warna maroon di sana.


Senyum lelaki itu mengembang kala netranya juga menatap ke arah Anara, kekasih yang selama ini menemaninya, yang sebentar lagi akan jadi tunangannya, dan setelah lulus kuliah nanti. Gadis itu akan jadi istrinya, pendamping hidup seutuhnya.


Anara menyalami satu persatu keluarga Candra, termasuk Abah Kayaat, Mama Ira, juga Rati turut serta dalam acara ini. Senyum bahagia tentu tak dapat disembunyikannya.


Terakhir tangannya menuju ke arah Candra yang tengah berdiri menantinya. Kedua pasangan itu terlihat canggung dan malu-malu. Kemudian mengambil duduk bersebelahan.


Pertemuan itu hanya memperkenalkan kedua keluarga saja. Agar lebih saling dekat dan tentu tak akan ada pria atau perempuan lain yang mungkin mendekati kedua pasangan yang tengah senyum-senyum sedari tadi.


Mama Ira memberikan sebuah cincin berlian yang diwakilkan kepada Candra. Lelaki itu menyemat cincin berlian ke jari manis Anara sebagai tanda bahwa Anara diterima dengan baik oleh keluarga Candra.


Acara dilanjutkan dengan makan bersama sembari ngobrol ringan tentang segala hal. Suasana benar-benar hangat malam itu.

__ADS_1


"Kak, selamat yaaa! Akhirnya tunangan. Ih mau jadi kakakku, ga sabar deh, mau curhat-curhat. Belanja bareng, make up bareng, bareng-bareng semua," seloroh Rati yang duduk di sebelah kiri Anara.


"Kakak cantik banget malam ini," tambah Rati.


"Makasih ya Rati!" Balas Anara tersenyum.


"Oh ya, kak. Mas Bryan kok ga hadir ya? Sibuk banget kerjaannya?" Tanya Rati memasang wajah penuh tanya.


Jelas pertanyaan itu akan muncul mengingat selama ini antara Candra dengan Bryan sudah sepaket. Dan tiba-tiba lelaki bermata cokelat itu absen di acara penting sahabatnya. Menimbulkan ragam pertanyaan.


"Panjang ceritanya, Rati."


"Sayang banget yaaa," sahut Rati dengan wajah menyayangkan.


"Aku nanti tinggal di sini dulu ya!" Ucap Candra.


"Heh, Mas Djata mau ngapain? Ikut pulang ke Malang dong!" Sahut Rati yang turut mendengar.


"Anak kecil ikut-ikutan aja sih, diem! Ini urusan pasangan yang sudah tunangan. Jomblo diam!" Pungkas Candra membungkam Rati tak lagi menyahuti.


Pukul sembilan malam acara perjumpaan dua keluarga itu usai. Mengingat perjalanan Kediri ke Malang memerlukan waktu sekitar dua jam, Pak Nyoto menawarkan kepada keluarga Abah Kayaat agar bermalam di Kediri dulu.


Tetapi mereka menolak dengan alasan terlalu merepotkan nantinya. Akhirnya, yang tinggal hanyalah Candra dan Rati. Sedang dua mobil lainnya memutuskan balik ke Malang lewat jalur selatan.


"Kamu bahagia?" Tanya Candra ke Anara yang duduk di sampingnya. Jemari Candra menggenggam erat tangan Anara yang tak lagi sedingin tadi.


Mereka tengah duduk di halaman depan rumah. Menikmati silir angin malam yang dinginnya hingga ke tulang. Tetapi, masih kalah dengan perasaan keduanya yang tengah hangat.


"Bahagia sekali, terima kasih," balas Anara menatap netra Candra.


"Aku juga bahagia. Aku harap setelah ini kita semakin serius, dewasa, dan ga mudah saling goyah, An."


Anara mengangguk lalu menyungging senyumnya, "iya Candra."


"Besok kita balik Malang kan?" Tanya Candra meraih dagu Anara. Tangannya merangkul pinggang perempuannya semakin dekat.


"Iya, sore."


Candra mencium sekilas bibir Anara sebelum perempuan itu menarik dirinya, "nanti ketahuan."


"Sudah tidur semua, pasti capek," balas Candra kembali menyesap bibir Anara, dengan cepat menyeruakkan lidah ke dalam. Menekan tengkuk Anara agar pertautan bibir mereka lebih lama.


"Candraa, aku juga capek. Ngantuk," ucap Anara mengakhiri ciuman mereka.


Candra hanya mengangguk pasrah, kemudian melangkah masuk rumah mengiringi Anara.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2