
"Sabar, An!" Ucap Hartik ke sekian kali sembari mengusap punggung Anara yang masih terisak.
"Sudah jalannya. Justru bagus kamu tahunya sekarang. Jauh sebelum kamu putusin buat nikah sama Candra. Tuhan sayang sama kamu," pungkas Hartik.
"Aku kecewa Tiiik."
"Kesel setengah mati."
"Bisa-bisanya dia bohong. Bisa-bisanya dia ngajak tunangan padahal baru menodai perempuan lain."
"Apa namanya kalau bukan ba jingan?"
"Alasannya resign kerja ... pindah ke Balikpapan pasti karena ingin lari dari ini," cerocos Anara tiada henti meski suaranya timbul tenggelam.
"Setidaknya sekarang kamu udah tahu. Kamu ga akan dibohongi," ucap Hartik terus menguatkan.
Anara perlahan merenggangkan pelukannya pada Hartik. Menyusut hidung dan mata yang sudah banjir sedari tadi. Wajahnya merah, menahan marah juga luka.
"Lukamu ini jadi pelajaran paling berarti."
Anara hanya mengangguki ucapan Hartik. Kemudian beringsut dari hadapan sahabatnya menuju ke kasur.
"Keputusanku sudah betul kan Tik?"
"Meminta dia tanggung jawab? Bersikap selayaknya pria ... ga lari gitu aja?"
Hartik terlihat menyusul Anara yang sudah duduk tercenung. Menepuk bahunya yang terkadang masih naik turun untuk menormalkan suasana hatinya yang kacau.
"Semoga, An! Semoga Candra juga mau tanggung jawab. Kasihan kalau sampai cuci tangan," jawab Hartik.
"Kamu tenangin diri dulu! Aku mau keluar," ucap Hartik lagi.
"Biar aku lihat Candra masih di depan atau gak," imbuh Hartik bangkit dari duduk dan meraih sling bag dari atas meja.
Ekor mata Anara masih menekuni setiap gerak gerik Hartik tanpa keinginan bertanya sesuatu. Dirinya yang biasanya penuh rasa ingin tahu, mendadak kehilangan minat, karena bagi Anara sekarang masalah hidupnya begitu menyita waktu dan pikiran.
Seperginya Hartik dari kamar. Anara hanya diam memutar-mutar setiap memori hidupnya. Kenangan bersama Candra selama beberapa tahun ini yang baginya tentu sia-sia.
Keputusannya menerima Candra kembali ternyata bukan sesuatu hal yang tepat. Justru sekarang menjadi rumit. Karena Anara harus menyusun kata untuk menyampaikan kabar paling mengejutkan pada keluarganya.
PADA KELUARGANYA.
BAGAIMANA CARANYA?
Apa iya aku harus ngomong kalau Candra ngehamilin perempuan lain? Astagaaaaa.
Atau pakai alasan paling klise ... karena udah ga cocok.
Kepalanya terasa pening memikirkan itu. Menyampaikan pada keluarganya adalah masalah paling membebani pikiran saat ini. Beruntung ini semua terjadi ketika skripsinya sudah kelar.
Bisa beda cerita kalau skripsinya masih proses pengerjaan. Bisa mangkrak.
Mata Anara terasa berat lama-kelamaan. Hingga kantuk pun melanda. Membawanya yang lelah menangis perlahan masuk dan menapaki alam mimpi.
...----------------...
"An, bangun!"
__ADS_1
"Anara. Hampir magrib."
"Aaan. Bangun!"
Suara berisik dari Hartik membuat Anara berangsur mendapatkan kesadaran. Matanya masih dikerjapkan berkali-kali. Mata yang pedih karena lama menangis kini malah terasa lengket dan semakin berat setelah tertidur.
Jam berapa ini?
"An. Bangun! Udah hampir magrib. Mandi sono!" Cerocos Hartik.
"Jam berapa? Kok udah pulang?"
"Jam lima, An. Udah petang tuh! Mandi!" Sergah Hartik.
Anara masih mengucek netranya, menguap berkali-kali. Menangis ternyata memudahkan dirinya mengantuk. Tapi, sialnya hingga terbangun kenyataan juga tak berubah.
"Candra masih di depan tadi pas aku pergi," cetus Hartik melihat Anara yang masih duduk terdiam mengumpulkan kesadaran.
"Dia tanya kamu gimana."
"Aku jawab, sakitlah tapi syukur karena tahunya ga telat. Lagian sakit itu pasti akan berangsur hilang. Tinggal menunggu waktu," ujar Hartik mengulangi gaya bicaranya pada Candra.
"Juga orang baru," tambah Hartik menyeringai.
"Kamu bilang gitu?" Tanya Anara dengan mata melebar.
Hartik mengangguk, "iyalah. Tinggal nunggu orang baru yang bakal menawar lukamu. Tinggal kamunya, buka hati apa enggak."
"Ya ampun Hartiiiik," keluh Anara menepuk kening.
Hartik lagi-lagi mengangguk, "udah mandi sono!"
"Jangan sampai patah hati buat kamu malas mandi malas makan kayak yang udah-udah. Ga banget, An."
"Kamu ngomong gitu karena ga ngalamin Tik," ucap Anara membela diri, masih sempat-sempatnya.
"Amit-amit nauudzubillah aku ngalamin kayak kamu, An! Jangan sampai!"
"Amiiin."
"Kamu darimana sih ngomong-ngomong?"
"Ada deeeh," Hartik melebarkan bibirnya, tersenyum penuh arti.
"Kencan ya?"
"Ya ampuun. Sahabatnya lagi susah begini, malah kencan lagi."
Hartik membulatkan mata dan menukas kalimat Anara, "enggak. Bukan. Serius ga kencan. Apaan sih? Aku ga mau pacar-pacaran. Kapok, lihat kamu yang begini."
"Trus darimana?"
"Pengen tahu amat. Udah naik sono! Mandi! Habis itu turun kita cari makan! Aku udah laper," cerocos Hartik.
"Iya iya," balas Anara dengan gerutuan panjang pendek.
"Mirip emak-emak. Tinggal nyari bapaknya. Lagian baru keluar kok laper. Ga diajakin makan sama calon bapak?" Ledek Anara dengan senyum mulai terbit di wajahnya.
__ADS_1
"Udah An! Sono!" Titah Hartik mengibas jarinya. Menyuruh Anara segera berlalu.
Dengan langkah gontai yang napasnya seolah tinggal Senin dan Kamis Anara menapaki satu per satu anak tangga. Keadaan hatinya yang kacau membuat tangga begitu terasa semakin panjang. Ia tentu tengah malas luar biasa untuk melakukan hal-hal seperti mandi dan makan.
Tapi, tentu dengan menemui Hartik, bersama dengan Hartik (sahabatnya yang alim itu) akan mengisi satu ruang kosong di hatinya, yang baru ditinggal oleh Candra.
Tertawa penuh paksa sekarang bukanlah pilihan buruk. Akan Anara lakukan selama itu membuat keadaan hatinya lebih baik daripada menyendiri dan merasakan kesepian yang akan memunculkan Candra di setiap apa pun sapuan matanya.
Tidak akan ia izinkan!
Anara segera membasuh tubuhnya dengan gerakan kilat. Yang penting mandi. Mau wangi atau enggak sama sekali, yang jelas ia mandi sesuai instruksi Hartik.
Dalam balutan kaus oblong dan celana sebatas lutut warna hitam-hitam. Anara sudah kembali berdiri di ambang pintu kamar Hartik yang tidak ditutup sempurna.
"Udah? Cepet amat?"
"Kalau kelamaan, bisa pingsan kamu nungguin," balas Anara tak ambil pusing.
Hartik hanya mencebik, "oke kita cari makan! Cari udara segar lebih tepatnya buat yang baru ditinggal pacar."
Anara menatap tajam ke arah Hartik, "mau cari makan apa cari mati Tik?"
"Buseeet. Kaleem dong! Iya iya kita cari makan," sahut Hartik sesegera mungkin. Meraih jilbab dan mengenakannya.
Anara dan Hartik keluar gerbang dan mulai menyusuri gang demi gang bangunan rumah, ruko, dan kos-kosan mencari makan malam khas mahasiswa.
"Aku tadi ketemu Bryan," ucap Hartik memecah diam di antara mereka.
Seketika Anara menghentikan langkahnya.
"Ayoo sambil jalan!" Hartik menarik lengan Anara. Hartik tentu tak ingin kehabisan makan malam.
"Nanyain kamu."
"Kamu cerita?"
Hartik menggelengkan kepala, "enggak. Lebih baik kamu sendiri yang cerita."
"Apa urusannya?" Decak Anara ketus.
"Jelas urusannya. Kan dia suka," balas Hartik tanpa menoleh.
"Ga ada salahnya An. Siapa tahu nyembuhin lukamu," ucap Hartik lagi.
Apa maksudnya? Cari pelarian? Ga ada beda sama Candra dong!
"Kamu nyuruh aku cari pelarian Tik?" Tanya Anara masih dengan langkah tak terhenti.
"Bukan pelarian. Kali aja curhat ke dia bisa memperbaiki keadaan hatimu, An. Ga ada salahnya."
"Ini saran?" Tanya Anara menatap Hartik yang hanya mengangkat alis.
Anara dan Hartik masih terus berjalan.
Kata orang obat dari kehilangan seseorang adalah kemunculan seorang lainnya. Waktu yang paling tepat untuk masuk ke ruang seseorang adalah ketika seseorang itu tengah berduka. Karena di saat seperti itu, seseorang sedang tak ingin mandiri, sedang butuh orang lain yang mampu menawar lara hati.
...----------------...
__ADS_1