
Candra melepas pelukan keduanya demi melihat wajah perempuan yang dicintai mati-matian olehnya. Satu-satunya perempuan yang diharapkan jadi labuhan terakhirnya, bukan yang lain.
"Aku akan membuatmu yakin, An! Akan selalu menyambutmu, meski kamu sendiri yang memintaku pergi nanti."
Anara menggelengkan kepalanya, dia harusnya sadar mungkin Bryan hanyalah ujian cinta mereka berdua. Tetapi, hatinya goyah hanya karena kisah usang yang hampir jadi kenangan.
"Makasih, Ndra."
"Aku yang terima kasih, kamu mau untuk tetap diyakinkan bahkan setelah kesalahanku yang tak termaafkan."
"Candraaaaa," Anara menghambur ke pelukan lelakinya lagi.
Hatinya sedikit lega, tak menutupi apa pun dari Candra. Memang begitu seharusnya hubungan mereka. Tak ada dan tak akan ada yang harus ditutupi.
Pelukan yang berlangsung lama. Hangat menenangkan dan mengembalikan kisah-kisah indah keduanya. Sampai Anara tak lagi terisak, baru Candra melepas pelukan mereka.
Menangkup wajah Anara yang cantiknya tertutup rona merah karena tangisan tadi, membuat gejolak bersalah di hati Candra naik ke permukaan. Tapi, toh Anara memintanya meyakinkan lagi.
"Kita lupakan masa lalu! Aku harap pelan tapi pasti aku bisa membuatmu lupa pada lelaki itu, dan aku akan jadi satu-satunya rumah, An."
Tatapan keduanya sama-sama sayu. Tatapannya saling mengunci, menyiratkan sesal juga harapan. Anara menepis pelan tangan Candra yang menangkup wajahnya.
Namun, di detik selanjutnya. Dengan cepat wajah Anara maju menuju kekasihnya. Menghampiri bibir Candra dan mencium lelaki itu dengan lembut lagi dalam. Menyesap bibir bawah Candra seolah ingin menghapus Bryan dari ingatan.
Seolah Anara ingin menebus kesalahannya karena hatinya yang berpaling. Dengan agresif perempuan yang napasnya semakin terengah-engah itu mengulum lembut bibir Candra bergantian. Mencoba menemukan perasaannya yang hilang.
Candra membalas setiap sapuan bibir dan lidah Anara dengan tak kalah lembut. Lidahnya berganti menyeruak, menyapu seluruh rongga rasa yang ditawar Anara. Keduanya meneguk rasa yang sempat tawar, mengembalikan hangat yang semula hambar.
"Ndraa," desah Anara ketika perlahan Candra menurunkan ciuman bibirnya.
Bibir Candra menyapu leher Anara hingga sampai ke pangkal kancing kemeja. Tangannya sibuk meremat gundukan di depannya dengan lembut. Meloloskan Anara mengeluarkan suara yang semakin membuat tangan Candra giat memijat.
"An!" Ucap Candra melepas sebentar pagutannya. Kemudian, tangannya menyentuh kancing paling atas kemeja Anara.
Anara mengangguk sebagai tanda persetujuan. Kembali Candra ******* lembut bibir bawah Anara. Tangannya mulai melepas kaitan kancing kemeja. Jarinya membelai lembut benda kenyal itu.
Dengan satu jari Candra menjelajahi kedua benda kenyal itu bergantian. Memberi sensasi gelenyar untuk Anara yang menunggu aksi lebih. Namun, Candra tak menunjukkan kemajuan.
Tangan Anara menangkupkan tangan Candra pada benda kenyal miliknya tanpa melepas ciuman. Candra yang mendapat undangan segera meremas kembali benda yang masih tertutup itu.
Perlahan, tangan Candra semakin masuk membelai benda favoritnya itu tanpa melepas penutupnya. Bermain di pucuk benda kenyal Anara dan membuat Anara semakin kuat menyesap bibirnya.
__ADS_1
"Ndraaa!"
Candra semakin intens memijat benda itu. Kain penutup benda itu sudah terangkat ke atas dengan posisi tak karuan setelah tangan Candra melepas kaitannya.
Dua benda yang menyembul dari tempatnya itu diperlakukan dengan lembut secara bergantian oleh tangan Candra. Kemeja itu sudah tertanggal dengan sempurna menampakkan lekuk tubuh indah Anara.
Candra tengah menikmati pemandangan di depannya, pemandangan indah dari perempuan pujaannya. Tangannya mendorong pelan tubuh Anara hingga terbaring di kasur.
Perlahan Candra merangkak menaiki tubuh polos Anara yang menghipnotis netranya. Setelah menyapu seluruh lekuk tubuh itu, Candra membenamkan wajahnya di antara dua dada Anara. Menghirup dalam aroma kekasihnya.
Bibir Candra beringsut menyapu kulit putih bersih yang berupa gundukan daging itu dan meninggalkan beberapa tanda merah di sana. Kemudian, berangsur beralih ke pucuk dada dan bermain di sana.
Tangan Anara menjambaki rambut Candra merasakan sensasi yang diberikan. Tubuhnya semakin menegang seiring permainan tangan dan lidah Candra yang intens.
"Ndraaa!" Anara terus menyuarakan nama lelakinya.
Candra menatap sekilas netra Anara yang nampak memohon. Matanya sendu menginginkan lebih. Kembali Candra membenamkan wajahnya. Mulai menyapukan lidahnya kembali dan menggigiti lembut pucuk cokelat itu.
"Candraaaa!" kembali Anara mengerang merasakan tubuhnya menegang.
Tangan Candra mengusap bagian bawah Anara dari luar. Anara semakin menggoyangkan badannya ke sana kemari tak karuan. Ia benar-benar sedang dilambungkan oleh Candra. Melayang di atas awan-awan rasa.
Mendapati Anara terlihat tak menepis tangannya. Membuat Candra semakin liar, tangannya menyusup masuk ke dalam dan berhenti di pangkal paha perempuannya untuk beberapa saat.
Anara menggelengkan kepala pelan. Candra tak meneruskan penjelajahan tangannya dan kembali mencium bibir Anara. Ia tak ingin melukai hati kekasihnya lagi. Cukup sudah amarah Anara yang kemarin.
"Kamu coba kebayanya!" Seru Candra melepas ciuman. Anara mengangguk.
Candra menarik tubuh polos kekasihnya, kemudian memakaikan penutup benda kenyal yang banyak bercak merah itu. Senyumnya disungging dengan tulus bahagia.
"Semoga pas di kamu," tambah Candra.
Anara mengangguk dan mulai beringsut dari ranjang. Meraih kebaya yang teronggok dan memakai baju itu menutupi tubuh polosnya. Candra masih tersenyum menyaksikan calon tunangannya.
"Cantik. Pas ya?" Ucap Candra memerhatikan Anara.
"Iya. Kok bisa pas."
"Pas lah," Candra mengangkat sebelah alisnya.
"Kan udah tau ukurannya," tatapan Candra jatuh kepada benda kembar itu.
__ADS_1
"Ya ampuuun. Omes ... otak mesum," sambung Anara.
"Kain bawahnya cobain! Ga lucu kalau kegedean."
"Kamu keluar dulu!"
"Ngapain?" Tanya Candra memasang wajah heran.
"Ya malu lah," sahut Anara memanyunkan bibir.
"Dari kapan? Udah cobain! Aku juga udah tau," balas Candra mendapat hadiah lemparan kemeja di wajahnya.
"Tutup mata!" Pekik Anara yang dipatuhi oleh Candra.
"Udah belum?"
"Udaaaaah."
Anara sudah rapi dengan setelan kebaya brokat warna maroon dan bawahan putih motif parang. Aura perempuan Jawa kental sekali dipancar oleh perempuan itu.
"Kamu ga sakit kan, An?" Tanya Candra ketika melihat kekasihnya.
"Ha? Enggak. Kenapa?"
"Kamu persis bidadari jatuh dari surga."
"Astagaaa, gombalanmu kuno banget," ucap Anara menghambur ke lelakinya. Wajahnya merona merah menahan malu.
"Tapi kamu suka kan?" Tanya Candra mendapat anggukan.
"Makasih ya."
Candra mencium bibir Anara sekilas. Kemudian keluar kamar setelah puas memerhatikan kekasihnya. Bersyukurnya Candra dimaafkan oleh Anara, gadis yang begitu mengguncang dan meruntuhkan hatinya hanya dengan air mata.
Makasih, Ndra! Setidaknya aku jadi sedikit yakin menjadikanmu rumah untuk pulang.
Anara mengganti bajunya, merapikan rambutnya yang sempat tak karuan karena ciuman panas tadi. Wajahnya tak lagi dingin, dia sudah selesai. Tetapi kakinya tak menuju pintu keluar, melainkan berjalan menuju sisi lain ranjang dan membuka laci nakas tempatnya dulu ia menemukan foto Anjani.
Tak ada apa pun di laci itu. Anara lega karena Candra serius mengubur kenangan cinta pertamanya itu. Dengan hati bahagia, Anara bergegas menuju pintu. Hingga netranya menangkap sebuah benda kecil di lantai.
Tangannya memungut benda bulat itu. Kemudian bergumam lirih, "milik siapa?"
__ADS_1
...----------------...