
Hingga petang tiba hujan tak kunjung mereda, suara gemuruh masih bersahut-sahutan menyertai kilatan petir di sini sana. Dua mangkuk bekas mi kuah yang sudah tandas dari tadi masih tergeletak di meja ruang tamu. Makan mi kuah pas hujan, uuh enaknya.
Candra dan Anara tengah menikmati film Titanic yang sangat melegenda itu. Sebenarnya ini bukan kali pertama keduanya menonton film yang mengisahkan tenggelamnya kapal di tahun 1912 itu.
Film yang terkenal dengan kisah cinta beda kasta antara Jack dan Rose ini bahkan menghipnotis berjuta pasang mata yang telah menontonnya. Cerita yang barangkali sangat mendunia.
Demi melihat film itu untuk kesekian puluh kali, Anara berdempet-dempetan dengan Candra karena layar laptop tak selebar layar bioskop.
Perempuan itu bahkan sudah hafal betul bagaimana plotnya, setiap potongan adegan sudah di luar kepala. Hanya, kali ini Candra turut serta di sampingnya, itu yang membedakan dengan acara nonton sebelumnya.
"Dingin ya?"
"Iya." Anara menjawab tanpa melihat si penanya. Matanya terlalu fokus pada laptop di meja.
Tanpa disadari, Candra sudah kembali dari kamar dengan membawa selimut dan menutupi tubuh mereka.
"Kapan kamu ambil selimutnya?" Anara heran karena kakinya yang sudah bersila di atas sofa mendadak merasa hangat.
"Nggak ambil. Ke sini sendiri ini."
Anara menoleh pada Candra yang kini posisinya sudah sangat dekat dengannya. Dikernyitkan dahinya sebagai tanda tak percaya pada jawaban Candra.
"Ya kamu, nonton film segitunya. Sampai nggak sadar sekitar."
"Huss, ini udah mulai seru." Anara menempelkan telunjuk pada bibirnya sebagai perintah agar Candra diam sesuai kemauannya.
Layar di laptop menunjukkan adegan ketika Jack dan Rose berada di ujung dek kapal. Rose merentangkan kedua tangannya dan Jack memegang erat pinggang wanita di depannya.
Dengan latar langit berwarna jingga yang kata orang sangat romantis itu, Jack dan Rose yang terbawa suasana akhirnya larut dalam cumbuan mesra yang manis.
Anara masih menatap adegan itu dengan khusyuknya. Menikmati setiap alur cerita hingga ia tersadar Candra masih di sampingnya. Ia lupa sedang tak berada di kamar kos, melainkan di rumah pacarnya yang kini menatap ke arahnya dengan tatapan tak biasa.
"Kenapa?"
"Khusyuk banget nikmati adegannya. Kamu kan sering lihat ini. Ganti film lain aja deh!"
"Nggak." Perkataan Anara sudah diketok palu dan tak bisa digugat.
...----------------...
"Candra."
"Iya."
"Anter pulang doooong!" Anara mulai gelisah karena hujan tak kunjung reda sementara Hartik sudah berkali-kali menanyai keberadaanya melalui pesan-pesan singkat di WA.
"Masih hujan, An."
"Kan bisa pakai mobil."
__ADS_1
Oh, iya ya. Alasan yang terkesan mengada-ada. Tapi kan aku ingin berdua-duaan, Anara.
"Nggak. Kamu di sini aja!"
"Aku butuh mandi, butuh ganti baju. Ini rasanya udah nggak enak, Ndra." Anara mulai merengek berharap hujan reda, atau berharap Candra segera mengantarnya.
"Ya udah mandi aja! Di sini juga ada air."
"Bajuku kan di kos. Masa iya setelah mandi aku pakai ini lagi. Bau dong." Anara mencium bajunya yang memang sudah beraroma matahari.
"Hmmm ... Pakai punyaku mau? Daripada nggak ganti."
Anara terdiam dan mulai menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Gimana?"
"Ribet ya? Mending anter pulang!"
"Berkah ya hujan kali ini. Bisa berdua sama kamu, sepi lagi." Mata Candra mulai menggoda.
"Eh iya, Bryan dimana?"
"Ya di kampus lah, nungguin properti. Dia apa aja dikerjain. Heran."
Mata Candra kembali dikedip-kedipkan pada Anara dibarengi senyum penuh tanda tanya.
"Mikir apa kamu?"
Anara masih diam di tempatnya, sementara Candra sudah menuju kamar dan kembali membawa handuk serta kemeja berwarna putih bersih.
"Udah mandi sana! Ini handuk bersih masih aroma parfum laundry dan ...." Kalimat Candra tertahan ketika Anara mencium handuk yang baru saja diberikan olehnya.
"Astagaaa ... kamu nggak percaya?"
"Memastikan ajaaaa." Anara terkekeh dan meraih kemeja putih yang Candra sodorkan padanya.
"Itu kemeja putihku masih baru, rencana kupakai untuk sidang, tapi nggak masalah kamu pakai duluan. Ntar biar nggak kucuci sampai sidang menjelang." Candra mengangkat alisnya naik sebelah.
"Iih jorok."
"Nggak apa-apa kan? Aroma tubuhmu juga."
"Yaudah, aku mandi nih?"
"Iya, nggak lama ya!" Candra mengambil ponsel dan tangannya sibuk mengetik sesuatu.
Anara sudah menuju kamar mandi berniat membersihkan diri sampai tiba-tiba langkahnya berbalik arah menghampiri Candra yang masih fokus pada gawainya.
"Candra."
__ADS_1
"Hmmm."
"Pakaian dalam?" Candra menoleh pada Anara yang sudah memanyunkan bibirnya.
"Harus ganti juga ya? Gimana dong? Kan aku nggak punya."
"Ya udah anterin aku pulang!"
"Hufh. Udah pakai punyaku aja ya? Bersih kok."
What??? Aku pakai kampesmu? Gilaaaaaa.
"Aroma parfum laundry juga?"
"Nggak lah, malu kali nyuciin pakaian dalam ke laundry."
"Ya udah. Anter pulang yuk! yuk!"
"Ribet banget ya cewek. Udah pakai yang ada itu aja. Nggak bakal ada yang tau juga."
"Kan kamu tau."
"Kan aku nggak lihat Anaraaaa. Udah ya? Pilihannya kamu pakai lagi pakaian dalammu, pakai punyaku, atau nggak usah pakai sekalian." Alis Candra sudah naik turun diiringi seringai nakal.
Urusan mandi dan daleman aja bisa sekeruh itu.
"Lagian tinggal anter pulang aja ribet!" Anara sangat kesal dengan kelakuan Candra yang ribetnya nggak ketulungan. Satu kakinya dihentakkan keras ke lantai dan badannya berbalik menuju kamar mandi namun langkah Anara tertahan oleh pelukan dari Candra.
"Kan aku pengen dua-duaan sama kamu sayang." Saking dekatnya, hembusan napas Candra terasa hingga ke tengkuk Anara.
"Iya, tapi bukan juga aku harus pakai punyamu, kan gimana gitu." Kali ini Candra membalikkan tubuh Anara menghadap ke arahnya.
Tangan Candra masih memeluk pinggang Anara dan tatapannya kian sayu. Perlahan ia memberanikan diri mengecup bibir Anara, tanpa penolakan, ia gigit pelan bibir bawah perempuannya hingga Anara sedikit membuka bibirnya dan lidah Candra sudah masuk semakin dalam menyesapi bibir Anara, mereka saling bertukar saliva di sana.
Ditahannya tengkuk Anara agar kegiatan ini tak segera berlalu. Napas keduanya saling memburu. Satu tangan Anara sudah berada di pinggang Candra dan tangan lainnya memegangi leher lelaki yang tengah menikmati cumbuannya.
Candra semakin dalam dan intens melilitkan lidahnya pada lidah Anara. Sesekali memberi jeda untuk keduanya mengambil oksigen dan melanjutkan cumbuan lagi ... lagi ... dan lagi.
Tanpa melepas pertautan bibir mereka. Candra menggiring langkah Anara menuju sofa. Anara duduk di pangkuan Candra dan benda kenyal miliknya menempel sempurna pada tubuh Candra yang membuatnya menegang. Hujan di luar semakin menghanyutkan keduanya.
Perlahan Candra menurunkan ciumannya dan bibirnya menyapu leher jenjang milik Anara, mengisapnya seolah haus penuh damba, meninggalkan bekas kemerahan yang nyata. Sebentar kemudian bibir Candra sudah berpindah pada bagian belakang telinga Anara. Menggigit dan menyapunya dengan lidah membuat Anara berada di awang-awang.
Tangannya tak hanya diam, ia meremas pelan gundukan daging dalam balutan kain yang sedari tadi membangunkan hasratnya. Suara desahan dan lenguhan dari bibir Anara seakan menuntun tangannya untuk melepas kancing kemeja milik Anara.
Anara menahan tangan Candra dan menggeleng pelan. Perlahan pagutan Candra melonggar. Masih mengatur napas yang tersenggal, Candra mengusap lembut bibir Anara, membersihkan sisa percumbuan barusan.
"Aku mandi dulu." Anara turun dari pangkuan Candra dengan ritme napas sudah sedikit normal. Wajahnya merona malu.
"Aku suka." Tangan Candra sudah berada di atas dada Anara.
__ADS_1
Anara segera menuju kamar mandi sebelum Candra kembali berulah.