
Setelah dua jam berkubang di toko buku menemani Anara. Akhirnya Candra keluar juga menghirup udara segar. Niatannya ia ingin mengajak perempuannya pergi ke tempat romantis untuk membayar waktu mereka yang selama ini tercurangi oleh jam kerja.
Rati dan Bryan yang sedari tadi entah kemana kini sudah ikut bergabung kembali. Keduanya kelihatan happy sekali, berbeda dengan raut wajah Candra. Lelaki dengan jambang tipis itu terlihat tertekan.
Bukan karena tak suka untuk menemani Anara, tetapi Candra agak kurang bisa berada di dalam ruangan dalam tenggat waktu yang lama. Kecuali jika di dalam ruangan itu hanya ada dia dan Anara. Lebih dari dua jam pun sepertinya ia tak mengapa.
"Happy banget. Dari mana kamu?" Tanya Candra pada sang adik.
"Dari naik andong."
"Hah? Nggak salah denger."
"Enggak. Kita emang baru keliling naik andong." Sahut Bryan.
"Aku ditinggal? Ya ampuun kalian. Bisa-bisanya keliling kota naik andong, nggak ngajakin aku pula." Sergah Anara.
"Ya udah ajakin Mas Djata, Kak!" Ucap Rati.
"Nggak ... nggak. Aku laper."
"Iya. Makan aja yuk!" Timpal Bryan merasakan perutnya juga kelaparan.
"Sarapan apa nih, Rat?" Tanya Candra.
"Rat-ti!"
"Iya, iya. Cepetan! Keburu kelaperan nih."
"Sarapan brongkos di Alkid, yuk!"
"Apa?" Kaget Candra.
"Brongkos. Kuping lu congek?" Ujar Bryan pada Candra.
"Emang gue baru denger, kadal. Lagian lu tau itu apaan?"
"Nggak. Yang jelas itu makanan dan bisa mengisi perut gue yang keroncongan." Sahut Bryan.
"Ya udah, yuk Rati! Kalian di depan!" Ucap Anara.
Rati dan Bryan sudah berada di depan. Menuju daerah alkid untuk mencari sarapan bernama brongkos itu. Di sebuah warung makan sederhana keempatnya berhenti dan memesan sarapan.
"Mau sarapan apa?" Tanya Rati.
"Samain semua aja! Ngikut kamu." Jawab Candra.
"Oke."
Gadis Kalimantan dengan celana jins berpadu kaus v-neck warna hitam dibalut sweater biru dongker itu berjalan menuju tempat pesan. Sementara tiga lainnya menuju bangku di ujung sana.
Rati kembali bergabung dengan kakak-kakaknya. Bercengkerama sembari menunggu pesanan datang. Bersyukur rasanya hadir di antara mereka yang hangat.
Beberapa menit kemudian, pesanan empat piring brongkos komplit dengan empat gelas wedang uwuh mendarat di meja mereka. Aroma rempah dari brongkos menyeruak ke hidung masing-masing.
"Kayaknya enak ini." Ujar Anara menelan ludah.
"Laper beneran kayaknya." Balas Candra.
"Iyalah. Jam segini baru sarapan."
"Siapa suruh di toko buku dua jam?"
"Nggak ikhlas nganterin?"
"Ikhlas. Udah! Kita makan!"
Rati dan Bryan yang baru saja menggeleng karena ulah pasangan lebay di depannya kini mulai menyuap brongkos dan membiarkannya mengisi perut yang kosong hingga cukup terisi. Wedang uwuh mengakhiri prosesi sarapan kesiangan kali ini.
"Pulang ya?"
"Pulang kemana?" Bryan balik menanyai Candra.
"Ya elu ke tempat lu. Kita ke kos Rati lah."
"Nggak, aku masih mau jalan." Tukas Rati sambil melenggang.
Akhirnya mereka berempat sudah berada di salah satu mal Kota Jogja. Mengikuti arah kaki Rati keluar masuk dari satu gerai ke gerai lainnya. Kali ini gadis itu tengah sibuk menimbang pilihan tas dari brand Tiongkok.
"Udah?" Tanya Candra ketika melihat Rati keluar dari gerai produk Tiongkok.
"Belum."
"Ha?" Melihat ekspresi Candra yang kaget, membuat Bryan menahan tawa.
Aku sudah dikerjain dari kemarin-kemarin, Ndra. Adik lu bakatnya luar biasa bikin kesal. Hahahaha
"Mau kemana lagi?"
"Mas Djata bawa uang kan?"
"Bawa."
"Bagus."
Mau apa ini bocah?
Candra mengikuti langkah Rati dengan telaten. Sementara Bryan dan Anara mengikuti keduanya. Terkadang kaget, menahan tawa, hingga tak berekspresi apa-apa. Saking speechless-nya.
"Udah tiga kantong loh, Rat."
__ADS_1
"Uang Mas Djata habis?" Tanya Rati.
"Bener-bener morotin ya kamu." Ledek Candra.
"Gue digituin udah dari kemarin-kemarin." Sahut Bryan.
"Terakhir ini. Beli kebutuhan sabun, sampo, lotion, beserta temannya."
Rati memasuki area belanja kebutuhan keluarga di lantai bawah. Ia mengambil kebutuhannya untuk di kos. Aji mumpung menurutnya, kapan lagi kakaknya ke sini?
"Ya ampun Rati."
"Kenapa sih, Mas?"
"Banyak banget. Mau bagi-bagi sama tetangga kos?"
"Iya kalau mau." Jawab Rati ketus.
Udah ngrampok. Malah dia yang sewot. Bener-bener ni adek satu. Membuat kantong kempes.
"Sudah." Ujar Rati menenteng tiga kantong belanjaan. Sedangkan tiga kantong lainnya sudah dibawa sang kakak.
Ya ampuuun. Udah belanjain sekarang disuruh bawain. Ini adek emang durhakaa.
"An, kamu jangan begini ya!"
"Mana bisa? Pasti nanti kalau belanja keperluan rumah tangga satu troli penuh lah. Macem mama gitu." Sahut Rati.
"Sini! Aku bantuin." Tawar Anara mengambil satu kantong belanjaan dari tangan Candra.
"Sekali-kali nyenengin adikmu, kan?" Lanjut Anara.
"Kamu kan jarang kesini." Ucap Anara lagi.
Tidak ada sahutan apapun dari Candra. Hanya ada senyum di bibirnya. Itupun dipaksakan. Sementara Bryan yang mengikuti mereka dari belakang hanya tertawa dalam batinnya.
"Aku pulang dulu!" Ujar Bryan berpamitan setelah menurunkan Rati dari jok motor sewaannya.
"Hati-hati, Mas! Makasih ya." Ujar Rati melambaikan tangan.
"Ati-ati!" Sambung Candra.
Sebentar kemudian lelaki bermata cokelat itu hilang dari pandangan. Kembali ke kos yang sudah didiaminya satu minggu ini. Sementara Candra, Anara, dan Rati membawa belanjaan Rati ke dalam kamar kos.
"Belanja kalap udah macem emak-emak aja." Sungut Candra.
"Candraaa." Anara memelototi kekasihnya.
"Udah biasa kak digituin. Udah tebel kupingku. Nggak masalah, yang penting kebutuhanku tercukupi. Uang sakuku juga nggak berkurang." Ujar Rati disusul tawanya.
"Tuuh kan sengaja."
"Bener-bener adik nggak tau diri."
"Ini sebagai uang sewa Mas Djata nginep di kosku."
"Astagaaaaaaaaaa." Candra menepuk jidatnya.
Cewek emang beneran hijau matanya kalau soal duit.
Langit sore telah menyapa dengan indahnya. Anara dan Candra sore ini tengah menikmati suasana Jogja dari teras kos Rati saja. Mereka menghabiskan penghujung hari dengan obrolan ringan. Mengingat momen seperti ini sangat jarang sekarang.
"Besok pagi kita balik ke Malang ya!"
"Buru banget."
"Mau ngapain lama-lama. Refresh pikirannya udah kan?"
"Kamu di sini malah was was aku. Mantan kamu itu lo, nekat." Lanjut Candra.
"Iyaa, lagi pula aku mau kebut skripsi biar cepet selesai."
"Kalau udah selesai?"
"Cari kerja."
"Tunggu aku ya!"
"Apa?"
"Ke rumahmu. Jadi kakak iparnya Swara."
"Udah berani?"
"Berani lah. Nikah kan? Berani banget malah." Jawab Candra tanpa ragu.
"Nikah itu bukan cuma sah trus haha hihi lo, Ndra."
"Iya, tau. Bakalan banyak kerikil dalam perjalanan kita nanti"
"Kamu juga harus bisa bimbing keluarga! Kan kamu imam."
"Aku Candra, Sayaaang."
"Mau Candra mau Djata. Nanti tetep aja berubah jadi imam."
Keduanya pun tertawa. Menyambut temaram langit Jogja dengan suka cita. Keinginan Candra untuk meminang perempuan di sampingnya sudah bulat. Hanya menunggu Anara menyelesaikan skripsinya. Setelah itu, Candra berniat melamarnya ke Kediri.
"Udah rapi aja?" Tanya Anara melihat Rati sudah rapi dengan setelan kasual.
__ADS_1
"Iya, nemenin Mas Bryan cari materi buat bahan nulis."
"Bryannya mana?"
"Masih on the way."
"Oh ya, Mas. Leksikografer itu apa?"
"Apa?"
"Lek-si-ko-gra-fer." Rati memberi penekanan pada setiap suku kata.
"Ahli kamus." Jawab Anara.
"Kenapa?" Tanya Candra.
"Kata Mas Bryan. Dia freelancer itu juga."
"Banyak bener itu kerjaannya si Bryan. Nggak pusing apa ya?"
"Namanya juga serabutan." Tukas Candra.
"Asik tau, Mas. Santaii bisa sambil main kemana-mana. Keren kan?"
"Aku mau deh ntar begitu. Asiik aja." Tutur Rati lagi.
Asik bathukmu, Rat! Serabutan itu kalau ubet dapet duit. Kalau enggak ya wassalam.
"Udah ya! Mas Bryan udah di depan. Aku duluan." Ucap Rati melenggang pergi.
"Ati-ati, bukan sembarangan playboy itu."
"Apaan sih? Selalu gitu." Anara memutar matanya malas dan bangkit dari duduknya, meninggalkan Candra.
"Kemana?"
"Ke WC. Mau ikut?"
"Enggak, hehe." Candra nyengir.
"Lagian ngikut mulu." Gerutu Anara.
Sementara Bryan dan Rati sudah memasuki kawasan Malioboro. Mencari sesuatu yang menarik yang dapat dijadikan bahan tulisan. Sesekali Bryan mengarahkan kamera pada objek menarik.
"Beneran deh, aku pengen kerja gini aja setelah lulus." Cetus Rati.
"Serius?"
"Iya. Asik gitu. Bener-bener kerja. Bukan dikerjain."
"Tapi kan penghasilan nggak tetap?"
"Aku rajin dong buat content menarik. Semakin aku rajin semakin banyak kan duitku?"
"Ya udah! Belajar nulis mulai sekarang!"
"Nulis doang aku udah bisa, Mas. Sambil merem aja bisa." Tutur Rati.
"Ya udah lah. Terserah kamu." Bryan melangkah menuju objek lainnya. Meninggalkan Rati yang masih bengong.
"Mas Bryan nggak pengen punya cewek?"
"Kenapa? Mau cariin?" Bryan masih fokus pada aktivitasnya.
"Nggak ah, pasti kriterianya selangit."
"Nggak juga. Asal nggak manja, bisa masak ...." Kalimat Bryan terputus.
"Emang cewek itu koki apa?" Sewot Rati.
"Terus nggak mau masak? Tapi nuntut cowok kerja? Cari duit?"
"Apa bedanya dong ada cewek sama enggak kalau makan masih di luar?" Sergah Bryan lagi.
Ya ampuuun. Dia balas dendam gegara aku anggep cowok itu tukang ojek. Sekarang kaumku dianggap tukang masak.
"Cewek kan bukan pembantu?"
"Siapa juga yang bilang begitu?"
"Buktinya harus bisa masak?"
"Astaga. Kalau nggak bisa masak. Terus gimana? Buat telor ceplok ntar nggak bisa. Bukannya membantu memecahkan masalah berdua. Malah makin nambah masalah hidupku dong."
"Udah deh! Cowok emang selalu gitu. Semaunya. Nggak bisa ngerti cewek." Rati uring-uringan sendiri.
Bryan mengernyit. Memijat kepalanya yang makin meyakini bahwa perempuan adalah sejenis makhluk yang maha benar. Tidak terbantahkan.
"Ya udah! Kalau gitu kamu cari pacar cewek aja!" Ujar Bryan santai.
"Dasar kadaaaaal!" Geram Rati.
Bryan terkekeh menahan tawanya. Kemudian matanya menemukan objek menarik di seberang sana. Membawa kakinya melangkah mendekati objek sasaran.
Rati masih mengekori Bryan di belakang sambil menekuk muka dan memanyunkan bibirnya.
"Argh. Pewaris tunggal macem dia mana bisa laku kalau semengesalkan ini?"
...----------------...
__ADS_1