Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Bekas Lipstik


__ADS_3

Ketika sang fajar belum menyingsing. Mobil milik Candra sudah terparkir di halaman posko KKN. Lelaki itu menepati janjinya menjemput pujaan hati.


"Kukira bakalan kesiangan." Ledek Anara yang kini sudah duduk di jok samping.


"Nggak lah. Kupasang alarm setiap 5 menit. Biar nggak telat."


Candra memasangkan seatbelt pada tubuh Anara. Dari sudut bawah ia pandangi wajah kekasihnya yang bahkan terlihat lebih cantik ketika bangun tidur begitu. Ia kecup sebentar bibir Anara dan membuat Anara refleks menjauhkan diri.


"Aku belum mandi, ih."


"Sama." Candra membawa mobilnya kembali ke arah Malang.


"Bawa baju?"


"Sudah." Perempuan itu tersenyum menenteng sebuah paper bag berisi baju yang ia beli kemarin di salah satu mal di Batu.


"Langsung ke rumahku ya?" Anara mengangguk.


Sekitar 20 menit perjalanan Batu-Malang. Keduanya turun di rumah yang tiga bulan terakhir tak Anara datangi. Keadaan rumah Candra memang terlihat kurang rapi. Tak seperti ketika pertama kali Anara ke sini. Anara maklum, mungkin pacarnya kejar deadline merampungkan skripsi hingga jadi.


"Kok masih sepi?"


"Iya. Abah, mama, sama Rati tidur di hotel sekitar kampus."


"Ya ampun aku kira di sini."


"Ayah Bryan juga nginep di hotel. Dianya ikutan."


"Bryan juga wisuda?" Candra mengangguk.


Candra menarik perempuan yang masih dengan setelan baju tidurnya masuk ke rumah. Diliriknya jam yang menempel di dinding menunjukkan pukul 5 pagi. Sesuai dengan keinginannya.


"Tau sepi gini, mending aku pulang ke kos kan?"


"Justru karena sepi. Makanya aku ngajak kamu kesini." Anara mengernyit.


Perempuan itu paham betul kemana arah ucapan Candra. Tentu menginginkannya. Ia segera bangkit dari sofa. Namun, tangan Candra menahannya.


"Mau kemana?"


"Mandi."


"Masih sepagi ini."


Candra menarik Anara hingga terduduk kembali. Netranya menatap penuh damba pada kekasih di depannya. Ia akan menagih janji.


"Tabunganku udah penuh."


"Tabungan?"


"Iya, tabungan rindu yang kamu bilang."


"Trus?"


"Mau aku buka hari ini. Detik ini juga."


"Kan janjinya setelah wisuda." Tukas Anara tersenyum meletakkan tangannya di dada Candra.


Perlakuan Anara barusan membuat Candra menegang. Ia seperti sedang diberi undangan. Dan dengan sangat senang, Candra akan menerima undangan itu.


Mana bisa aku sesabar itu, An?


Anara merapat ke dada Candra setelah sebuah tarikan dia terima dari belakang tubuhnya. Wajahnya menengadah memudahkan Candra mengecupi keningnya. Beralih ke pipi kanan dan kiri, setiap inchi tak luput dari kecupan lelakinya.


"Kangen banget?" Tanya Anara.


"He-emb." Jawaban Candra terdengar kurang jelas tatkala bibirnya memagut bibir milik Anara. Disesapnya bibir itu lama, bergantian atas dan bawah. Anara pun mengimbangi ciuman Candra dengan seirama.


Kini lidah Candra sudah membelit lidah Anara, disesapnya indra pengecap Anara seolah ia ingin melahapnya habis-habisan. Pertukaran saliva pagi ini berlangsung lama hingga area sekitar bibir keduanya basah karena Candra melakukannya dengan tergesa.


"Kenapa dilepas?" Mata sayu Candra merasa tak terima.


"Kamu buat aku hampir mati. Nggak bisa napas." Sungut Anara.


"Salah kamu sendiri, membuatku menunggu ini begitu lama."


Tanpa menunggu balasan kalimat dari perempuannya. Candra meraih tengkuk Anara dan kembali membenamkan lidahnya pada mulut kekasihnya. Mencecapi rasa candu yang ada. Bibir yang kini tengah dirasainya membuatnya gila jika tak mengecapnya.


"An." Suara Candra terdengar parau karena ia berkata tanpa melepas pertautan keduanya.


"Aku pengen. Ya?" Tangannya sudah berada di atas satu dari benda kembar milik Anara.


"Tumben pakai izin." Tukas Anara setelah melepaskan bibirnya dari gigitan Candra.


"Kamu juga kangen kan?" Pipi Anara merona.


Dengan lihai tangan Candra sudah membuka tiga kancing baju Anara. Menampakkan dua benda menonjol yang masih berbalut bra warna maroon. Bibir Candra mendarat di sana. Membuat sebuah tanda, meninggalkan jejak merah yang kontras dengan kulit Anara.


Napas Anara ikut tersenggal-senggal menerima ulah Candra. Ia sedikit kecewa ketika bibir Candra lepas dari sana. Tentu perubahan raut wajah Anara disadari oleh kekasihnya.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Tabunganmu hanya sebatas ini?"


"Kamuuuuuu."


Baju Anara sudah tertanggal dari tempatnya. Masih memakai bra, Candra kembali meraup bibir Anara. Tangannya meremas pelan dua benda kenyal itu bergantian.


Sementara Anara yang sedang diburu rasa, membalas pagutan Candra dengan sama liarnya. Sensasi tangan Candra yang membelai di punggungnya membuat perempuan itu semakin tak karuan. Memicu Candra untuk melakukan lebih.


Bra warna maroon milik Anara dilepas dan dibuang begitu saja, menyembulkan benda yang menjadi favorit Candra, yang tiga bulan ini tak berada dalam genggamannya. Puncak milik Anara dapat dirasakan oleh Candra sedang menegang.


Mulut Candra sudah menghisap di sana. Bagian lainnya tak luput dari tangan Candra. Jemarinya memainkan puncak Anara. Membuat perempuan yang kini berada di pangkuan Candra mengeluarkan suara-suara yang indah.


Candra menghisap benda itu bergantian. Puncak milik Anara semakin menegang karena ulah mulut Candra. Tangan Anara menarik tengkuk Candra untuk semakin memperdalam jangkauan mulutnya.


Tangan Candra sudah menyelinap ke setelan bawah Anara. Celana dengan bentuk koloran itu memudahkan penjelajahan tangannya. Candra menyentuh kain berbentuk segitiga dan jemarinya menjelajah lebih dalam.


Jari Candra merasakan sesuatu yang basah di sana. Pasti Anara terpancing dengan perlakuan-perlakuan mulut dan tangannya. Candra tersenyum bersamaan dengan hisapannya pada puncak Anara.


"Ndra. U-dah ya?" Suara Anara ketika napasnya belum teratur.


"Kenapa?" Candra melepaskan mulutnya dari puncak Anara. Tapi tangannya masih berada di bawah.


"Aku takut kebablasan."


Jemari Candra menekan sesuatu kecil yang menonjol di bawah sana. Membuat Anara sedikit berteriak. Sedang Candra justru tersenyum puas.


"Ouch. Candraaa!"


"Gemes banget aku. Nanti setelah kamu lulus. Aku harus buru-buru halalin kamu."


Kini posisi Anara berada di pangkuan Candra yang tengah menjulurkan kaki di sofa. Ketika Anara akan mengenakan setelan atasnya. Dengan sigap Candra menahannya.


"Biar seperti ini!"


"Nanti kalau ada orang?"


"Siapa? Nggak akan."


"Nanti kalau kita udah halal. Kamu siap-siap aku bikin lemas tiap malam." Ucapan Candra membuat Anara terkekeh.


"Di otakmu hanya ada itu kalau kita sudah halal?"


"Nggak dong. Tapi itu 80%"


"An, kamu bahagia nggak sama aku?"


"Kenapa?"


"Jawab aja!"


"Bahagia."


"Kalau ada laki-laki lebih segala-galanya dari aku?"


"Ngomong apaan sih?"


"Jawab aja, Anara!"


"Aku nggak tau, Ndra. Aku nggak mau menjanjikan apapun. Kamu pun pasti begitu, kan?"


"Pasti begitu gimana?"


"Kamu juga pasti nggak bisa janji bakal terus setia, nggak tergoda kanan kiri, kan?"


"Melirik itu pasti, An. Tapi aku akan tetap setia ke kamu. Ibaratnya nanti kalau aku melihat perempuan lebih cantik dan lebih muda di luar. Aku akan segera pulang menemui kamu. Menuntaskan hasratku."


"Udah. Mandi sono!" Anara bangkit dari pangkuan Candra.


"Aku serius sama kamu, An."


"Serius itu kalau kamu udah datang ke ayahku dan memintaku."


Candra terdiam, tetapi hatinya jelas bertekad untuk itu. Ia ingin menjadikan Anara sebagai rumahnya. Tempat yang nyaman dan tujuan pulang setiap harinya.


"Kamu janji selama aku belum menemui ayahmu kamu akan menunggu?"


"Asal kamu setia, dan ...."


"Dan apa?"


"Dan nggak keburu tua." Anara tertawa.


"Enggaklah, An. Mana kuat aku pun?" Candra menyungging senyumnya.


"Mandi Candra!"


"Iyaaaa, Anara."

__ADS_1


Suara gemericik air dari dalam menandakan Candra sedang membersihkan diri. Sementara Anara sibuk menata celana hitam dan kemeja putih yang akan Candra gunakan.


"Kemeja ini ...." Anara tersenyum teringat itu adalah kemeja yang dulu ia pakai setelah menunggu Candra di luar hampir dua jam lamanya.


Sebuah dasi berwarna hitam juga telah rapi Anara siapkan. Ia merasa keberadaannya dengan Candra di sini sudah mirip pasangan suami-istri saja.


"Ngelamunin apa?" Suara Candra tiba-tiba.


Anara menoleh ke arah sumber suara. Menatap pada Candra yang hanya melilitkan handuk untuk menutup bagian terpentingnya saja. Sementara dada bidangnya terekspos sempurna.


"Nggak ada. Lagi bayangin aja. Kita berdua di sini, sepagi ini. Mirip suami-istri."


Candra mendekati Anara, mendaratkan tubuhnya di samping perempuan yang menghiasi hari-hari dalam setahunnya ini dengan cinta, amarah, tawa, serta tangisan. Tapi tetap lebih banyak bahagianya. Ia raih tangan kekasihnya itu dan mengecupnya.


"Aku sayang kamu, An."


"Aku juga, Candra."


Sebuah kecupan hangat diberikan Candra pada kening Anara. Dalam hatinya, Candra berdoa menginginkan perempuan di depannya kelak menjadi istrinya.


"Aku mandi." Candra mengangguk.


Dalam sekejap, tubuh Anara sudah hilang dari pandangan. Candra segera bersiap, jarum jam sudah menunjuk angka enam kurang 10 menit.


"Kamu cantik sekali, sayang." Mata Candra membelalak melihat Anara yang sudah terlihat siap.


Perempuan itu mengenakan dress warna hitam dengan potongan sedikit lebar di bagian roknya. Di pinggangnya sebuah belt kecil berwarna gold membuatnya terlihat begitu manis. Sepatu warna senada dengan detail hiasan warna krem pada bagian depan membuat penampilannya paripurna.


"Aku sisiran dulu." Ujar Anara melepaskan tangan Candra yang melingkar erat di pinggangnya.


"Sisiran aja."


"Nggak leluasa, Ndra."


Bukannya segera melepas pelukan. Candra malah membalikkan tubuh Anara. Menangkup wajah polos Anara dan meraup bibirnya. Lidahnya kembali menyusuri mulut Anara setelah perempuan itu membuka sedikit bibirnya. Candra kembali merasakan dada Anara yang menempel padanya menegang.


Sial!


"Kenapa ini nggak ada kancing atau resletingnya?" Tanya Candra memperhatikan bagian depan gaun Anara.


"Ada." Anara menunjukkan sebuah resleting yang berada di bagian belakang.


"Kenapa bisa di situ? Merepotkan pemakainya saja."


"Enggak." Tukas Anara menyeringai.


"Argh" Candra menyugar rambutnya.


Anara sudah rapi dengan rambut yang diikat rendah jadi satu di belakang. Bibirnya berwarna nude kecokelatan membuat auranya semakin kemana-mana. Candra tak tahan untuk tak mencium perempuan yang kini menenteng sebuah clutch di tangannya.


"Beruntungnya aku. Menaklukkan perempuan cantik ini."


"Kamu sedang ngegombal?"


"Aku serius."


"Nggak ada imbalan."


"Ayolah, An! Sebentar aja."


"Ini udah jam tujuh kurang 20 menit loh, Ndra."


Bodo amat!!!


Candra mendekati Anara yang duduk di sampingnya. Memasangkan seatbealt dan dengan cepat bibirnya sudah memaksa kembali menjelajahi rongga mulut Anara. Menggigit pelan bibir atas dan bawah dengan bergantian. Menyesap indra pencecap perempuannya.


"U-dah." Akhirnya pertautan bibir keduanya selesai.


Anara melihat dirinya pada pantulan layar di ponsel. Sungguh ulah Candra membuat penampilannya berantakan. Lipstiknya belepotan dan rambutnya tentu acak-acakan.


"Bibirmu tuh ada bekas lipstik." Candra segera melihat ke kaca dan menghapus lipstik Anara yang membekas di bibirnya.


"Jadi berantakan gini." Anara membuka clutch dan kembali merapikan diri.


"Udah! Jangan terlalu mempesona. Nanti dilirik orang lagi." Pinta Candra dan mengarahkan mobilnya menuju kampus.


"Lagian udah rapi masih aja nyosor." Balas Anara kesal.


"Kamu sih kebangetan nyuruh aku nabung rindu sekian lama."


"Kan emang libur, harus gimana lagi?"


"Iya, iya, An. Udah jangan badmood gitu! Lagian ini kan udah enggak. Kita lanjut sepulang aku wisuda nanti."


Mata Anara membelalak. Ternyata lelaki di sampingnya belum juga selesai mengobati rindu selama tiga bulan kemarin.


"Terserah kamu aja!"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2