
"Gimana, Tik? Udah keluar belum lokasinya?" Tanya Anara yang baru sampai kos.
"Belum, An." Hartik masih sibuk menatap layar laptop.
"Semoga satu lokasi ya!"
Menjelang akhir semester enam, Anara dan Hartik disibukkan oleh pengajuan form KKN (Kuliah Kerja Nyata). Keduanya memilih mendaftar KKN Tematik untuk terjun ke desa di daerah Batu atau Pujon. Hanya tinggal menunggu pembagian desa dari pihak kampus.
"Seru kali ya. Satu bulan bareng-bareng jalanin proker sama mahasiswa jurusan lain." Ujar Hartik.
"Eh, ini udah keluar, An." Mata mereka berbinar menekuni layar laptop mencari-cari nama mereka.
"Sebentar, ini nama kamu kan? Satu tempat dong kita, Tik."
"Iya, sebentar di Desaaaa ... Junrejo, An. Ada pengumumannya juga, besok kita semua kumpul di aula lantai 10."
"Pelaksanaannya kapan sih ini? Setelah libur hari raya kan?"
"Kayaknya sih iya. Soalnya masih Agustus."
"Ya udah. Aku ke kamar dulu." Mendapat isyarat oke dari Hartik, Anara melenggang keluar dan menaiki anak tangga.
...----------------...
Kriiingg ...
"Halo ...." Suara Candra bergema.
"Lokasi KKN aku udah keluar, Ndra." Jelas Anara dari seberang.
"Dimana KKN-nya?"
Candra melanjutkan obrolan dengan Anara ditemani seabrek buku referensi di ruang tamu. Dalam dua minggu terakhir, ruangan itu berubah menjadi perpustakaan dadakan. Kadang juga jadi kamar jika Candra ketiduran di sana.
Lelaki itu bukan main rajinnya. Bahkan kadang membuat Anara kesal sendiri. Sudah dua minggu tak ada kencan seperti sebelumnya, yang ada kencan di perpustakaan membantu Candra mencari referensi. Jika tidak, mereka akan pergi ke toko buku bersama. Berbanding 360° dari jati diri Candra sesungguhnya.
Suara sepatu memasuki rumah bernuansa nude itu. Langkahnya berhenti tepat di depan Candra. Sudah bisa ditebak, siapa yang tengah berdiri di depannya.
"Gue ACC ujian dooong." Sambil memamerkan berkas di tangannya yang sudah dibubuhi tanda tangan tanda ACC.
"Nggak kaget." Candra datar.
"Nggak ada ucapan selamat nih?" Tanya Bryan.
"Selamaaat kadal."
"Hahaha thank you thank you."
"Eh, Ndra. Ntar sore Caroline ngajakin gue jalan." Bryan sudah mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Terus?"
"Gue males banget." Candra membelalak.
"Lu beneran nggak niat buat lanjutin. Bukannya dulu kayak iya banget mau lu kekepin tuh cewek?" Bryan menggeleng kepala.
"Bantuin dong!"
"Apa? Kasihan tuh anak orang lu PHP-in." Sungut Candra.
"Makanya lu bantuin gue biar bisa lepas dari dia."
"Bryan lu bener-bener ya. Semua cewek lu giniin. Ntar beneran kualat lu."
Gue bahkan udah kualat, bro.
"Apa sih kurangnya dia?"
"Justru dia terlalu baik dan nggak kurang. Gue jadi insecure."
"Cih. Klise banget lu."
__ADS_1
"Ya udah. Bantuin!"
"Nggak."
Akhirnya dengan tetap teguh pendirian Candra menolak permintaan Bryan. Disarankannya agar Bryan bicara langsung ke Caroline kalau dia ingin mengakhiri hubungan yang bahkan belum dimulai itu. Sahabatnya itu memang keterlaluan.
Ketika matahari bergulir ke barat. Bryan dengan susah payah membangun mood, bergegas untuk menjemput gebetannya yang bahkan sama sekali tak ada di hatinya itu. Bener-bener kadal ini laki.
Perempuan berambut sebahu itu semakin terlihat menawan dengan dress sebatas lutut dengan belt di pinggangnya. Senyum dari bibir tipisnya menjadi poin lebih. Tapi, sayangnya itu tak cukup untuk menggetarkan hati Bryan. Lelaki itu berusaha memasang wajah sebiasa mungkin.
"Pakai rok?" Tanya Bryan.
Laki-laki mah mana tau ada mini dress, maxy dress, midi dress, long dress, dan segala macem dress. Yang mereka paham itu rok.
"Kenapa, Yan? Nggak pantes ya?"
"Bukan ... bukan begitu. Tapi kita kan naik motor, Lin."
"Ya udah. Aku ganti baju dulu."
Caroline kembali masuk ke bangunan bertingkat entah berapa itu. Bryan setia menunggui hingga perempuan itu kembali dengan celana jeans dan kaus press body warna putih.
"Sudah?" Caroline mengangguk dan naik ke motor dengan jok tinggi itu.
"Mau kemana kita?"
"Terserah kamu."
Kok terserah gue. Kan dia yang ngajak. Ya ampuuun dasar perempuan.
"Kok terserah?" Bryan mengernyit.
"Makan apa nonton gitu. Terserah deh."
Akhirnya Bryan mengalah, ia lajukan motornya menuju mal di pusat kota. Selama perjalanan mereka saling diam. Bukan karena apa-apa. Tapi bicara pun membuat capek, nggak kedengeran suaranya. Motor trail itu Bryan lajukan begitu kencang.
Dari tadi bahkan Caroline meneriaki Bryan untuk memelankan motor. Tapi nyatanya instruksi dari perempuan yang diboncengnya tak sampai telinga. Asal cepat sampai pikir Bryan.
Caroline merasa ada yang tak beres. Bisa-bisanya lelaki di sampingnya terlihat begitu cuek, tak seperti biasanya.
"Kamu kenapa?" Tanya Caroline menghentikan langkah Bryan.
Ternyata usaha Bryan untuk terlihat biasa pun dapat dibaca dengan mudah oleh perempuan di sampingnya.
"Kenapa gimana?"
"Nggak kayak biasanya."
"Ehm ... aku cuma kurang fokus aja. Kepikiran skripsi." Ujar Bryan berbohong.
"Owh. Aku kira kenapa."
Seketika Bryan kaget ketika tangan Caroline sudah menggandeng tangannya dan menarik ke arah food court. Keduanya duduk di bangku menunggu pesanan nasi goreng seafood datang.
"Gimana skripsinya?" Tanya Caroline membuka percakapan.
"Udah ACC ujian."
"Bentar lagi lulus dong." Bryan mengangguk.
"Terus rencananya habis lulus?" Caroline semakin bersemangat.
"Makasih mbaak." Ujar keduanya bersamaan ketika pesanan datang.
"Makan dulu yuk!" Ajak Bryan.
Keduanya menikmati nasi goreng dalam diam. Hanya terkadang mata mereka bertemu dan akhirnya seulas senyum menghiasi bibir masing-masing. Hingga akhirnya makan sore mereka tandas dan kali ini Bryan yang membuka percakapan lebih dulu.
"Aku rencananya ke Surabaya." Ujar Bryan setelah meneguk air mineral.
"Jauh amat."
__ADS_1
"Enggak. Cuma dua jam dari sini." Caroline hanya mengangguk.
"Kamu sendiri? Magang dimana?" Tanya Bryan balik.
Caroline adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Pemerintah. Keduanya bertemu ketika sama-sama menjadi anggota salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) keagamaan di tahun lalu. Kedekatannya berlangsung hingga hari ini.
"Aku magang di Kantor Dinas Pariwisata di Semarang." Jawab Caroline.
"Itu lebih jauh, Lin."
Bryan mengedarkan pandangan ke luar area foodcourt. Ia sibuk merangkai kata untuk jujur ke perempuan di depannya kalau dirinya berniat menyudahi hubungan tanpa status ini. Namun, kenyataan berbeda terlontar dari mulut Caroline.
"Yan!"
"Iya?" Bryan menanti kalimat selanjutnya dari Caroline.
"Hmm. Bingung aku mau ngomong mulai darimana?"
Dia mau ngomong apa ya? Minta udahan kek! Biar gue nggak capek-capek mikir harus gimana ngomongnya.
"Ngomong aja, Lin!"
"Sebenarnya kamu ada perasaan nggak sih ke aku?" Tanya Caroline setenang mungkin.
"Maksudku, kita kan udah deket dari hampir setahun yang lalu. Aku ngerasa kenapa hubungan kita gini-gini aja?" Sambung Caroline.
Mati gue. Nggak tega gue lihat matanya. Mau jujur nggak sampai hati. Jalanin terus gue lelah sendiri.
Jika saja Bryan menyimpan perasaan pada Caroline. Mungkin momen ini akan sangat membahagiakan. Tapi sayangnya di hatinya bahkan tak ada sedikit pun rasa untuk seseorang di depannya, perempuan yang mengisi hari-hari kosongnya lewat chat-chat setiap harinya.
"Aduh. Gimana ya? Aku hanya nggak berani berkomitmen, Lin."
"Maksud kamu?"
"Emang kenapa kalau kita cuma ada hubungan tanpa status?"
"Aku pengen kepastian, Yan."
Kalimat Bryan yang masih menjadi awal kejujurannya itu ternyata membuat raut Caroline berubah. Perempuan itu terlihat kecewa, matanya kini berkaca-kaca.
Gimana mungkin kamu nggak memikirkan status antara kita? Satu tahun dekat apa iya tak ada niatan untuk lebih serius? Setidaknya perjelas posisiku!
"Aku cuma nggak mau kamu terikat, Lin."
Alasan macem apa lagi ini Bryan? Sialan. Gue nggak tega buat jujur ke dia.
"Justru aku pengen kamu ikat. Sebenarnya kamu ada rasa nggak sih?" Kali ini Caroline lebih terisak dan itu menarik perhatian beberapa pengunjung. Bryan akhirnya menghampiri Caroline dan memeluknya.
Buseeet jadi tontonan gue. Ah, Caroline.
"Adaa. Aku sayang sama kamu. Udah! Jangan nangis!" Ucapan itu terlontar begitu saja.
Bodoh Bryaan!! Hanya demi biar nggak mengundang perhatian. Lu ciptakan kebohongan lebih besar lagi.
Sedangkan Caroline masih tak bergeming. Ia masih berdiam dalam pelukan Bryan. Berangsur-angsur isakan tangisnya mulai mereda.
"Udah ya? Aku nggak tega lihat perempuan nangis." Bryan merenggangkan pelukannya untuk melihat raut Caroline. Tetapi perempuan itu semakin mengeratkan pertautan.
"Aku juga sayang sama kamu. Aku kira selama ini kamu hanya main-main." Ujar Caroline yang membuat hati Bryan mencelos.
Niat hati menyudahi hubungan yang dijalani tanpa status. Kini malah mereka berstatus pacaran. Selamat untuk Bryan dan Caroline!
Langkah Bryan dibuat berisik ketika memasuki rumah. Hari pertamanya melepas status jomblo malah membuatnya uring-uringan. Candra penasaran melihat sahabatnya pulang dengan wajah masam.
"Kenapa sih? Muka lu tekuk gitu. Udah berhasil nyakitin gebetannya? Atau malah nyesel?" Pertanyaan Candra dilayangkan sejadi-jadinya.
"Pala lu berhasil. Gue malah resmi jadian."
Terdengar suara gelak tawa Candra memenuhi ruangan.
...----------------...
__ADS_1