Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Kedatangan Bryan


__ADS_3

Anara masih memikirkan ucapan Hartik sepanjang jalan. Bibirnya mengatup sempurna. Apa perlu dirinya bertemu dengan orang baru saat ini?


Lalu bagaimana jika Anara hanya menganggap orang baru tersebut sekadar pelarian dari sakit hatinya?


Tidak, tidak. Ide Hartik itu bukan buruk. Tetapi, sangat amat buruk dan kejam. Mengorbankankan perasaan orang lain untuk menawar lukanya sendiri? Terdengar egois dan juga tidak punya hati.


"Kok jadi diam lagi? Kenapa? Mikirin saran dari aku, kan? Ada benarnya, kan?" cerocos Hartik.


Sungguh! Sahabat Anara ini memiliki tingkat kepercayaan diri yang terlalu bagus. Di atas rata-rata bahkan.


Kepala Anara lalu digelengkan perlahan. Ada benarnya Hartik bilang? Sarannya itu sama sekali tidak ada benar-benarnya.


Hufh!


Anara mendengkus lirih. Kakinya terus berjalan tanpa henti. Pun Hartik, mengimbangi cara jalan Anara yang selalu cepat dan detik itu pun, seolah kian tergesa.


"Kita mau cari makan apa?" Anara membelokkan topik.


Ya, meski sebenarnya perut Anara tengah tidak ingin diisi. Tetapi, mengalihkan sakit hati dengan mengunyah, *******, dan menghancurkan makanan bukanlah ide yang buruk. Perlu dicoba! Meski dengan konsekuensi tubuhnya akan sedikit berbobot nanrinya, tidak akan apa.


Anara tidak peduli! Toh, kini dirinya bukanlah kekasih siapa-siapa. Tidak akan ada orang yang berani mengkomplain atas perubahan dirinya nanti.


"Makan geprek?" Pertanyaan Hartik yang sekaligus berisikan tawaran.


Anara menggeleng. Ia sedang tidak ingin makan pedas. Ia sudah sakit hati, tidak ingin menambah beban hidup dengan sakit perut. Menggelikan sekali.


"Aku kira kamu bakalan nggak mood makan karena patah hati. Eh, tak taunya. Malah milih-milih, ya." Kalimat Hartik jelas tengah menyindir Anara.


Anara pun hanya membalas dengan senyuman getir. Senyum yang dipaksakan.


Kaki mereka terus melangkah tidak terhentikan, dan parahnya ... baik Anara maupun Hartik tidak tahu mereka hendak menghentikan kaki di mana, di warung apa, atau di penjual makanan apa?


Dan tanpa meminta persetujuan Hartik, langkah kaki Anara akhirnya berhenti di depan kedai sederhana yang menjajakan kudapan segar. Bukan makan malam dengan menu utama nasi, tetapi Anara sendiri yakin jika kalori makanan yang hendak dibelinya setara dengan kalori nasi ber-gram-gram malah.


"SALAD BUAH?" Mata Hartik membelalak. Sahabat Anara itu juga sudah menghentikan langkahnya. Berdiri persis di sebelah Anara.


Kepala Anara dianggukan pelan. Mengiyakan pertanyaan Hartik yang tampak sekali tengah terkejut itu. Apa salahnya makan salad buah?

__ADS_1


Makanan dengan berbagai macam buah segar, saus kental mayonaise, parutan keju di atasnya ... yang memadukan rasa manis, asam dan sedikit asin itu tentu akan memanjakan lidah hingga perutnya.


Hope it!


"Kamu nggak makan nasi aja?" Hartik terlihat masih meyakinkan Anara.


Please! Kenapa harus sebegitunya? Itu hanyalah tentang makanan semata. Jadi runyam dan panjang urusannya.


"Aku lagi males ngunyah nasi. Dan nggak mungkin dikunyahin sama orang lain." Anara menyahut dengan kalimat lirih yang ditekan-trkan.


Sepersekian detik, raut Hartik yang berusaha meyakinkan tadi telah berganti raut, air mukanya berubah dengan perlahan. Dari ekspresi bertanya-tanya, menjadi mengerut kisut dengan menampakkan kejijikan.


"Njijiki, An. Ya udah terserah! Aku mau juga kalau gitu!" pinta Hartik. Ikut-ikutan pada pilihan Anara.


"Tapi, setelah beli ini, kita ke ayam geprek, ya?" Hartik menyambung kalimatnya sendiri.


Anara hanya mengangguk. Perut sahabatnya itu luar biasa sekali. Bisa melahap itu semua dalam waktu berdekatan? Sungguh! Sebuah pencapaian yang harus diabadikan!


Kaki Anara melangkah mendekat ke kedai salad buah. Memesan dua porsi untuk kudapan manis nan segar itu. Seraya menunggu pesanan jadi, Hartik kembali mengajaknya bicara. Berbincang ringan, kali ini bukan mengenai Candra atau pun Bryan. Melainkan tentang kejelasan nasib mereka setelah lulus kuliah.


"Kamu rencana mau ke mana, An? Setelah ijazah nanti keluar?"


Dulu, sebelum Candra memutuskan untuk datang dan mengajaknya bertunangan. Anara sudah bilang jika belum ingin menikah dan memilih untuk masih melanjutkan karirnya. Mencari pekerjaan serta pengalaman terlebih dahulu.


Tetapi, saat ini. Detik ini juga, Tidak ada lagi seseorang yang menajdi pertimbangan Anara dalam melanjutkan karirnya. Tidak Candra, juga tidak siapapun lagi. Dia hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri.


"An!"


Melihat Anara yang hanya diam setelah mendengar pertanyaan. Suara Hartik pun kembali membumbung. Menyerukan penggalan namanya dan kali ini, Anara menelengkan kepala.


"Belum tahu. Tapi, aku masih ingin merantau! Intinya, aku belum pengen pulang ke Kediri!" sahut Anara. Diakhiri sebuah senyuman yang lagi-lagi ... tentu hasil memaksa diri sendiri.


Kepala Hartik mengangguk-angguk. "Kalau aku, rencananya mau pulang kampung, An. Ke Gresik. Kerja di sana, dekat rumah. Orang tuaku semakin menua. Jadi, nggak mungkin aku terus merantau!" Hartik pun sama, mengakhiri kalimat dengan ulasan senyum. Bedanya dengan Anara, tentu senyum gadis berkerudung itu lebih ikhlas daripada senyumnya tadi.


Tangan Anara kemudian terulur ke depan. Menepuk bahu Hartik seolah tengah menguatkan. "Iya, Tik. Nggak masalah kok pulang kampung. Justru kamu mungkin malah bisa bermanfaat bagi tetangga dan sekitar!"


Meski itu terdengar amat klise, tetapi selalu berhasil menentramkan setiap perasaan orang yang tengah geliat.

__ADS_1


"Mbak! Salad buahnya sudah." Dari arah kedai di hadapan mereka, penjual telah memberikan informasi jika pesanan mereka telah siap.


Anara mengangsurkan uang selembar warna biru. Sejenak menunggu, setelah mendapat uang kembalian. Mereka kembali berjalan menyusuri gang-gang penuh kenangan.


Dan seperti yang diharapkan oleh Hartik tadi. Muara dari langkah mereka selanjutnya adalah warung ayam geprek yang menjadi menu andalan hampir seluruh mahasiswa di mana pun berada.


"Tunggu sebentar nggak apa-apa, kan?" Hartik memastikan kesediaan Anara karena antrean lumayan mengular.


"No prob, Tik. Daripada tengah malam kelaparan, cari makan di mana?" balas Anara benar-benar tidak mempermasalahkan antrean.


Semenit, dua menit, hingga hampir setengah jam mereka berdiri menyangklung menunggu giliran. Sungguh! Rasa sakit hati dipadu menanti, klop serta serasi. Mengaduk-aduk hati menjadi kian tidak dapat dideskripsi.


Akhirnyaaa!


Hartik mengantung-antung kantung plastik yang di dalamnya berisikan ayam geprek pesanannya. Tidak hanya satu, karena Hartik memesan dua porsi langsung.


"Sayang antrenya lama kalau cuma beli satu. Beli dua aja sekalian. Siapa tahu tengah malam kamu juga lapar," jelas Hartik ketika menerima pesanannya tadi.


Sementara Anara, memegang kantung yang lain. Salad buah yang sudah seperti memanggil-manggil tangannya untuk menjamah dengan segera.


Seolah jika dilihat sekilas, wajah Anara sama sekali tidak menampakkan raut kesedihan. Atau dirinya yang terlalu pandai menutupi itu?


Kakinya terus berjalan kembali menuju kos. Namun, sesampainya di halaman kos. Matanya mendapati mobil hitam yang jelas, sungguh sangat jelas Anara kenal itu milik siapa.


"Tik?" Mata Anara menatap ke Hartik. Menuntut penjelasan.


Hartik mengangkat tangannya. Jari telunjuk dan jari tengahnya diarahkan kepada Anara. "Sumpah! Aku nggak ngerti apa-apa."


"Aku juga nggak minta Bryan untuk datang." Mata Hartik menatap Anara dengan serius.


---


Hai, Guys!


Akhirnya bisa update LANGKAH BERSAMBUNG lagi!


Author

__ADS_1


lisnaasaarii


__ADS_2