Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Nomor Tak Dikenal


__ADS_3

Klunting ...


Suara pesan masuk melalui aplikasi WA menggiring Anara melirik sekilas layar ponselnya. Nomor tak dikenal. Ia kembali memijat pelan kakinya.


Tubuhnya terasa pegal setelah hampir seharian menghabiskan waktu di pantai. Menikmati ombak, desiran angin dari lambai pohon kelapa, suara kicau burung, dan terakhir, melihat matahari terbenam hingga menyisakan siluet dari bayangan masing-masing.


Senja yang tak buruk bagi Anara. Kali pertama ia mencoba menikmati pemandangan temaram dalam pelukan Candra. Lelaki itu meyakinkan Analra bahwa gelap tak melulu tentang kegelapan.


Meski Anara masih bingung. Dimana letak indah dan romantisnya sang swastamita hingga menarik untuk dikirim pada sang pujaan hati? Ah, entahlah. Hanya pengagumnya yang mengerti.


Setelah ngobrol singkat dengan Rati seusai makan malam yang hanya bertiga, karena Abah Kayaat dan Mama Ira pergi ke acara peresmian usaha milik kolega. Di sinilah Anara, sibuk memijat kaki dan tangan ditemani lantun tembang lawas Tommy J. Pisa.


Klunting ...


Lagi-lagi suara pesan masuk, kali ini Anara tak tertarik meliriknya sama sekali. Dibiarkannya ponsel itu terus menggemakan lagu lawas favoritnya. Kalau penting pasti telepon.


Lirik lagu-lagu yang memanjakan telinganya perlahan membawa Anara pada kisah lalu bersama Janu. Pada langkah-langkah indah masa SMA, pulang sekolah bersama, ke kantin bersama. Bahkan memilih kegiatan ekskul pun bersama. Kalau dipikir-pikir berlebihan sekali.


Senyumnya mengembang. Masa putih abu-abu yang indah, tak mungkin terulang karena semua sudah berlalu. Kenangan yang baiknya disimpan rapat dalam lubuk terdalam.


Ingatan Anara akan kisah lalunya buyar ketika suara dering telepon menghentikan lagu favoritnya berganti suara dengan nada teratur. Diraihnya ponsel putih di ranjang dan menempelkannya di telinga.


"Lagi ngapain?"


"Nggak ngapa-ngapain."


"Kenapa WA-ku nggak dibales?"


Oh jadi tadi pesan WA dari Candra toh. Benar kan kalau penting pasti telepon. Tapi, emang penting apa dia?


"Belum sempat." Jawab Anara asal daripada makin panjang.


"Dimana?"


"Di kamar."


"Aku kesitu."


"Eh ...."


Tut tut tut ... sambungan terputus.


Tak lama setelahnya, terdengar langkah kaki mendekati pintu kamar tamu. Kamar dimana Anara berada. Sudah bisa ditebak, itu pasti Candra.


Tok tok tok ... suara pintu diketuk pelan. Anara berjalan menuju pintu yang telah ia kunci. Gagal sudah rencana tidur lebih awal. Selamat datang mata panda.


Pintu terbuka sempurna, seorang gadis dengan mini dress warna hitam muncul di hadapan Anara dengan senyum memukau. Riasannya natural sesuai usia. Di pundaknya tergantung sling bag warna senada.


Mau kemana Rati malam begini?


"Kak."


"Rapi gini. Mau kemana?"


"Ikut yuk!"


Ya Tuhan, nggak kakak nggak adik sama aja. Suka tiba-tiba. Mau kemana juga malem begini?


"Kemana?"


"Keluar, jalan-jalan. Bosen ah di rumah. Temenin ya?"


Ini bukan ajakan, An. Tapi paksaan. Nggak mungkin kan kamu tolak permintaan adik Candra hanya karena ingin tidur lebih awal?


"Ya udah. Aku ganti dulu."


Tangan Rati sudah mengisyaratkan oke dan langsung masuk ke kamar tamu tanpa menunggu dipersilahkan. Anara mengambil celana hitam ⅞ serta sweatshirt berwarna maroon dari kopernya.


"Kamu udah izin?"


"Udah kaaak."


Anara menuju kamar mandi untuk berganti baju. Sementara Rati menunggui calon kakak ipar dengan sabar. Rencananya ia akan mengajak Anara ke Terminal BP (Balikpapan Permai), kulineran malam di sana. Padahal baru beberapa menit yang lalu mereka makan malam.


Rati terlonjak kaget ketika pintu kamar terbuka. Di ambang pintu berdiri kakaknya dengan senyum yang perlahan berubah jadi raut bertanya-tanya.


Kenapa Rati di sini?


"Mas Djataaa. Ngapain kesini?" Mata Rati menyelidik.


Susah payah Candra menelan ludah, seperti ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya.

__ADS_1


"E-eng-gak. Mau mastiin kalau ada orangnya."


"Mau macem-macem ya? Masuk kamar cewek nggak permisi?" Jari Rati sudah menunjuk-nunjuk tak sopan.


"Enggak, Rat. Aku pikir Anara tidur karena nggak bales WA."


"Trus mas kesini mau apa?"


"Hmm mau mastiin kalau Anara tidur. Ya, itu. Mau mastiin." Candra tergagap.


"Kak Anara nggak lagi tidur. Mau kuajak keluar."


"Kemana?"


"Kemana aja." Rati tertawa bahagia melihat raut kakaknya yang antara bingung dan ingin tau.


"Awas aneh-aneh!"


"Yaelah, Mas tuh yang aneh-aneh main buka pintu kamar aja." Sewot Rati.


Candra beranjak dari kamar tamu dan mengambil langkah seribu menuju kamarnya. Ia harus selesai dalam waktu cepat. Tak akan dibiarkannya dua perempuan tadi keluar tanpa dirinya karena tak mungkin Rati pakai sopir. Pak Slamet sudah pulang usai jam makan malam.


Candra telah rapi tepat ketika Anara dan Rati akan keluar rumah. Perempuan yang ingin dihampirinya ke kamar tadi mendadak diculik adik sendiri. Mau kemana juga Rati malem-malem gini?


"Loh, Mas Djata kok sudah rapi?" Tanya Rati.


Adik perempuan Candra merasa heran, belum sampai lima menit yang lalu laki-laki berjambang tipis itu masih memakai celana boxer dan dengan kurang kerjaannya pergi ke kamar Anara. Kini seketika lelaki itu sudah rapi seperti hendak pergi.


"Kalian mau kemana? Biar kuantar!"


"Enggak ah. Mau jalan-jalan doang." Tolak Rati.


"Nggak akan dibolehin sama abah."


"Aku udah izin."


"Bilang kalau hanya berdua?"


"Iya. Dibolehin."


"Ya udah. Aku ikut."


"Ampuuun. Mas di rumah aja kenapa sih?" Gerutu Rati.


"Emang udah malem." Ujar Rati kesal.


Akhirnya mereka keluar bertiga dengan Candra sebagai sopirnya. Rencananya Rati mengajak Anara keluar karena ingin curhat malah dia jadi obat nyamuk. Candra dan Anara terus saja ngobrol hingga membuat Rati menyesali rencananya sendiri.


Sesampainya di Terminal BP. Ketiganya disuguhi pemandangan malam terminal yang mendadak menjadi tempat kuliner kaki lima. Rati selaku orang ketiga memimpin rombongan menuju warung lalapan paling terkenal di sana.


"Ya ampun, Rat. Makan mulu." Celetuk Candra.


"Jadi obat nyamuk selain butuh lapang dada, juga butuh tenaga." Kalimat yamg membuat Anara dan Candra terkekeh.


Mereka menghabiskan sisa malam di warung lalapan, dengan Rati yang menahan kesal pada sang kakak. Niatnya ingin kenal lebih dekat dengan Anara sambil curhat, malah dia yang nontonin kakaknya berdua-duaan ketawa dan bercanda. Apes.


Sesampainya di rumah mobil abah sudah terparkir di garasi menandakan si empunya sudah pulang. Sejurus kemudian, mobil yang mereka tumpangi menyusul terparkir rapi di sampingnya.


"Aku masuk duluan." Ujar Rati yang langsung melangkah pergi.


"Kenapa tuh?"


"Nggak tau, Ndra. Bete kali." Candra manggut-manggut.


"Lagian kamu pakai ikut segala, dia kayaknya kurang suka. Mungkin memang mau ajak aku doang."


"Udah, biarin! Rati emang gitu. Besok juga baikan."


"Ya udah. Aku masuk kamar. Ngantuk."


"Eits ... aku mau nagih yang tadi." Mata Candra mengerling penuh mau.


"Apa?"


Candra mengusap lembut bibir Anara dan semakin mendekatkan posisi mereka. Anara segera melangkah mundur. Namun, tangannya sudah digenggam oleh Candra.


"Ntar ada yang lihat."


"Siapa? Udah pada tidur. Gelap semua kan?" Memang beberapa lampu sudah dimatikan.


Anara melepaskan tangannya, "aku ngantuk."

__ADS_1


"Sebentar aja, An. Nggak lama."


Candra menarik pinggang perempuan di depannya, dengan segera lidahnya menyapu bibir Anara dan masuk menyesapi segala yang ada. Digigitnya pelan benda kenyal yang selalu ia ingin ***** lagi, lagi, dan lagi.


Tangannya tak tinggal diam. Diremasnya dada Anara dengan ritme teratur membuat napas perempuannya terembus berat. Tangan satunya menarik tengkuk Anara agar ciumannya semakin dalam.


"Pindah ke kamar ya?"


Anara menggeleng, sorot mata Candra seperti meminta dan tak menghiraukan penolakan Anara. Tanpa melepas pagutan, ia dorong pelan pintu kamar tamu dan menutupnya kembali.


"Anara, aku kangen sekali."


Didorongnya Anara dan mengapitnya ke dinding. Tangannya semakin intens meremas benda kembar yang kenyal itu. Lidahnya sudah melilit lidah perempuannya di dalam, saling bertukar saliva. Bergantian ia ***** bibir atas dan bawah milik Anara dengan tak sabar.


Tangannya menyusup pada sweatshirt dan melepas kaitan bra yang menghalanginya. Bergantian jari-jarinya memainkan puncak Anara hingga perempuan itu mengeluarkan suara lenguhan.


Mendengar suara desahan yang seakan mengundang aksi lebih, kini ciuman Candra beralih pada daun telinga perempuannya. Lidahnya menyapu dan bibirnya mengulum seperti mengaliri arus listrik pada Anara.


Perempuan itu semakin tak karuan, bibirnya sudah menciumi tengkuk Candra dan tangannya memegangi lengan kekar milik kekasihnya. Tangan Candra menyingkap sweatshirt Anara hingga menyembul benda kembar dengan posisi bra tak pada tempatnya.


"An ... aku pengen." Anara hanya mengangguk pelan.


Bibir Candra mengulum puncak dada Anara dengan sapuan-sapuan lidah yang membuatnya bergelinjang. Sapuan lidah berganti bibir yang menyesap bagai bayi kehausan.


Bergantian dikulumnya dan dipelintir dada Anara, meninggalkan tanda-tanda kepemilikan di sana, kontras dengan kulit Anara yang putih bersih. Napas keduanya memburu.


Tak sampai di sana, Candra memutar tubuh Anara dan mendorongnya pelan ke ranjang. Tubuh kekarnya mengungkung Anara di bawah. Dilepasnya sweatshirt dan bra dari tubuh perempuan di bawahnya.


Kembali lidahnya menyapu dada Anara bergantian. Disesapnya puncak dada Anara hingga Anara bergetar hebat. Ciumannya perlahan turun ke perut rata kekasihnya.


Kedua tangannya meremas-remas dada Anara dengan lembut. Kadang jari-jari Candra memelintir puncak dada dan Anara semakin melayang dibuatnya. Napasnya tersenggal-senggal berusaha menormalkan degup jantungnya.


Lenguhan dan desahan Anara tak Candra hiraukan. Rumah ini cukup luas hingga tak mungkin suara Anara terdengar sampai luar. Tangan Candra menyusup celana Anara, membelai dari luar kain berbentuk segitiga.


Melihat Anara tak menolak, dimasukkan tangan Candra melewati kain penutup terakhir. Jarinya sibuk membelai dan rambut halus terasa di tangannya. Dicarinya milik Anara yang ternyata sudah basah karena perlakuannya.


Dering tiba-tiba dari ponsel Anara menghentikan segala aktivitas keduanya. Nampak raut wajah Candra yang kecewa dengan sorot mata yang masih sayu. Pun Anara, kegilaan Candra menghilangkan akal sehatnya hingga tangan Candra sudah berhasil menyentuh miliknya.


"Siapa?"


"Nomor nggak kukenal."


"Angkat! Keraskan suaranya!" Titah Candra yang berminat pada sambungan telepon tak dikenal itu.


"Halo, An. Gimana kabarnya?" Suara laki-laki menyapa.


"Baik."


"Tadi aku WA, nggak kamu baca."


"Iya, belum."


Anara tau betul itu adalah suara Janu. Ia ingin menutup sambungan telepon ketika sorot mata Candra dipenuhi rasa entah cemburu entah emosi atau amarah.


"Siapa?" Pertanyaan Candra tanpa suara.


"Janu." Anara mematikan telepon dan memberitahu Candra bahwa itu adalah Janu.


Bagaimana mungkin perempuan yang baru saja kucumbui masih mengangkat telepon dari mantan sialannya?


"Pakai bajumu!" Candra hendak melangkah pergi dan ditahan oleh tangan Anara.


"Aku nggak tau ini nomornya."


"Blokir!"


"Iya, tapi jangan marah! Kamu sendiri yang memintaku angkat telepon tadi."


"Sepertinya dia masih tergila-gila padamu."


"Tapi aku enggak."


"Pakai bajumu!" Perintah Candra.


Setelah perempuannya kembali terbalut baju. Lelaki itu melangkah menuju pintu dengan dada panas dan emosi yang sudah di ujung kepala. Tiba-tiba langkahnya terhenti dan membalik tubuhnya ke arah Anara.


"Sabtu kita balik ke Malang!"


Tanpa menunggu sesuatu keluar dari bibir Anara, Candra keluar dan menutup pintu kamar tamu dengan keras.


"Aaaargh. Sialan."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2