
"Udah kali salamannya! Dia mau ke Surabaya, bukan ke neraka." Sungut Candra membuat salam perpisahan antara Bryan dan Anara berakhir.
"Kamu hati-hati, Yan!" Seru Anara.
Kemudian lelaki bermata cokelat itu memeluk sahabatnya, menepuk-nepuk punggung Candra sembari berkata, "jagain! Jangan dibuat sedih lagi! Kalau kejadian, siap-siap nangis lu!"
"Why?"
"Ya bakalan jatuh ke pelukan orang lah." Jelas Bryan menarik pegangan kopernya.
"Aku pamit. Baik-baik kalian!"
Lambaian tangan Bryan semakin turun seiring langkahnya yang semakin menjauh. Mobil hitam miliknya perlahan meninggalkan rumah Candra dan sebentar lagi meninggalkan Malang.
"Kapan-kapan kita gantian ke Surabaya ya?"
Hah! Nggak salah denger gue?
"Mau ngapain?" Tanya Candra menatap intens ke manik mata Anara.
"Jalan-jalan. Belum pernah kan kita ke Surabaya?"
"Kamu lupa? Kita pas mau ke Balikpapan kan lewat Surabaya." Balas Candra menarik Anara untuk masuk ke rumah.
"Beda dong, Ndra."
"Apa bedanya?" Tanya Candra.
Langkahnya semakin mendekati Anara, pintu sudah ditutup kemudian tangan Candra berpindah ke bahu Anara. Membawa perempuannya ke dekapan.
Kemudian perlahan bibir Candra menyatu ke bibir Anara. Menyesap di sana untuk kemudian saling berbelit lidah. Ciuman yang baru dimulai itu usai ketika suara ketukan pintu terdengar.
"Siapa sih?" Decak Candra kesal kemudian membuka pintu.
"Elu lagi. Apa yang ketinggalan?" Tanya Candra menyugar rambutnya.
Hati gue yang ketinggalan. Sayang aja nggak bisa dibawa.
"Notebook gue kelupaan."
"Bisa-bisanya." Tukas Candra kemudian Bryan menghambur masuk menuju kamarnya. Mengambil notebook kemudian kembali keluar. Matanya melirik pada Anara yang hanya tersenyum.
"Cek lagi! Takutnya ada yang ketinggalan lagi ntar." Titah Candra mendaratkan diri ke kursi.
"Udah keangkut semua." Balas Bryan melambaikan tangan dan berlalu bersama mobilnya.
Seperginya Bryan dari hadapan mereka menjelang magrib itu, Anara dan Candra saling berdiam di sofa. Sesekali Anara sibuk dengan ponselnya memberi kabar pada Hartik yang menanyai keberadaannya.
Sementara Candra menatap tajam pada setiap gerak-gerik yang perempuannya lakukan.
"Kamu ngapain?" Tanya Candra merasa Anara tak mengindahkan keberadaannya.
"Bales pesan Hartik." Balas Anara menatap Candra.
__ADS_1
"Kenapa?" Suara Anara kembali bergema.
"Adakah hal lain yang kalian bahas selain tentang kita?" Tanya Candra.
"Maksudnya?"
"Kamu dengan Bryan. Ada apa?" Tanya Candra akhirnya. Segala tanya di otaknya dia rangkum jadi satu dalam sebuah kalimat tanya 'ada apa?'.
Anara terkekeh, "nggak ada. Kenapa sih?"
"Aku nggak suka dibohongi, An."
"Aku nggak bohong. Memang setiap pertemuan kami, selalu bahas tentang kamu."
"Setiap pertemuan? Berapa kali kalian bertemu? Bukankah sekali?" Tanya Candra mengerutkan keningnya. Ada yang dia lewatkan ternyata.
Anara membuang napasnya kasar, "dua kali, sekali sepengetahuanmu. Sekali lainnya, aku yang minta. Tanpa kamu tahu."
Jleb
Hati Candra terasa ngilu. Bagaimana bisa sahabat dan kekasihnya itu bertemu berdua tanpa pengetahuannya? Apa maksudnya?
"Untuk apa?"
"Aku minta Bryan datang ke kafe, dia mendengar curhatanku tentang kamu."
"Kapan?" Tanya Candra dengan nada tinggi.
Brak
Tangan Candra menggebrak meja di depannya. Meluapkan amarah sekaligus cemburu yang menggelayuti hatinya. Bisa-bisanya Bryan menemui kekasihnya itu di belakang?
Dada Candra turun naik menetralkan emosinya, akalnya seperti tak menerima berita ini meski itu nyata diucapkan langsung pelakunya.
"Aku minta maaf, tapi ... aku yang salah. Bryan menyuruhku memberitahumu, tapi aku nggak melakukan itu." Terang Anara.
"Kamu sadar? Curhat itu ibarat pintu gerbang yang kamu buka sendiri untuk mempersilahkan hati yang lain masuk."
Candra tersenyum miris, "jadi malam di mana pesanku kamu abaikan itu ... kalian sedang duduk berduaan di kafe. Drama apa ini Anara?"
"Atau obrolan kalian berdua sebelum sialan tadi pulang itu ... tentang janji kalian selanjutnya?"
"Hebat kalian, hebat!!! Bermain di belakang."
"Kamu nggak usah berpikir terlalu jauh. Aku dan Bryan nggak ada apa-apa." Balas Anara berbohong. Ia ingat betul tentang amplop pemberian Bryan yang ia sembunyikan dari Candra.
Oh Tuhaaan, kenapa jadi begini?
"Siapa yang tahu jika Bryan tertarik ke kamu?"
"Aku jadi curiga kedatangannya ke Malang bukan untuk memperbaiki hubungan kita, sepertinya dia sedang memanfaatkan celah." Ketus Candra.
"Kamu ngomong apaan sih, Ndra?"
__ADS_1
"Toh dia pergi kan setelah masalah kita selesai?"
"Dia pergi dari kita, tapi kenangannya beberapa hari ini, kamu yakin itu pergi?"
Anara terdiam, hatinya bimbang harus menjawab apa? Apa mungkin semua yang dicurigakan Candra benar?
Anara tersenyum, Nggak mungkin, Bryan pernah cerita dia cuma suka sama satu cewek, hingga kini, dan itu cinta pertamanya. Beda keyakinan.
Sementara aku, satu keyakinan dengan dia.
Anara bernapas lega.
...----------------...
Jalanan Malang sore menjelang malam ini begitu sesak. Begitu banyak mobil yang lalu lalang masuk-keluar kota. Tentu Bryan tak kaget. Dirinya sudah terbiasa membaur dengan yang namanya macet.
Jika ditanya, sejujurnya ingin rasanya dia menambah jatah tinggal di Malang, toh kerjaannya bisa di-handle dari jarak jauh. Pun, sebenarnya ia ingin terus berada di samping perempuan yang selama ini mengisi hatinya, Anara Reswari.
Tapi, suara malaikat dalam dirinya seolah menyadarkan bahwa Anara adalah kekasih sahabatnya. Cinta rumit memang, seharusnya ia bisa memilih untuk jatuh pada hati yang mana? Nyatanya tidak semudah itu mengatur rasa.
Berkali-kali Bryan coba redam gemuruh rasa dalam dadanya. Tapi, ketika kobaran api cinta itu hampir padam, Anara malah datang membawa kayu bakar berupa cerita-cerita curahan hati yang sekali lagi, bagaikan memberi makan pada perasaan Bryan.
Bahkan kini lebih hidup dari sebelumnya.
"Aku harus gimana, An?"
"Salahkah aku yang nggak bisa nyoba mencintai perempuan lain?"
"Kenapa harus kamu yang jadi pacar Candra?"
"Rasanya bisa sesakit ini."
Bryan terus-terusan merutuki nasib kisah romansanya. Beberapa minggu di Malang, dengan masalah yang dihadapi pasangan Candra-Anara membuat Bryan semakin dekat dengan perempuannya.
"Hah. Dia perempuan Candra. Bukan milikku." Pekik Bryan memukul setir kemudi.
Riuhnya jalanan bagai paradoks untuk hatinya yang sunyi dihuni cinta yang sungguh tak mungkin berbalas lagi.
"Seandainya, An ...."
"Kenapa Tuhan setega ini, An, membangun istana rasa yang begitu megah jika ending-nya bisa ditebak?"
Hati Bryan begitu sesak mengingat wajah perempuannya, mengingat setiap air mata yang pernah terjatuh dari mata indah itu karena lelakinya.
"Seandainya kamu tahu, aku selalu ada membawa cinta yang bahkan melukaiku sendiri."
Segala lagu-lagu cinta yang senantiasa didengarnya, seperti mengalun di otak tanpa diminta. Bryan ingin sekali jujur pada Anara, tapi ... ia tahu diri. Cinta dalam diam memang jauh lebih menyakitkan daripada cinta yang tak berbalas sepadan.
*Author nyempil, sambil dengerin lagu Nidji-Rahasia Hati.
"Seandainya ayah nggak ke Surabaya. Rasa-rasanya malas sekali balik." Gumam Bryan ketika lampu merah di depan sana sudah berganti hijau.
...----------------...
__ADS_1