Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Malam Minggu


__ADS_3

Satu bulan berlalu setelah malam pertunangan yang penuh kebahagiaan untuk Anara dan Candra. Semenjak pertunangan dadakan di Kediri itu, akhirnya kedua insan yang kembali dimabuk asmara itu menjalani hubungan seperti sedia kala, menepis segala kisah masa lalu yang memang sudah seharusnya dilupa.


"Bahagia banget," cetus Candra ketika keduanya berhenti di lampu merah.


"Dari tadi senyum-senyum terus?" Ucap Candra lagi, pria itu benar-benar penasaran dengan tingkah aneh Anara sedari keluar kos tadi.


"Coba tebak! Aku bahagia karena apa kira-kira?" Balas Anara mengeratkan tangannya ke pinggang Candra.


"Ya karena kita mau malmingan kan? Apa lagi?" Jawab Candra mengucap sebuah pertanyaan retoris.


"Salaaaaaah."


"Jadi, kamu ga bahagia kita keluar ini?" Candra menolehkan wajahnya ke samping, helm-nya menubruk helm yang bertengger di kepala perempuannya.


"Ish, jangan miring-miring gitu! Pusing aku kalau helm-mu udah mulai senggol-senggol kepala," gerutu Anara memegangi helm-nya.


"Iya, iya. Maaf! Jadi karena apa?" Tanya Candra memosisikan diri seperti sebelumnya.


"Ntar aja deh!"


"Ampuuun, kamu ya," sahut Candra melesakkan satu jarinya ke pinggang Anara. Membuat perempuan itu menahan tawa karena merasai geli yang menjalar di perutnya.


"Kita kemana?" Tanya Anara ketika motor Candra menyusuri jalan Veteran yang terang benderang berkat cahaya lampu kota.


"Kemana aja, asal sama kamu, An."


"Aku lapar, Ndra. Jangan dibuat kenyang dulu dengan gombalanmu!"


Terdengar Candra melambungkan tawa keras-keras, membuat Anara semakin mengeratkan pegangannya sembari memekik, "dilihatin orang. Ketawa kayak mau makan orang."


Sepeda motor terus melaju hingga di jalan Ijen. Anara semakin dihinggapi pertanyaan, sebenarnya kemana mereka akan menghabiskan malam Minggu ini?


"Kita kemana sih?"


"Muter-muter aja."


"Serius?"


"Iya, Aaan. Makan trus pulang," balas Candra menarik tangan Anara dalam genggamannya.


"Pulang kemana?"


"Ke rumahku bentar. Trus aku anter ke kos."


"Hmmm," gumam Anara.


Motor semakin melaju hingga sampai di dekat MOG. Di sana Candra memarkir sepeda motornya. Bukan ... bukan di area parkir mall, tapi di seberang jalan yang melintang di depan mall itu. Mereka berhenti persis di sebelah abang-abang tukang bakso.


"Makan di sini?" Tanya Anara ketika motor yang membawa keduanya berhenti.

__ADS_1


"Iya. Kenapa? Ga mau?"


"Mau, sapa bilang ga mau?" Balas Anara menjulurkan kakinya ke bawah. Menuruni motor yang tingginya kadang membuat bibirnya menggerutu.


"Bagus, kita lagi ngirit. Uangnya buat kawinan ntar."


"Astaga, kikir itu mah," balas Anara melangkah menuju abang bakso lebih dulu.


"Kok kikir? Irit An."


"Terserah kamu deh, yuk aku laper! Beneran."


Dua mangkuk bakso dengan asap mengepul sudah tersedia di hadapan keduanya. Mereka duduk lesehan di atas tikar yang digelar, disuguhi pemandangan lampu warna-warni dari mall di depannya, juga suara hilir mudik kendaraan yang melintas di depannya.


Setelah memuaskan cacing-cacing di perut dengan makanan berbentuk bola itu, kini keduanya menuju sudah sampai di depan rumah Candra. Rumah itu semakin terlihat hidup lagi, dipenuhi warna hijau dari pepohonan yang tumbuh dengan subur. Mungkin karena suasana hati pemiliknya juga sedang mekar-mekarnya.


"Seger ya?" Cetus Anara masih memandangi tanaman yang menyejukkan netranya.


Kemudian Anara mengikuti langkah Candra memasuki rumah dengan gaya industrial itu. Mendaratkan dirinya di sofa dan ekor matanya mengikuti Candra yang menuju ke arah pantry. Kemudian tatapannya kembali menyapu seluruh ruang.


Tatapan itu akhirnya bermuara pada kamar yang tengah terbuka, tepat di samping kamar Candra. Anara ingat betul siapa penghuni yang mendiami ruangan itu hampir setahun yang lalu? Ahh, dia hanya mengulum senyumnya.


Kita dipertemukan untuk saling belajar, Yan. Nggak apa-apa, Tuhan punya kisah yang indah untuk kita masing-masing. Saling mendoakan saja! Agar kita sama-sama bahagia. Kamu dengan duniamu dan aku dengan kisahku.


Tak lama Candra muncul dengan membawa segelas teh yang langsung disodorkan untuk tamunya. Anara menghirup uap dari minuman yang masih panas itu, aromanya menyeruakkan segar lemon favoritnya. Kemudian ia tersenyum sembari menggumam terima kasih dari bibirnya.


"Minum dulu! Baru cerita," ucap Candra membawa satu kakinya bertumpu pada kaki yang lain.


"Cerita apa?"


"Kenapa kamu senyum-senyum tadi?"


"Owh. Aku kira apa?" Anara meraih gelas di depannya, menghirup sekali lagi. Netranya tak lepas menatap manik mata Candra yang juga tengah menatap ke arahnya.


"Kenapa?" Tanya Anara menjauhkan gelas dari hidungnya.


"Apa?" Candra bertanya balik.


"Kenapa liatin terus? Kamu kasih apa?" Cecar Anara menunjuk gelas di tangannya.


"Astagaa, cuma lemon sama gula."


"Yakin?" Anara meyakinkan Candra. Matanya sedikit melebar.


"Emang kamu mikirnya aku kasih apa?"


"Hmmm, obat tidur mungkin," sahut Anara mengangkat bahunya.


Candra malah tertawa mendengar jawaban spontan barusan. Pria itu tak menyangka imajinasi Anara ternyata terlampau liar. Kekasihnya itu rupanya menaruh curiga pada dirinya.

__ADS_1


"Jangan ngaco! Minum aja! Ga bahaya, kalau pun aku kasih obat tidur. Toh kamu tidurnya juga sama aku, calon suamimu."


"Tapi, buat apa juga kukasih obat tidur, An? Kalau dalam kondisi sadar pun kamu mau," tambah Candra memancing pelototan Anara.


Mendengar penjelasan Candra yang ada benarnya, akhirnya Anara menyesap teh itu. Melegakan hidung serta tenggorokannya yang dilanda hawa dingin.


"Jadi, aku mau kasih kabar bahagia."


"Apa, An?"


"Hari Selasa lusa. Aku sidaaaaaaaang," ucap Anara dengan raut sumringah sejadi-jadinya.


Candra merapatkan posisi duduknya ke Anara. Kemudian pria itu mendekap Anara erat-erat dan melepaskan Anara untuk kembali bernapas lega setelah mendaratkan satu kecupan di kening.


"Selamat yaaa, S.S. dong sebentar lagi?"


Anara mengangguk penuh semangat. Jelas raut bahagia tak dapat disembunyikan dari wajahnya. Sebentar lagi namanya akan semakin panjang. Bukan hanya itu, ia bisa mewujudkan satu dari banyak cita-citanya setelah menyelesaikan jenjang sarjananya.


"Aku juga punya kabar bahagia buat kamu, calon istriku."


Anara mendelik, "apaa?"


"Dua minggu lagi aku pulang ke Balikpapan."


"Ha? Itu kabar bahagia?" Tanya Anara mengatupkan bibirnya.


"Aku mau ke Balikpapan karena buka usaha kafe di sana sayang. Kamu ga bahagia?"


"Aku seneng, Ndra. Cuma kaget ... kok cepet aja?"


"Iya, makin cepat makin bagus dong. Aku juga udah ajuin surat resign. Kamu jangan nakal-nakal ntar di sini! Jangan kangen juga!"


"Paling kamu yang kangeeen," balas Anara.


"Kalau aku kangen tinggal ke sini lah."


"Rumah ini dijual?"


Candra menggeleng, "bisa kita tempati setelah nikah kalau kamu mau. Kalau enggak kita sewain aja dulu!"


"Bener-bener uang ya yang ada di pikiranmu sekarang?"


"Buat biaya kawin, An."


"Nikah dulu! Baru kawin," pungkas Anara.


Kemudian Candra hanya mengulas senyum yang dipaksakan. Menarik pinggang Anara agar semakin mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Perlahan, bibir mereka kembali bertemu, saling mencecap dan lidahnya saling melilit. Membawa keduanya ke awang-awang, menggumamkan nama, dan meneguk manisnya rasa yang tercipta.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2