Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Mellow


__ADS_3

"Mas Djata darimana aja, sih?" Sergah Rati mendapati kakaknya tergopoh.


"Nungguin calon kakak iparmu tuh pakai acara make-up segala." Sahut Candra berlari ke dalam gedung.


Hah? Kayaknya cuma pakai lipstik doang deh yang beda. Mana make-up nya?


"Kayaknya Mas Djata suka bercanda deh." Rati menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Rati dan Anara saling berpelukan. Melepas rindu setelah sekian bulan tak bertemu. Ternyata minggu depan Rati sudah harus berada di Jogja untuk ospek kampus.


Dia resmi diterima jadi mahasiswa di salah satu kampus negeri di daerah istimewa. Rupanya perjuangannya kala itu tak sia-sia. Dan orang 'sekampung' yang mengantarnya pun tentu turut bahagia.


"Jadi, setelah ini pulang ke Balikpapan dulu? Atau langsung ke Jogja."


"Langsung ke Jogja, Kak. Belum dapat tempat juga." Anara mengangguk paham.


Tepat pukul setengah 11 siang para wisudawan-wisudawati berhamburan keluar gedung. Termasuk Candra di sana. Tak lama Abah Kayaat dan Mama Ira menyusul putranya yang kini resmi menjadi sarjana.


"Anara!" Sapa Mama Ira.


"Tante." Dengan penuh hormat Anara meraih tangan kedua orang tua Candra.


"Agak hiteman, ya?" Mama Ira memerhatikan kekasih putranya itu.


"Anara sudah tiga minggu ini KKN di Batu, Ma. Jadilah dia agak eksotis." Jelas Candra membuat Anara tersenyum.


"Batu itu yang banyak wisatanya bukan?"


"Betul, tante."


"Wah, boleh dong kita makan-makan setelah ini, Bah? Ke Batu mungkin. Jauh nggak sih?" Sambung Mama Ira.


"Setengah jam mungkin, Ma."


"Yuk! Mau banget. Sambil jalan-jalan." Rati ikut menyumbangkan suara.


"Boleh." Abah Kayaat tersenyum menyetujui ide sang istri.


"Candra! Selamat ya. Untukmu." Anara memberikan bucket bunga pada kekasihnya.


"Terima kasih." Lelaki itu tersenyum kemudian memeluk Anara.


Eheeem ... dehaman dari sang mama memaksa Candra melepas pelukannya. Ia begitu terbawa suasana. Di hari kelulusannya, keluarga dan kekasihnya berkumpul memberikan ucapan selamat, doa, dan itu membuat Candra sangat ba-ha-gi-a.


"Rat!" Suara bariton tiba-tiba memanggil Rati.


"Mas Bryaaaan. Rat-ti!!"


"Aku sudah jadi sarjana, nggak ada ucapan selamat?" Sambung Bryan.


"Selamat ya, Bryan." Anara memberi ucapan selamat.


"Selamat Mas Bryan. Sukses daaaan ... mana Kak Caroline?"


"Mereka udah putus, sepulang dari Jogja nganter kamu." Jawab Candra.


Rati menutup mulutnya tak percaya. Padahal menurutnya, Bryan dan Caroline terlihat serasi. Yang satu tinggi kebule-bulean, satunya cantik khas wajah oriental.


"Siapa yang putus?" Seorang pria berjambang tiba-tiba berada di antara mereka.


"Pak Wijaya!" Sapa Abah Kayaat.


"Anakmu juga wisuda?"


"Iya, Pak." Mama Ira menjawab.


"I-ni?" Pandangan pria bernama Wijaya itu ke arah Anara. Karena memang dari semua yang di sana. Hanya Anara yang asing baginya.


"Namanya Anara, Yah." Bryan memperkenalkan. Wijaya dan Anara saling bersalaman.


"Saya ayahnya Bryan." Wijaya memperkenalkan dirinya.


Namanya Antoni Wijaya. Seorang duda kaya raya yang hanya memiliki satu orang anak, Bryan. Perusahaannya di Kalimantan sudah beranak pinak. Tetapi, kesuksesan usahanya berbanding terbalik dengan biduk rumah tangga. Ia ditinggal oleh mantan istrinya karena sikap workaholic-nya.


"Bryan!" Suara tak asing bagi Bryan.


"Caroline!" Lelaki yang sudah melepas toga itu tercenung mendapati keberadaan sang mantan.


"Selamat atas wisudanya." Sebuah bucket bunga diulurkan Caroline.


"Makasih, makasih Lin. Tapi, darimana kamu tau hari ini aku wisuda?"


"Kemarin aku melihatmu GR. Kamu masih ingat kan kalau aku anggota padus universitas?"


"Oh iya. Panteees." Bryan memijat keningnya memerhatikan kostum seragam yang dipakai Caroline.

__ADS_1


Lalu perempuan berwajah oriental itu menundukkan kepala seraya mengulurkan tangan kepada Wijaya dan keluarga Abah Kayaat. Tak lupa ia ucapkan kata selamat untuk karib dari mantannya, Candra.


...----------------...


"Pak Wijaya masih di Jakarta?" Abah Kayaat membuka percakapan ketika beliau sudah menghabiskan makanan di piringnya.


"Masih, Bah. Rencana mau buka bisnis kuliner di sana. Ide Bryan. Tapi ... anaknya moody." Sambil menatap anaknya.


"Dari dulu, Om." Sambung Candra membuat Bryan meliriknya.


"Dianya malah mau terjun ke dunia jurnalistik. Ya sudah."


"Iya, mumpung masih muda. Kita tinggal dukung saja, Pak." Tutur Mama Ira.


"Kalau Djata. Setelah lulus, apa rencananya?"


"Anu ... Om, itu masih dalam pemikiran."


"Hah lebih parah lu. Kayak gitu. Masih mau kamu, An?" Bryan tak henti menimpali Candra kali ini. Anara hanya menunduk, menahan tawa.


"Emang, kamu rencana kerja dimana?" Suara Caroline ganti bertanya.


Perempuan itu akhirnya turut serta dalam acara sederhana ini setelah Rati dan Anara memaksanya bergabung. Makan siang sebagai bentuk syukur karena Candra dan Bryan lulus tepat waktu.


"Di Jawa juga."


"Di Surabaya, Lin. Begitu katanya." Sambung Anara. Caroline mengangguk.


Kemudian mereka sibuk dengan piring masing-masing. Candra yang duduk di samping Anara terus-terusan bermain jari di atas paha perempuannya. Kebetulan tempat makan yang mereka kunjungi berbentuk lesehan yang menampakkan keindahan gunung di setiap sisinya.


"Tanganmu, Ndra." Lirih Anara.


"Setelah ini ya?"


"Turunin jarimu!" Anara risih dibuatnya.


"Di sini?"


"Kenapa nggak ngerti juga sih?" Raut wajah Anara terlihat kesal. Tetapi lelaki di sampingnya malah tak nampak melakukan sesuatu yang salah.


"Saya permisi ke toilet." Anara bangkit dan berjalan pergi.


Eh, dia beneran marah.


"An!" Sapa Caroline.


"Eh, Caroline! Gimana kabarnya?"


Melihat Anara pergi, Caroline yang merasa kikuk berada di tengah dua keluarga dengan dia sendiri sebagai orang asing inisiatif menyusul Anara.


"Baik. Bryan?"


"Kukira sudah move on." Ledek Anara.


"Dia deket sama siapa?"


"Nggak ada deh, Lin."


"Serius?"


Anara mengangguk mantap. Ia yakin sekali bahwa Bryan memang sedang tak dekat dengan perempuan mana pun setelah lepas dari jerat Caroline.


"Perempuan yang dicintainya?"


"Siapa?"


"Aku tanya sama kamu, An."


"Emang ada?"


"Dia bilangnya gitu. Makanya aku minta udahan."


"Aku nyangkanya cuma bercanda."


"Apa itu Rati ya?" Telisik Caroline. Sementara Anara mengerdikkan bahunya.


"Kurang tau juga. Tapi emang mereka kelihatan deket."


"Tuh, pasti Rati."


"Kenapa nggak tanya langsung aja sih?"


"Malu dong, An."


"Kamu masih cinta?"

__ADS_1


Caroline terdiam. Bagaimana dia tidak cinta? Lelaki itu tampan, lucu, dan memberi banyak warna baru. Satu lagi, Bryan paling tak bisa melihat perempuan menangis ... hingga ia mengulur hati Caroline, tapi tetap ujungnya lara yang Caroline terima.


"Hina banget ya?"


"Enggaklah. Siapa sih yang bisa milih rasa kita berlabuh pada hati yang mana?"


Keduanya kembali bergabung setelah obrolan yang cukup lama. Caroline ingin sekali mantan pacarnya itu tau kalau ia masih ada rasa. Tetapi, harapannya itu berujung sakit mendapati Bryan sedang bersenda gurau dengan Rati.


Sabar Caroline! Sabar! Dia sekarang milik umum.


Dah macem WC aja, milik umum.😄


...----------------...


"Iya, Abaaah." Sahut Candra.


"Setelah dari sini, mau mampir ke Klaten dulu."


Tak lama, sambungan telepon itu sudah diputus. Percakapan antara Abah Kayaat dan putranya selesai.


"Udah dapet kos?" Tanya Anara di sampingnya.


"Udah kata abah."


Seminggu setelah keberangkatan keluarganya mengantar Rati ke Jogja. Candra masih sibuk di Malang. Mengurus legalisasi ijazah dan sudah dua kali mendatangi job fair di kampus. Keinginannya menghalalkan Anara yang kira-kira setahun lagi harus ia imbangi dengan bukti nyata.


Pagi ini Candra sedang menjemput pujaan hati. Akhirnya KKN Anara usai juga. Bagasi mobil terlihat terbuka. Hartik tengah sibuk memasukkan beberapa barang miliknya.


"Udah selesai. Yuk!" Hartik menhampiri sahabatnya.


"Ayuk!"


Mobil Candra bergerak menuju jalan raya. Meninggalkan posko KKN yang dalam sebulan ini kerap ia kunjungi. Sedikit bukti ketulusannya pada Anara.


Padahal emang dia nggak ada kerjaan aja setelah kemarin skripsinya udah terjilid rapi.


"Langsung pulang? Atau mau kemana dulu?" Pertanyaan Candra sudah macem sopir taksi.


"Pulang langsung ya, Tik?"


"Iya, An. Capek bangen. Pengen tidur."


"Masih juga pagi ini." Balas Anara.


Sesampainya di halaman kos. Candra segera membantu kedua perempuan itu memindahkan barang dari bagasi. KKN hanya sebulan tapi barang Anara dan Hartik sudah mirip orang pindah rumah. Begitulah kau hawa.


"Aku langsung pulang, ya?"


"Tumben."


"Mau buat CV. Lusa aku apply lowongan kerja. Doain ya!"


"Iya, pasti kudoain. Dimana?"


"Malang sini aja." Anara mengangguk. Bersyukur karena tidak harus jauh.


Semoga diterima ya! Jadi kita nggak perlu LDR-an.


"Hati-hati Mas Candra! Makasih ya." Ucap Hartik.


"Iya, sama-sama." Lelaki itu tersenyum.


Setelah melambaikan tangan. Mobil Candra keluar halaman dan berlalu dari pandangan.


"Nggak kerasa ya, kita sebentar lagi yang bakalan berjuang untuk lulus." Ujar Hartik.


"Iya, Tik. Ternyata tiga tahun itu cepet banget." Anara nampak terharu.


"Aku belum ada rencana setelah ini mau apa?"


"Sama, Tik."


Keduanya kemudian sibuk memindahkan barang menuju kamar masing-masing. Anara tengah sibuk menyusun kembali barang-barang miliknya yang semakin hari rasanya semakin beranak pinak saja.


Ia pandangi beberapa gambar hasil jepretan dari photobox di mal ketika awal kuliah dulu. Tiga tahun berlalu begitu cepat. Sekarang ia sudah selesai KKN saja.


Rasanya masih baru kemarin dia ospek dengan tugas aneh-aneh dari panitia. Hari ini dia sudah harus mulai memikirkan judul tugas akhir jika tak mau ngaret. Pasti nanti, ia akan rindu momen-momen jadi mahasiswa. Rindu Malang dan seisinya.


Perlahan ingatannya kembali ke hari-hari pertamanya di Malang. Perkenalannya dengan perempuan asli Gresik yang sekarang menjadi sahabat baiknya, yang karena Hartik ia jadi tau bonggolan. Jadi tau bahasa-bahasa lain ketika berinteraksi dengan anak satu kos.


Tiba-tiba Anara mellow. Bagaimana nanti kalau sudah lulus dan sibuk dengan dunia masing-masing? Akankah semua masih terasa sedekat nadi seperti sekarang ini?


Pasti semua akan menjadi kenangan. Pernah hidup di bawah satu atap, bersenda gurau dengan mereka yang awalnya bukan siapa-siapa. Ahh berat sekali rasanya membayangkan perpisahan. Apakah Anara benar-benar siap? Siap atau tidak, waktu itu pasti akan datang.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2